Di Suatu Kelas

Suatu sore, di sebuah kelas…

Saya mengisi kelas yang dipenuhi oleh 5 orang anak kelas satu SMP (VII). Kelas ini adalah salah satu kelas yang personelnya punya kemampuan di atas rata-rata. Mereka masih berada pada usia belia. Masih sangat muda. Masih wajar jika yang ada dipikiran mereka adalah senang-senang, bermain-main, atau ketawa-ketawa. Sama halnya dengan bocah SMP kelas 1 kebanyakan.

Tapi ada hal yang lagi-lagi membuat saya bergidik… rasanya merinding ketika mendengar seorang anak berkata;

“Aku pengen jadi dokter spesialis mata, Kak. Aku pengen nyembuhin orang yang sakit mata kayak aku, biar mereka bisa lihat dengan normal. Pengen nyembuhin mereka yang buta”

Lalu kemudian, pernyataan satu orang anak tersebut diikuti oleh empat bocah lainnya.

Satu anak ingin menjadi dokter bedah, satu lagi dokter spesialis anak, dan satunya dokter kecantikan… sementara satu orang anak lainnya bercita-cita untuk melanjutkan studi Menengah Atasnya di SMA Taruna Nusantara (Magelang).

Dan lagi, saya harus bersua dengan obrolan yang bertemakan cita-cita. Senang rasanya ketika melihat segelintir generasi penerus yang begitu semangat merancang masa depannya.Hanya tersenyum simpul sembari mengamini harapan mereka.

Sepertinya Tuhan memang sedang ingin menegur saya yang mulai menjauh dari tema ‘cita-cita’. Alhamdulillah…. sejauh ini setiap kelas yang saya isi mengguratkan cerita yang berwarna-warni, membuat saya juga harus tetap dan terus belajar.

Sebuah Pengingat Dari Seorang Adek Les

Malam itu saya tengah menghabiskan waktu bersama salah satu adek les yang menunggu jemputan mamanya. Richa namanya. Tangan kami sibuk dengan kertas lipat untuk membuat origami yang dia sebut sebagai ‘cubit-cubitan’ sembari mengobrol santai.

Obrolan yang sebenarnya lebih bersifat monolog Richa yang memang senang bercerita. Kemudian mencuat sebuah topik obrolan bertema cita-cita yang dilontarkan oleh Richa.

Richa : “Mbak, kemarin di sekolah aku baca puisi. Judulnya cita-citaku. Cita-cita mbak Mei apa?”

Sebuah pertanyaan yang entah kenapa tak bisa saya jawab.

Pertanyaan sederhana yang terlontar dari seorang bocah berusia 7 tahun tak bisa saya jawab. Mulut saya benar-benar terkatup tanpa suara. Bahkan rasanya jantung saya berhenti berdetak selama sepersekian detik. Dada terasa sesak. Saya, entah sejak kapan tak pernah lagi punya passion terhadap sesuatu yang berbau cita-cita. Hal yang saya ingat mengenai cita-cita di akhir-akhir waktu ini adalah penyanyi yang mempopulerkan sebuah lagu yang menjadi top hits di tempat kerja, bahkan mungkin di seluruh tanah air… -_-

Saya tak lagi punya cita-cita. Belum selesai meratapi diri yang merindu akan rasanya passion mengejar cita-cita, pernyataan Richa kembali membuat saya merasa miris..

“Cita-citaku guru mbak. Aku pengen kayak mbak Mei, bisa ngajarin murid terus muridnya jadi pinter. Nilainya jadi bagus. Besok karnaval di hari pahlawan aku maunya pake baju guru mbak…tapi bajunya gak ada.”

Sebuah pernyataan lugu yang membuat saya terenyuh. Oh Gosh…. Saya sama sekali tak pernah menyangka pemikiran tersebut akan muncul pada adek les. Saya sama sekali tak pernah berpikir dia menjadikan ‘guru’ sebagai cita-citanya. Menjadikan saya saya inspirasinya. Ironisnya selama mengajar, niat saya tak lebih dari sekedar mencari tambahan uang jajan, sementara bocah yang berusia 7 tahun memberikan pemikiran bahwa saya telah membuatnya pandai dan menjadikan sosok guru lesnya ini sebagai salah satu sosok pahlawan. Iya, saya memang mengajar.. tapi saya belum pantas menyandang predikat sebagai seorang guru. Belum, saya masih manusia biasa yang kebetulan bisa, memiliki sedikit pengetahuan, dan mau membaginya dengan siswa-siswi sekolah.

Terimakasih untuk ‘alarm’-nya, adek Richa….. Setidaknya monologmu bisa membuat saya kembali mengingat akan cita-cita serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap tanggung jawab pada bidang pekerjaan yang telah saya pilih.

P.S: Dear Richa…I wishes the best for you. You have to be better than me, girl!!