Teman Yang Hilang

Kata orang, siapapun yang berasal dari pulau garam itu tidak sopan, kasar, urakan dan apapun yang berhubungan dengan perilaku anarkis merupakan ciri masyarakat Madura. Manusia yang bernama Liza menutup semua paradigma tersebut. Seorang teman angkatan yang saya kenal sebagai sosok dengan kesopanannya yang tinggi, tidak kasar dalam bertutur kata, meskipun sedikit urakan.

Bagi saya kesopanan seseorang salah satunya diukur dari caranya berbicara kepada kedua orang tua. Seseorang yang memiliki tata krama dalam berkomunikasi dengan orang tuanya, dia sudah termasuk makhluk sosialita yang punya karakter sopan. Sebagai warga negara Madura asli, bahasa Madura adalah bahasa ibu kedua bagi Liza. Dan dengan bahasa Madura lah Liza selalu bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya. Saya memang tidak pernah mendengar dan melihat secara langsung perckapan mereka, tetapi percakapan antara Liza dengan orang tuanya melalui sambungan telepon saja sudah membuktikan bagaimana kebiasaan mereka bercakap-cakap. Bahasa Madura yang digunakan adalah bahasa halus yang kata Liza adalah ‘grammar’ enggi bunten. Salah satu strata dalam bahasa Madura yang merupakan strata tertinggi dan tersopan. Sama seperti kromo inggil di bahasa Jawa. Sebenarnya kawan saya yang berasal dari tanah Jawa juga banyak yang bertutur kata sesuai strata EYD bahasa Jawa, tetapi karena image awal yang melekat pada orang Madura tadi menjadikan saya takjub ketika mendengar Liza dengan fasihnya bertutur dengan bahasa enggi bunten. Satu lagi, selama saya tahu, kawan saya ini tidak pernah pura-pura tuna rungu saat orang tuanya menghubunginya via telepon.

Bahkan bagi saya Liza terlalu sopan ketika harus menahan amarahnya terhadap dosen di masa-masa pengerjaan Tugas Akhirnya. Kesal pada dosen, tetapi tetap muncul di hadapan dosen plus mau menjadi mbak asisten yang baik hati, ramah, dan tidak sombong. Kalau saya yang ada di posisinya, minggat (dan memang itu yang saya lakukan)!!! Tapi Liza, sosok yang terlalu sopan untuk tidak menuruti apa yang dikatakan oleh dosen. Sebenarnya dia punya potensi untuk tidak sopan, tapi mungkin karena didikan keras dari orang tua sejak kecil maka potensi tersebut tidak bersinar terang. Dan ibu Liza adalah seorang guru. Mau bagaimana lagi, bukankah tugas seorang guru adalah membentuk karakter sopan pada muridnya?

Mungkin karena anak seorang guru pulalah Liza tidak pernah bersikap kasar (setidaknya di hadapan saya). Tak pernah melemparkan kotak pensil pada siapapun yang menjahilinya (seperti yang saya lakukan). Tak pernah menepis tangan seseorang yang hendak menggodanya (seperti yang saya lakukan). Tak pernah menghardik praktikan yang tidak nurut asisten (seperti yang sangat sering saya lakukan). Meskipun salah satu kursus singkat bahasa Madura yang dia berikan pada salah satu teman saya kurang elok karena dia mengajarkan kosa kata tak senonoh, bagi saya Liza tetaplah kawan yang punya tata krama.

  Liza Febby Kurnianti. Salah satu teman angkatan yang sangat mudah menghamburkan senyumnya pada siapa pun yang berpapasan dengannya. Pada dosen. Pada senior. Pada junior. Pada teman-teman seangkatan. Sebuah senyum yang entah bagaimana bisa dengan mudahnya terutas manis meskipun suasana hatinya sedang kacau. Sampai kadang-kadang saya sulit membedakan antara senyum tulus dengan senyum basa-basinya. Kecuali setelah tersenyum dia bergumam “ngapain sih senyum-senyum. Gak ngerti orang pusing apa!” dalam bahasa Madura, barulah saya tahu bahwa senyumnya hanya sebuah basa-basi.

She was my good friend. Now? She’s gone! Saya tidak ingat bagaimana kami bisa menjadi teman dekat, saya pun tidak ingat bagaimana detail kami bisa tiba-tiba berjauhan hingga akhirnya putus hubungan.

Tapi saya ingat betul bagaimana kami menghabiskan waktu bersama di masa perkuliahan. Sakit perutnya di tahun pertama kuliah adalah awal mula saya, Puput, dan Liza kemudian banyak menghabiskan waktu luang kuliah kami bersama-sama. Saat itu saya & Puput hendak mengerjakan laporan praktikum, kemudian SMS Liza pada Puput ‘merusak’ rencana kami. Akhirnya saya & Puput disibukkan dengan acara mencari obat untuk Liza. Sebuah permulaan yang manis untuk sebuah hubungan pertemanan.

Saking manisnya hubungan kami, Liza mau meneguk seceret air putih yang sudah bercampur beberapa sendok madu. Saat itu Liza secara tak sengaja menumpahkan madu milik Puput ke dalam ceret air putih yang baru saya isi penuh. Kemudian setelah mendengar perkataan Puput “Loh.. itu mahal loh madunya” (dalam bahasa Madura), Liza langsung meneguk habis isi ceret tersebut. Saya yang sedang membaca materi untuk persiapan pretes praktikum hanya menyaksikan adegan Liza meminum air putih seceret dengan Puput yang hendak menghentikan aksi Liza sembari berkata “Sudah Liza… Ngapain di minum”. Setelah ceret tersebut kosong, Liza menjawab pertanyaan Puput “Kamu bilang madunya mahal. Eman Pu kalo gak diminum”. Lalu kemudian terjadi percakapan diantara dua kawan saya tersebut yang saya lupa detailnya, yang saya pahami adalah Liza & Puput memang jodoh dan saya beruntung bisa menjadi bagian dari hubungan yang manis ini.

Manisnya cerita di hari itu masih berlanjut. Setelah menyadari bahwa kami akan menghadapi ritual sebelum praktikum, pretest, Liza & Puput mengikuti apa yang sedang saya lakukan. Mereka mulai membaca materi praktikum. Beberapa saat kemudian Liza bertanya “Mei, liat catatanmu. Kamu belajar apa?”

Saya menjawab dengan memberikan catatan yang tengah saya baca. Kemudian Liza menanggapi dengan perkataan “Ngapain belajar Spermathophyta, Mei? Hari ini kan materi kita Gymnospermae?!” dengan ekspresi seolah-olah saya kurang kerjaan.

“Ya belajar aja” jawab saya pelan sembari tersenyum.

Kemudian terjadilah ‘bisik-bisik’ Liza & Puput dalam bahasa Madura “Mei itu ada-ada aja. Mau praktikum apa, belajarnya apa” sembari menjauhkan catatan saya dari diri mereka.

Saya, menanggapi dengan diam.

Pukul 13.00 kami sudah duduk manis di depan meja, di dalam laboratorium. Asisten mulai membacakan soal praktikum “Nomer satu… Sebutkan minimal 5 perbedaan Gymnospermae dengan Spermathophyta!”, Ah…. benar-benar sebuah hubungan yang manis antara saya dengan Liza.

Cerita kami pun berlanjut hingga tingkat akhir perkuliahan. Waktu dimana kami memasak bersama. Waktu dimana Liza mengajari saya bagaimana caranya memasak bubur. Waktu dimana Liza menemani saya di kos saat rumah kos hanya menyisakan saya sebagai penghuninya. Semua waktu itu benar-benar sebuah waktu dimana saya merasa sebagai manusia normal.

Sebuah pernyataan Liza yang sampai saat ini saya ingat adalah

“Mei, kamu kan KP di luar Jawa Timur. Jangan sampe lupa sama aku ya. Kita harus tetap berhubungan. Kalau sudah lulus juga harus tetap berhubungan. Pokonya kept contact

Sebuah pernyataan manis yang membuat saya mengerti bahwa saya juga punya perasaan. Serius, saat mendengar pernyataan Liza itu rasanya ada sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti minum obat batuk vicks formula 44 saat terkena flu. Melegakan, menyegarkan dan menyenangkan.

Setelah itu, perlahan-lahan cerita antara saya & Liza seperti mengulum lolipop. Manis di awal emutan, lalu asam di tengah-tengah, kemudian hambar, dan akhirnya tidak terasa apa-apa. Jika sebagian besar teman-teman angkatan memulai cerita pertemanan mereka di masa Tugas Akhir maka cerita saya dan Liza berakhir di masa-masa urgent ini.

Ketika saya telah selesai dengan masalah Tugas Akhir dan dunia perkuliahan lainnya, saya menyempatkan diri untuk menginjakkan kaki ke kampus untuk menemani Liza yang masih berkutat dengan TA nya. Dan saat itu Liza benar-benar menyebalkan. Dia memang tersenyum pada saya, tapi itu hanya senyuman basa-basi. Kami memang bercakap-cakap, tapi itu hanya percakapan basa-basi. Saya mencoba mengerti kondisinya saat itu. Saya mengerti dia pusing karena TA, mungkin dia mengerti saya yang masih dalam suasana duka. Deg-degkan karena TA. Repot karena TA. Dan mungkin dia tak ingin berbagi pusing, deg-degkan dan repotnya saat itu dengan saya. Tapi setelah perkara TA selesai, tak adakah keinginan kawan saya itu untuk berbagi kisah? Terakhir kalinya saya memiliki cerita dengan Liza adalah ketika dia berkunjung ke rumah saat Mami tiada. Sebuah kunjungan yang membuat saya senang di waktu yang tidak menyenangkan.  

Akhirnya cerita kami selesai. Saya tak tahu nomor ponselnya. Saya pun tak tahu apa kesibukannya saat ini. Teman saya benar-benar menghilang. Bahkan ketika saya hendak mengucapkan selamat ulang tahun di hari kelahirannya, saya tak tahu bagaimana caranya menghubungi Liza. Via FB? Ahhh…bagi saya FB hanya sebuah media basa-basi yang lain. Bukan media yang tepat untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada seorang teman. Meskipun saya harus menyadari bahwa untuk saat ini FB adalah satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa Liza masih hidup.

Bukan saya yang mengatakan kami harus tetap berhubungan. Bukan saya yang mengingatkan supaya kami tidak saling lupa. Bukan saya pula yang menyuruh supaya kami saling memberitahu jika hendak mengganti nomor ponsel. Bukan saya pula yang tiba-tiba menghilang dan menamatkan cerita. Semoga saja saya bisa menemukan kawan saya yang hilang ini, as soon as posible. Apapun yang dilakukannya saat ini, dimanapun dia berada sekarang, dan bagaimanapun dia… semoga Liza tetaplah sosok sopan, tidak kasar, dan sedikit urakan seperti yang saya kenal. Really hope that she wasn’t my good friend.

Merayakan Hari Bumi. KegiatanSenang-Senang Terakhir Saya & Liza sebelum TA

Merayakan Hari Bumi. KegiatanSenang-Senang Terakhir Saya & Liza sebelum TA

Saya Dan Liza di Masa TA-nya

Saya Dan Liza di Masa TA-nya

Saat Dimana Liza Berkunjung ke Rumah (Lama) Saya

Saat Dimana Liza Berkunjung ke Rumah (Lama) Saya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s