Tante Ladies

Salah satu teman main saya di kampus adalah Ika Puspita Ningrum… Teman-teman lain memanggilnya mbk Ika karena usia kami sebenarnya memang terpaut dua tahun. Tapi selama saya bermain bersamanya saya panggil aja dia dengan namanya… “Ika… Kaaaaa… Ika…”  Benar-benar kurang ajar gak sih saya??? 😉 Hahahahahaha…… Siapa suruh berkawan dengan saya!!!

Apa ya yang bisa diceritakan darinya? Tinggi, kurus, dan selalu bilang “aku cantik” setiap kali bercermin. Heeeeee….. Capek dehhh!

Persamaan kami adalah sama-sama emoh lama-lama di jurusan. Kalo sedang senggang kami selalu melangkahkan kaki ke perpustakaan pusat. Di perpus ngapain? Nyari buku dong!! Jika kalian mengetahui perpustakaan pusat ITS, naik saja ke lantai lima (bisa pakai lift atau tangga manual), kemudian setelah melewati pintu masuknya, belok ke sebelah kanan… Rak paling depan di sisi lantai lima itulah yang paling sering kami jelajahi bersama di perpustakaan karena selain rak tersebut saya dan Ika selalu berpisah jalan.

Setelah selesai dengan buku-buku bacaan sebelum tidur, kami selalu cari kue-kue di lantai dasar perpus…. beli kuenya selalu sore-sore, sekitar pukul 4 karena saat itulah kue-kue di sana kena sale gede-gedean…. salenya bisa sampai 70% dari harga kue di pagi hari! Sesekali pulangnya (jika keluar perpus sebelum jam 1) mampir makan gado-gado di gedung TPB.

Awal perkenalan pertama saya dengan mbk Ika adalah ketika kami harus bersama-sama melangkahkan kaki di setiap hari senin dan kamis pada pukul 08.30 dari arah jurusan Biologi ITS hingga Jurusan Teknik Informatika ITS dimana jaraknya sekitar 1 km. Yaaa… kami jalan kaki pulang pergi untuk mengikuti kelas kalkulus dan fisika!!!!!

Ya Allah… saat itu benar-benar saat terberat pada masa perkuliahan saya. Saya sama sekali tak punya minat terhadap kalkulus ataupun fisika, tetapi harus bersua dengan kedua mata kuliah tersebut selama satu tahun. Karena keduanya adalah mata kuliah bersama maka ruang kelas yang digunakan terserah ibu bapak yang ngatur kuliah bersama ini. Dan sialnya saya mendapatkan ruang kelas yang jauuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh dari tempat kos. Gak bisa naik motor, gak ada sepeda…. akhirnya jalan kaki sejauh 4 km  setiap seminggu!! Nasib oh Nasib!!!! Untunglah saya punya teman jalan bareng, jika tidak maka saya yang tak doyan kalkulus (atau simpelnya matematika) ini pasti rajin bolos!! Namun hikmahnya adalah saya bisa mengenal seorang Ika. Beginilah takdir Tuhan… mempertemukan dua anak manusia pada waktu paling tidak menyenangkan sekalipun.

Di semester empat kami tidak menyepakati pacta apapun. Tak ada perjanjian. Tak ada kesepakatan. Tiba-tiba saja hubungan pertemanan ini jauh lebih dekat dari sebelumnya. Interaksi antara saya dan Ika tak hanya sebatas jalan bareng ke Teknik Informatika karena kami memang telah lepas dari yang namanya tahun pertama bersama, tetapi juga jalan bareng ke kampus. Jalan bareng ke mushallah jurusan. Jalan bareng ke kantin pusat (yang akhirnya beralih ke kantin SCC). Jalan bareng ke Galaxie Mall. Semuanya berjalan tanpa syarat apapun. Mungkin perjalanan bersama menuju kelas kalkulus dan fisika adalah awal mula bagi jalinan pertemanan ini, namun saya masih ingat dengan pasti bahwa sebenarnya kedekatan saya dan Ika dikarenakan kerenggangan antara saya dengan teman saya yang lain. Bukan untuk pelarian semata, lohhhh… melainkan sebagai pilihan yang benar-benar saya pilih.

Tidak pernah bertanya macam-macam pada saya. Tidak pernah berpura-pura mengatakan “Aku gak belajar” ketika hendak mengikuti kuis atau ujian lain karena saya tahu dengan pasti bahwa jika ia mengatakan tidak belajar, itu artinya dia memang tidak belajar….. Tidur atau ngegame atau nonton film. Pasti itu yang dilakukannya jika tidak belajar guna menghadapi ujian!! Selalu minum susu ultra coklat setiap pagi… entah itu untuk gaya-gayaan atau memang doyan, yang pasti saya sedikit kesal jika dia meneguk susu itu di sebelah saya…. HUEEEEEKKKKKKKKKK…… Saya gak suka SUSU!!!!!

Dari seorang Ika saya belajar bagaimana caranya menangis di dalam senyuman. Ika bukan orang yang suka mengerutkan keningnya setiap saat, tetapi dia tak banyak melemparkan senyum di masa-masa awal perkuliahan kami. Namun sikapnya itu berubah saat kami berada di awal semester empat. Saat dimana ia harus kehilangan seorang Ibu. Dia menjadi pribadi yang lebih riang. Lebih sering menyapa teman-teman seangkatan. Lebih sering memulai pembicaraan. Dan lebih sering ikutan gosip teman-teman lain. Lebih sering tersenyum. Namun saya tahu bahwa di balik senyumannya itu, ada tetesan air mata sebagai wujud kepedihan atas meninggalnya sang Bunda. Saya yang memang tak bisa banyak bicara tak pernah sekalipun mengatakan “yang sabar ya, kak” seperti teman-teman lainnya. Saya hanya bisa melakukan penghiburan dengan cara menemaninya dengan diam. Dia diam, sayapun diam.

Sungguh, ketika itu saya benar-benar ingin sedikit menghibur Ika. Caranya adalah mendiskusikan apapun yang tak berhubungan dengan Ibu. Pokoknya menjauh dari topik Ibu. Tetapi entah mengapa pengalihan topik pembicaraan itu lebih sering gagal. Misalnya, ketika kami belanja jajanan di Sakinah (swalayan mahasiswa ITS). Saat itu saya hendak membeli kacang koro, kemudian saya berkata “Ini makanan kesukaan Nui, Kak! Makanya aku beli koro. Jadi nanti cepet habisnya, kan dimakan berdua”. Ika menimpali dengan kalimat “Nui suka koro ya? Kaya ibuku. Almarhumah ibuku juga suka koro

Ya Ampunnnnnn…. salah lagi dehhh saya… rasanya saat itu saya ingin mendekap kawan saya itu dan mengatakan “Sabar yaaaaa…”. Namun seperti biasa, saya hanya tersenyum dan meninggalkannya mengamati setoples gede kacang koro.

Saya pun harus mengucapkan terimakasih pada Ika karena setiap kali kami mengerjakan tugas bersama-sama, baik presentasi maupun paper, dia selalu menuruti topik yang saya ajukan (entah dengan sukarela atau dibarengi dengan gerutuan dongkol). Benar-benar berterimakasih saat Ika menyetujui mempresentasikan jurnal pilihan saya untuk tugas Evolusi.

Kawan saya telah melepas masa lajangnya dan akan meninggalkan tanah Jawa untuk mengikuti si suami. Saya pasti akan merindukan saat-saat kami bergosip melalui jendela YM!. Merindukan kamar kos yang awalnya dicanangkan untuk belajar bersama tetapi berubah menjadi nonton dan tidur bersama. Merindukan hari-hari yang saya habiskan dengannya…..

Terimakasih atas kepercayaanmu terhadap mimpi-mimpi saya. Mimpi itu masih ada, kawan. Saya masih bisa melihat Eropa… Bahkan sepertinya terlihat lebih jelas…. Wish me luck, Ladies!!! 😉

Tante Ika 🙂 Kept Smiling, Aunty!!

In Her Wedding 🙂

2 comments on “Tante Ladies

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s