Teman Saya

Hei… kumpulnya di depan kosan Desy!”
“loh..kok Desy? Di depan kos Puput… bukan Desy”
“enggak…kemarin jarkomnya kita kumpul di depan kos Desy, kok!!”

Perdebatan tersebut berlangsung selama 30 menit… hanya untuk menklarifikasikan apakah kami harus kumpul di depan kos Puput atau Desy. Perdebatan yang dodol dan jika mengingatnya lagi rasanya benar-benar kuplak!! Desy atau Puput jadinya? Dua-duanya!! Desy Puspitasari adalah nama lengkap dari teman saya, Puput. Namanya Desy puspitasari dengan nama panggilan Puput??? Dapat dari mana ya??? Sampai sekarangpun saya masih bingung mengenai nama panggilan kawan saya tersebut!! 😉

Cewek asal Sampang, Madura, ini adalah teman main saya yang lain. Teman yang rumah kosnya sering saya kunjungi untuk sekedar menunggu kelas atau numpang bobok siang. Teman yang sedikit agak lama nyambungnya jika saya hujani dengan banyolan cerdas, tetapi mudah sekali tertawa jika disuguhkan guyonan sederhana yang dimengertinya.

Orang yang baru mengenalnya akan mengatakan Puput lucu karena sering kali kebingungan tanpa sebab. Orang yang telah lama mengenalnya akan mengatakan puput memiliki perkatakaan yang super duper nyelekit dan menyebalkan. Namun bagi siapapun yang benar-benar mengenalnya, puput adalah sosok yang baik hati. Baiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk banget…… Mau minta bantuan apapun, jika dia bisa pasti dibantu. Bagusnya lagi ia tak pernah sekalipun mengungkit-ngungkit pertolongan yang pernah ia berikan pada orang lain.

Pernah suatu kali (di awal-awal semester) dia mengajak saja ke rumah kos salah satu teman main kami. Puput mengatakan teman kami tengah sakit. Menjenguk teman sakit memang biasa, tetapi ekspresi yang terpancar dari wajah Puput tidak biasa. Dia panik dan kebingungan… maunya cepet-cepet nyampe teman kos saya yang sedang sakit itu. Saat melihat teman kami menangis di atas kasur kamar kosnya, dia langsung memijit-mijit kakinya sembari berkata “Biasanya kamu minum obat gak? Obat apa?”. Kemudian berangkatlah saya dan Puput ke apaotek-apotek di sepanjang area kampus kami untuk mencari obat yang dimaksud teman kami itu. Saat Puput menanyakan merek obat yang dimaksud teman kami pada mbak-mbak dan mas-mas di apotek dengan sedikit memaksa dan terburu-buru, dari situlah saya mulai tahu bahwa Puput itu teman yang baik.

Karena saya tahu Puput adalah teman yang baik maka sesekali saya meminta bantuannya untuk menyelesaikan tugas menggambar di salah satu laporan praktikum yang saat itu saya ikuti. Keunggulan Puput lainnya adalah dia bisa menggambar dengan bagus. Menurut saya bagus banget malah jika dibandingkan dengan gambar yang saya hasilkan. Jika laporan Puput diberi nilai plus lima lantaran gambarnya keren,  laporan saya di minus karena asisten merasa gambar sel yang saya buat mirip tengkorak :). Seandainya Puput tidak mau membantu saya menggambar mungkin setiap mengumpulkan laporan yang harus ditulis dan digambar tangan, nilai saya akan dikurangi lantaran gambar buruk rupa yang saya hasilkan.

Hal lain yang membuat saya suka pada Puput adalah dia kerap kali membawakan saya camilan khas daerahnya di Sampang, Madura. Snack ini sejenis kacang-kacangan. Mirip kedelai, tapi bukan. Kalau dilihat dari bentuknya, juga mirip biji kacang panjang. Rasanya enak…. pedas manis. Orang sana menyebutnya dengan ‘otok’. Kriuk kriuk mak nyosssss…… Camilan yang hampir selalu menemani kebersamaan kami. Camilan yang kata Puput memiliki mitos bahwa siapapun yang memakannya tak akan pernah bisa berhenti sampai si otok habis. Hihihihihihihihihihi…… tapi saya rasa mitos tersebut benar kok karena saya sendiri sudah membuktikannya. Pokoknya saya bersedia menjadi saksi hidup jika harus membela kebenaran mitos si otok!!! 😉

Puput adalah orang yang pertama kali membuat saya mengerti bahwa belanjapun butuh bakat. Tidak semua orang punya bakat belanja, tapi Puput punya itu. Dialah yang mengajarkan saya bagaimana caranya membeli baju. Dia memang bukan pengguna Louis Vuitton, Armani, atau Versace…. tapi dia cukup mengenal merek-merek pakaian lokal yang katanya berkualitas. Dia juga satu-satunya manusia yang dengan berani memberi saya barang dengan warna yang bukan pilihan saya. Mulai pink baby atau princess sampai ungu berpita-pita….. Hikksssssss…… Tapi saya tahu, dibalik keusilan kurang ajarnya itu, dia tetaplah pribadi yang baik.

Ok lah… cukup cerita tentang betapa baiknya seorang Puput… Sekarang cerita yang lucu-lucu tentangnya. Ya… selain baik, alasan saya mau menjadi salah satu teman ‘main’ nya karena dia lucu (menurut saya). Lucu dalam artian, selalu saja mendengarkan dengan serius setiap kata yang saya ucapkan. Padahal kata-kata saya itu hanyalah sekedar banyolan atau perkataan spontan yang sama sekali tak punya maksud lebih.

Misalnya ketika suatu hari perbincangan kami berujung pada topik nyalon. Puput merekomendasikan berbagai perawatan salon yang harusnya saya lakukan dimana salah satunya adalah spa. Karena saya memang kurang begitu suka banget dengan acara nyalon dalam bentuk apapun maka yang saya lakukan adalah mendengarkan Puput dengan seksama sembari mencari celah untuk sedikit mengusilinya. Saat Puput menjabarkan harga-harga spa yang ditawarkan beberap salon, tiba-tiba saja saya berkata

150 Mahal, Put. Aku lagi gak punya uang lebih kalo segitu. Mendingan di Royal. Lebih murah, terus banyak pilihannya. Masa kamu gak tahu?

Puput : “Masa, Mei? Padahal kan tempatnya lebih bagus. Memang harganya berapa?”

Saya: “Iya beneran. Harganya mulai dari 30 ribuan sampe jutaan. Terserah kamu mau milih yang mana” (dengan tetap memasang mimik serius)

Puput : “Murah yaaaa…. bagus gak, Mei? Itu spa apa?”

Saya : “Standar sih sebenernya. Spa Tu” (saya tetap menjawab dengan ekspresi datar)

Puput : “Hahhh???” (ekspresi bingungnya mulai muncul… dan itulah yang saya suka)

Saya : “Iya.. SE-PA-TU! Banyak kok di Royal. Coba aja cari, pasti dapat yang bagus-bagus” (kata saya lagi sembari tersenyum nakal pada Puput)

Puput yang akhirnya menyadari bahwa dia kembali terperosok dalam dialog nakal saya menjerit “MMMMMMMMEEEEEEEEEEEIIIIIIIIIIIIIIIIIII” sembari mengeluarkan jurus balas dendamnya dengan menggelitik pinggang saya. Dan kemudian kami tertawa bersama.

Saya bukan menertawakan teman saya itu, tetapi tertawa senang karena memiliki seorang teman yang bisa membuat saya tertawa.

Tertawa dengan orang yang mau berteman dengan saya tanpa embel-embel meminjam buku catatan. Tertawa bersama teman yang tak pernah menjadikan UAS atau UTS atau Kuis sebagai alasan. Tertawa dengan teman yang tak hanya datang pada saya saat ia atau saya sedang senang, tetapi juga saat ia atau saya sedang berjumpa dengan masalah. Berteman dengan seseorang yang tak datang pada saya saat ia kurang, tetapi sok tidak mengenal ketika merasa cukup. Tidak datang ke kosan saya hanya untuk mengkopi tugas kuliah atau laporan praktikum. Tidak ada basa-basi dalam area pertemanan kami. Hal itulah yang membuat saya sangat suka berteman dengan Puput.
Beberapa orang lain mengtakan bahwa perkataan yang sering terlontar dari Puput menyakitkan hati. Ya… itu memang benar. Kadang-kadang omongannya memang terlalu pedas dan menyindir. Tapi saya tak bisa menyalahkannya, karena hal tersebut juga berlaku bagi saya. Mungkin memang benar kata orang bahwa orang-orang di dekat kita adalah orang-orang yang karakternya tak jauh beda dengan kita.

Seseorang pernah bertanya pada saya, “Mengapa saya mau berteman dengan Puput?” Jawaban saya adalah “Karena Puput mau berteman dengan saya”. Saya tidak peduli kata mereka yang mengatakan bahwa Puput menyebalkan karena saya juga menyebalkan. Saya tidak peduli kata mereka yang mengatakan bahwa Puput seringkali membuat jengkel orang karena saya pun kerap kali membuat jengkel orang. Thats All.

Kalau saya ingat-ingat lagi tentang apa yang sudah saya lalui bersama Puput selama berada di Surabaya rasanya sangat banyak. Terlalu banyak untuk dituliskan di halaman yang terbatas ini. Apapun bentuk cerita yang banyak itu, saya ingin mengucapkan terimakasih pada Puput yang selama empat tahun terakhir ini menjadi teman main saya. Terimakasih atas semua cerita yang sudah ditorehkan di halaman-halaman catatan harian saya. Terimakasih atas waktu yang telah diberikan untuk menghabiskan hari-hari senggang kuliah bersama saya. Terimakasih juga karena telah menemani saya di rumah sakit  saat Mami di rawat inap. Terimakasih untuk undangan menginap di rumahnya dengan menu Bebek Songkemnya (hemmmm…jadi pengen lagi, teman). Terimakasih karena mau menjadi teman saya 🙂

Semoga hubungan pertemanan ini tak hanya sebatas pertemanan antar mahasiswa satu jurusan, tetapi juga bisa menjadi pertemanan hingga maut memisahkan (memangnya cuma pasangan suami istri yang berharap begitu? Pasangan pertemanan juga boleh dong!!!) 😉

Dear Puput, Masih ingat gak dengan potret ini?? Saya ingat banget lohhh... 😉

4 comments on “Teman Saya

  1. hahaa,,,, ingat2 aku,,,
    tu kan di kapal fery di perak,,,
    saat itu jg km py imajinasi yg kuat ya pas ad cwo dsampingQ,, gaggagakk,,,,

    makasih juga yua uda jadi temen baikQ disaat temen2 yang lain mulai menjauh,,,
    ak ga bakal lupa kebaikanmu teman,,, *alay

    huaaaa,,,, ak nyebelin ya teman?? hikss….

  2. Heya i’m for the first time here. I found this board and I find It really useful & it helped me out a lot. I hope to give something back and help others like you helped me.

  3. I believe this is among the such a lot significant information for me. And i’m satisfied studying your article. However wanna commentary on few general issues, The web site taste is perfect, the articles is in reality great : D. Just right activity, cheers

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s