Si Cimeng

 

Sosok yang tak akan mungkin luput dari pantauan saya adalah seorang Robby Febrianto. Laki-laki pecinta berat Mulan Jameela ini benar-benar seorang etnis China tulen. Pandai membujuk, merayu, mengorek-ngorek informasi, basa-basi, dan sejenisnya. Mulutnya itu sangat mudah melahirkan statement dan komentar untuk apapun yang terpapar di depan matanya. Intinya adalah cerewet plus heri (heboh sendiri) 🙂

Jika berada satu kelompok dengannya saat praktikum, presentasi kelas, atau tugas kelompok…. jangan harap bisa melalui hari dengan tenang sebelum tugas kelompok selesai!  Saat saya harus sekelompok dengannya di beberapa praktikum, kecomelan mulutnya itu benar-benar di luar kebiasaan dari kaum adam. Pagi, siang, sore, malam tak pernah berhenti mengirimkan pesan singkat untuk mengingatkan bagian tugas saya. Hadeeeehhhhh…. tolong ya….. karena saya merasa kurang suka akan sikap heboh nan over antusiasnya tersebut maka ketika ada tugas untuk kelompok praktikum kami, saya terlebih dahulu mengatakan

Tugasku A, B, C, D, E ,F, G!! Aku sudah tahu!! Dan H-2 sudah aku kasih ke kamu, Ok?!! Kalo ada masalah, kita diskusi. Tapi kalo masalahnya cuma sekedar kamu mau ngubrak-ngubrak aku buat ngerjain tugas, kamu kerjain sendiri aja tugasnya!

Entahlah… terkadang saya merasa agak jahat pada kawan saya yang satu ini, tapi mau bagaimana lagi coba? Dia boleh saja heboh dan nyuruk-nyuruk teman-teman lain untuk menyelesaikan tugas kelompok, tetapi kalau hal itu dia lakukan pada saya….. matilah kau, By!!

Saat kami menjadi asisten di mata kuliah praktikum yang sama juga begitu… Di saat saya menjadi koor asisten dimana salah satu anggotanya adalah Robby… hemmmmm….. heboh tenan!! Apalagi ketika memasuki waktu perekapan nilai. Omongannya itu panjang lebar… yang praktikannya belum ngumpulin laporan, praktikannya masih minta perbaikan nilai, atau dia masih di kampunglah….. Intinya hanyalah dia belum menyelesaikan rekap nilai yang telah jatuh tempo!!! Deeeehhhhh…. kakean alasan banget!! Sudah cerewet dan bikin heboh…. belum selesai ngerekap pula?!! Ck ck ck ck ck….

Sama halnya dengan semua ciptaanNya, Robby bukan manusia paling bebal atau paling baik sedunia. Pada tingkat pertama kami mengenyam bangku kuliah, saya mengenalnya sebagai tukang kerpek alias tukang contek saat ujian! Benar-benar bukan sikap terpuji, kawan! Saat itu kami memang belum terlalu dekat. Tak ada tegur sapa, tak ada makan bersama, tak ada percakapan intens, dan saya rasa saat itu dia sama sekali menyepelekan keberadaan saya. Namun lagi-lagi karena ketidakacuhannya itulah saya jadi bisa memberikan penilaian dengan leluasa.

Saya tak tahu apakah dia mengetahui bahwa saya tahu jika dia tukang kerpek!! Yang saya tahu adalah dia ingin nilai. Dia ingin indeks prestasi tinggi. Bagaimanapun caranya, yang penting tujuannya tersebut tercapai. Bagusnya adalah dia berhasil menyelundupkan salinan materi dengan cara apapun di bawah pengawasan dosen-dosen kami (Buat bapak Ibu dosen yang pernah mengampu Robby… nyesel gak sih punya mahasiswa seperti Robby?). Buruknya adalah tindakan ini buruk! Heiii…. saat itu memang masih 2007, tapi 2007 kan sudah masuk abad 21?!! Masih saja ngerpek? Mahasiswa pula… kuliahnya di ITS pula….. haduh….. gak keren blas!! Jujur saja bahwa saat itu saya iri dengan IP yang dia dapat… tetapi jika mengingat caranya mendapatkan nilai tersebut…. Sorry Man…. saya lebih bangga akan nilai saya.

Meskipun begitu, ketika kami berada di tingkat tiga dunia mahasiswa, dia membuat pengakuan dosa pada saya. Dia menceritakan bagaimana lihainya dia melakukan tindakan kerpek-mengerpek jawaban ketika ujian…. Saya sendiri tidak mengetahui mengapa tiba-tiba dia membuka aibnya di depan saya dan setelah dia bercerita tentang kenakalannya itu saya mengaku bahwa saya tahu tentang kecurangan kecilnya itu. Dia pun mengatakan  ingin berubah. Dia ingin berusaha mencari nilai dengan usahanya sendiri.  Karena penasaran maka saya menanyakan mengapa tiba-tiba saja ia ingin bersikap layaknya malaikat, dia tersenyum simpul sembari menjawab;

Aku gak sengaja denger omongan kamu ke Rika. Kamu bilang ke dia kalau terus-terusan mbacem atau ngerpek, pas TA nanti bisa-bisa kelimpungan. Masa TA mau mbacem?

Ya Tuhan…. saya saja lupa pernah mengatakan hal tersebut…. Ngerpek, mbacem, dan sejenisnya mungkin pernah melekat erat pada kawan saya itu… tapi setidaknya dia punya niatan untuk memperbaiki diri. Mencoba untuk menjadi lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk berubah, bukan?

Ketika beberapa teman masih mengatakan bahwa yang namanya Cimeng tak bisa lepas dari mbacem atau ngerpek atau mbuju’i….. emmmmmm…. saya tak ambil pusing dengan penilaian teman-teman lain. Saya hanya berusaha berfikiran positif dan meyakinkan diri bahwa semua orang pantas diberi kesempatan kedua. Bahkan seorang Snape saja dapat menjadi salah satu kepercayaan Dumbledore…..:)

Semoga saja pengakuan dosa dan niatan Robby tak hanya sekedar tipu-tipu belaka. Mungkin penilaian saya terbatas dan tak mungkin benar-benar tahu apa yang ada di dalam tempurung kepala Robby… tetapi bukankah ada Tuhan yang mengetahui segalanya? (Awas saja jika semuanya cuma tipuan mulutmu, By… Mantraku lumayan manjur loh!! ).

Dia cerewet dan sangat pintar berbasa-basi, benar-benar sikap yang tak masuk dalam keahlian saya. Tapi karena itulah, dia memiliki banyak teman atau kenalan (terlepas dari teman atau kenalannya yang juga pandai berbasa-basi, atau memang mereka orang baik sehingga mau berteman dengan Robby atau memang mereka terlalu lugu sehingga mudah masuk perangkap basa-basinya).

Robby terlalu gradak-graduk dan kerap kali membuat hidup tak tenang…. Tetapi karena itulah dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dengan tepat waktu! Yupp… On Time!! Tidak selesai H-2 pengumpulan memang, tetapi setidaknya tepat waktu! Selain itu, gradak-gruduk alias super hebohnya dalam setiap pengerjaan tugas kelompok tersebut sejatinya adalah kemampuan dia bekerja sebagai suatu team. Suatu kemampuan yang tak dimiliki oleh semua orang (mungkin termasuk saya).

Tukang gossip!! Ok….. untuk hal yang satu ini no comment lah….. Karena itu adalah masalah kawan saya dengan para pencinta gosipnya! Sepertinya hal ini masih agak sulit dihilangkan sebagai kebiasaannya….:)

Satu hal yang membuat saya penasaran adalah sikapnya di semester-semester akhir yang jauh lebih manis terhadap saya. Cimeng yang di awal perkuliahan hanya sebatas mengkopi catatan kuliah saya dari teman saya yang lain, dengan berani datang ke tempat saya di luar batas jam malam kosan untuk meminjam catatan kuliah saya secara langsung (untung saja tidak ketahuan Ibu kos… bisa-bisa saya diberi surat peringatan jika ketahuan membuka pintu kosan jan 11 malam hanya untuk sebuah Cimeng!!!). Belum lagi ajakan ngemall, makan siang dan dinnernya…. satu lagi… sarapan bersama setelah foto-foto di salah satu perumahan terkenal di Surabaya yang tak mengizinkan adanya bidikan kamera (alhasil kena semprit satpam setempat)….. Astaga…

Apapun bentuknya dan bagaimanapun sikapnya….. saya harus berterima kasih pada Robby karena telah menjadi salah satu teman baik saya selama di kampus….

Sukses selalu ya, By… Lain kali kalau mau traktir makan, jangan di warung coklat dongggg…… aku bisa bayar sendiri kalo di sana… Ok??!!! 🙂

Salah Baju Yang Paling Sering Di Pake si Roby adalah Kemeja Garis-Garis Vertikal —> Untuk Menyamarkan Pembesaran si Perut ya, By?? 😉

Ekspresi Roby Saat Ambisinya Berada Di Ujung Tanduk

 

One comment on “Si Cimeng

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s