Kisah Seorang Antagonis

Teman-teman memanggilnya ‘Mber’, kenapa? Saya tidak tahu. Pertama karena kami memang tidak kenal baik. Dan kedua tidak punya ketertarikan dengan hal yang sama. Karena memang tidak memiliki hubungan apa-apa selain teman angkatan, saya hanya mengetahui bagaimana sikap seorang Dinda dari cerita teman-teman, yang mayoritas ceritanya bukanlah sebuah kisah yang baik.

Sombong, sok, angkuh, pelit, pilih-pilih teman, menyebalkan, dan sesuatu yang jahat lainnya adalah penilaian mayoritas teman-teman kepada Dinda. Kalau diilihat dari tatapan matanya memang ada potensi sombong dan sok seperti kata teman-teman. Dari nada suaranya pun akan mendukung bahwa Dinda adalah sosok menyebalkan. Sikapnya pada beberapa individu juga menyiratkan bahwa ia suka pilih-pilih teman.

Banyak citra negatif yang saya dengar dari teman-teman mengenai Dinda yang kadang-kadang membuat saya terbawa suasana. Saya memang pernah merasa begitu kesal pada Dinda karena ketika itu beredar sebuah jarkom berisikan pengumuman mengenai kamusnya yang raib, sementara di saat yang bersamaan saya juga kehilangan barang penting tetapi si komting kampret menolak untuk menyebarkan berita kehilangan saya melalui jarkom angkatan. Tapi akhirnya saya menyadari bahwa kebijakan dan kewenangan untuk sebuah jarkom angkatan tidak berada di tangan Dinda, sehingga rasa kesal itu pun menghilang dengan sendirinya.

Masalah tatapan mata, saya rasa itu sudah menjadi takdir Tuhan! Ya..memang begitulah cara matanya untuk melihat. Pernah sekali dia menampakkan pandangan jahatnya pada saya. Saat dimana saya secara tidak sengaja menatap buku yang tengah ditentengnya. Tatapan saya yang penasaran dengan jenis buku tersebut kemudian dibalas dengan lirikan kejam ala Dinda yang kemudian berkata “Ini novel 5 cm” sembari menunjukkan cover buku tersebut pada saya lalu pergi dengan gaya angkuhnya. Ah Dinda, saat itu saya ingin sekali mengatakan bahwa novel itu sudah saya baca jauh sebelum kamu menenteng-nentengnya selama beberapa hari di kampus, tatapan penasaran yang saya layangkan hanya sebuah tatapan “kayaknya aku kenal”. Agak geli juga ketika di lain waktu Dinda menenteng sebuah novel tebal dengan cover berwarna orange-cokelat lalu memberikan tatapan menantang di hadapan saya, yang saat itu saya artikan sebagai pamer. Percuma, saya tidak akan iri dan penasaran dengan jenis buku itu. Karena itu buku baru yang tidak membutuhkan ingatan melalui tatapan “kayaknya aku kenal” dan saya pun sudah punya sejak hari pertama J.K Rowling meluncurkan seri terakhir maha karyanya itu.

Cara bicaranyapun saya rasa sudah bawaan yang sulit untuk dirubah. Mungkin terkadang memang terlalu berlebihan sehingga tak jarang membuat sakit hati teman-teman, khususnya teman yang agak sensitif. Misalnya saat itu Dinda yang datang dengan sepotong roti menawarkan pada beberapa teman yang sedang duduk di bangku yang ada di depan laboratorium jurusan di lantai 2. Kemudian saat salah satu teman mencuil roti yang ditawarkannya, Dinda berkata “Ya ampun… besar amat sih cuilanmu (dalam bahasa Jawa)”. Saya tak tahu pasti seberapa besar cuilan roti yang sudah diambil oleh teman saya itu, saya juga tak melihat secara langsung bagaimana ekspresi Dinda saat menyampaikan pernyataan tersebut. Tapi yang pasti teman saya merasa tersinggung atas pernyataan Dinda itu. Kalau harus menilai benar atau salah , bagi saya apa yang Dinda katakan memang salah. Tidak seharusnya kalimat itu terlontar karena toh penawaran atas roti berasal dari diri sendiri. Jadi mau sebesar apa cuilan teman-teman, itu sudah risiko yang harus ditanggung. Kalau memang roti tersebut habis atau jatah kita berkurang gara-gara dicuilin teman-teman dan ada rasa kesal karena itu, kenapa harus nawarin? Kenapa tidak dimakan saja sendiri? Daripada nawarin tapi kemudian ngedumel lalu membuah sakit hati? Tapi itu tadi, karena saya tidak melihat langsung ekspresinya saya tidak tahu pasti apakah itu celatuan atau memang cara bicaranya yang menyebalkan.

Untuk masalah pilih-pilih teman, saya fikir semua orang pasti melakukan hal yang sama dalam menjalin pertemanan. Saya juga suka pilih-pilih teman…. masa iya seorang Juventini berteman baik dengan Milanisti? Gak mungkinlah!!! Saya rasa yang dimaksud bukanlah memilih teman, melainkan memilih untuk bergaul.

Mungkin itu yang membuat Dinda lebih sering menjadi karakter antagonis di antara teman-teman jurusan. Dinda tidak mudah bergaul dengan siapapun. Sosok yang tidak punya ‘merek’ bukanlah pribadi yang mau Dinda gauli, kecuali memang harus seperti satu kelompok praktikum. Itulah yang saya lihat dari Dinda. Bahkan kadang-kadang sikap tak mau bergaul itu masih terlihat meskipun mereka satu kelompok praktikum. Dinda tidak menyukai teman kelompoknya, begitu juga anggota kelompok lain yang tidak punya ketertarikan berkelompok dengan Dinda. Sehingga seringkali saya melihat si tokoh antagois sedang mendapatkan perlawanan dari sekelompok individu yang pernah merasa disakiti.

Suatu kali saya pernah diserbu oleh beberapa teman angkatan. Kebetulan saat itu saya menjadi asisten di salah satu mata acara praktikum mereka. Maksud serbuan mereka adalah meminta saya untuk tidak membuat mereka satu kelompok praktikum dengan Dinda dengan alasan masing-masing. Saya semakin tahu bahwa Dinda adalah sosok antagonis yang sangat tidak disukai.

Seseorang memang memiliki hak untuk membuat komunitasnya dan melakukan apapun bersama semua populasi di dalamnya. Namun seharusnya ada kesadaran bahwa dunia ini terdiri atas berbagai komunitas. Selain komunitasnya, seharusnya Dinda menyadari bahwa ada komunitas lain diantaranya. Apapun aktivitas dia dan komunitasnya adalah haknya, dengan catatan ia menunaikan kewajiban untuk menghargai komunitas lain sehingga sebuah tatanan suatu ekosistem tidak rusak karenanya.

Banyak hal tidak menyenangkan yang saya dengar tentang Dinda sebagai salah satu teman angkatan. Tapi bagi saya itu adalah salah satu cara Tuhan untuk menyeimbangkan dunia. Sama halnya dengan sebuah sinetron, ada pemeran antagonis ada pula protagonis. Bagaimana mungkin pemirsa tertarik menyaksikan sinetron setiap harinya jika karakter yang ditampilkan hanyalah sosok ibu peri yang baik hati? So boring! Jangan salah, pemeran antagonis juga memiliki fanbase yang kuotanya tak kalah dari mereka yang menjadi orang baik.

Satu lagi, saking kesalnya teman-teman pada Dinda keluarlah julukan grandong untuknya. Iya, pemilik julukan grandong seperti yang pernah saya tuliskan jauh sebelum cerita ini terpublish adalah Dinda. Kalau ditanya mengapa grandong? Saya belum tahu asal-usul dan siapa yang mengemukakannya pertama kali. Tapi bagi saya siapapun yang memberikan julukan, adalah sosok yang secara tidak langsung perhatian pada Dinda. Benci mungkin, tetapi bukankah para tetuah mengatakan bahwa perbedaan antara benci dan cinta itu sangatlah tipis? Saya percaya bahwa Dinda bukan setan jahat ataupun nenek sihir yang punya kutukan mematikan, hanya saja kami dan mungkin teman-teman lain tidak terlalu dekat untuk benar-benar memahami sifatnya. Beberapa teman berkata bahwa sikapnya itu adalah artian dari salah satu bagian namanya Rengganis yang beberapa orang mengatakan artinya adalah setan/jin. Tapi sebenarnya Dewi Rengganis adalah seorang putri jelita dari gunung Argapuradan sebagai putri gunung ia tumbuh mekar bagaikan bunga. Lalukarena Rengganis berteman dekat dengan putra raja jin yang kemudian membuat Rengganis menguasai beberapa ilmu jin  akhirnya Rengganis diidentikkan dengan setan. Padahal arti sebenarnya putri yang cantik.

Karena itulah terlalu kejam kalau harus membuat Dinda dicap sebagai sosok jahat yang tak punya perasaan. Dia punya perasaan kok… Dinda juga bukan orang jahat. Dinda hanya seorang manusia yang pasti punya kebaikan dan keburukan. Sialnya, Tuhan menakdirkan untuk menonjolkan sisi buruknya di kalangan teman-teman. Introspeksi dan saling mengerti mungkin bisa menjadi salah satu cara supaya tak ada lagi cerita dengan Dinda sebagai pemeran antagonisnya. Supaya di kesempatan lain saya tidak kesulitan untuk mengisahkan seorang teman yang bernama Dinda dalam sebuah frasa 🙂

Dinda Saat Mengikuti Ospek Jurusan

Dinda Saat Mengikuti Ospek Jurusan

Kacamata dengan Frame warna Merah adalah Salah Satu Indikasi Bahwa Dinda adalah sosok yang jahat,jutek, dan menyebalkan. Padahal sih menurut saya biasa aja :)

Kacamata dengan Frame warna Merah adalah Salah Satu Indikasi Bahwa Dinda adalah sosok yang jahat,jutek, dan menyebalkan. Padahal sih menurut saya biasa aja 🙂

Dinda on Close Up

Dinda on Close Up

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s