The Lucky Girl

 

Rambut pirang, ngomong blak-blakan, hobby shopping dan jalan-jalan. Tak ada yang lebih pantas mendapatkan predikat tersebut kecuali seorang Noviana Candra Dewi. Si pirang…. Julukan itulah yang disandang oleh Dewi di awal perkuliahan kami.

Menurut ceritanya, dia sama sekali tak pernah memiliki niatan untuk kuliah dengan alasan sudah sangat capek mikirin pelajaran. Karena itulah, selama mengikuti kelas kuliah dia selalu duduk di deretan bangku nomer dua dari belakang. Bersama teman-teman mainnya, Dewi sangat jarang memperhatikan penjelasan dosen… apalagi mencatat! Yang dia lakukan adalah SMS san, foto-foto, dan tentu saja bergosip! Bahkan cara mengajar seorang dosenpun tak luput dari topik gosipnya.

Jika dipikir-pikir, Dewi memiliki bakat menjadi paparazzi karena entah bagaimana caranya dia berhasil memotret dosen atau teman-teman lain yang tertidur di kelas atau bahkan membidikkan kamera ke wajahnya sendiri. Jangan mikir Dewi motret pake kamera SLR atau kamera-kamera TV, kalau jenis kamera yang moncongnya panjang itu yang dia pakai…. hebat banget dong mbk Dewi karena bisa memotret muka dosen tanpa ketahuan! Ini serius loh… Saya saja pernah melihat langsung potret dosen yang berhasil ia bidik. Padahal saat itu kami berada di kelas mata kuliah pilihan yang jumlah mahasiswanya tak lebih dari 25 orang… Atau jangan-jangan dosen saya ngerti kalau dia tengah dijadikan model secara sembunyi-sembunyi?

Dewi adalah orang pertama yang sibuk memperhatikan orang lain saat dosen tengah menerangkan materi kuliah di dalam kelas. Dan dia juga adalah orang pertama yang tertawa keras ketika dosen menyelingi kuliahnya dengan sedikit humor. Kelakuan acuh dan tak terlalu menggubris keberadaan pengajar di depan kelas ini tak berlaku ketika kami mengikuti kelas Pengantar Bioteknologi. Saat itu orang pasti berfikir bahwa Dewi adalah mahasiswa teladan. Di atas meja ada catatan, tangannya memegang bolpoin, dan pandangan matanya tertuju pada orang yang berdiri di depan kelas. Benar-benar aneh ketika saya melihat hal tersebut untuk yang pertama kalinya. Coba saja main-main dengan ponsel atau cekikikan di kelas yang diajar dosen tersebut, alamat akan mendapat nilai AmbilLagiTahunDepan alias tidak lulus mata kuliahnya! Hanya Ibu Pengantar Bioteknologilah yang bisa membuat Dewi lupa akan HP dan gossip-gosipnya!

Bagaimanapun tingkahnya di dalam kelas, di mata saya Dewi adalah the lucky girl. Sangat-sangat beruntung, terutama dalam masalah nilai-nilai akademis. Dewi tidak tergolong manusia yang rajin belajar (maaf, Wi). Dewi tidak termasuk mereka yang rajin pinjam buku di perpustakaan (maaf lagi, Wi 😉 ). Dewi adalah bagian dari mereka yang tidak pernah tidak mbacem laporan praktikum (sepurane, mbak). Dewi tak pernah lepas dari kata mencontek saat UAS atau UTS atau kuis #kecuali di kelas Pengantar Bioteknologi# (sepurane sanget, mbak 🙂 ). Namun nilai-nilainya tidak berbeda jauh dengan mereka yang belajar tekun setiap hari. Meskipun tidak pernah mendapatkan nilai melebihi anak-anak yang memang langganan dengan predikat A, tetapi nilainya jauh melampaui teman-teman yang dengan nggetu belajar sampai larut malam dan meminjam semua catatan kuliah saya untuk difotokopi. Tanpa belajar penuh, tanpa harus mencatat, tanpa harus mendengarkan penjelasan dosen… nilai yang dia dapat tak jauh-jauh dari B atau sekitar 70! Lumayan loh nilai segitu untuk seseorang yang hanya bisa ngikutin jawaban orang lain!!! Untuk kelas kalkulus, dia mendapatkan nilai yang luar biasa. Jangan mengira karena dia jago, karena saya tahu betul darimana sumber nilai A untuk mata kuliah kalkulusnya.

Bahkan saya pernah menceritakan betapa beruntungnya dia ketika kami harus berbarter nilai untuk salah satu mata praktikum. 71 menjadi 90….. Apa namanya jika tidak beruntung? Nilai yang seharusnya tertera di kartu puas praktikum saya malah terukir manis di kartu milik Dewi…. Ya Allah… saat itu rasa-rasanya ingin sekali memberikan sedikit bogeman untuk Dewi! She’s very lucky!

Meskipun saya bukanlah kawan terdekatnya…. saya pernah dekat dengan dia di beberapa kesempatan. Pertama ketika melaksanakan kerja praktik (KP) di Kaliurang, Yogyakarta. Kedua saat menjadi asisten di hampir semua praktikum Botani selama dua tahun terakhir. Ketiga sewaktu mengerjakan TA. Dehhh…. bisa membayangkan bukan bagaimana dekatnya kami? Tak jauh-jauh dari masalah akademislah!!

Saat teman-teman sedang gencar berburu tempat dan partner KP, saya telah menetapkan dimana saya akan melakukan Kerja Praktik (KP). Saat itu saya tak banyak membicarakan tempat KP. Dan kemudian Dewi datang dengan sebuah pertanyaan “Kamu udah dapet tempat KP, Mei?” Jawaban saya tentulah “sudah”…. hanya tinggal menyelesaikan proposal dan mengirimkannya ke tempat tujuan. Dan kemudian semuanya terjadi begitu saja. Dewi meminta agar saya menjadi partner KP nya dan saya mengiyakan saja karena toh saya memang belum memiliki kawan. Rencana awalnya adalah saya melakukan KP dengan Dewi dan salah seorang kawan kami yang lain. Namun karena masalah teknis, akhirnya saya hanya melaksanakan KP dengan mbak Dewi.

Beberapa orang teman pernah menanyakan mengapa saya memilih Dewi sebagai pasangan KP. Diantara mereka pun ada yang mengatakan “Sabar ya, Mei”. Bahkan ada pula yang menyarankan supaya saya mencari teman KP yang lain.

Mendengar komentar-komentar tersebut, saya hanya bisa tersenyum. Mereka menyuruh saya sabar? Untuk apa? Memangnya saya akan KP bersama seorang monster atau orang gila? Dan untuk apa pula saya mencari teman KP lain jika telah memiliki teman sekelas Dewi?!! Kenapa saya setuju melakukan KP dengan Dewi? Karena saya tahu dia itu punya keberuntungan yang luar biasa dan saya ingin diciprtai sedikit keberuntangannya itu! Itulah alasan saya.

Lagipula, tak ada yang salah dengan Dewi! Kecuali tempe yang ia masak setiap hari, saya sama sekali tak pernah menyesal lantaran harus menjalani KP bersamanya. Ya… hanya tempelah masalah saya saat itu! Saya tidak suka sama yang namanya tempe, tetapi Dewi tak pernah mendengarkan keluhan saya itu. Dia terus saja mencekoki saya dengan tempe goreng untuk sarapan :(. Karena saya tak bisa memasak, jadilah saat itu saya memaksakan diri untuk memamah si tempe. Saya tak peduli lagi akan rasa, yang saya pedulikan adalah kenyang. Yang penting perut terisi meskipun rasanya macam keracunan tempe.

Ada peristiwa yang masih saya ingat ketika kami berada di Yogyakarta. Saat itu hari Sabtu dimana kami libur KP. Dari awal kami sudah memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan mencicipi busway ala Yogyakarta alias trans Jogja. Ceritanya saat itu kami mengitari malioboro… kalau pergi sama Dewi gak mungkin dong ke toko buku… Berangkat dari rumah jam setengah 4 sore, nyampe Malioboro jam setengah lima. Muter-muter…kemudian minum-minum… Saat adzan maghrib berkumandang, kami segera menuju masjid DPR untuk shalat (meskipun sibuk jalan-jalan, shalat harus tetep dong!). Karena belanjaan kami (Dewi) lumayan banyak dan antrian tempat wudlu yang lumayan panjang maka kami memutuskan untuk shalat secara bergantian dimana ia mempersilahkan saya untuk shalat terlebih dahulu.

Setelah saya shalat, saya menuju tempat dimana Dewi menunggu. Namun tempat itu kosong. Yang ada hanya sederetan mbak-mbk yang juga tengah menunggu antrian shalat. Pikiran saya saat itu adalah Dewi sedang shalat dengan membawa semua belanjaan kami. Setelah 20 menit saya menunggu tiba-tiba saja ada orang yang melambaikan tangannya pada saya dari arah pintu pagar masjid. Saat saya menajamkan mata, ternyata itu tangan Dewi! Lhohhhh…ngapain Dewi di luar? Tanpa banyak bertanya sayapun beranjak menghampirinya, kemudian setelah saya mengenakan sandal.. Dewi menarik tangan saya dan berjalan dengan tergesa-gesa. Saat saya menanyakan apakah dia sudah shalat, dia menjawab

Aku gak shalat! Tadi pas kamu shalat ada bapak-bapak yang nyamperin aku, Mei. Terus aku disuruh keluar masjid. Dia bilang aku gak boleh masuk masjid. Aku gak boleh shalat di masjid itu.

kamu gak tanya kenapa kamu harus keluar masjid? Memangnya masjid itu punya bapaknya apa?”, tanya saya dengan sedikit mengernyitkan dahi.

Soalnya aku pake celana pendek”, jawab Dewi singkat dengan tetap menggeret saya jauh-jauh dari masjid.

Saya diam mendengar pernyataan terakhirnya itu sembari melirik busana yang ia kenakan. Dengan susah payah saya menahan geli saat melihat wajah kawan saya yang masih terlihat kesal itu. Pantas saja jika ia disuruh keluar masjid… Masa masuk masjid dengan celana pendek? Benar-benar pendek! Memang hak setiap orang untuk memakai baju apapun yang diinginkan, tetapi setiap orang harus tahu kemana ia akan mengenakan pakaian tersebut bukan? Masuk Keraton Jogja saja tak boleh bercelana pendek, apalagi masuk masjid!!! Dewi…. Dewi…..

Dan setelah insiden pengusiran itu, lagi-lagi Dewi membuat saya senyum-senyum sendiri. Saat itu kami tengah asik melihat-lihat baju-baju daster di jalanan malio, kemudian tiba-tiba saja banyak sekali kilatan blitz dari seberang jalan. Karena penasaran kami melongokkan kepala untuk melihat asal cahaya kamera tersebut, kemudian semuanya terjadi begitu saja. Dewi menunjuk-nunjuk seseorang sembari berkata

“Mei, ada Nicky Tirta!!! Liat tu… Nicky Tirta!!!”

Saya bingung dan memandang Dewi dengan tampang bertanya… Saat melihat ekspresi kebingungan di wajah saya, Dewi kembali berkata dengan penuh semangat

“Nicky Tirta, Mei!! Itu lohhh…. yang suka main FTV!  Anaknya Dona Harun!! Masa gak kenal Nicky Tirta sih??”

Saya hanya membatin “Aku memang gak kenal Nicky Tirta!!! Memangya kami pernah satu sekolah bareng? Saudaraan juga gak!

Lalu dengan sabar saya berkata sembari menunjukkan tangan ke arah manusia yang Dewi maksud,

Itu Ricky Harun, mbak!

Dewi diam, kemudian berkata (setengah berteriak).

Ohhh… iya!! Ricky Harun!! Lali aku!! Ayo kesana, Mei! Aku mau foto bareng!!!” tanpa tedeng aling-aling Dewi menyerahkan kameranya pada saya, sedangkan dia menghampiri Ricky Harun yang tengah menggendong botol air mineral 1,5 liter yang endingnya tentu saja berfoto bersama (karena saya gak ngefans sama Ricky Harun maka saya hanya membidikkan kamera!)

Tapiiiiiiii………Sejak kapan Nicky Tirta jadi anak Dona Harun???? Benar-benar sableng!! Mungkin itu efek diusir dari masjid!! 🙂

Kalau saja saya mengikuti saran mereka untuk mencari teman KP lain maka selama KP kemarin saya hanya akan berkutat di kaliurang. Alasannya karena saya tak mungkin kos di kota atau daerah UGM sementara tenpat KP saya berada di Kaliurang. Mau naik angkutan Jogja-Kaliurang yang jalannya kalah cepat sama odong-odong? Selain itu saya tak harus mengeluarkan biaya kos lantaran selama KP saya dan Dewi ditampung oleh saudara calon suaminya (saat itu) dengan cuma-cuma. Karena KP bersama Dewi, saya jadi bisa muter-muter Jogja tanpa harus menggunakan angkutan umum. Dewi kan bawa motor, jadi dialah yang dengan setia menjadi sopir saya untuk mengitari Jogja. Saya jadi kecipratan keberuntungannya bukan? Simbiosis mutualisme lahhhh….. saya untung, Dewi untung! Saya dapat tempat tinggal gratis, Dewi dapat tempat KP bagus plus tak perlu repot-repot mengerjakan laporan KPnya. Plus dapat cerita lucu pula!!!

Kebersamaan selama KP pun berlanjut saat TA. Kami ngelab bareng, walau pada akhirnya berpisah jalan. Belanja bahan bareng. Ngopi bareng. Jajan bareng. Makan bareng. Bahkan pernah sesekali belajar bareng!!!! Untuk pertama kalinya mungkin saya belajar bersama Dewi yaitu ketika ia hendak melakukan seminar proposal TA nya!! Dia datang ke kos saya sejak pukul 7 sampai pukul 11 malam! Belajar! Benar-benar belajar!! Amazing! Saya jadi tahu bagaimana caranya supaya Dewi mau belajar…. Ancam dengan dosen pengampu Pengantar Bioteknologi kami saja! Kebetulan sekali dosen tersebut adalah salah satu penguji seminar proposal TA Dewi, sehingga untuk lolos dari cercaan pertanyaannya adalah belajar dengan sekuat tenaga!!! 😉

Saya merasa beruntung karena telah mengenal salah satu mahasiswa popular di jurusan… apapun penilaian orang terhadap NCD, saya tahu bahwa dia adalah teman yang baik. Cerewet mungkin, tetapi mudah membuatnya diam. Nakal mungkin, tapi itu hanyalah bagian dari hilaf seorang manusia. Teman yang telah mengenalkan warna baru dalam setiap bias kehidupan perkuliahan yang saya jalani.

NCD in Action

Saat NCD Menjadi Saintis 🙂

 

Advertisements

2 comments on “The Lucky Girl

  1. I think this is one of the most vital information for me. And i’m glad reading your article. But wanna remark on few general things, The site style is perfect, the articles is really excellent : D. Good job, cheers

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s