Ingatan Akan Siswa

Pada zaman sekolah, saya sempat menganggap sebagian besar guru itu sombong karena terkadang tidak mengenal siswanya ketika berada di luar sekolah. Sempat beberapa kali menyapa seorang guru di sebuah departemen store, tetapi balasan yang saya dapat hanya anggukan kecil serta senyum simpul. Tak jarang pula saya dilewati begitu saja ketika berpapasan di tempat lain. Yaa.. maklumlah.. saya memang bukan kriteria siswa yang bisa diingat. Tak masuk dalam kategori jenius dan lolos pula dari klasifikasi tukang buat onar. Hanya golongan siswa medium dengan prestasi alakadarnya.

Tapi kemudian… setelah saya berkecimpung sendiri di dunia pengajaran… mengingat setiap  siswa memang tak semudah mengingat nama bintang film kesayangan.. Apalagi jika setiap tahun selalu ada regenerasi siswa. Saya sudah merasa mengingat setiap rupa siswa yang pernah saya isi kelasnya. Merasa pede bahwa saya hafal betul setiap paras mereka. Namun kemudian saya disadarkan oleh seorang siswa bahwa sebenarnya saya sama seperti mayoritas pendidik. Tidak benar-benar hafal pada semua peserta didiknya.

Akhir pekan kemarin, saya kembali memberikan tambahan pelajaran kepada seorang bocah SMP. Les privat ini juga merupakan rekomendasi seorang rekan di tempat kerja, sama sekali tidak berfikiran bahwa adek les  tersebut adalah bagian dari tempat saya mengajar selama ini.

Selama 60 menit saya sama sekali tidak mengenali bocah lelaki yang dengan tabahnya mendengarkan ocehan saya. Di akhir les, tiba-tiba dia berkata;

“Saya diajar ibu loh… ehh mbak..”

Dengan merespon dengan sedikit kekagetan;

“Ahh..masa? Kamu kelas berapa?”

Dan dia menjawab dengan santainya;

“Iya, Mbak.. kelas 193. Kemarin mbak masuk kelasku pake masker. Waktu mbak lagi sakit itu loh..”

Ahh.. ya… saya memang pernah sekali mengisi kelas dengan mengenakan masker.

Ya Tuhan kelas itu adalah kelas yang diisi siswa dengan mulut yang tak bisa berhenti mengoceh selama 90 menit. Saya pikir saya tahu betul setiap pemilik mulut yang tak mau tertutup di kelas itu. Namun ternyata ingatan saya tidak sepenuhnya sempurna. Diantara  mereka banyak omong itu ada satu siswa yang cenderung pendiam.. yang luput dari ingatan visual saya.

Benar memang.. untuk mengingat siswa memang lebih mudah jika mereka masuk dalam dua kategori khusus. Punya otak brilliant atau pembuat masalah di kelas 🙂

Advertisements

3 Pekan Setelah Liburan

Yaaayy… liburan sudah selesai… Kembali pada rutinitas menyebar sedikit ilmu dan pengetahuan alakadarnya. Tidak berbeda dengan kegiatan di awal semester lalu, aktivitas siswa di tempat ‘les’ tak jauh-jauh dari menghabiskan waktu luang. Ada satu atau dua atau tiga yang memang niat mempertebal catatannya, tetapi lebih dari sepuluh siswa yang menjadikan tempat ‘les’ sebagai arena ‘bermain’.

Tapi bagi saya dan teman-teman pengajar, lembaga bimbingan itu merupakan wahana untuk menunaikan kewajiban guna mendapatkan hak di awal bulan.

Tapi tetap… I love doing that.

Beberapa siswa memang masih menunjukkan sikap acuh tak acuhnya, saat menerima materi. Beberapa lagi malas-malasan di kelas. Beberapa lainnya masih terus berkicau sepanjang jam pelajaran.

Tiga pekan terakhir, saya harus mengisi kelas yang beraneka rupa. Saya harus mengisi kelas yang acuh-tak acuh untuk memulai semester genap ini. Lalu dilanjutkan dengan kelas yang tak banyak tingkah karena mereka sedang berada di kelas tua yang tak lama lagi harus berperang di ujian nasional.

Mengawali minggu kedua, saya harus berjibaku di kelas yang ramainya begitu sangat -_- Mungkin karena memang materi yang diajarkan merupakan pengulangan di semester pertama, sehingga muncul komentar seperti;

“Ahh.. materi itu sudah semester lalu. Ngapain diulang lagi”

Padahal ketika saya mengajukan pertanyaanpun, tak ada yang bisa menjawab.

Lalu ada kelas yang maunya cepat-cepat pulang. Menyuruh saya untuk bergegas menjelaskan materi dan membahas soal. Kemudian mereka minta pulang. Padahal waktu tiap kelas adalah 90 menit. 30 menit waktu saya menulis, 30 menit waktu mereka menulis, 30 menit untuk menjelaskan dan membahas soal. Tapi kelas ini melewatkan waktu 30 menit menulis mereka; alasannya papan yang penuh tulisan saya sudah difoto dan akan disalin di rumah. Jadilah ada sisa waktu 30 menit. Tak mungkin saya memulangkan siswa saat sisa waktu belajar mereka masih 30 menit… saya tak mau dibilang korupsi waktu. Tapi permasalahannya siswa-siswa itu merajuk untuk dipulangkan saja. Saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak tahan dengan rengekan mereka, saya seringkali mengeluarkan siswa dari kelas sebelum bel usainya jam pelajaran berdering. Saya kerap kali memulangkan mereka sepuluh atau lima menit sebelum bel.

Dan akhirnya ada teguran untuk tidak mengeluarkan siswa sebelum bel….

-_- Oke, saya masih belum bisa menahan siswa untuk betah di kelas dalam sisa waktu pelajaran. Tapi saya tak mau dianggap tidak mengajar penuh. Apa gunanya di dalam kelas jika materi yang telah dibahas sudah selesai? Percayalah saya bahkan pernah meninggalkan kelas 15 menit setelah bel karena memang materi belum dibahas tuntas. Jadi anggapan saya hanya duduk-duduk di kelas itu tak bisa saya terima.

Dan yaa.. minggu ketiga ini saya harus membatalkan satu hari KBM (3 kelas) karena diare yang datangnya tiba-tiba. Saat izin untuk membatalkan kelas pada koordinator saya mendapatkan jawaban yang sebenarnya membuat geli “Kenapa mendadak ijinnya?”

Ahh…kalau saya tahu hari itu saya kena diare, pastilah saya sudah izin jauh-jauh hari sebelumnya. Manusia mana yang mengetahui dia sakit kapan? Kalau saya tahu saya akan mati minggu depan… pastilah saya mengajukan ijin tak masuk karena alasan mati -_- Tapi untung pada akhirnya koordinator masih mau menerima ijin pembatalan kelas saya, meskipun (mungkin) dengan berat hati.

Dan minggu ketiga ini masih menyisakan 3 hari. Dari jadwal yang saya miliki, setidaknya saya akan mengisi kelas-kelas normal. Semoga saja tak ada aral melintang untuk menyelesaikan tugas di bulan pertama semester genap ini.

Pekan Magabut

Kegiatan belajar mengajar di semester pertama sudah selesai. Sudah selesai sejak akhir pekan lalu sebenarnya, namun  karena kebijakan dari bos pusat maka bimbel tempat saya ‘bermain’ baru akan mengakhiri semester ganjil pada akhir pekan ini. Dan selama satu pekan ini semua ‘pembicara’ diwajibkan  untuk mengisi kelas sesuai jadwal yang telah disusun bidang akademik.

Saya pun demikian… sudah memiliki jadwal untuk mengisi kelas selama satu minggu penuh.

Sayangnya, tidak semua  siswa sepakat dengan kebijakan bis pusat. Setelah UAS di masing-masing sekolah sekolah selesai, maka  bimbel juga selesai.Mayoritas siswa begitu.

Ada beberapa gelintir yang memang tetap datang ke tempat les, tetapi mereka punya  motif sendiri, yang mana mortif tersebut sama sekali tidak berkerabat dengan belajar. Alasan beberapa siswa yang tetap datang ke tempat les walaupun UAS sekolah telah selesai bermacam-macam, tetapi intinya sama. KABUR dari rumah.

Bagi sebagian siswa, tempat les adalah pelarian yang mumpuni dari segala pekerjaan rumah yang ditimpakan oleh orang tua. Mereka lebih memilih berdiam diri di tempat bimbel selama 180 menit, daripada harus melakukan tugas menyapu atau mencuci piring di rumah. Tempat les juga lebih dipilih ketimbang mendengarkan omelan Ibu masing-masing di rumah.

Jadi walaupun minggu ini sebenarnya saya punya jadwal full untuk mengisi kelas, hanya beberapa kelas saja yang memang saya bereskan… itupun hanya sekedar membahas soal-soal ujian. Sebagian besar siswa justru lebih memilih menghabiskan waktunya dnegan bercerita, ada pula yang mengajak saya untuk bermain origami, sisanya bahkan memohon supaya jadwal lesnya diliburkan saja -_-

Jadilah…pekan ini adalah pekan magabut untuk saya..

Alhamdulillah, bisa mengistirahat saliva walau hanya sejenak… istirahat sebentar, sebelum semester baru di mulai awal tahun depan.

P.S: Semoga saja adek-adek les saya berhasil dengan nilai ujian mereka…

Mengajar Di Pekan Pertama

Begini rasanya menjadi pengajar yang peserta didiknya memiliki panca indera lengkap dan tubuh tanpa cacat. Bisa berbicara keras, motil, serta sistem eksresi yang masih normal. Bising, berisik, dan bau keringat bercampur menjadi satu di ruang kelas yang ukurannya sekitar 7 x 6 meter. Ya salam… ramenya tak kalah seru dari pasar malam.

Minggu pertama ketika harus bergumul dengan adek-adek pengguna seragam putih abu-abu dan putih biru terasa mengejutkan. Semacam ada shock culture. Iya, mereka memang mendengarkan saat pengajar di depan kelas menerangkan materi, tetapi tetap saja saat pengajar menuliskan materi… semua mulut sepertinya berkicau. Berebut untuk berbicara.

Singkat cerita, dalam satu kali memberikan pelajaran di kelas, waktu saya adalah 90 menit. 30 menit untuk menuliskan materi di papan tulis, 25 menit untuk menjelaskan materi, 5 menit istirahat (biasanya diputarkan musik oleh mbak-mbak CS), dan 30 menit untuk membahas soal-soal yang berkaitan dengan materi yang telah saya jelaskan.

Adek-adek yang usianya sudah belasan itu biasanya langsung mengikuti kelas (les) sepulang sekolah, jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka. Masih berseragam, dengan aktivitas di sekolah yang mungkin seabrek. Kucel dengan sedikit bau-bauan masam, sebuah kombinasi relaksasi aromaterapi yang tak akan mudah dilupakan. Ditambah dengan ocehan yang seakan tak ada putusnya plus tawa hingar bingar, lengkaplah sudah nina bobo bagi saya di setiap siang/sore hari.

Kadang-kadang, ada beberapa kelas yang seakan-akan tidak menganggap keberadaan saya di depan kelas. Mungkin bagi mereka, saya hanya manekin hidup yang merangkap sebagai sales yang menjajakan ‘materi’ pelajaran.

Saya juga sering ‘dirasani’… dikata kurang tinggi (memang 😀 ), dibilang tulisannya terlalu mini (kan mirip orangnya hohohoho), atau bahkan dibilang terlalu hobi menulis lantaran materi yang saya berikan terlalu banyak.

Ada juga yang suka iseng mencuri-curi memotret saya saat sedang menjelaskan materi… -___-

Yang paling mengesalkan adalah jika mereka mengajukan pertanyaan yang tidak semestinya. Misalnya ketika materi pelajaran berhubungan dengan sistem reproduksi, ada beberapa gelintir bocah yang tanpa malu-malu menanyakan bagaimana caranya mengeluarkan cairan sperma -__- Saya yakin mereka paham, hanya usil saja menanyakannya pada pengajar baru.

Ahhh…adek-adek yang lucu…

Sempat beberapa kali ingin melemparkan spidol atau penghapus pada mereka yang tidak mau mendengar penjelasan atau mengoceh dari awal hingga akhir kelas, tetapi akhhirnya saya hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Menyadari bahwa mereka masih terlalu muda untuk mengerti tentang susahnya mencari nafkah, mungkin dulu saya juga begitu.

Saya juga bukan  tanpa celah.. di minggu pertama berbagi ilmu, saya sempat beberapa kali kurang fokus. Pertama karena materi yang saya pelajari saat malam hari ternyata bukan materi yang harus saya jelaskan di depan kelas. Ada misscommunication antara pengajar dengan pembuat jadwal. Kedua, karena saya belum terbiasa dengan keramaian kelas.. suara-suara ribut membuat konsentrasi saya kacau, inginnya marah-marah. Tapi setidaknya, masa orientasi sepekan bisa saya lalui.

Mengajar itu memang susah, tapi menyenangkan 🙂

Semoga saja kelas-kelas selanjutnya bisa memberikan kejutan lain yang tak kalah seru seperti di pekan pertama lalu.

Pikiran Di Selasa Keempat Sebagai Jobseeker

 

Hari ini adalah selasa keempat dimana saya berstatus sebagai jobseeker!

Kalau kata teman-teman kos “Ahhh…santai aja dulu, Mei. Jangan terlalu pusing mikirin yang macem-macem. Yang penting kan sudah usaha ngelamar. Toh, kamu baru sebulan jadi jobseeker (red:pengangguran).

Ada lagi yang bilang “Sama seperti lulus SMA kan. Setelah lulus, gak bisa langsung kuliah. Mesti ikut bimbel atau paling gak nunggu masuk kuliah 3 bulan setelah kelulusan kalau sudah keterima lewat jalur PMDK. Jadi, sebelum 3 bulan setelah kamu lulus kuliah, gak usah terlalu rempong kesana-kemari”

Pernyataan logis memang. Tapi tetap… meskipun baru sebulan menjadi jobseeker, ada yang aneh. Bangun tidur, mandi, lalu minum kopi, lalu nonton tivi. Rutinitas harian yang membosankan. Saya kan sedang tidak liburan!

Sempat terlintas di pikiran saya untuk liburan… So…. Oh My God….saya tergoyahkan. Ingin merubah status jobseeker sebagai traveller. Should i doing that, God?? Should i take a holiday for a while?

Dilema. Galau. Mungkin itulah yang saya rasakan saat ini. Antara berkelana ke suatu tempat atau tetap bertahan sebagai pencari kerja. Uuuhhhh….

Heiii, atau saya lakukan keduanya? Jalan-jalan dengan status jobseeker? Could i doing that?? Probably 🙂

Bismillah saja ya… siapa tahu dengan jalan-jalan ke suatu tempat saya bisa mendapatkan pekerjaan. Sekali mendayung dua tiga benua terlampaui. Jalan-jalannya dapet, pekerjaannya dapet, dan ceritanya juga dapet. Inya Allah…. semoga Tuhan mengizinkan (Tolong ijinkan Ya Allah 🙂 ).