Komtingku Sayang, Komtingku DODOL

Kriwul… Kriting…. Jrawut-jrawut!! Itulah ciri-ciri dari ketua kelas angkatan atau komting saya ini. Tak pernah ada yang namanya hubungan khusus antara saya dan dia. Tak ada hubungan teman dekat. Hanya sebatas teman angkatan.

Ali adalah sosok yang sabar… Begitulah teman-teman menilainya. Ya, saya tahu dia sabar. Tapi saya tahu dengan pasti bahwa sebenarnya dia tidak sesabar itu. Orang lain cenderung mengatakan bahwa komting saya ini bukan sosok yang pemarah, tetapi bukankah tak ada manusia yang tak pernah marah? Bedanya adalah cara mengekspresikan rasa marah tersebut. Saya tahu bahwa komting saya ini marah dengan cara diam. Menumpuk rasa marahnya tersebut di dalam hati. Kemudian menjauhi orang yang membuatnya marah untuk beberapa saat sebagai bentuk menenangkan diri. Betul gak, komting???

Seandainya pernyataan saya di atas salah… salahkan saja Pak De mu, Ting!! Karena semua penilaian itu berasal dari Pak de komting. Ceritanya saat itu saya dan teman-teman angkatan berziarah ke rumah komting di Lamongan. Saya lupa waktu tepatnya, sekitar semester dua atau tiga (sepertinya). Saat itu saya sedang mencari-cari mushallah untuk shalat ashar dimana kemudian ada seorang bapak yang menanyakan tujuan saya. saat saya mengatakan mencari mushallah, beliau mengantarkan saya ke sebuah bangunan panggung dari kayu yang sudah agak reyot sembari berkata “itu mushallahnya, mbak”. Senang rasanya masih bisa menemukan bangunan tradisional di zaman global seperti saat ini. Tidak menyangka sekali bahwa daerah tempat tinggal Komting jauh lebih dusun daripada tempat tinggal saya.

Karena penasaran, saya bertanya pada si bapak mengenai bangunan mushallah itu. Terjadilah percakapan monolog oleh si bapak. Narasinya mengatakan bahwa semua mushallah di desa itu memang di bangun dari kayu dengan model rumah panggung dengan lampu minyak sebagai sumber cahayanya. Beliau sendiri tidak tahu pasti alasan mushallah panggung tersebut karena menurutnya itu sudah tradisi. Setelah menceritakan mushallah panggungnya, beliau bertanya “Mbak ini temennya Ikal ya? Saya Pak de dari Ikal, mbk. Almarhum itu adik saya”. Dan dari situlah saya tahu bahwa komting saya mengekspresikan marahnya dengan diam.

Sebagai seorang pemimpin dengan angkatan yang diisi oleh otak-otak mafia, komting tak bisa dibilang buruk. Namun komting juga manusia, dia pun pernah sekali masuk dalam jerat nepotisme ketika menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Walaupun masih dalam skala angkatan dengan beberapa puluh rakyatnya saja, nepotisme tetaplah nepotisme…. tak bisa ditolerir… tak bisa menciptakan kesolitan pada angkatan yang katanya sangar ini.

Punya geng atau kelompok main adalah hak komting, tetapi jika ia tak bisa memilah antara kepentingan angkatan dengan kepentingan kelompok bermainnya maka sikap itu sangat jauh dari kata pemimpin yang bijak. Ya ya ya…… komting adalah bagian dari kelompok bermain yang sama dengan yang saya ceritakan di halaman The special One. Di saat itu dia menjadi pemimpin yang menyebalkan dimana setiap keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang telah ia musyawarahkan bersama teman-teman kelompok mainnya. Kemudian saat keputusannya tersebut berujung pada sebuah kegagalan, kesalahan selalu dilimpahkannya pada teman-teman lain dengan mengatakan anak-anak seangkatan tak ada yang peduli pada tugas angkatan! Wessss…. jadilah perang dingin sempat beberapa kali terjadi di angkatan yang dipimpinnya. Kubu komting vs kubu oposisi!!

Kemudian, setelah semuanya mereda… Komting akan mengawali pidatonya dengan kata

“Wes yo..wes yo…”

Inilah yang saya ingat!! Selalu kata ‘wes’ dan ‘yo’ yang diulang dan diikuti oleh kata-kata lain khas seorang pemimpin. Mencari benang merah dan menarik kesimpulan secara diplomatis!! Saya tak hafal apa saja kalimat yang terlontar dari pidatonya tersebut, yang pasti selalu diakhiri dengan salam-salaman semua anak plus cipika-cipiki (hanya untuk ladies) kemudian berjanji untuk tidak mengulangi sikap yang membuat ketegangan diantara teman-teman angkatan. Benar-benar sebuah drama “Angkatan Dodol”!!!!

Secara personal, menurut saya si Komting ini adalah pribadi yang sedikit plinplan. Kadang-kadang menyenangkan, tetapi sangat sering menyebalkan. Membuat saya emosi jika harus melihat wajahnya. Kadang-kadang juga sok tahu! Saya pun sempat enggan berkomunikasi padanya selama hampir satu semester karena menurut saya dia begitu menyebalkan. Menyebalkan karena saat itu tidak mau membantu saya untuk menanyakan buku laporan saya yang hilang pada teman-teman angkatan melalui jaringan komunikasi angkatan. Saat saya meminta tolong, jawaban yang saya terima adalah

Laporanmu kan gak ada hubungannya dengan angkatan, Mei. Kamu tanya sendiri aja ke anak-anak. Kalo dijarkom paling-paling gak ada respon

Well…suatu jawaban yang bijak dari seorang komting dodol! Spechless dan benar-benar kecewa. Itulah yang saya rasakan beberapa semester yang lalu. Dan sehari setelah penolakan tersebut saya mendapatkan jarkom yang isinya kehilangan sebuah kamus bahasa Inggris milik salah satu teman dan kami diminta untuk menghubungi yang bersangkutan jika mengetahui keberadaan kamus tersebut. JANGKRIK!!! HEHH KOMTING…. MEMANGNYA KAMUS ITU ADA HUBUNGANNYA DENGAN ANGKATAN!!! CARI AJA SENDIRI SANA!! Semakin jengkellah saya pada si komting dodol!! Maaf Komting, jarkom itu tidak saya teruskan ke teman-teman yang menjadi alur jarkom saya. Kan kamu sendiri yang bilang bahwa jarkom yang tidak ada hubungannya dengan angkatan tidak akan direspon oleh teman-teman angkatan… and i do that!! Don’t care about your message!!! 😦

Nepotisme yang berlangsung selama dua semester tersebut setidaknya menjadi suatu pembelajaran bagi Komting bahwa seorang pemimpin, dalam keadaan apapun, harus tetap berada di sisi yang netral saat menjalankan kepemimpinannya. Tidak memihak kubu manapun. Tidak menguntungkan atau merugikan kelompok manapun. Sedikit berat mungkin, tetapi itulah konsekuensi seorang pemimpin.

Semoga insiden kecil yang terjadi secara tak sengaja itu tak lagi terulang saat Komting benar-benar menjadi seorang pemimpin. Jadilah pemimpin yang bijak dengan segala keputusanmu, kawan. Saya yakin bahwa komting memiliki talenta untuk menjadi pemimpin besar.
Ketika Belum Menjadi Komting

Komting Jelek

3 comments on “Komtingku Sayang, Komtingku DODOL

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s