Sang Pemimpi

Sebuah kenyataan yang bisa saya ketahui selama menjadi bagian dari Burung Hantu Liar adalah kami akan menjadi dekat atau paling tidak mengenal karena praktikum dan Tugas Akhir. Itu pulalah yang membuat saya mengenal seorang Arsetyo Rahardhi (entah ejaan namanya benar atau salah :P). Seorang teman angkatan yang dikenal dengan nama Aryo.

Saya ingat betul bahwa Aryo adalah manusia yang mengatakan bahwa saya vampir! Gila! Pertama karena kulit saya yang putih pucat, kedua karena suhu tubuh saya yang saat diukur dengan termometer ketika praktikum tidak normal. Saat itu kami memang satu kelompok praktikum di salah satu mata kuliah. Ketika praktikum dengan materi sahu tubuh manusia, saya menjadi probandus (kelinci percobaan) di kelompok kami. Setelah termometer masuk mulut saya selama 10 menit, angka termometer tersebut menunjukkan angka minus 5. Asisten saya lalu berasumsi bahwa termometer tersebut rusak. Lalu dicobalah termometer yang lain, suhu yang terlihat adalah minus 7. Lalu di termometer yang ketiga suhu tubuh saya dituliskan minus 2. Padahal saat itu adalah pengukuran suhu tubuh tinggi. Ketika semua termoter yang saya gunakan dicobakan pada praktikan lain, suhu yang ditunjukkan adalah suhu tubuh normal manusia. 28 – 30 derajat celcius. Melihat hal tersebut asisten saya hanya bergumam “Aneh”, tetapi Aryo dengan santainya berkata “Tuh kan… aku wes ngerti, Mei. Koen iku ancen vampire. Mana ada suhu manusia normal minus kalo gak hipotermia?”. Sialan!!! Bahkan karena pernyataannya itu saya memiliki fikiran bahwa saya memang bukan manusia normal. Sampai-sampai saya bertanya pada mbah Google ciri-ciri vampir! Gendheng!! 😦

Aryo dikenal sebagai salah satu sosok laki-laki yang banyak bicara daripada kaum adam pada umumnya. Salah satu Cak Suroboyo ini dikenal lebih senang bergaul dengan kawan-kawan wanita, daripada teman laki-laki di angkatan kami. Hingga akhirnya muncullah anggapan dan fikiran dia adalah pria melambai. Sebuah penilaian yang menurut saya tidak adil. Kalau saya harus menganalisis mengapa Aryo lebih senang bergaul dengan kawan-kawan wanita saya karena dia tidak memiliki hobby yang sama dengan teman laki-laki angkatan yang merupakan makhluk minoritas di angkatan kami (dan bahkan di jurusan).

Aryo punya minat di dunia fashion dan pariwisata ataupun sesuatu yang ada kaitannya dengan budaya. Minat minoritas di antara teman laki-laki angkatan. Karena teman laki-laki di angkatan saya tak memiliki minat yang sama dengan Aryo, maka tidak mungkin Aryo bercakap-cakap tentang dunianya itu dengan mereka bukan? Jadilah Aryo menjadikan perempuan sebagai teman dekatnya di kampus sebagai komunitas untuk melampiskan hobbynya karena memang mayoritas perempuan tertarik dengan dunia yang Aryo suka. Kan gak enak kalau kita harus membicarakan sesuatu yang kita suka dengan orang-orang yang tidak menyukai sesuatu yang kita suka itu?

Saya juga begitu… gak mungkin lah saya mendiskusikan peluang juara Juventus di setiap musim dengan teman-teman perempuan saya yang memang tidak menyukai dunia kulit bundar. Mereka tidak akan paham. Tidak akan mengerti. Dan apa enaknya ngobrol lama dengan seseorang yang tidak tertarik dengan dunia kita? Garing cint….. 😉

Karena itulah Aryo jauh lebih dekat dengan teman-teman perempuan daripada laki-laki di angkatan. Entah penilaian saya ini benar atau tidak, tapi itu hanyalah pendapat saya tentang Aryo. Sebuah penilaian subjektif seorang teman yang bisa saja tidak tepat.

Kami bukan teman dekat. Tidak pernah ngemall bareng. Tidak pernah nonton bareng. Tidak pernah curhat-curhatan. Tapi paling tidak kami pernah menjadi satu bagian dari yang namanya kelompok praktikum.

Saya ingat bahwa di tahun pertama kami dia adalah bagian dari penyiar radio kampus. Tidak banyak teman-teman yang mengetahui bahwa dia mengudara setiap senin sampai kamis pukul 10.00 WIB (seingat saya sih) di saluran radio kampus, tapi toh dia tetap menjalani profesinya. Saya tak tahu topik siarannya apa, yang saya tahu adalah saya bisa merequest lagu yang ingin saya dengarkan. Saat itu saya sedang tergila-gila dengan lagu Pandangan Pertama-nya Ran. Dan dari situ saya tahu bahwa Aryo adalah sedikit dari manusia yang percaya pada sesuatu yang disebut mimpi.

Saya yakin bahwa semua orang mengenal apa itu mimpi. Semua orang juga pasti punya mimpi. Tapi tidak semua orang berani mengatakan apa mimpinya. Tidak semua orang benar-benar yakin akan mimpinya. Banyak orang memiliki mimpi tetapi menutup mulutnya rapat-rapat sebelum mimpinya terwujud, sehingga ketika ia tak berhasil meraih mimpinya orang lain tak perlu tahu dan ia tak perlu merasa malu, tetapi ketika mimpi itu terwujud ia menjadi show off dengan memamerkan kesuksesannya. Aryo tidak. Dia berani menceritakan apa yang ia cita-citakan. Ia berani mengungkapkan dunia yang ingin digelutinya. Dunia yang menjadi passionnya. Saya percaya bahwa alam akan berfikiran sebagaimana fikiran penghuninya. Jika saya percaya pada mimpi yang akan terwujud, maka alam pun akan mewujudkannya. Mungkin itu pulalah yang mennjadi keyakinan Aryo. Memberikan fikiran positif pada dunia, sehingga dunia memberikan balasan yang juga positif.

Sebagian orang mimpi dari hidupnya, tetapi Aryo hidup dari mimpinya. Tidak hidup di dalam mimpi, tetapi bermimpi untuk hidup. Dia percaya bahwa mimpi itu hak bagi setiap umat manusia. Dia juga tidak pernah ragu bahwa suatu saat mimpinya itu akan menjadi nyata.

Saya tidak mengetahui apa yang Aryo fikirkan dan bagaimana penilaiannya kepada saya. Tapi bagi saya Aryo adalah petunjuk Tuhan bahwa dunia masih memiliki tempat bagi umatnya yang bermimpi. Saya rasa saat ini Aryo sedang berada di suatu tempat yang dia suka. Berada di dunia yang memang menjadi cita-citanya. Dan tentu saja sedang berjuang keras untuk mimpi besarnya. Good luck, Yok… Tetaplah yakin dan semangat bahwa Allah tidak pernah menghukum hambaNya yang punya cita-cita dan mimpi. Bukankah Dia juga menegaskan dalam salah satu ayatNya bahwa nasib suatu kaum tidak akan berubah jika ia tidak merubahnya sendiri. Selama kita percaya, yakin, dan terus berusaha, semuanya adalah mungkin.

Satu hal yang membuat saya mengurangi simpati pada Aryo adalah pernyataannya yang tanpa beban mengatakan “Aku dulu Juventini. Tapi pas Juve menang, Mei. Saiki wes kalahan, jadi males”. Cocotmu Cak… mentolo tak tapok! 😛

Cacak Suroboyo

Cacak Suroboyo

Sisi Erotis si Aryo

Sisi Erotis si Aryo

 

Aryo diantara Teman Perempuan Seangkatan

Aryo diantara Teman Perempuan Seangkatan

Aryo di Masa Ospek :)

Aryo di Masa Ospek 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s