Hanya Yusriah

Yusriah. Satu nama dengan satu kata. Tidak lebih. Seorang teman angkatan yang juga senang membaca. Menjadi dekat dengan Yusriah adalah cerita lain. Perempuan peranakan Makassar – Bogor ini adalah sosok yang secara tiba-tiba juga pernah menjadi kawan dekat saya. Tahun pertama kuliah mutlak menjadi waktu penuh di antara Saya, Yusri, dan Resky. Diantara kami bertiga, Yusri adalah penengah. Bagaikan larutan buffer untuk sebuah larutan untuk menjaga pH-nya. Meskipun sebenarnya cek-cok lebih sering terjadi diantara Yusri dengan Resky. Tapi Yusri adalah teteh kecil bagi saya.

Sampai saat ini perkataan Yusri yang paling saya ingat adalah “pulangnya jangan malem-malem ya. Nanti aku dikunciin”. Hahahahahaha…. saat itu Yusri memang mendiami sebuah rumah kos yang bagi saya dan teman-teman horor. Jumlah peraturan untuk menjadi anak kos di sana melebihi Pancasila. Lebih ekstrem dari pasa-pasal yang tertuang dalam UUD 1945. Bahkan lebih rinci dari Peraturan Pemerintah.

Setiap sudut di rumah kos Yusri memiliki aturan sendiri-sendiri yang harus ditaati oleh penghuninya. Bahkan pintu kamar tiap anak kos pun ditempeli peraturan. Sepertinya pemilik rumah kos itu punya cita-cita untuk menjadi anggota DPR yang tugasnya memang membuat peraturan.

Kalau Yusri mengatakan “jangan malam-malam ya, nanti aku dikunciin” pada teman-teman lain saat kami mengerjakan tugas ataupun laporan, lalu ada kawan yang bertanya “memangnnya kosmu dimana sih?”, saya atau Resky akan mengatakan “biasa..di B*”. Lalu mereka yang mengetahui kosan yang memang terkenal gila tersebut hanya akan menimpali dengan satu kata “pantes”.

Pernah satu kali saya, Yusri, dan Resky pergi ke satu tempat di Surabaya dengan menggunakan angkot (orang Surabaya menyebutnya bemo). Saya & Yusri bukan penduduk asli Surabaya, sedangkan Resky tidak pernah berkelana dengan angkot Surabaya. Karena itulah saya menyebut kami sama-sama buta arah plus tanpa peta. Kami hanya memiliki tujuan dengan pengetahuan angkot seadanya.

Dengan sok tahu kami sudah duduk di atas angkot yang akhirnya menurunkan kami di suatu tempat bernama Tugu Pahlawan. Dan itu untuk pertama kalinya saya melihat Tugu Pahlawan sejak saya menginjakkan kaki di Surabaya. Kalau dipikir-pikir ada bagusnya juga, karena dengan begitu saya jadi tahu seperti apa Tugu Pahlawan itu. Atau mungkin itu adalah nasihat Tuhan supaya saya mengingat jasa pahlawan yang sudah berjuang membebaskan tanah Surabaya dari jajahan wong londo, sehingga detik itu saya bisa menginjakkan kaki di kota pahlawan tanpa harus membawa bambu runcing. Karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah menyasarkan mahkluknya ke suatu tempat tanpa sebab.

Akhirnya kami bisa sampai di tempat tujuan. Blauran. Salah satu pusat buku bekas yang ada di Surabaya. Saya lupa jenis buku yang kami cari, tapi yang pasti saya ingat bahwa kami keluar dari Blauran setelah saya dan Resky masing-masing membeli kaset OST Ayat-Ayat Cinta! Lalu kemudian kami bertiga membeli dua buah gulali dimana sebuah gulali diminta oleh adik-adik pengamen saat kami menyantap nasi penyet di sebuah lapak di pinggir jalanan Blauran.

Setelah kenyang, fikiran kami sepertinya sama, “pulang naik apa”. Taxi bukan pilihan mengingat kami bukan mahasiswa yang uang jajannya mengandung budget ongkos taxi. Kebingungan mencari pangkalan angkot yang bisa membawa kami pulang ke rumah kos masing-masing. Dan sepanjang perjalan mencari pangkalan angkot, Yusri terdiam dan berjalan sangat cepat. Saat saya bertanya kenapa cepat-cepat, jawabannya satu “nanti kalau kemaleman, kosku dikunci”. Uhhhh!!

Jika saya dan Resky dihubungkan oleh Peterpan serta kegemaran kami akan musik, saya & Yusri terikat oleh kegemaran kami terhadap sebuah buku. Jadi rasanya tidak salah kalau saat itu saya ke Blauran lalu pulang dengan sebuah kaset OST Ayat-Ayat Cinta bukan?

Seperti yang saya katakan di awal, waktu saya di tahun kuliah penuh dengan Yusri (& Resky). Saya dan Yusri pernah mengikuti seleksi reporter kampus. Saat itu hari sabtu. Kami yang masih mahasiswa baru dengan culunnya masuk ke dalam salah satu ruangan di di lantai 6 perpustakaan pusat untuk mengikuti seleksi tersebut. Seleksi pertama adalah membuat sebuah tulisan dengan tema yang ditentukan panitia. Saat itu Yusri mendapatkan tema untuk menulis kegiatan yang sedang dilakukan oleh jurusan yang ada di ITS. Kebetulan saat itu adalah hari dimana salah satu jurusan di ITS merayakan ulang tahunnya yang ke 50, sehingga Yusri memutuskan untuk menuliskan sesuatu dari acara tersebut. Bagusnya adalah saya jadi tahu bagaimana lingkungan kampus selain jurusan saya, jeleknya adalah Yusri memilih untuk mewawancarai sumber yang mendiami sebuah lab (mereka menyebutnya bengkel) yang bau dan joroknya naudzubillah. Padahal kan temanya meliput acara yang diselenggarakan jurusan, kenapa harus melakukan interview dengan penghuni lab? Acara ulang tahunnya di lantai sastu, tapi kami malah berada di lantai 4!! Sarap!

Yusri itu pelupa. Sangat pelupa. Terkait sifat lupanya, Yusri ini benar-benar pelupa. Dia bahkan pernah terlambat praktikum karena tertitur. Dia tidur karena lupa bahwa hari itu ada acara praktikum. Keren. Iya, buat saya melupakan acara praktikum adalah sesuatu yang keren karena dengan begitu akan muncul peluang E pada transkrip di akhir semester.

Satu kali dia membuat janji dengan saya. Menyuruh saya untuk menunggunya di suatu tempat, lalu kemudian seseorang mengirimi saya SMS bahwa Yusri sudah berada di tempat tujuan kami saat saya sudah menunggu di tempat yang ia suruh dalam waktu yang tidak sebentar. Tidak ada ucapan maaf sebagai rasa bersalah, entah itu via sms atau secara lisan. Hal itu tak hanya sekali, seringkali. Yang menjadi salah satu alasan bahwa Yusri & Resky adalah bagian dari ‘masa anak-anak’ di dunia perkuliahan yang saya jalani. Sebuah masa yang menyenangkan dan lucu untuk diingat saat berada di titik dewasa, tetapi tidak untuk diulang.

Banyak hal sebenarnya yang bisa menjadi cerita diantara saya dengan Yusri. Mulai dari acara berbohong pada senior dengan mengatakan kami sedang ada urusan penting untuk bisa lari dari ‘rapat’ persiapan suatu acara, padahal saat itu kami tengah berada di dalam sebuah studio 21 menonton Ayat-Ayat Cinta! What a lovely shit!, waktu makan bersama di penyetan LA, waktu poto-poto keliling kampus dengan kamera digital saya yang pertama,  waktu untuk membicarakan presiden BEM pusat yang menjadikan saya sebagai fansnya, hingga waktu yang habiskan untuk menemani Yusri mencari ide biji tamanan yang akan ia gunakan sebagai tugas praktikum herbarium biji di hutan kampus. Saya rasa itu adalah waktu terakhir saya membuang-buang waktu bersama Yusri. Setelah itu saya merasa bahwa saya sudah lulus TK bahkan sudah jauh meninggalkan tingkat Sekolah Dasar di dunia perkuliahan. Walaupun begitu saya bersyukur bahwa Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menikmati setiap tingkat kehidupan di masa perkuliahan, tumbuh dan berkeembangan sesuai dengan waktunya dan menjadikan Yusri sebagai awalnya.

Saya Dan Yusri

Saya Dan Yusri 🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s