(Mantan) Teman Dekatku Seekor Kancil

Awal mula saya mengenal seorang Kancil adalah ketidaksengajaan. Kondisi yang tidak sengaja itulah yang membuat saya menjadi kawan dekatnya di tahun pertama kami sebagai mahasiswa. Tak perlu saya ceritakan panjang lebar bagaimana kami saling mengenal, yang jelas tiba-tiba saja kami menjadi teman dekat.

Saya tak tahu mengapa ia dipanggil Kancil. Yang saya tahu adalah dia pernah mengatakan, “Kenapa sih anak-anak manggil aku kancil? Aku kan gak seneng, Mei”. Karena saya ingat betul apa yang ia katakan itu maka tak pernah sekalipun saya menyapanya dengan sebutan ‘Kancil’, melainkan memanggil namanya, “Resky”. Gadis dengan tinggi di atas 160 cm ini sangat menyukai warna pink. Uukkkhhhh…. so girly, so not me!

Aktivitas harian kami (saat itu) adalah:
1.    Makan bersama,
2.    ke perpustakaan bersama,
3.    saling berkirim SMS,
4.    saling telpon (sebenarnya dia yang selalu menelpon saya melalui telepon rumahnya. Please dehh…memangnya saya kebanyakan pulsa pake acara telpon-telponan??).

Topiknya tak pernah jauh-jauh dari Peterpan. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa kami (pernah) menjadi teman dekat. Sama-sama menyukai Peterpan. Sama-sama menyukai seorang Nazril Irham.

Selalu berangkat ke kampus bersama-sama. Masuk kelas bersama dan saling bersebelahan tempat duduk. Menjadi panitia di salah satu acara kampus bersama (Reskylah yang mencuci otak saya untuk menjadi bagian dari suatu kepanitiaan karena saya bukan tipe orang yang doyan jadi panitia). Lalu melarikan diri dari acara kepanitian tersebut bersama dengan alasan ada urusan penting dimana kenyataannya kami duduk bersebelahan di dalam salah satu gedung bioskop menyaksikan kisah cinta antara Aisyah, Fahri, dan Maria (Sayalah yang mencuci otak Resky untuk kabur karena saya tidak suka dengan status panitia suatu acara). Bermain-main di Blauran… Bukan buku yang kami dapatkan melainkan kaset OST Ayat-Ayat Cinta. Lalu bahu-membahu mengusir seekor tikus di kamar kos saya. Belum lagi makanan yang kerap kali ia bawa dari rumah khusus untuk saya. Kalau saya ingat-ingat, saat itu kami benar-benar seperti sepasang manusia yang saling mengenal sejak lama. Sepasang manusia yang seakan-akan tak pernah bisa dipisahkan.

Tak ada gading yang tak retak. Termasuk kedekatan diantara saya dengan seorang Resky. Menginjak tahun kedua, saya merasa prinsip kami berbeda. Ada hal mendasar dari dirinya yang membuat saya tidak suka. Sesuatu terjadi diantara kami. Sesuatu yang mungkin (sampai saat ini) tidak ia sadari. Sesuatu yang membuat saya marah (saat itu). Disela-sela kemarahan itu, saya sempat berfikir mungkin saya sedang bosan dengan hubungan pertemanan kami yang terlalu nyaman ini atau mungkin hanya sekedar miss communication. Namun kemudian saya tahu bahwa apa yang saya rasakan bukan sekedar bosan, melainkan benar-benar tak ingin melanjutkan. Ini masalah prinsip, kawan! Tak perlulah saya jelaskan panjang lebar mengapa saya tak mau lagi melanjutkan kedekatan ini, yang jelas semester tiga adalah saat terakhir kami menghabiskan masa perkuliahan bersama.

Tak ada lagi obrolan tidak penting via SMS. Tak ada lagi telepon dari Resky di setiap akhir pekan. Tak ada lagi percakapan tentang Peterpan. Tidak ada lagi makan bersama. Ibaratnya orang pacaran, saya telah memutuskannya. It’s over! Dan sekali lagi itu masalah prinsip (jangan dikira hanya hubungan pacaran saja yang butuh prinsip, bertemanpun butuh prinsip!).

Saya tahu bahwa sikap saya agak berlebihan. Saya menghapus dia dari list teman FB. Menghapus semua nomor teleponnya, baik ponsel maupun rumah. Menghapus semua foto-foto bersama kami. Tidak lagi duduk di sebelahnya saat mengikuti kelas kuliah. Bahkan saya tidak mengacuhkannya saat berpapasan di kampus. Saat Resky mengirimi puluhan SMS yang berbunyi “Mei, kamu marah sama aku? Memangnya aku salah apa?”, tak ada satupun SMS yang saya kirimkan untuk membalasnya. Saya benar-benar tak mau lagi mengenal seorang Resky.

Tidak sedikit teman-teman yang menanyakan sikap dingin saya terhadap seorang Resky dan jangan dikira saya tak tahu bahwa teman-teman lain menganggap saya keterlaluan. Saya tahu saya keterlaluan, tapi saat itu saya sedang ‘sakit’ dimana cara saya menyembuhkannya adalah jauh-jauh dari penyebab sakit itu. Jauh-jauh sejauh-jauhnya dalam kurun waktu tertentu supaya sakit itu sembuh. Lalu setelah sembuh, saya tak mau lagi dekat-dekat dengan ‘sumber penyakitnya’ supaya tidak lagi merasa sakit.

Sakit itu memang sudah berhasil saya sembuhkan, tapi sekali lagi ini tentang prinsip. Jika ada yang bertaya bagaimana hubungan kami saat ini, saya rasa baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang spesial dan tidak ada sesuatu yang buruk.

Saya memang tak lagi menjadi teman dekat Resky, tapi dia tetaplah teman angkatan saya. Sebagai bagian dari skuad Burung Hantu. Dan sebagai salah satu anggota dari BITS 07, saya masih bisa mentoleransi keberadaan seorang Resky. Cerita yang pernah saya jalani di tahun pertama bersamanya saya anggap sebagai pengetahuan umum bahwa hubungan pertemanan pun tak kalah rumitnya dengan berpacaran. Putus nyambung putus nyambung.

Karena saya buan lagi kawan dekatnya maka saya tak lagi merasa bersalah untuk memanggilnya ‘Kancil’…. Masa bodoh dia suka atau tidak!!!

She is Resky

Pink Girl

Advertisements

One comment on “(Mantan) Teman Dekatku Seekor Kancil

  1. Heya i’m for the first time here. I came across this board and I find It truly useful & it helped me out much. I hope to give something back and aid others like you helped me.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s