Preman Plus K-Lovers

 

 

Perkenalan yang diawali dengan celotehan mulut ceriwisnya bukan awal yang menyenangkan bagi saya. Pertama karena saya sama sekali bukan manusia yang suka dengan manusia yang banyak bicara. Kedua karena dia sangat banyak bicara. Intinya adalah si Anin itu cerewet. Itulah yang saya tahu di awal perkenalan kami.

Cewek kecil berkulit hitam ini adalah teman sekelompok saya selama pengkaderan jurusan. Aduhhh….karena sebelumnya saya telah menghakimi Anin sebagai manusia cerewet maka pusingpun menyerang saat mengetahui bahwa selama tiga hari beruntun saya harus bergaul denganya sebagai teman satu kelompok. Membayangkan bagaimana saya harus mendengar cicitannya selama 12 jam sehari membuat saya mual. Uhhh….padahal hanya sekedar membayangkan, belum benar-benar menjalaninya 😉

Benar deh, saat pengkaderan itu salah satu hal yang membuat saya enggan untuk hadir karena harus sekelompok dengan Anindyah. Tak suka dengan acara pengkaderan lalu di tambah dengan teman kelompok yang banyak omong membuat saya benar-benar acuh tak acuh terhadap segala acara pengkaderan yang hasilnya adalah saya tak lulus pengkaderan.

Entah dia menyadari atau tidak, selama dia ‘bernyanyi’ ketika kami dikader kuping saya ini buntu seketika. Tak banyak menimpali omongannya yang terdiri atas berbagai macam topik. Saat dia melontarkan guyonan, hanya saya yang diam terpaku. Tidak sekalipun mengikuti alur cerita humornya. Tak pernah menganggap leluconnya itu lucu. Kalau Anin menyadari saya tidak tertawa dan dia bertanya “Kok diem, Mei?” alasan saya adalah “iya, aku capek. Kepalaku pusing!” sembari tersenyum simpul. Padahal di dalam hati saya menggerundel “Kepalaku pusing gara-gara kamu banyak omong!”. Jahat ya saya… tapi mau bagaimana lagi? Karena di saat itu saya memang sedang dalam proses penyembuhan fobia ‘keramaian’ sehingga satu-satunya cara untuk menghindari celotehan Anin adalah bertahan. Mungkin ini pun adalah takdir Tuhan  dimana saya harus berada dekat dengan seorang Anin sebagai salah satu bentuk terapi. Mungkin karena itulah saya harus berterimakasih kepada si kecil Anin karena meskipun saya tak rajin menggubris obrolannya dia tetap mengajak saya mengobrol sehingga membuat saya sedikit terbiasa dengan keriuhan.

Satu hal lagi yang membuat saya harus berterimakasih pada Muncil adalah dia menyelamatkan saya dari suguhan aneh para senior di salah satu makan siang pada acara ospek jurusan tersebut. Wortel mentah, batang pisang, rumput-rumput gak jelas, sampai sereal wafer tanggo plus biskuit better dan campuran lainnya yang menjadi bagian saya disantap oleh Anin. Sumpah, saya emoh makan-makanan begituan. Mau dipaksa seperti apapun tetap gak mau. Jangankan makanan gak bener, makanan yang bener saja masih saya seleksi. Karena itulah sangat terimakasih saya haturkan kepada Anin yang dengan senang hati menyantap porsi saya.

Di hari terakhir itulah saya menyadari bahwa sikap acuh tak acuh saya kepada Anin sangat kekanak-kanakan. Bertahan diantara keramaian. Dia memang cerewet, tetapi itu adalah bentuk sosialisasinya terhadap lingkungan sekitar. Caranya untuk bersimbiosis dengan sesama. Dan karena Anin pulalah saya belajar bagaimana berinteraksi dengan banyak manusia. Sederhananya adalah Anin merupakan manusia pertama di angkatan yang memberikan pelajaran hidup kepada saya.

Gadis Lamongan yang di awal berkata berasal dari Jakarta inilah yang kemudian menjadi salah satu partner in crime saya selama masa perkuliahan. Mungkin karena karma pula. Karena sempat geregetan sekelompok dengan Anin, pada akhirnya hampir di setiap tugas mata kuliah (wajib) saya sekelompok dengannya. Bedanya adalah saya lebih enjoy sekelompok dengan Anin dibandingan saat satu kelompok pengkaderan.

Selain cerewet, preman adalah kata yang bisa menggambarkan karakter seorang Anin. Badannya memang kecil, suaranya saat bertutur kata juga tak terlalu keras. Namun jika berada di suatu forum dimana pesertanya cengengesan, jangan harap ada suara cempreng dan berisiknya. Yang ada hanya teriakan keras bin tegas yang cukup membuat peserta forum (yang pada umumnya adalah adik tingkat) terdiam, terpaku, tertohok, terkejut, dan kemudian tertawa saat melihat ekspresi Anin. Hahahahahahahahahaha……

Serius deh… Anin adalah salah satu senior yang ‘ditakuti’ oleh adik-adik tingkat kami. Beberapa diantara adik tingkat yang pernah menjadi praktikan saya sempat mengatakan bahwa Anin itu sok cuek, jahat, dan menakutkan. Saat saya menanyakan bagian sebelah mana Anin yang membuat mereka takut, jawabannya adalah;

“Pake bajunya itu loh mbak. Pasti celana jins bawahnya rumbai-rumbai. Terus kaos oblong pake jaket jins. Sepatunya juga kucel. Kayak preman pasar lah!”

Mendengar jawaban tersebut saya hanya bisa tersenyum sembari membayangkan Anin yang dilukiskan adik tingkat saya itu. Mau bagaimana lagi, itu memang style seorang Anin. Kalo dia harus pakai gaun dengan alas kaki high heels, namanya bukan preman dong!
Karena perawakan premannya itu Anin memiliki tugas khusus di angkatan saya. Anin adalah salah satu debt collector angkatan. Tugasnya adalah memburu teman-teman yang belum membayar urunan suatu acara, baik acara angkatan maupun acara jurusan. Pantas saja jika adik tingkat mengatakan kawan saya ini seperti preman pasar. Setiap kali bertemu selalu saja ‘meminta’ uang… hihihihihihihihihihihi…

Fakta terbaru nan fenomenal yang baru saya ketahui beberapa bulan terakhir tentang seorang Anin adalah dia salah satu K-Lovers! Pecinta berat artis-artis korea beserta drama serinya plus lagu-lagunya. Bukan karena beberapa hal tentang Korea sedang menjadi trend senter di beberapa tahun terakhir, melainkan karena dia memang telah menjadi pecinta korea setelah melepas seragam putih-merahnya. Luar biasa. Sama sekali tak saya sangka.

Laptopnya dipenuhi oleh film-film korea, lagu-lagu korea, hingga gambar artis-artis korea. Tanyakan saja padanya nama aktor atau aktris di salah satu drama Korea, maka ia akan menjawabnya dengan lancar. Saat saya menanyakan apakah ia memiliki lagu Korea yang saya cari, dia pasti akan berkata “Oh..yang nyanyi si AngIngEng itu kan?” Lalu jawaban saya adalah “Gak tahu” sembari menampilkan ekspresi bengong. Hebat. Kalau bisa, 10 acungan jempol saya berikan untuk kemahirannya melafalkan nama aktor dan aktris Korea.

Memang tidak ada yang luar biasa dari seorang K-Lover. Namun jika seorang K-Lovers itu adalah Anin jadinya sangat luar biasa. Kalau kata teman saya ‘gak ngawa’i blas’. Baju preman, wajah sangar, nontonnya super junior! Glodak!!!! 🙂

Namanya juga cinta. Love is blind and blind is love. Tak ada yang bisa mengontrol yang namanya cinta bukan? Eh eh eh…satu lagi fakta…. meskipun dandanannya macam preman, nama lengkapnya cewek banget loh… Anindyah Tri Asriningsih (maaf kalau ejaan dan penulisan gelar tidak tepat). Mungkin karena kurang pede dengan nama manisnya, dia hanya menuliskan ‘Anindyah T.A’ di setiap lembar jawaban ujian, absensi kelas,  ataupun file-file lain yang berhubungan dengan kemahasiswaan.

Hal lain yang membuat saya bisa bertahan di dekat Anin karena dia mengaku menyukai Juventus saat masih SD tapi jarang mengikuti pertandingan serta perkembangannya. Meskipun hanya sebatas menyukai, itu sudah cukup bagi saya untuk mau dekat dengannya. Saya tidak tahu apakah pengakuan sukanya akan Juventus itu benar atau tidak, karena bagi saya seseorang yang telah menyatakan rasa sukanya akan juventus pada saya adalah Juventini. Kalau pengakuannya itu bohong maka ia pasti terkena karma dimana selanjutnya ia tak akan sekedar menyukai Juve melainkan menggilai Juve, like me! 😉

Apapun bentuk dan karakternya, Anin adalah salah satu orang yang banyak memberikan pelajaran pada saya di masa-masa awal dunia perkuliahan. Belajar bagaimana menjadi manusia yang bisa berbaur dengan manusia lain. Belajar bahwa diam itu tidak selamanya emas. Gumawo, unni!!!

Saat si Preman Dikader 🙂

Sok Menyembunyikan Muka!

 

 

4 comments on “Preman Plus K-Lovers

  1. I am commenting to make you be aware of what a exceptional experience my friend’s daughter undergone reading through your blog. She figured out a lot of pieces, with the inclusion of how it is like to possess a wonderful helping spirit to get other people without problems thoroughly grasp specified tricky subject areas. You really surpassed readers’ desires. Many thanks for delivering those interesting, trusted, edifying as well as easy tips on that topic to Lizeth.

  2. Greetings from Idaho! I’m bored to tears at work so I decided to browse your website on my iphone during lunch break. I really like the info you present here and can’t wait to take a look when I get home. I’m surprised at how fast your blog loaded on my cell phone .. I’m not even using WIFI, just 3G .. Anyways, excellent site!

  3. I’m very happy to read this. This is the kind of manual that needs to be given and not the random misinformation that is at the other blogs. Appreciate your sharing this best doc.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s