Untuk Mr @OfficialAllegri

Dua pekan pertama diakhiri dengan angka nol. Setidaknya merupakan hasil terburuk Juve dalam mengawali awal musim. Pak Pelatih, tugas utamamu di musim ini memang membawa si Kuping Besar ke Turin, tetapi bukan berarti Anda harus mengacaukan hasil manis Juventus di liga domestik!!! Kalau UCL terlampau berat, pertahankan saya scudetto sehingga tim saya bisa tetap beradda di zona UCL untuk musim depan!

Entah apa yang Anda pikirkan saat meracik skema permainan di dua pekan pertama. Bukankah Anda punya rentatan pemain ternama dalam skuad musim ini? Benar memang, saya sama sekali tak paham masalah meracik strategi, tetapi setidaknya saya tahu bahwa keputusanmu menjadikan Padoin sebagai starter sangat tidak bijak. Padoin bukan pemain jelek, saya bahkan lebih memilih Padoin di Juve ketimbang Anda. Tapi ketahuilah, Padoin bukan pemain yang pandai menentukan tujuan permainan. Dia sama sekali tak bagus jika dipasang dari awal. Lihat sendiri hasilnya, dalam dua pekan terakhir pemain bernomor punggung 20 mu tak memberikan kontribusi apapun selain sebagai pengisi starter. Dia hanya bagus setelah duduk di bangku cadangan, mengamati rekan-rekannya di lapangan selama 70 menit, hingga akhirnya bisa mengetahui arah geraknya saat menggantikan salah satu pemain. Padoin bagus jika ditugaskan menjadi pemain pengganti. Pemainmu sudah lebih dari cukup untuk meraup poin penuh di dua pekan terakhir jika saja Anda cukup jeli meracik strategi! Berpikirlah dalam jeda dua pekan sebelum menghadapi pekan ketiga!! Ingat, jangan samakan musim kedua Anda di Juventus dengan musim kedua Anda di M*l#n!!!

Satu lagi Pak Pelatih…. Tolong, ajarkan hal yang baik pada Paul Pogba. Ingatkan dia bahwa permainannya sejauh ini sama sekali tak indah dipandang mata. Mungkihkah nomor punggung yang dia miliki sekarang terlalu berat? Ajari dia bagaimana memperlakukan nomor keramat tersebut. Nomor sepuluh bukan hanya untuk mereka yang bisa mengocek bola dengan berbagai gaya, melainkan juga amanah untuk memperlihatkan kerendahan hati di lapangan. Sejauh ini, Pogba sepertinya terbuai dalam balutan kostum nomor 10 hingga akhirnya membuat dia lupa bahwa Juventus punya ‘nomor punggung’ lain. Katakan padanya jangan sombong, Sir! Tak perlu mengingatkannya pada Platini atau Del Piero, ingatkan saja akan Tevez yang mampu menjaga amanah nomor punggung 10 dalam dua musim terakhir.

Tolonglah Pelatih yang Saya hormati… kembalikan semangat Juventus ke dalam lapangan. Lecutkan perintahmu selama 90 menit di setiap pertandingan. Jangan duduk manis di kursi cadangan, lalu teriak berang di menit-menit akhir saat tim tertinggal angka dari lawan!! Perintahkanlah pemainmu untuk berlari selama 90 menit!

Pelatih yang Terhormat, saya berterima kasih atas prestasimu di MUSIM LALU… semoga bisa lebih baik di musim ini.

Advertisements

Grazie Juventus

Musim 2014-2015  diawali dengan rentetan cerita yang kurang menyenangkan.

Keputusan Antonio Conte untuk meninggalkan posisi sebagai kepala pelatih di Vinovo hingga penunjukan Max Allegri sebagai pengganti merupakan pembuka yang hambar. Bukan pilihan pengganti yang tepat, itulah pemikiran mayoritas teman-teman Juventini di seluruh muka Bumi. Banyak alasan yang menjadikan unjuk rasa penolakan Allegri sebagai pelatih Juve. Saya sendiri menolak Allegri bukan karena dia tidak bisa melatih, melainkan karena dia ‘bukan Juve’. Entahlah… yang jelas, saya tidak sedikitpun melihat semangat Bianconeri pada mantan arsitek tim Milano tersebut. No spirit. Tak ada ‘Lo spirito alla Juventus’ dalam sosok Max.

Tapi mau bagaimana lagi, keputusan siapa yang akan menukangi Juve tetap berada di tangan para petinggi club. Mau tak mau, ucapan ‘Welcome Max’ pun harus saya lontarkan. Lupakan Conte!

Belum lagi rumor, desas-desus serta gosip akan rencana hengkangnya Arturo Vidal ke Manchester merah… Awal musim yang begitu menggiatkan kerja suprarenalis!

Satu-satunya kisah manis di awal musim ini adalah kunjungan Juventus ke Indonesia. Melihat mereka berlari-lari di lapangan secara langsung, hanya berjarak 10 meter. Setelahnya.. saya berencana untuk menjalani musim ini dengan rentetan doa. Bukan karena pasrah, melainkan sebuah permohonan pada yang Kuasa untuk tetap mempertahankan tim ini dengan mental juara. Pasalnya, sebagaimana pemaparan di awal, tak ada aura ‘spirit’ dalam sekujur tubuh pelatih baru. Kami sudah meraih tiga gelar serie A beruntun, butuh mental yang lebih lagi untuk bisa mempertahankannya menjadi empat.

Musim kompetisi pun diawali dengan lawatan ke Verona. Sebuah laga pembuka yang sama sekali tak saya ingat jalannya. Skor akhir sepertinya didapat dengan susah payah. Setidaknya gol tunggal Martin Caceres membuat Juve membukukan 3 poin pertama di musim kompetisi baru. Pekan keduapun sama, tak ada greget Juve. Bermain di kandang menjamu Udinese juga tak membuat semangat Juve terlihat di lapangan… Bolehlah Tevez dan Morata mencetak masing-masing sebuah gol, tapi tetap… rasa Juve seakan-akan tak terlihat di J-Stadium.

Tapi tetap, dukungan saya 100% untuk tim. Berusaha untuk tetap setia menyaksikan mereka dari layar kaca. Tetap menjadikan nonton bareng sebagai salah satu agenda kencan. Berangkat ke venue Nobar pada pekan ketiga, berusaha tetap ceria walau panasnya arena nobar naudzubillah… Dan yaaa kecewa, karena tak bisa menonton pertandingan hingga akhir.. tak lebih dari 15 menit, listrik di wilayah setempat padam. Pekan ketiga vs Milano pun gagal menjadi titik balik semangat akhir pekan yang musim lalu selalu saya dapatkan sepulang nobar. Untunglah kami masih mendapatkan tiga poin. Menang satu gol (lagi).

Pekan-pekan setelahnya, setiap pertandingan di liga domestik tidak menggairahkan. Menang dalam tiga pertandingan beruntun, termasuk menggeser posisi AS Roma sebagai capolista di pekan ke 6… namun sama sekali tak terasa semangat alla Juve.

Benar memang, posisi puncak tetap berada di genggaman I bianconerri ketika tim hebat ini harus kalah sebiji gol dari Genoa di pekan ke 9, tetapi hasrat akan ‘Juventus’ tak juga muncul. Jujur saaja, musim ini saya sempat melewatkan beberapa pertandingan. Tak ada semangat untuk nonton bareng di akhir pekannya. Bahkan di sebuah jadwal pertandingan besar melawan tim biru hitam (nama tim sebenarnya tak boleh disebutkan, tabu!), pacar saya tertidur hingga kami batal nonton bareng. Dimulai dari pekan 17 itulah semangat saya akan Juventus hilang seketika.

Berkurangnya semangat pada tim juga ditunjukkan dengan kegagalan meraih tropi Piala Super Italia di Qatar pada bulan Desember…

Saya bukannya berhenti mendukung Juventus, melainkan tak ada semangat yang saya rasa kala Tim ini berlaga di liga. Tapi tetap saja, Juventus masih & selalu yang tercinta.

Rentetan pertandingan di Liga hingga pekan ke 38 tak saya hafal dengan benar… tak ada catatan rapi seperti musim lalu. Saya hanya berdoa. Hingga kemudian asa itu menjadi nyata. Kami tetap juara di pentas liga Italia. Berhasil finish di urutan terdepan. Tanpa 102 poin. Hanya butuh 87 saja dengan catatan 3 kali kalah, beberapa kali seri dan sisanya menang… Ahh, bahkan rincian hasil seri dan menangpun saya tak tahu.

Perjalanan Juve tak hanya sampai di Liga.. Kami pun menjadi jawara Coppa Italia. Sepuluh gelar untuk kompetisi kelas dua di negeri Pizza. Plus harapan besar untuk menggenapi musim di ranah Eropa.

Setelah sukses lolos dari babak penyisihan grup, Juve menghentikan laju Monaco di 16 besar, lalu menjegal Dortmund pada perempat final, hingga memaksa sang juara bertahan El Real angkat kaki di semi final pada laga Liga Champions Eropa (UCL). Partai puncak di Berlin mengharuskan kami bersua Barcelona. Sebuah asa lain muncul… di luar ekspektasi siapapun Juventus berhasil menembus final UCL musim 2014-2015.

Kata legenda hidup & besar Juve;

From Berlin to Serie B, From Serie B to Berlin!”

Harapan untuk membawa pulang Piala Kuping Besar dan uang 10 juta Euro semakin meningkat. Berharap Gigi Biffon bisa mendapatkan kesuksesan di stadion yang sama kala Ia mengankat trophy World Cup untuk Italia pada 2006 silam. Saya optimis, tetapi tetap realistis.

Skuad ‘alakadarnya’ akan berhadapan dengan bintang-bintang lapangan hijau. Saya percaya pada tim, bahwa mereka akan melakukan yang terbaik… tapi kami masih harus banyak belajar. Di akhir 90 menit pertandingan, Berlin belum berpihak pada Juventus.

Juventus masihlah salah satu yang terbaik di Eropa, dan selalu terbaik di pikiran dan hati saya. Delapan kali menembus final UCL dengan hanya dua kemenangan adalah cerita kurang beruntungnya kami di partai puncak. Menjadi runner-up yang ke 6 kali di pentas Eropa jauh lebih membanggakan daripada mereka yang hanya bisa berkomentar lantaran clubnya hanya bisa berlaga di liga lokal pada musim depan.

Musim ini…Target perempat final UCL terlampaui hingga final…. maka Juventus telah memberikan lebih daripada harapan yang mereka emban.

Berlin telah selesai… Juventus pulang tanpa mahkota, tapi bagi saya mereka tetaplah Juara. Saya pikir saya akan bersimbah air mata atas kegagalan di partai final UCL ini, ternyata yang ada hanya bangga dan rasa cinta yang lebih besar pada La Vecchia Signora.

Musim lalu kami gagal di kompetisi kedua Eropa, kemudian Juve memperbaikinya di musim ini dengan menembus Final UCL. Maka musim depan, prasangka positif untuk Trophy UCL haruslah dimiliki semua elemen Juve.. termasuk Juventini. Cukuplah hadiah 6.5 juta Euro untuk membenahi skuad di musim depan.

Jika memang Max Allegri tetap menjadi pilihan manajemen untuk mengarsiteki Juventus di musim depan maka dia HARUS memperbaiki ‘semangat’ Juve! Mengembalikan ‘Lo Spirito alla Juventus’ pada setiap pertandingan.

Terimakasih untuk musim ini, Tim! Apapun dan bagaimanapun hasilnya, selalu bangga bisa menjadi salah satu bagian dari semangat Bianconerri. Musim depan, semangat itu harus lebih digali. Harus lebih besar. Musim depan, kitalah yang terbaik di Eropa..

Cukuplah untuk musim ini… 33 gelar dan satu bintang perak… #4Ju33 #LaDecima …

Grazie Juventus.

#ProudOfJu

 

Hilang Satu Gelar

Satu piala yang  musim lalu menjadi milik Juventus harus berpindah ke tangan pasukan Naples.

Kesal rasanya ketika harus menyaksikan pertandingan selama 120 menit yang berujung dengan kekalahan.

Getir, ketika harus menerima kenyataan I Bianconerri tak bisa meraih gelar ke 7 Super Coppa Italia. Gagal menjadi perengkuh juara terbanyak, masih harus berbagi tempat dengan Milan sebagai peraih juara Super Coppa terbanyak se Italia.

Mau menghujat pun tak akan bisa merubah hasil akhir. Gelar sudah berada di tangan Napoli, kami harus puas dengan tahta kedua untuk super coppa di tahun ini.

Semoga saja lepasnya gelar yang dua musim beruntun lalu menajdi milik La Vecchia Signora, tak diikuti dengan hilangnya gelar lain yang telah menjadi milik Juve dalam 3 musim terakhir. Semoga saja tidak (Jangan sampai, Tuhan).

Semoga pemikiran itu hanya sebatas pemikiran tak baik akibat ketidaksukaan ini pada pelatih tim.

Maaf Pak Pelatih…. saya sama sekali tidak percaya pada anda. Saya tak butuh bermain indah. Saya tak butuh tim yang bermain atraktif. Kompetisi itu hanya menang dan kalah, Pak. Bermain cantik dan menarik adalah bonus. Saya tak perlu bonus yang nilainya kosong.

Ah, sudahlah. Biarlah gelar pertama ini lewat, mungkin pelatih kami berencana menggantinya dengan gelar yang lebih prestisius di akhir musim.

P.S: No matter what happen.. I’m still love you, Team! Please… do the best after the break.

 

Grazie Conte

Dan akhirnya drama Juventus musim 2014-2015 dibuka dengan mundurnya Antonio Conte sebagai pelatih tim utama.

Tidak ada rumor. Tidak ada berita kasak-kusuk. Semuanya nyata. Juventus harus rela melepas pelatih yang telah membuat cerita tiga juara beruntun di Turin.

Tak ada lagi allenatore Conte di musim 2014-2015.

Alasan Conte mundur memang masih simpang siur. Namun melalui surat yang dituliskan pemilik club tersirat bahwa Conte tak lagi memiliki ambisi dan tradisi yang diharapkan Bianconeri. Akhirnya berakhirlah kontrak kerjasama Conte dengan club. Ada juga kabar bahwa Conte akan menempati posisi pelatih Timnas Azzuri yang ditinggalkan Cesare Prandeli. Entahlah, semuanya masih sebatas spekulasi.

Maybe there was something that had been brewing inside for sometime. When you come to these decisions, it’s perhaps because there is no more willingness to continue working together. Sigh.

Apapun itu, tiga tahun bersama Conte adalah prestasi. Juventus kembali disegani di ranah Itali. Juventus kembali bertaji.

3 musim yang luar biasa, Coach!!!

Semoga saja spirit 3 musim terakhir masih tertanam dalam semua pemain. Pun semoga Anda sukses pada petualangan lain, saya harap Anda benar-benar pergi dari Juventus untuk timnas Italia (semoga saja).

Grazie Mille, Conte!!! Grazie per che… No 2 Senza 3!!! Forza Conte!!

P.S: Dear team… please stay with Juventus. My club need you, so do I.

3 Punti!

Masih dengan sisa rasa sakit setelah berhenti di panggung UCL musim 2012-2013, bertandang ke Olimpico bukan perkara mudah bagi pasukan Antonio Conte. Tapi…ini Juventus! Dengan semangat untuk mempertahankan gelar juara liga dan memperlebar jarak dengan Napoli yang dipertandingan sebelumnya hanya bermain imbang, Juventus terbang ke ibukota dengan target 3 poin.

Dan…Voilllaaaa…… 3 punti!!!!

Vidal menjadi pahlawan dengan melesakkan dua gol ke gawang lawan. Jarak 11 poin pun menjadi perbedaan pemuncak klasemen dengan runner up.

Thats All… Good Job, Team!! Keep Calm for 31 Campione 🙂

Grazie, Team :)

Grazie, Team 🙂

:)

🙂

Cerita Kontra Pescara

Ekspresi Conte :D

Ekspresi Conte 😀

Kartu Merah & Pinalti Untu Juve

Wasit: “Gue kasih kartu merah nih King Artur” | Vidal: “Tambah pinalti, baru keren” | Wasit: “Iya, bentar lagi juga gue kasih pinalti” | Vidal: “Oke. Biar Mirko yang nendang. Gue Capek” 🙂

Luca Marrone :)

Luca Marrone

Lambayan Tangan ini untuk apa om? Storari ya... mentang-mentang pemain Juve nyerang terus, jadinya nyambi bobok siang... Kebobolan sebiji deh :P

Lambayan Tangan ini untuk apa om? Storari ya… mentang-mentang pemain Juve nyerang terus, jadinya nyambi bobok siang… Kebobolan sebiji deh 😛

Fabio Quagliarella Masuk Menggantikan Seba Giovinco yang Cidera

Fabio Quagliarella Masuk Menggantikan Seba Giovinco yang Cidera

Stephan Linchsteiner.. Swiss Army yang Tak bisa merumput menghadapi Bayern..

Stephan Linchsteiner.. Swiss Army yang Tak bisa merumput menghadapi Bayern..

Salutate Della Capolista

Salutate Della Capolista

Giornata 29 On The Pitch

Sudah lama rasanya tidak memunculkan konten gambar aksi Juventus di lapangan. Ahh… sekarang publish gambar ah…. jepretan di giornata 29 musim 2012-2013 :). Seperti biasa, gambar-gambar diambil dari situs Juventus.com plus Fan Page FB JCIndonesia.

Sebelum Kick Off di Renato Dall' Ara

Sebelum Kick Off di Renato Dall’ Ara

3 Petinggi Yang Selalu Setia Mendampingi Tim. Grazie Presidente :)

3 Petinggi Yang Selalu Setia Mendampingi Tim. Grazie Presidente 🙂

Our Beloved Coach ;)

Our Beloved Coach 😉

Captain Gigi Buffon

Captain Gigi Buffon

Jatuh Bangn Tak Peduli, Yang Penting Cleensheet :)

Jatuh Bangn Tak Peduli, Yang Penting Cleensheet 🙂

Discuss Apa sih kalian???

Discuss Apa sih kalian???

Jempol Juga Buat Golnya, Mirko ;)

Jempol Juga Buat Golnya, Mirko 😉

Behelnya Baru ya Om :)

Behelnya Baru ya Om 🙂

Peluso in Action. No more failure, please :P

Peluso in Action. No more failure, please 😛

King Artur... Segeralah Bikin Gol Lagi. Kangen Banget Sama Selebrasi Cintanya :-*

King Artur… Segeralah Bikin Gol Lagi. Kangen Banget Sama Selebrasi Cintanya :-*

Second Goaler. Prince Marchisio

Second Goaler. Prince Marchisio

Iya Prince... Saya Tahu Bahwa Dirimu Hanya Untuk Hitam-Putih... Dari Hati :3

Iya Prince… Saya Tahu Bahwa Dirimu Hanya Untuk Hitam-Putih… Dari Hati :3

Sepertinya Ini Sisa Dukungan Suporter Bologna untuk Pekan Lalu Ya... "Stop, Hentikan Perampokan!" Rampoknya kan udah dilawan di giornata 28, guys! Masa lupa sih?! Kalian juga bisa ngalahin si rampok loh... Itu Keren Loh.. Lain Kali jangan salah bawa spanduk lagi ya!!

Sepertinya Ini Sisa Dukungan Suporter Bologna untuk Pekan Lalu Ya… “Stop, Hentikan Perampokan!” Rampoknya kan udah dilawan di giornata 28, guys! Masa lupa sih?! Kalian juga bisa ngalahin si rampok loh… Itu Keren Loh.. Lain Kali jangan salah bawa spanduk lagi ya!!

 

Vittoria!! Ini Bukan Juventus Arena, Tapi Menang tetap Butuh Selebrasi

Vittoria!! Ini Bukan Juventus Arena, Tapi Menang tetap Butuh Selebrasi 😛

Grazie untuk 3 Poinnya, Team! Teruslah konsisten hingga akhir musim!! SEMANGAT!!! :)

Grazie untuk 3 Poinnya, Team! Teruslah konsisten hingga akhir musim!! SEMANGAT!!! 🙂

Ibra Back, Never!!!!

Sebuah rumor mengenai kembalinya seoarang Zlatan Ibrahimovic ke Turin. Jika melihat bagaimana hebatnya pemain keturunan Serbia-Swedia ini, saya tentu saja berharap bahwa rumor itu bisa menjadi wacana yang kemudian berwujud realita. Ya, Ibra memang hebat. Magic-nya selalu memberikan tuah juara liga pada club yang dibelanya. Club mana yang tidak mau mendapatkan tandatangan seorang Ibrahimovic?

Tapi, rasa sakit yang saya alami di 7 tahun silam tidaklah bisa luluh oleh sihir apapun yang dimiliki Ibra. NOPE! Tidak ada lagi simpati untuk Ibrahimovic!

Saya menaruh kekaguman besar kala Ibra menjadi salah satu punggawa The Old Lady di bawah asuhan Fabio Capello. Didatangkan dari Ajax Amsterdam, Ibrahimovic muncul sebagai superstar yang kemudian menjadi rebutan berbagai club raksasa di liga-liga elit dunia. Saat itu Ibra menegaskan bahwa ia tak akan pernah berfikiran akan club lain. Saking terharunya dengan komitmen yang dinyatakannya, saya tersihir dengan mengukirkan nama Zlatan Ibrahimovic di setiap Buku Pelajaran sekolah. Nama Ibra bersanding manis dengan nama Alessandro Del Piero. Sebuah apresiasi yang saya lakukan untuk pemberi gelar scudetto di musim 2004-2005 & 2005-2006.

Lalu ketika The Old Lady harus terjebak sebuah kasus murahan calciopoli, dengan santainya ia pergi dari Turin untuk menandatangani kontrak dengan si pencuri gelar La Vecchia Signora! DAMN IT!!! Sihir Ibra terhadap saya pudar seketika. Jijik rasanya ketika saya mengingat betapa saya menjadikan pemain ini sebagai salah satu kebanggaan. Merasa bodoh karena saya sampai hafal tempat dan tanggal lahirnya,bahkan sampai sekarangpun saya masih ingat bahwa Ibra dilahirkan di Malmo, Swedia pada 3 Oktober 1981!!! Bahkan saya ingin salah satu ponakan saya bernama Ibrahim saking sukanya pada Ibra dan kemudian saya punya ponakan bernama Ibrahim.

Shit!! 😦

Ya…Ibra memang bintang lapangan hijau. Ibra memang pemain hebat. Tapi Ibra tak punya DNA Juventus!!! Untuk benar-benar menjadi pasukan The Old Lady, syarat utama adalah Loyalitas. Syarat yang telah dilanggar oleh seorang pemain bintang bernama Zlatan Ibrahimovic. Tidak loyal, tidak setia, pergi ke club musuh pula! Tak ada yang lebih menjijikkan daripada seorang penghianat!

Kepindahan pemain dari satu club ke club lain memang sudah biasa, tapi perkara kepindahan Ibra tak termasuk dalam kategori biasa itu!

Sekarang, saat rumor menggemborkan bagaimana pihak club berminat membawa Ibrahimovic ke Juventus Stadium saya hanya berharap itu hanya sebuah rumor. Tak usah jadi nyata! Seperti kata salah satu pemilik juventus “Ibrahimovic adalah masa lalu”. Mengapa harus mengulang masa lalu yang buruk jika Juventus memiliki masa depan yang lebih gemilang?

Satu lagi, Ibrahiomovic sudah tidak belia! Buat apa memanggilnya kembali? Kenapa club tak fokus saja mencari pemain bintang yang usianya masih belia,tetapi bertalenta?! Bukankah sudah ada Llorente yang siap bergabung musim depan? Kenapa Juventus tidak sekalian meminta Lionel Messi saja yang merumput di Turin??! Lebih jelas topnya daripada Ibra si penghianat itu. Lebih baik lagi memanggil Del Piero ke Turin daripada harus melihat penghiatan berbalut jersey Bianconerri! Loyalitas Alex pada The Old Lady  jauh melebihi janji setia Ibra.

Kalau ada yang mengatakan “Memangnya Ibra mau balik ke Juve? Kok Sewot amat!”, ihhhh…..masa bodoh! Namanya juga menanggapi rumor yang belum pasti dan rumor tersebut bukan sesuatu yang baik!

Dear Ibra…. We are never ever getting back together!!!!!!!!!

Dear Mr President, Ibra was a good player in  our club. We don’t need that man right now!!!

3 Poin Penting di JS

Catania adalah tamu bagi Juventus di pekan 28 Serie A. Bukan tamu yang menakutkan, tetapi merepotkan. Posisi klasemen memang tidak terlalu jauh. Juventus kokohsebagai pemuncak klasemen, sedangkan Catania bertengger di posisi 8. Dan dalam sepakbola, tim di dasar klasemen pun memiliki peluang untuk menggelincirkan capolista.

Juventus yang tengah pekan harus melakoni pertandingan Eropa, tak bisa menurunkan Arturo Vidal karena yang bersangkutan cidera. Padahal di paruh pertama Vidallah yang membukukan kemenangan Juventus atas Catania. Sebiji gol King Artur saat itu membuat Juventus pulang dengan poin penuh. Sayang pertandingan kemarin malam bukan menjadi waktu bagi Vidal untuk menunjukkan skill dan selebrasi cintanya. Sebuah selebrasi goal yang sangat saya rindukan.

Jalannya pertandingan alot. meskipun bagi juventus Catania adalah tim kecil tetapi kerap kali usil dengan mencuri poin penting dari Juventus.

Milan berhasil memang  dari Genoa, sementara Napoli lagi-lagi harus menerima kekalahan sehingga memperlebar jarak dengan Juventus sekaligus memperkecil jarak dengan AC Milan. Juventus menang, meskipun tidak  dengan mudah. Menguasai jalannya pertandingan, tetapi tak bisa membobol gawang di waktu normal pertandingan. Sempat berfikir bahwa hasil akhir adalah skor kacamata.

Sempat geregetan pula karena Giaccherrini melakukan aksi diving saat dia memegang bola dan bisadengan mudah diumpankan hingga membentuk sebuah peluang emas yang bisa membuat skor menjadi 1-0.

Tapi kemudian aksi tak terpuji itu dibayar oleh sebiji gol di menit 92. Mutlak 3 poin.

Inilah yang namanya setia hingga akhir. Stay turn on the channel till the end of game. Manisnya 3 poin terasa. Sampai-sampai para tetuah Juventus berpelukan sebagai selebrasi kemenangan. Penambahan poin yang memperlebar jarak dengan posisi kedua 🙂

Bissmillah, semoga permainan apik dan konsistensi tetap ditunjukkan pasukan Antonio Conte hingga pekan akhir musim ini. Sekarang, mari berharap supaya dewi fortuna masih berada di pihak Juve. Berharap yang terbaik juga untuk undian babak perempat final UCL jumat depan. Go go go Juventus!!!!

Wajah Sumringah Presidente Setelah Pluit Akhir Wasit Dibunyikan

Wajah Sumringah Presidente Setelah Pluit Akhir Wasit Dibunyikan

Selebrasi Berantakan Setelah Pertandingan. Kata Mimin @JCIndonesia efek Harlem Shake

Selebrasi Berantakan Setelah Pertandingan. Kata Mimin @JCIndonesia efek Harlem Shake

1 Poin Penting Untuk Jarak 6 Poin

Oke, tidak tiga poin. Tidak juga memperlebar jarak. Namum hasil akhir sudah didapat. Tidak puas dengan satu poin yang harus dibawa dari Naples karena Juventus mestinya bisa mencetak lebih dari sebiji gol di babak pertama. Juventus mestinya bisa unggul 3 gol di babak pertama. Tapi sekali lagi, hasil akhir sudah didapat. 3 poin pun lewat. Kalau terus membahas ‘mestinya’ tidak akan selesai. Sudah. pekan ini juga harus selesai seiiring dengan peluit panjang si wasit. 

Satu poin, setidaknya masih bisa menjaga jarak 6 poin dari Napoli. Alhamdulillah, tidak harus pulang dengan poin nol.

Patut diacungi jempol juga karena didebutnya, setelah absen 3 bulan karena cidera, Chiellini melesatkan sebiji gol di menit 10. Sebiji gol yang membuat Juventus pulang ke Turin dengan 1 angka. Lupakan saja bagaimana kasar dan kerasnya pertandingan. Lupakan saja sikut nakal Cavanni terhadap Chiellini. Toh diakhir pertandingan keduanya bertukar jersey!

Mari tinggalkan, Naples! Mari bersiap di rumah sendiri untuk menyambut kunjungan Glasgow Celtic di tengah pekan depan. Leg 2 16 besar UCL belum aman 100%. The Old Lady memang telah menapakkan satu kakinya di babak perempat final, tetapi kalau sampai kaki lainnya terpeleset dan keseleo bukan tidak mungkin Celtic menelikung satu tempat yang 50% milik Juventus di perempat final. Mari kembali ke Turin. Juventus, Bersiaplah untuk mengamankan tiket perempat final.

Pekan ini cukup Salutate la capolista!!! Sempre con voi 🙂

Forza Capolista!

Setelah melewati beberapa pertandingan terakhir dengan hasil positif, seluruh tim (termasuk saya) memiliki harapan yang besar kala The Old Lady bertandang ke Olimpico. Sayang, harapan itu tidak terealisasi karena pekan ini Juventus harus mengakui sedikit keganasan Serigala Ibukota. Lawatan ke Olimpico di paruh kedua ini mencatatkan kekalahan keempat Juventus di pentas Liga Italia serie A musim 2012-2013. Sebuah pembalasan manis bagi AS Roma yang di paruh pertama dihajar 4 gol tanpa balas oleh skuadra della Juve. Beruntung bagi Juventus karena pembalasan di hari ini tak lebih dari sebiji gol yang dicetak oleh Totti.

Masih capolista, tapi tentu jarak dengan runner up menjadi semakin dekat apabila mereka mampu memetik poin penuh di pertandingan yang akan berlangsung beberapa jam ke depan. Dan jujur saja, saya sangat berharap Tuhan masih berbaik hati dengan tidak memberikan poin maksimal pada lawan-lawan Juve sehingga jarak poin masih bisa terjaga (HELP ME GOD 🙂 ). Supaya posisi capolista bisa dijaga hingga akhir musim.

Pertandingan musim ini belum berakhir. Masih banyak pertandingan berat yang menanti. Masih ada laga penting lain yang sedang menunggu, dan semua laga di akhir pekan itu penting. Bolehlah pekan ini Juventus tidak berhasil mendapatkan poin penuh. Tapi paling tidak ada jeda waktu satu minggu sebelum meladeni Siena di Turin dan melawat ke Napoli lalu kembali berjuang menghadapi Celtic di Juventus Arena. 

Juventini hanya perlu berfikir positif dan berharap untuk hasil yang terbaik bagi setiap laga yang dilakoni La Vecchia Signora. Tetap semangat Juventus! Tetap Semangat Juventini! Keep our spirit!! Just show our Lo Spirito alla Juventus! Surely, we are still champions of serie A and the next champion of Europe 🙂

FINO ALLA FINE, FORZA JUVENTUS!!!