Sebuah Drama Di Musim 2013-2014

Musim 2013-2014  adalah drama terindah dalam karir saya sebagai pecinta La Vecchia Signora.

Setelah mengawali kemenangan 4 gol tanpa balas kontra Lazio di laga super coppa Italia, klub saya harus melakoni laga berat di pekan-pekan pertama liga. Jujur saja, ketika menatap jadwal pertandingan musim 2013-2014 saya tidak memiliki asa yang begitu tinggi. Sebagai juara bertahan yang juga harus tampil di pentas Eropa, La Vecchia Signora harus menghadapi tim-tim besar di pekan-pekan pertama, sekaligus beberapa kali harus disisipi laga Eropa. Optimis itu ada, tetapi selalu bersiap pula untuk hasil yang mungkin memunculkan air mata. Ber-asa, namun siaga.

Dimulailah giornata pertama. Harus bertandang ke Sampdoria, sepekan setelah laga super copa. Poin yang kami dapat memang tiga, hanya saja gol tunggal Carlitos Tevez di menit 58 tak membuat saya terlalu sumringah. Baru pekan pertama, hanya sebiji gol, sementara runner up musim 2012-2013 mampu menang 3 gol tanpa balas kala menjamu Bologna sehingga mereka duduk di puncak klasemen sementara.

Saya masih percaya bahwa kami akan menambah 3 angka di pekan kedua. Benar, memang. Tim saya kembali meraih 3 punti. Kembali melumat tim biru dari ibukota dengan rangkaian 4 gol; dua diantaranya dilesakkan King Artur Vidal dan satu gol masing-masing oleh Vucinic serta Tevez; meskipun dibalas sebiji gol oleh Klose. Juventus kembali menang. Saya memang senang, tetapi masih menahan riang. Kami memang menang dengan gol yang lebih dari satu, tetapi tim lawan juga melakukan hal yang sama. Napoli juga membukukan 4 gol, AS Roma 3 gol, dan bahkan si ungu mampu menghajar lawannya yang menjadi tuan rumah dengan lima gol. Tim saya masih kalah dalam selisih gol dengan ketiga tim tersebut.

Dan di pekan ketiga… saya harus bertandang ke markas merda biru hitam. Siapa yang bisa mengontrol degup jantung?? Nope! Saya tak bisa mengatur detak jantung yang begitu cepat selama pertandingan giornata ketiga ini berlangsung. Bagaimana bisa bersikap biasa saja saat tim saya sempat tertinggal satu gol? Saya hanya meminta pada Tuhan untuk tidak kalah. Iya…saya tak mau kalah, terlebih pada si ular kadot. Dan yaaa, hasilnya Juventus bermain imbang di giornata ketiga. Bersyukur karena Vidal mampu memaksimalkan assists Asamoah, sehingga keunggulan *nt%rn#z*&n$l@ M*l%n (maaf sensor, saya tak mau berkata kotor) tak lebih dari dua menit. Posisi klasemen??? Ahhh…jangan tanya. Serigala Ibukota dan pasukan Naples masih kokoh di peringkat 1 dan 2. Saya juga mendesah, yaa…setidaknya hasil pertandingan ini tak terlalu buruk untuk pertandingan pertama di pentas Eropa kontra Copenhagen pada tengah pekan selanjutnya. Ada alasan bahwa tak maksimalnya laga ini adalah persiapan laga Eropa. Bagaimana hasil di Eropa? Belum sempurna. Tak juga menunjukkan kelas juara. Kami hanya bisa mendapatkan 1 poin dari Denmark. Tidak terlalu membahagiakan.

Partai di musim ini masih berlanjut. Hasil imbang di dua pertandingan terakhir mengharuskan Conte memecut anak asuhnya untuk lebih serius meraup poin di pentas liga. Hasilnya, walaupun tidak mudah kami kembali meraih tiga angka. Walau sempat tertinggal, Tevez dan Llorente mampu mencetak (masing-masing) satu gol sehingga Juventus menang versus Hellas Verona dengan skor 2-1. Setidaknya Juventus Stadium masih bersih dari nol poin.

Pekan berikutnya kami harus bersua dengan saudara sekota Hellas, Chievo. Line up utama tidak diisi oleh pemain inti. Dan kami sempat tertinggal satu gol di menit ke 28. Hasil akhirnya, beruntung Quaqliarella mampu menyamakan kedudukan dan pemain lawan melesakkan gol ke gawangnya sendiri di menit 65. Perlu diketahui bahwa pertandingan yang berlangsung tengah pekan ini saya seperti menonton seorang diri. Di tempat nobar, hanya ada segelintir pendukung yang sibuk dengan urusannya seniri-sendiri. Ruangan yang biasanya penuh sesak oleh 50 – 100 orang hanya diisi 10 manusia, termasuk saya di dalamnya. Sementara sosok yang mengantar saya ke area Nobar duduk manis di ruangan lain untuk menonton pertandingan tim kesayangannya. Sebuah tengah pekan yang sunyi di tempat nobar, tapi untunglah hasilnya cukup membuat wajah saya berseri.

Kemudian tim saya melanjutkan perjuangan di akhir pekan dengan menjamu saudara sekota, Torino. Di pertandingan ini semuanya berjalan begitu menegangkan. Membuat geregetan. Sejumlah peluang di babak pertama tidak juga berbuah gol. Sempat terlintas partai ini akan berakhir dengan skor kacamata, namun Pogba merubah segalanya. Di menit ke 55, pemain belia asal Perancis ini mampu menjebol kebuntuan. Syukurlah, masih tiga poin. Walaupun puncak klasemen masih dikuasai srigala ibukota karena di pekan yang sama mampu menghajar Bologna dengan 5 gol tanpa balas. Saya sama sekali tidak ragu akan tim kebanggaan, karena itu selalu menekankan pada diri sendiri bahwa posisi klasemen sementara bukanlah sebuah pesta. Baru boleh lega jika musim sudah selesai. Karena itulah, masih percaya bahwa Juventus akan mengangkat trofi ketiga beruntun di musim ini.

Pertandingan selanjutnya berlangsung di tengah pekan, di pentas eropa. Juventus menjamu Galatasaray. Sayangnya panggung eropa belum memberikan hasil luar biasa. Lagi, Juve hanya mampu meraih hasil imbang. kor 2-2 menjadi hasil akhir pertandingan yang berlangsung di Turin. Tak bisa menyalahkan tim. Kami memang sedang fokus untuk gelar Eropa, namun jadwal liga di akhir pekan ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kami harus bersua Milan. Walaupun sedang tidak dalam kondisi primanya, Milan masih lawan kuat bagi La Vecchia Signora. Terbukti, ketika pertanddingan berlangsung degup jantung saya sangat sulit diatur. Kami sempat tertinggal dengan gol dari Muntari. Namun sang maestro lini tengah, Andrea Pirlo mampu menyamakan kedudukan melalui tendangan khasnya. Tidak hanya alot, tetapi juga panas. Tensi tinggi dengan banyak kartu yang diberikan wasit kepada masing-masing tim. Kembali bersyukur karena kami mampu mengakhiri laga dengan poin tiga. Giovinco mampu membalikkan keunggulan tim dan poin kami ditutup oleh gol tambahan yang dicetak Giorgio Chiellini. Tak peduli dengan gol kedua yang dicetak Muntari. Juventus masih bertahan di trek perebutan juara musim kompetisi ini.

Berbekal kemenangan melawan AC Milan, rasa percaya diri saya (dan tim) melambung kala kami harus bertandang ke markas La Viola. Benar, kami main luar biasa di paruh pertama. Hebat. Permainan kelas dunia berhasil disajikan oleh anak-anak asuh Conte. Dua gol masing-masing dicetak Tevez dan Pogba di babak pertama. Bagaimana hasil akhirnya? Kami menjadi pecundang yang sama sekali tak punya daya. Pasukan Montella mampu unggul dengan skor 4-2. Iya, kami kalah. Bukan karena tidak bisa, tetapi kurang berusaha. Terlalu congkak di babak kedua yang masih berlangsung selama 45 menit. Permainan Pogba menjadi kacau balau. Lo spirito yang menjadi DNA tim seakan-akan dicuri oleh Fiorentina. Saya hanya bisa diam. Kecewa, tetapi tetap percaya bahwa tim saya akan juara. Pertanddingan ini bukan hasil yang memuaskan kawan. Bukan modal untuk bertandang ke Bernabue dalam lanjutan liga champions. Tak perlu berlama-lama saya cerita karena hasilnya kami kalah (lagi). Harus mengakui keunggulan Los Galacticos 2-1. Saya masih percaya pada tim ini, tetapi kalah di dua event secara beruntun menyebabkan saya sedikit hilang daya. Mungkin juga karena kelelahan saya harus kembali bersua dengan obat-obatan. Sepanjang minggu harus terbaring di atas tempat tidur. Mungkin juga ditambah dengan pekerjaan dari kantor yang luar biasa padat (saat itu saya masih bekerja). Minggu yang buruk buat saya dan tim.

Akhir pekan selanjutnya, Juventus harus melawan Genoa. Bukan tim yang terlalu jumawa, namun juga tidak mudah. Hasil buruk sebelumnya seolah menjadi lecutan bagi tim untuk tidak lagi ‘bermain-main’ di kompetisi liga. Hasilnya adalah 2 gol Carlitos Tevez kembali mengamankan posisi tim di jalur juara. Hasil di liga kembali pada angka 3. Pertandingan berikutnyapun sama. Saat menghadapi Catania, saya kembali melihat Lo Spirito alla Juventus. 4 gol tanpa balas menjadi hasil akhir pertandingan Juventus di giornata ke 10 di musim 2013-2014 ini.

Pekan ke 11, istimewa buat saya. Menyaksikan pertandingan Juventus di Yogyakarta 🙂 Pekan melawan Parma ini kami akhiri dengan 3 angka. Walaupun dengan susah payah, Pogba berhasil menambahkan angka saat waktu pertandingan bersisa 13 menit. Dan di pekan ini, pesaing utama dalam perebutan gelar juara liga (AS Roma) ditahan imbang oleh saudara sekota kami. Peluang untuk menggeser puncak klasemen menjaddi terbuka. Walaupun sebelumnya kami pernah kalah, setidaknya kami masih punya kesempatan untuk menggeser Roma dari puncak klasemen sementara dan mempertahankannya hingga akhir musim. Sungguh di pekan ini saya bahagia, karena Pogba dan imbangnya Roma (serta Yogya 😀 ).

Lanjutan liga Eropa bagaimana? Kami menjamu El Real di Turin. Hasilnya tidak sempurna memang, tetapi setidaknya kami tidak kalah. Mampu menaham imbang Real Madrid 2-2-. Saya masih bahagia.

Dengan rasa bahagia di pekan sebelumnya, pertandingan menjamu Napoli tidak membuat saya gentar. Kebahagian sepanjang pekan menjadi power kepercayaan tersendiri bagi saya bahwa tim saya akan kembali meraih poin penuh. Tidak peduli dengan garangnya Edinson Cavani, saya percaya pada tim. Hasilnya sempurna. Kami berhasil menang berkat Llorente, Tevez, & Pogba. Walaupun wasit harus mengusir keluar Ogbonna karena dua kartu kuning yang didapatnya, hasil pertandingan masih menjadi milik Juventus. Bahagia tambahan karena Roma kembali tertahan. Ya tuhan, energi yang sempat hilang di akhir bulan Oktober seakan-akan menumpuk di bulan November. Hasil pertandingan di bulan ini seakan obat paling mujarab bagi saya yang sedang tidak sehat sepenuhnya.

Pekan 13. Pekan krusial. Jika kami berhasil menang,  dan Roma tak mampu bermain maksimal maka capolista menjadi milik Juve. Hasilnya adalah duet striker utama Tevez-Llorente mampu membukukan masing-masing sebiji gol, yang membuat Juventus menggeser Roma di puncak klasemen (sementara). Bagaimana dengan Roama, sangat-sangat bersyukur karena pasukan ibukota kembali mendapatkan hasil seri di pertandingan yang mereka lakoni. Kata orang 13 itu sial, tapi tida bagi tim saya :). Liga Eropa?????  Hahahahaha, akhirnya kami berhasil mendapat 3 angka karena mampu mengalahkan Copenhagen dengan skor 3-0. Masih ada asa untuk melangkah ke babak berikutnya, tetapi entahlah saya sendiri tidak begitu antusias dengan Eropa. Kurang percaya pada tim di kompetisi internasional tersebut. Bukan berarti tidak cinta, melainkan naluri saya lebih kepada juara liga.

Mari lanjut ke area liga saja. Pekan 14 kontra Udinese. Setelah bersusah payah dan menunjukkan menit ke-90, laga ini seolah akan berkesudahan tanpa gol, sebelum kemudian Llorente muncul sebagai pembeda. Secara dramatis, Llorente berhasil menangkan Juventus. Memaksimalkan tendangan keras Stephan Linchsteiner dengan kepalanya. Hasil akhirpun 3 angka di rumah.

Selanjutnya kami melawat ke Bologna. Sebuah performa yang luar biasa karena dengan kemenangan di Renato Dall’Ara ini, tim saya melanjutkan tren kemenangan hingga tujuh laga tanpa pernah kebobolan. Arturo Vidal dan Chiello menjadi penentu kemenangan di giornata 15. Modal penting untuk melawat ke Turki dalam lanjutan pentas Eropa. Pertandingan hidup mati di Liga Champions. Hasilnya, Turki tidak memuaskan. Kami kalah 1 – 0 dan tersingkir di Liga Champions. Mau bagaimana lagi, sebagai penghuni posisi ketiga klasemen di grup B liga champions dan tak bisa lolos ke babak 16 besar, Juventus diberi kesempatan untuk melakoni pertandingan ddi liga UEFA. Kasta kedua pertandingan klub antar negara-negara Eropa. Kalau kata orang-orang main di liga malam jumat karena pertandingannya memang berlangsung kamis malam waktu Indonesia. Sudahlah, saya memang tak percaya pada liga champions di musim ini. Kepercayaan terbesar saya adalah juara liga.

Dan di pekan 16, setelah tersingkir dari arena liga Champions, tim saya bermain cukup lepas. Absennya Andrea Pirlo karena cedera tidak membuat tim berhenti untuk berkreasi di lapangan. Antonio Conte menggeser Kwadowo Asamoah ke posisi aslinya sebagai gelandang tengah untuk menutup abesnnya Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio pada laga kontra Sassuolo. 4 gol menjadi skor akhir dengan hattrick yang dicetak oleh Tevez. Hasil itu menjadikan Juve kokoh di puncak klasemen dan memperpanjang rekor kemenangan di Serie A menjadi delapan partai beruntun tanpa pernah kebobolan.

Seolah lepas dari beban berat pertandingan lain…. tanpa liga champions dan piala itala, liga menjadi project utama bagi Zebra Turin di pekan-pekan ini. Pikiran untuk piala UEFA masih bisa ditangguhkan hingga berakhirnya musim dingin. Masih berlangsung di Februari. Lawatan ke Atalanta dilakoni Juventus di pekan 17. Hasilnya adalah Antonio Conte benar-benar memecut anak asuhnya dengan teror wajib menang. 4 gol berhasil di bukukan oleh Tevez di babak pertama, Pogba ketika babak kedua baru berjalan 1 menit, Llorente yang menerima assist Chiellini, dan tendangan mendatar Il Guerreiro di menit 79. Skor 4-1 yang bertahan hingga laga usai, membuat Juventus makin kokoh sebagai capolista Serie A lewat torehan 46 poin, unggul lima angka dari Roma yang juga menang lewat skor meyakinkan 4-0 atas Catania di waktu bersamaan.Meski gagal melanjutkan rekor clean sheet menjadi sembilan partai beruntun, torehan empat gol Juventus ke gawang Atalanta sudah cukup membuat mereka menutup 2013 dengan manis.

Setelah libur musim dingin, pertandingan lanjutan di liga kembali digelar di awal tahun Pekan 18 dilakoni Juventus dengan menantang AS Roma. Misi tim kami adalah mengokohkan diri di puncak klasemen (sementara), sedangkan Roma berambisi memangkas selisih poin. Pada pertandingan ini kiper tim saya tampil luar biasa. Roma yang menekan sejak menit awal tak mampu mencetak angka karena penyelamatan yang gemilang dari Gigi Buffon. Justru Llorente berhasil membuka skor untuk Juventus di menit 17. Hasil akhirnya Bonnuci dan Mirko Vucinic menutup laga ini dengan skor akhir 3-0 untuk Bianconeri. Kemenangan ini membuat skuat Antonio Conte unggul delapan angka atas Roma yang berada di posisi kedua sekaligus memaksa AS Roma menelan kekalahan pertama di Serie A Italia musim ini.

Pertandingan terakhir paruh pertama di musim ini berlangsung di pulau Sardinia. Bertamu ke markas Cagliari. Tertinggal lebih dulu oleh gol Mauricio Pinilla, I Bianconeri bangkit lewat sepasang gol Fernando Llorente, Claudio Marhisio dan Stephan Linchsteiner yang menutup pesta. Juara paruh musim. Kokoh di puncak klasemen.

Dan paruh kedua pun dimulai pada pertengahan Januari 2014. Tim saya menjamu Sampdoria. Syukurlah, kami berhasil menang dengan skor 4-2. Selain menjaga kekokohan status capolista, raihan tripoin yang hadir berkat sepasang gol Arturo Vidal dan masing-masing satu dari Fernando Llorente dan Paul Pogba ini sekaligus mempertajam rekor kemenangan konsekutif Si Nyoya Tua, menjadi 12 laga.

Lalu beranjak ke pekan 21. Juventus begitu jumawa nan perkasa. Bahkan lawatan ke ibukota guna bersua I Biancocoleste tidak juga mengurangi antusiasme tim untuk menang. Hasilnya adalah di luar dugaan. Jalannya pertandingan begitu menegangkan. Sungguh, ini adalah pertandingan pertama ddi musim ini yang membuat saya gemetar hebat. Petaka itu terjadi pada menit ke-24 ketika Buffon melanggar keras Klose. Sang kiper mendapat kartu merah, sementara Lazio mendapat keuntungan hadiah penalti. Beruntung, meski bermain dengan sepuluh pemain dan tertinggal di babak pertama, Juventus akhirnya bisa menahan imbang tuan rumah Lazio di babak kedua dalam lanjutan Serie A Italia di Stadio Olimpico. Llorente menjadi penyelamat tim saya dari kekalahan. Bianconeri masih tetap aman di puncak klasemen sementara dengan raihan 56 poin dari 21 pertandingan, unggul sembilan angka dari pesaing terdekat AS Roma.

Pertandingan ketiga di paruh kedua adalah menjamu si biru hitam jelek. Juventus belum terbendung. Kemenangan 3-1 atas FC %nt$rn$z*on*l? pun menjadi buktinya. Derby d’Italia edisi ke-220 tersaji di Juventus Stadium, dan tim tuan rumah menjadi tim yang tersenyum terakhir. Linchteiner, Chielini, dan Arturo Vidal menjadi penentu kemenangan di pertandingan ini. Kami kokoh di puncak klasemen dengan raihan 59 poin.

Dengan euforia yang luar biasa karena mampu menjungkalkan si biru hitam jelek, lawatan ke Verona seolah dilakoni Juve dengan keseriusan 50%. Lagi, kami terlalu menyepelekan pertandingan. Merasa telah juara, padahal masih banyak pertandingan sisa. Saat tripoin sudah berada di depan mata, gol Juanito memaksa pertandingan ini harus berakhir sama kuat, 2-2, setelah Bianconerri sempat unggul berkat dua gol dari Carlos Tevez. Iya, tim saya memang masih di puncak klasemen, namun ini masih sementara. AS Roma masih punya peluang untuk mengejar. Sebagai pendukung setia, saya masih percaya bahwa kami akan menjadi juara liga.

Dalam lanjutan pertandingan di pekan 24, Juventus seakan hendak menebus dosa atas kelalaian di pekan sebelumnya. Juventus mengukuhkan posisi di puncak klasemen sementara Serie A Italia, usai menumbangkan Chievo Verona dengan skor 3-1. Asamoah, Marchisio, dan Llorente adalah pahlawan pada pertandingan tersebut. Alhamdulillah, saya semakin percaya bahwa sebentar lagi kami akan mengunci gelar juara. Bagi saya, sedikit lega boleh dilakukan jika tim saya sudah mmbukukan setidaknya 60 poin pada saat paruh kedua. Pada pekan ini, total poin Juventus adalah 63, unggul 12 poin dari AS Roma. Di tengah pekan ini tim saya juga berhasil membukukan kemenangan melawan Trabzonspor (saya baru tahu ada klub ini 😀 ) di liga malam jumat dengan skor 2-0 yang masing-masing gol dicetak oleh Pablo Osvaldo dan Paul Pogba.

Pekan berikutnya adalah kontra Torino. Laga melawan tim sekota selalu tidak mudah. Pretisenya bahkan melebihi derby d Italia sekalipun. Tidak tahu kenapa, Torino selalu tampil allout kala bersua Juventus. Derby yang seakan-akan mempertaruhkan nama club di kota  tercinta. Sebuah pertandingan yang tidak hanya berbicara tentang sepak bola, tetapi juga mempertaruhkan entitas vital, budaya dan politik, di salah satu kota di Italia Utara. Pemenangnya adalah penguasa kota. Pada pertandingan ini Torino menghadirkan kesulitan luar biasabagi Juve. Namun harus diakui, sang tuan rumah masih unggul segalanya dalam Derby della Mole ke-188. Juventus berhasil menjaga rekor 100 persen kemenangan selama 12 tahun dalam Derby della Mole. Carlitos Tevez menambah pundi-punddi golnya, sekaligus mengokohkan Bianconeri di puncak klasemen (sementara 🙂 ). Modal bagus untuk melakoni leg 2 babak 32 besar liga malam jumat kontra Trabzonspor. Kali ini Turki bisa ditaklukkan pasukan Antonio Conte dengan skor 2-0. Aggregat 4 – 0 menjadikan Juventus lolos ke babak 16 besar guna menghadapi Fiorentina.

Selanjutnya adalah lawatan ke tanah mode di Italia. Milan adalah lawan kami di pekan 26 dalam lanjutan kompetisi serie A Liga Italia musim 2013-2014. Kegemilangan Carlos Tevez menjadi kunci keberhasilan La Vecchia Signora untuk membawa pulang tiga angka. Berkontribusi penting pada gol pertama, El Apache jadi protagonis melalui gol spektakulernya untuk memastikan kemenangan 2-0. Poin kami menjaddi 69.

Setelah lawatan ke Milan, Juventus sukses memenangi pertarungan sengit dengan Fiorentina berkat gol semata wayang Kwadwo Asamoah dalam lanjutan giornata 27 Serie A Italia di Juventus Stadium. Dengan kemenangan yang diraih kali ini, tim arahan Antonio Conte itu semakin berada di atas angin untuk meraih gelar juara di musim ini setelah mengemas 72 poin. Hasil ini juga menjadi modal penting untuk melakoni liga malam jumat yang juga menjadikan La Viola sebagai lawan. Pada pertandingan di tengah pekan tersebut, hasil hasil adalah 1-1. Untuk lolos ke babak 8 besar, Juventus harus menang di Firenze. Sure… my team have to win!!!!

Sebelum leg kedua kontra Fio, Juventus harus bertarung melawan Genoa dalam lanjutan perburuan gelar di liga domestik. Untunglah skuat Antonio Conte menang dengan skor 1-0 berkat gol tunggal Andrea Pirlo di menit terakhir. Kemenangan itu membuat Bianconeri berlari menjauh dari AS Roma di posisi kedua. Gol tunggal Pirlo pada pertandingan ini berlanjut pada laga kontra La Viola di liga malam jumat. Benar, Pirlo kembali menjadi penentu kemenangan tim setelah berhasil melesakkan sebiji gol di Artemio Franchi, sekaligus mengantarkan Juventus ke perempat final liga UEFA. Sesuai undian, Juventus akan bersua wakil Perancis Lyon di babak 8 besar yang digelar pada 3 & 10 April 2014 mendatang.

Mari berlanjut ke liga… Enatah kenapa dalam beberapa pekan terakhir, kemenangan Juventus berakhir dengan sebiji gol. Pada giornata 29 ini pun Juve hanya mampu menccetak sebiji gol ke gawang Catania. Carlos Tevez menjadi pahlawan setelah gol tunggalnya di babak kedua memastikan kemenangan bagi tim saya.

Akhir pekan berikutnya…..Juventus berhasil memantapkan posisi di puncak klasemen sementara berkat kemenangan 2-1 yang dibukukan atas Parma dalam lanjutan Serie A giornata ke-30. Tevez kembali membuktikan dirinya masih layak menjadi salah satu pemain kunci timnas Argentina. Dua gol yang dibukukan Tevez seolah menjadi teriakan terhadap pelatih Timnas negaranya supaya menjadikan dirinya sebagai salah satu punggawa Argentina di ajang WorldCup yang digelar pada pertengahan Juni 2014. Sebuah cara brilian dari pemain kelas dunia.

Melewati 22 partai terakhir Serie A tanpa kekalahan, laju Juventus akhirnya dihentikan Napoli yang mengemas keunggulan 2-0 pada laga giornata 31 di San Paolo. Kalau bukan karena Buffon, tim saya mungkin akan kebobolan lebih banyak. Ahhh… sudahlah. Sakit memang dikalahkan, namun saya harus mengakui bahwa di pertandingan ini Juventus tidak bermain bagus. Terlepas dari kekalahan kedua musim ini, Juve tetap mengantungi keunggulan 11 angka dari AS Roma. Mungkin fokus Conte berada pada kunjungan ke Prancis untuk berjuang di kasta kedua kejuaraan Eropa. Liga malam Jumat kontra Lyon. Hasilnya memang nyata. Juventus berhasil menang di Lyon dengan 1 gol yang dilesakkan oleh Leonardo Bonnuci.

Pekan 32 liga Italia berlangusng di Turin. Bermain di Juventus Stadium Si Nyonya Tua tampil sangat percaya diri. Setelah gagal meraih poin di pekan sebelumnya, sepasang gol Fernando Llorente kembali menambah pundi-pundi poin la Vecchia Signora. Juventus kokoh di puncak klasemen (Ok, sementara 😀 ) dengan torehan 84 poin. Kemengan tersebut juga berlanjut di liga UEFA. Tim saya kembali mengungguli Lyon di turin dengan skor akhir 2-1. Dengan anggregat skor 3-1 ini, Juventus berhasil melaju ke babak semifinal liga malam jumat untuk bertarung melawan Benfica. Asa dan sedikit percaya itu semakin menguat, bahwa saya akan melihat Juventus mengangkan trophy eropa untuk pertama kalinya sejak saya mencintai (CINTA) tim ini.

Setelahnya kami fokus pada liga yang hampir berada pada ujungnya. Juventus kembali memperlebar jarak mereka dengan AS Roma dalam perburuan scudetto menjadi delapan poin pasca menang di Friulli, pada lanjutan Liga Italia Serie A giornata 33. Dua gol yang masing-masing dicetak oleh Giovinco dan Pogba. 87 Poin, kawan!

Pertandingan selanjutnya masih di liga, hasilnya juga 3 angka. Namun Juventus harus bersusah payah menembus pertahanan kokoh Bologna untuk menang 1-0, dalam lanjutan Liga Italia Serie A giornata 34. Empat pekan sebelum akhir musim. Kami punya 90 poin. Jika dalam empat pertandingan selanjutnya tim ini konsisten, maka 102 poin adalah rekor baru. Klub kami akan mencatatkan diri sebagai club pertama yang menjuarai Liga Italia dengan torehan 100 poin lebih. Istimewa 😀

Sayangnya kemenagan di pentas domestik tidak memberikan hasil maksimal pada lawatan ke Portugal. Juventus tak bisa meraih kemenagan saat melakoni laga semifinal liga UEFA kontra Benfica. Kami harus menyerah dengan skor akhir 2-1. Peluang untuk tampil di final pun semakin menipis, namun masih ada kesempatan. Kami hanya butuh menang 1 gol di Turin pada 1 Mei 2014. Bukan misi yang sulit karena toh skuat kami berada pada kondisi yang fit.

Kegagalan di pentas Eropa tersebut seakan mengurangi gereget Juve kala bertandang ke markas Sassuolo. Juventus memang terlambat panas saat kebobolan lebih dulu di menit kesembilan. Namun, mereka sukses bangkit dan membalas satu gol Sassuolo dengan tiga gol gemilang. Juventus pun keluar sebagai pemenang dan mendekat ke podium Scudetto. Kemenagan yang setidaknya menjadi suntikan semangat anak-anak Turin untuk menang di laga tengah pekan kontra Benfica. Membalas kekalahan di pertemuan pertama, lalu melangkah ke final yang akan digelar di rumah sendiri pada 14 Mei 2014. Angan-angan bagi saya adalah pertandingan final Juventus di piala Eropa adalah salah dua hadiah ulang tahun terindah yang saya terima, salah satunya adalah scudetto. Dan ketika semifinal kedua itu digelar, tim saya bermain apik. Luar biasa. Tim saya sempat membukukan gol, namun wasit menganulir karena menganggap Osvaldo terkena jebakan offside terlebih dahulu. Kemudian berbagai keputusan wasit yang tidak adil (bukan karena saya Juventini lalu saya menyalahkan wasit), membuat tim saya harus puas dengan skor kaca mata. Kami hanya bermain imbang, sehingga gagal melaju ke final. Saya benar-benar kecewa. Bahkan di akhir pertandingan ini saya tak bisa menahan keluarnya air mata. Ya tuhan, untuk pertama kalinya sejak munculnya kasus dagelan calciopoli pada 2006 silam, saya kembali tersedu karena kecewa. Iya, ini adalah air mata saya untuk Juventus sejak tahun 2006. Are u missed my tears, team?? Sudahlah. Sudah selesai. Tak ada juara Eropa, kamipun fokus pada sisa pertaandingan di liga.

Menjamu Atalanta adalah pertandingan ketiga terakhir di liga. Dan yaahh…setelah kami gagal melangkah ke final piala UEFA, secara mengejutkan AS Roma tunduk dengan skor 4-1- dari Catania di pekan 36 ini. Hanya dengan dua pertandingan sisa dan selisih 11 poin, Juventus sudah menjadi juara…bahkan sebelum laga kontra Atalanta digelar. Namun target 100 poin itu menjadi tantangan lain. Walau resmi menjadi Campione d’ Italia, Antonio Conte tetap memaksa timnya bermain maksimal. Atalanta yang bermain tanpa beban nyatanya mampu menahan Bianconeri di babak pertama. Namun, ini Juve Bung! Kami berhasil menang melalui sontekan Padoin yang memaksimalkan umpan Quagliarella. Scudetto!!! 32!

Dua laga berikutnya adalah menghadapi tantangan Roma dan Cagliari.

Di pekan 37 Juventus sukses mencetak 3 angka. Pablo Osvaldo hadir sebagai mimpi buruk di Olimpico dan mencetak gol tunggal yang mengalahkan mantan klubnya. Sebuah kemenangan dan hadiah istimewa bagi saya yang bertambah usia. Alhamdulillah 😀

Di pekan terakhir, tim saya kembali mampu meraih 3 angka dengan 3 gol yang masing-masing dilesakkan oleh Pirlo, Llorente, dan Marchisio. I Bianconeri mengakhiri Serie A musim ini dengan rekor nilai tertinggi, 102 poin.

Sebuah musim yang benar-benar mendebarkan bagi saya. 102 poin untuk gelar ke 32.

Dan kata mereka gelar tim saya hanya 30. Ahhh..terserah mereka saja. Bagi saya, Juventus punya 32.

Terserah mereka hendak mencatat gelar kami 30 atau 32, setidaknya hingga saat ini hanya kami yang punya bintang tiga.

Benar, musim 2013-2014 ini saya memiliki banyak harapan pada tim ini. Ingin menjuari semua kompetisi yang kami ikuti. Tapi layaknya sebuah drama dalam sebuah opera maupun cinema, pemeran utama tidak harus selalu mendapatkan cerita yang sempurna. Ada bagian dimana pemeran utama harus ditindas oleh tokoh antagonisnya. Ada saat pemeran utama ditampilkan sebagai sosok yang paling hina. Namun pada akhirnya bahagia itu selalu ada.

Begitu juga drama Juventus di musim ini. Tim saya tidak memulai kompetisi sebagai pemuncak klasemen, bahkan kami juga pernah merasakan pahitnya kekalahan. Ketidakadilam tim pengadil di lapangan pun menjadi bagian dari kisah Juve di musim ini. Bahkan harus merasakan pahitnya kegagalan merengkuh tropi ketika pintu menuju gelar juara sudah sangat dekat. Namun pada akhirnya kami punya bintang tiga. Sebuah bahagia lain yang mungkin memang rencanaNya.

Saya juga masih percaya bahwa kami masih akan terus menambah gelar juara. Musim depan percaya saya tak hanya liga, tetapi juga Eropa. Karena itu saya tambahkan percaya ini dengan rangkaian doa.

Semoga doa dan percaya itu bisa menjadi nyata.

Selebihnya, terimakasih Juventus…. atas satu musim yang luar biasa.

P.S: See you soon at Jakarta, Team 🙂

Advertisements

Menunggu 1 Poin

Derby della mole ditutup dengan skor 2 – 0

Babak pertama, seperti biasa skor kaca mata masih tertulis di papan skor. Namun kedudukan berubah ketika harapan Juventini (saya) berakhir dengan poin satu. Menit ke 86, Arturo Vidal berhasil melesakkan bola dari luar kotak pinalti. Tendangan kerasnya meluncur deras dan bersarang di pojok kanan gawang Il Toro.

:)

🙂

Dan di menit 91 Il Principo menggandakan keunggulan menjadi 2-0. Juventus pun membungkam Torino. Membuat rekan sekota harus puas dengan poin nol. Juventus kembali ke Juventus Arena dengan 3 poin. Turin mutlak menjadi milik Juventus! 

Pencetak Gol Di Pertandingan Ini :)

Pencetak Gol Di Pertandingan Ini 🙂

Bersiap untuk menjamu Palermo sekaligus berharap bahawa gelar juara benar-benar terjadi di 5 Mei 2013, layaknya juara di 5 Mei 11 Tahun silam kala Conte masih menjabat sebagai kapten kesebelasan. Juventus hanya butuh 1 poin untuk mengunci gelar, tapi Juventus tetap berharap untuk selalu mengemas 3 poin di setiap pertandingan.

Welldone, for today! Let’s make sure our champions in next match! 

Fino alla fine, FORZA JUVENTUS!!

4 Poin Lagi!

Fino alla fine Forza Juventus! The Old Lady kembali menjaga trek kemenangan untuk tetap bertahan di puncak klasemen sementara serie A. Menjamu Milan, misi yang diusung tak hanya 3 poin sebenarnya…tetapi juga membalas kekalahan di paruh pertama musim ini. Hasilnya, sebiji gol dari jarak 12 pas yangdilesakkan oleh Arturo Vidal mengukuhkan Juventus sebagai capolista.

Merusak 14 kemenangan beruntun pasukan Milano di serie A musim ini. Poin penuh untuk tetap mempertahankan gelar.

Butuh empat poin lagi untuk mengunci gelar ke 31!

Bismillah…. Pasti Bisa 🙂

The Beatle

The Beatle

God Job Team!!!!!!!

God Job Team!!!!!!!

3 Punti!

Masih dengan sisa rasa sakit setelah berhenti di panggung UCL musim 2012-2013, bertandang ke Olimpico bukan perkara mudah bagi pasukan Antonio Conte. Tapi…ini Juventus! Dengan semangat untuk mempertahankan gelar juara liga dan memperlebar jarak dengan Napoli yang dipertandingan sebelumnya hanya bermain imbang, Juventus terbang ke ibukota dengan target 3 poin.

Dan…Voilllaaaa…… 3 punti!!!!

Vidal menjadi pahlawan dengan melesakkan dua gol ke gawang lawan. Jarak 11 poin pun menjadi perbedaan pemuncak klasemen dengan runner up.

Thats All… Good Job, Team!! Keep Calm for 31 Campione 🙂

Grazie, Team :)

Grazie, Team 🙂

:)

🙂

Selebrasi Mirko Vucinic

Semoga saja tak terjerat sanksi UU Pornografi dengan adanya poto-poto selebrasi Mirko Vucinic ini 😛

????????

????????

Oh No.... Ini Benar-Benar Gila. Jangan Diulang Lagi Ya Mirko... Masa Punggawa The Old Lady Buka-Bukaan Celana di Lapangan?? :)

Oh No…. Ini Benar-Benar Gila. Jangan Diulang Lagi Ya Mirko… Masa Punggawa The Old Lady Buka-Bukaan Celana di Lapangan?? 🙂

Ayo-Ayo Burua di Pake Celananya, Mirko... Muka Si Peluso Sudah Gatel Pengen Nendang Pantatmu tu..

Ayo-Ayo Burua di Pake Celananya, Mirko… Muka Si Peluso Sudah Gatel Pengen Nendang Pantatmu tu..

Untung Cuma Dapet Kartu Kuning atas Selebrasi Ini

Untung Cuma Dapet Kartu Kuning atas Selebrasi Ini

Ini Baru Selebrasi Keren, Mirko. Udah Gak Kesurupan lagi kayaknya ya... :)

Ini Baru Selebrasi Keren, Mirko. Udah Gak Kesurupan lagi kayaknya ya… 🙂

Cerita Kontra Pescara

Ekspresi Conte :D

Ekspresi Conte 😀

Kartu Merah & Pinalti Untu Juve

Wasit: “Gue kasih kartu merah nih King Artur” | Vidal: “Tambah pinalti, baru keren” | Wasit: “Iya, bentar lagi juga gue kasih pinalti” | Vidal: “Oke. Biar Mirko yang nendang. Gue Capek” 🙂

Luca Marrone :)

Luca Marrone

Lambayan Tangan ini untuk apa om? Storari ya... mentang-mentang pemain Juve nyerang terus, jadinya nyambi bobok siang... Kebobolan sebiji deh :P

Lambayan Tangan ini untuk apa om? Storari ya… mentang-mentang pemain Juve nyerang terus, jadinya nyambi bobok siang… Kebobolan sebiji deh 😛

Fabio Quagliarella Masuk Menggantikan Seba Giovinco yang Cidera

Fabio Quagliarella Masuk Menggantikan Seba Giovinco yang Cidera

Stephan Linchsteiner.. Swiss Army yang Tak bisa merumput menghadapi Bayern..

Stephan Linchsteiner.. Swiss Army yang Tak bisa merumput menghadapi Bayern..

Salutate Della Capolista

Salutate Della Capolista

3 Poin Yang Penuh Perjuangan

Bukan pertandingan melawan tim besar sekaligus bukan pertandingan yang bisa menghasilkan kemenangan dengan mudah. Inilah yang terjadi di lanjutan serie A pekan 31. Giornata ini dilakoni The Old Lady dengan menjamu Pescara. Tim yang membuat Juventus membukukan 6 gol di paruh musim pertama, namun membuat saya geregetan di paruh kedua ini. 

Tak terhitung berapa banyak pasukan Conte berada di depan gawang Pescara untuk menendang-nendang si kulit bundar, tapi tak terhitung pula blocking yang dilakukan Pelizzoli terhadap tendangan tersebut. Entah kerasaukan apa, pencaga gawang tim tamu bagai kesurupan karena bisa menyelamatkan keperawanan gawangnya di babak pertama. Alhasil, skor kacamata menutup babak pertama.

Syukurlah… walaupun pilar-pilar utama tidak bermain di pertandingan ini… 3 poin masih milik The Old Lady. Vucinic berhasil mengukuhkan skor melalui titik putih yang menggandakannya beberapa menit kemudian.  

Bukan permainan yang optimal mungkin, tapi setidaknya sudah sangat maksimal karena 3 poin terjaga sekaligus menjaga jarak dengan posisi runner up. Semoga saja, jarak poin ini bisa bertahan hingga akhir musim. (Amin).

Grazie Team

Grazie Team

Cukup 3 poin di pekan ini… sekarang saatnya bersiap menjamu Munchen. Berat memang, tetapi harapan untuk tetap melaju ke tahap final UCL masih ada. Juventus saya kan hebat 🙂

Together, We Can do it!! (Ya...Kita Bisa Untuk 3 Gol Melawan Bayern. AMIN). Forza Juventus Dai Dai Dai.. :)

Together, Nothing Imposible!! (Ya…Kita Bisa Untuk 3 Gol Melawan Bayern. AMIN). Forza Juventus Dai Dai Dai.. 🙂

Don’t Give Up, The Old Lady!

Ah…. Kecewanya dengan hasil akhir ini. Apa daya, Juventus harus takluk di tangan Munchen dengan 2 gol. Beruntung hanya 2 karena Munchen bisa menghasilkan lebih banyak skor jika penampilan Gigi tidak maksimal. Tapi tetap, kecewa dengan keputusan wasit yang kurang bijak. Menjadikan gol Muller yang sejatinya sudah berada pada posisi offside tentu saja bukan keputusan baik. 

Poisisi Muller Sebelum Terjadinya Gol. Bukankah jelas posisinya offside?? Mark Clattenburg, Are you blind?

Poisisi Muller Sebelum Terjadinya Gol Kedua Munchen. Bukankah jelas posisinya offside?? Mark Clattenburg, Are you blind?

Pasukan Conte pun kembali ke Turin tanpa angka, tanpa gol away pula. Plus harus kehilangan Arturo Vidal & Linschteiner di Leg 2 akibat akumulasi kartu.  Ah sedih…kecewa… tapi apa mau dikata? Punggawa Juventus sudah berjuang keras selama 90 menit plus 5 menit tambahan waktu. Kalau belum berhasil menccetak gol, bukan karena mereka bermain buruk. Sungguh… Juventus selalu Luar Biasa! 

Saatnya kembali ke Turin. Bersiap-siap menjamu Pescara, lalu tetap percaya bisa unggul 3 gol di leg dua! 

C’mon Juventus… Don’t Give Up!!! 

Mari Berpikir Positif, Juventini!

Banyak anggapan bahwa stasiun televisi yang memegang hak siar penayangan UCL musim ini menyebalkan. Apa pasal? Karena sejak babak penyisihan, hanya beberapa kali SCTV menyiarkan pertandingan Juventus secara langsung. Sisanya rerun match, itupun tidak mesti. Akhirnya banyak kecaman yang terlontar dari beberapa teman-teman Juventini bahwa SCTV tidak adil.

Yaa… wajar. Pastilah kecewa karena tidak bisa menyaksikan pertandingan club tercinta secara langsung di TV nasional yang tak pakai acara bayar-membayar. Saya juga begitu. Kecewa karena tak selalu bisa menonton langsung laga UCL yang di lakoni La Vecchia Signora. Tapi tetap, kurang bijak jika harus selalu menyudutkan SCTV karena tidak menayangkan semua laga Juventus. Hei..this is Champions League… Pesertanya adalah club-club terbaik di negeri Eropa. Juventus is the best, tapi tetap Juventus tidak sendiri. Karena club terbaik pastilah punya pesaing yang juga sama baiknya, masalah pemilihan yang terbaik siapa bagi saya itu masalah hati!

Ingin sekali menyaksikan laga perempat final Juventus kontra Bayern dini hari besok, tetapi mau bagaimana lagi karena SCTV sudah memutuskan untuk menayangkan pertandingan PSG Vs Barcelona. Yahh…cukup logis dari kacamata dunia bisnis. Saat ini, siapa tak kenal El Barca dengan Lionel Messi nya? Coba saja tanya anak-anak SD jaman sekarang… mereka tentu akan lebih mengenal Barcelona daripada Juventus. Maklum, tim tercinta saya memang sudah sangat lama vakum di kancah pertandingan antar club terbaik Eropa. Jadi, sebagai stasiun televisi yang juga menganut sistem untung rugi dunia industri, tentulah SCTV menentukan preferensinya untuk menyiarkan pertandingan PSG konra Barca daripada Munchen Vs  Juventus. Untuk mengait iklan tentu saja! Pastilah banyak sponsor yang meminta penanyangan PSG Vs Barca daripada Munchen Vs Juventus. Kalau misalnya tidak menuruti pihak sponsor, bagaimana caranya suatu stasiun televisi mendapatkan keuntungan? 

Jadi, kalau mau menyalahkan… salahkan saja iklannya, jangan stasiun televisinya. Tapi tetap..menyalahkan juga percuma, toh keputusan sudah ditetapkan.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Juventini yang kecewa atas tidak ditayangkannya pertandingan perempat final esok, marilah berpikir positif! Berpikirlah bahwa Juventus akan mendapatkan penayangan langsung yang jauh lebih spesial dari SCTV. Mari berpikir positif bahwa di akhir Mei nanti SCTV akan menayangkan pertandingan Juventus secara megah dan istimewa. Tayangan langsung yang khusus untuk finalis UCL musim 2012-2013! Berpikir positif untuk Wembley Stadium!

Biarlah pertandingan perempat final besok kita nikmati melalui streaming, bagi Juventini yang tidak berlangganan TV Berbayar tentunya. Tidak masalah tidak mendapatkan siaran langsung di SCTV. Yang penting tetap berharap, yakin, dan optimis bahwa poin penuh akan dibawa pulang ke Turin. Mari Juventini, berpikirlah positif untuk La Vecchia Signora!!

Angka Sempurna Di Giuseppe Meazza

3 poin dari Derby D’Italia mengukuhkan La Vecchia Signora di puncak klasemen. Perkara pekan ini bukan hanya pebalasan dendam atas kekalahan menyakitkan di November 2012 lalu, melainkan sebuah pembuktian bahwa The Old Lady masih yang terbaik. Duel dengan pasukan biru hitam asal Milano masih pantas bertitel Derby D’ Italia!!

Bintang pertandingan hari ini adalah Quagiarella sebagai pencetak gol pertama sekaligus memberikan peluang bagi Matri untuk kembali membuat Juventus unggul dari dari Inter yang berhasil menyamakan skor di awal babak kedua. 

Walau pemain tuan rumah banyak sekali melakukan tindakan tidak sportif (selalu saja begitu), setelah 90 menit + 4 menit babak perpanjangan waktu, wasit meniupkan peluitnya dengan panjang mengakhiri pertandingan untuk kemenangan Buffon dan kawan-kawan. 3 poin pun dibawa dari Giuseppe Meazza. 

Salah Satu Kelakuan Tak Senonoh Pemain Inter di Pertandingan Malam Ini, 30 Maret 2013

Salah Satu Kelakuan Tak Senonoh Pemain Inter di Pertandingan Malam Ini, 30 Maret 2013

Hasil yang positif untuk mengawali laga perempat final leg 1 di Munich tengah pekan depan. Semoga hasil yang maksimal ini berlanjut di Jerman.

Salutate della capolista!! 

Suasana NonBar Juventus Vs Inter @Matchbox Too. Asap Kembang Apinya menyerupai Salam CInta Vidal Saat Merayakan Golnya! Grandissima Vittroria!! (sebuah foto dari @ggaciko , grazie :) ).

Suasana NonBar Juventus Vs Inter @Matchbox Too. Asap Kembang Apinya menyerupai Salam CInta Vidal Saat Merayakan Golnya! Grandissima Vittroria!! (sebuah foto dari @ggaciko , grazie 🙂 ).