Kerja Karena Suka

Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa Bekerja dimanapun sama saja…

Pasti ada sosok aantagonis & protagonis. Pasti ada wajah yang berperan sebagai ibu peri, atau mereka yang menjadi pengadu domba. Dan sungguh, itu kenapa untuk bertahan di suatu komunitas kerja harus benar-benar menjadi individu yang adaptif.

Bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tapi bukan berarti harus merubah diri. Jika kalian hidup dalam lingkungan reptil, dikerumuni oleh manusia yang berbisa macam ular… maka jadilah Elang! Punya cakar & paruh yang tajam untuk menerkam si Ular.

Dan ya… beradaptasi tidak berarti harus merubah diri… tetap menjadi diri sendiri! Karena itulah, jika sulit merubah diri untuk menjadi individu adaptif… setidaknya carilah pekerjaan yang kita sukai. Biarkanlah ada bisa ular, ada jebakan, ada sumpah serapah, bahkan fitnah yang membabi buta sekalipun… tetapi setidaknya hasil akhir dari yang kita kerjakan tetap menyenangkan, sehingga kita (tetap) dibayar untuk bersenang-senang!

Dimanapun, Mengajar itu Sama

Orang-orang yang hidup di ujung-ujung negeri, selalu saja beranggapan bahwa menjadi tenaga pendidik di tengah kota jauh lebih beruntung dari pada mereka yang mengajar di hutan belantara. Alasannya karena arus informasi bisa berlangsung lebih cepat…gaji yang rutin setiap waktu… ada tunjangan ini itu… bisa melihat pergerakan kemajuan zaman.

Ahh…hanya sebuah perspektif dari mereka yang terlalu lama hidup di daerah.

Padahal sama saja. Tak ada beda antara pendidik di daerah dengan pendidik kota. Kalau ingin mendapatkan uang dengan cepat, jadilah koruptor..jangan jadi tentor.

Gaji lebih besar karena mereka yang di kota punya pengeluaran lebih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harus membeli bahan bakar elpiji untuk memasak… Kalau di kota masih ada lahan kayu bakar, mungkin saja tak ada tabung gas ijo dan biru yang diperjualbelikan.

Mau membandingkan dari perjuangan pendidik yang harus mengayuh sepeda melewati rawa dan bukit untuk sampai ke tempatnya bertugas? Di kota banyak jalan raya, kawan. Jalan raya itu tak kalah seramnya dari hutan rimba. Tidak jauh berbahaya pula dari sebuah rawa.

Di hutan mungkin ada macan, jalan raya punya banyak pengendara liar yang pengemudinya sibuk main henpon. Jika di rawa ada buaya, di jalan raya ada balapan bus kota. Resiko kecelakaan dan kematiannya sama!

Mau menjadikan model siswa sebagai perbandingan?

Pendidik di daerah harus sabar dengan sikap siswa yang enggan belajar karena lebih suka mencari kayu bakar, namun  pengajar di kota juga harus bersabar dengan kelakuan siswanya yang datang ke tempat belajar hanya untuk show off.

Bagaimana mungkin pendidik yang hidup di kota dikatakan lebih beruntung daripada mereka yang di daerah? Sama saja, kawan. Yang membedakan adalah bagaimana cara mereka mentransfer ilmu serta kemauan setiap individu untuk terus mengajar atau tidak. Oleh karena itulah, mengajar dimanapun tidaklah berbeda. Sama-sama membagi pengetahuan pada generasi penerus.

Maafkan Saya Yang Katrok

Dua kali saya mendapatkan cercaan dari siswa dengan alasan yang sama. Mereka menilai bahwa saya katrok (ndeso or tidak gaul).

Cercaan itu dituturkan oleh dua siswa yang berbeda 3 tingkat.

Siswa pertama menuturkan hal tersebut beberapa bulan lalu. Ketika saya ‘magabut’ di kelasnya  lantaran semua materi telah selesai. Siswa cantik yang super banyak bicara selama jadwal les, tetapi yang terpandai diantara kawannya; mengajak saya bercengkrama tentang tempat-tempat nongkrong di wilayah sekitar tempat bimbel. Dia dengan santainya menceritakan berbagai tempat yang katanya asik untuk menghabiskan waktu luang, sementara saya menimpali dengan menuturkan tempat nongkrong asik ala saya. Hingga kemudian dia bertanya;

“Miss, aku mau beli pasco aaahhh…. Mau titip gak?”

Saya secara spontan bertanya

“Pasco itu apa?”

karena memang kata itu asing di telinga saya. Dan keluarlah kalimat..

“Ihh…katrok deh gak ngerti pasco.. Helloo… anda dari planet mana?”

Semenjak itu dia mengatakan saya sebagai tentor gak gaul -_-

Mana tahu saya pasco? Mana saya tahu jika si pascco adalah minuman ringan yang dijajakan di rombong-rombong pinggir jalan? Tak jauh beda dengan pop ice yang diblender!

Lalu beberapa saat lalu, ada seorang siswa yang saya tak begitu kenal mengawali monolognya tentang dunia politik tanah air.

Dia secara menggebu-gebu memborbardir saya dengan kisah KPK Vs Polri jilid 2. Katanya kasus ini lebih seru daripada jilidd 1.

Sebagai respon, saya hanya menganga… lalu kemudian saya bertanya..

“Memangnya ada apa dengan KPK dan Porli?”

Jawaban yang saya terima tak jauh beda dengan cap katrok.

“Mbak gak gaul ya? Gak pernah nonton berita? Wah, kasian Indonesia kalo semua warganya kayak mbak. Jangan-jangan mbak gak tahu ya harga BBM udah jadi 7600?”

Ohh… ya yaa… ingin sekali saya mengatakan bahwa saya memang tak pandai dengan kisah KPK dan Porli… Tidak mengerti dengan peperangan dua institusi penegak keadilan di Indonesia itu. Memangnya sekarang saya punya waktu untuk mengamati keduanya? Saya hanya punya waktu beberapa detik untuk melihat judul TL di salah satu medd-sos tentang perang mereka, setelah itu sisa waktu saya habiskan untuk memikirkan bagaimana cara saya mencukupi kebutuhan sebulan ke depan. Memangnya saya anggota KPK dan Porli yang akan mendapatkan gaji bulanan tinggi untuk makan sehari-hari?

Yah.. mungkin dunia politik Indonesia merana jika semua penduduknya ‘tak gaul’ seperti saya, namun betapa menyedihkannya bangsa beberapa tahun ke depan jika semua generasi penerusnya mendefiniskan kata parental saja tak bisa!

hahahaha… ketika kamu menyebutkan angka 7600, SPBU di Indonesia (Jawa mungkin) sudah menjual premium dengan harga 6700 per liter. Ah, jangan-jangan tak pernah membeli bensin sendiri? Berbahagialah tangki motor full karena orang tua, tapi tak perlulah sok menjadi dewa yang mengerti segalanya! You just a shit boy, so shut up your f*ck*’ mouth! (Sorry, God!)

Hei.. kids… maafkan saya yang katrok! Tapi belajar sajalah kalian dengan benar.

3 Pekan Setelah Liburan

Yaaayy… liburan sudah selesai… Kembali pada rutinitas menyebar sedikit ilmu dan pengetahuan alakadarnya. Tidak berbeda dengan kegiatan di awal semester lalu, aktivitas siswa di tempat ‘les’ tak jauh-jauh dari menghabiskan waktu luang. Ada satu atau dua atau tiga yang memang niat mempertebal catatannya, tetapi lebih dari sepuluh siswa yang menjadikan tempat ‘les’ sebagai arena ‘bermain’.

Tapi bagi saya dan teman-teman pengajar, lembaga bimbingan itu merupakan wahana untuk menunaikan kewajiban guna mendapatkan hak di awal bulan.

Tapi tetap… I love doing that.

Beberapa siswa memang masih menunjukkan sikap acuh tak acuhnya, saat menerima materi. Beberapa lagi malas-malasan di kelas. Beberapa lainnya masih terus berkicau sepanjang jam pelajaran.

Tiga pekan terakhir, saya harus mengisi kelas yang beraneka rupa. Saya harus mengisi kelas yang acuh-tak acuh untuk memulai semester genap ini. Lalu dilanjutkan dengan kelas yang tak banyak tingkah karena mereka sedang berada di kelas tua yang tak lama lagi harus berperang di ujian nasional.

Mengawali minggu kedua, saya harus berjibaku di kelas yang ramainya begitu sangat -_- Mungkin karena memang materi yang diajarkan merupakan pengulangan di semester pertama, sehingga muncul komentar seperti;

“Ahh.. materi itu sudah semester lalu. Ngapain diulang lagi”

Padahal ketika saya mengajukan pertanyaanpun, tak ada yang bisa menjawab.

Lalu ada kelas yang maunya cepat-cepat pulang. Menyuruh saya untuk bergegas menjelaskan materi dan membahas soal. Kemudian mereka minta pulang. Padahal waktu tiap kelas adalah 90 menit. 30 menit waktu saya menulis, 30 menit waktu mereka menulis, 30 menit untuk menjelaskan dan membahas soal. Tapi kelas ini melewatkan waktu 30 menit menulis mereka; alasannya papan yang penuh tulisan saya sudah difoto dan akan disalin di rumah. Jadilah ada sisa waktu 30 menit. Tak mungkin saya memulangkan siswa saat sisa waktu belajar mereka masih 30 menit… saya tak mau dibilang korupsi waktu. Tapi permasalahannya siswa-siswa itu merajuk untuk dipulangkan saja. Saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak tahan dengan rengekan mereka, saya seringkali mengeluarkan siswa dari kelas sebelum bel usainya jam pelajaran berdering. Saya kerap kali memulangkan mereka sepuluh atau lima menit sebelum bel.

Dan akhirnya ada teguran untuk tidak mengeluarkan siswa sebelum bel….

-_- Oke, saya masih belum bisa menahan siswa untuk betah di kelas dalam sisa waktu pelajaran. Tapi saya tak mau dianggap tidak mengajar penuh. Apa gunanya di dalam kelas jika materi yang telah dibahas sudah selesai? Percayalah saya bahkan pernah meninggalkan kelas 15 menit setelah bel karena memang materi belum dibahas tuntas. Jadi anggapan saya hanya duduk-duduk di kelas itu tak bisa saya terima.

Dan yaa.. minggu ketiga ini saya harus membatalkan satu hari KBM (3 kelas) karena diare yang datangnya tiba-tiba. Saat izin untuk membatalkan kelas pada koordinator saya mendapatkan jawaban yang sebenarnya membuat geli “Kenapa mendadak ijinnya?”

Ahh…kalau saya tahu hari itu saya kena diare, pastilah saya sudah izin jauh-jauh hari sebelumnya. Manusia mana yang mengetahui dia sakit kapan? Kalau saya tahu saya akan mati minggu depan… pastilah saya mengajukan ijin tak masuk karena alasan mati -_- Tapi untung pada akhirnya koordinator masih mau menerima ijin pembatalan kelas saya, meskipun (mungkin) dengan berat hati.

Dan minggu ketiga ini masih menyisakan 3 hari. Dari jadwal yang saya miliki, setidaknya saya akan mengisi kelas-kelas normal. Semoga saja tak ada aral melintang untuk menyelesaikan tugas di bulan pertama semester genap ini.

Pekan Magabut

Kegiatan belajar mengajar di semester pertama sudah selesai. Sudah selesai sejak akhir pekan lalu sebenarnya, namun  karena kebijakan dari bos pusat maka bimbel tempat saya ‘bermain’ baru akan mengakhiri semester ganjil pada akhir pekan ini. Dan selama satu pekan ini semua ‘pembicara’ diwajibkan  untuk mengisi kelas sesuai jadwal yang telah disusun bidang akademik.

Saya pun demikian… sudah memiliki jadwal untuk mengisi kelas selama satu minggu penuh.

Sayangnya, tidak semua  siswa sepakat dengan kebijakan bis pusat. Setelah UAS di masing-masing sekolah sekolah selesai, maka  bimbel juga selesai.Mayoritas siswa begitu.

Ada beberapa gelintir yang memang tetap datang ke tempat les, tetapi mereka punya  motif sendiri, yang mana mortif tersebut sama sekali tidak berkerabat dengan belajar. Alasan beberapa siswa yang tetap datang ke tempat les walaupun UAS sekolah telah selesai bermacam-macam, tetapi intinya sama. KABUR dari rumah.

Bagi sebagian siswa, tempat les adalah pelarian yang mumpuni dari segala pekerjaan rumah yang ditimpakan oleh orang tua. Mereka lebih memilih berdiam diri di tempat bimbel selama 180 menit, daripada harus melakukan tugas menyapu atau mencuci piring di rumah. Tempat les juga lebih dipilih ketimbang mendengarkan omelan Ibu masing-masing di rumah.

Jadi walaupun minggu ini sebenarnya saya punya jadwal full untuk mengisi kelas, hanya beberapa kelas saja yang memang saya bereskan… itupun hanya sekedar membahas soal-soal ujian. Sebagian besar siswa justru lebih memilih menghabiskan waktunya dnegan bercerita, ada pula yang mengajak saya untuk bermain origami, sisanya bahkan memohon supaya jadwal lesnya diliburkan saja -_-

Jadilah…pekan ini adalah pekan magabut untuk saya..

Alhamdulillah, bisa mengistirahat saliva walau hanya sejenak… istirahat sebentar, sebelum semester baru di mulai awal tahun depan.

P.S: Semoga saja adek-adek les saya berhasil dengan nilai ujian mereka…

Di Suatu Kelas

Suatu sore, di sebuah kelas…

Saya mengisi kelas yang dipenuhi oleh 5 orang anak kelas satu SMP (VII). Kelas ini adalah salah satu kelas yang personelnya punya kemampuan di atas rata-rata. Mereka masih berada pada usia belia. Masih sangat muda. Masih wajar jika yang ada dipikiran mereka adalah senang-senang, bermain-main, atau ketawa-ketawa. Sama halnya dengan bocah SMP kelas 1 kebanyakan.

Tapi ada hal yang lagi-lagi membuat saya bergidik… rasanya merinding ketika mendengar seorang anak berkata;

“Aku pengen jadi dokter spesialis mata, Kak. Aku pengen nyembuhin orang yang sakit mata kayak aku, biar mereka bisa lihat dengan normal. Pengen nyembuhin mereka yang buta”

Lalu kemudian, pernyataan satu orang anak tersebut diikuti oleh empat bocah lainnya.

Satu anak ingin menjadi dokter bedah, satu lagi dokter spesialis anak, dan satunya dokter kecantikan… sementara satu orang anak lainnya bercita-cita untuk melanjutkan studi Menengah Atasnya di SMA Taruna Nusantara (Magelang).

Dan lagi, saya harus bersua dengan obrolan yang bertemakan cita-cita. Senang rasanya ketika melihat segelintir generasi penerus yang begitu semangat merancang masa depannya.Hanya tersenyum simpul sembari mengamini harapan mereka.

Sepertinya Tuhan memang sedang ingin menegur saya yang mulai menjauh dari tema ‘cita-cita’. Alhamdulillah…. sejauh ini setiap kelas yang saya isi mengguratkan cerita yang berwarna-warni, membuat saya juga harus tetap dan terus belajar.

Korban Pekerjaan

Selalu ada yang dikorbankan. Apapun pekerjaannya, selalu ada tumbal.

Seorang teman yang harus bekerja di tempat yang jauh di ujung negeri harus rela mengorbankan waktu kebersamaan dengan suaminya karena tugas pekerjaan. Seorang teman yang lain juga harus terpisah ruang dan waktu dari sang suami yang merantau di tanah orang. Kedua kawan saya ini harus mengorbankan kebersamaan demi sebuah pekerjaan.

Pengorbanan dari sebuah pekerjaan pun tak melulu soal waktu. Korbannya juga tak harus zat yang bernyawa.

Saya pun demikian. Karena salah satu tugas saya adalah berkutat dengan anak sekolah dasar yang aktivitas dan kelincahannya tak bisa dikira maka sudah banyak sekali benda yang harus saya korbankan ketika mengajar. Meja belajar mini yang baru saya beli harus ‘lumpuh total’ karena kakinya mengalami fruktura. Belum lagi meja belajar kawan sekamar yang dijadikan kanvas oleh tangan-tangan kreatif adek les.

Flasdisk yang saya simpan di tempat aman supaya tak terjamah mereka, tatap menjadi korban tak berdaya. Dan terakhir saya harus mengorbankan si blackberry yang entah diperlakukan bagaimana oleh adek les, sehingga si BB ngambek tak mau menyala 😐

Dan masih banyak bentuk pengorbanan lain dari sebuah rutinitas pekerjaan… Jomblo karena kerja…bertengkar dengan pasangan karena kerja… tak ada kawan karena kerja… tak punya tetangga karena kerja… dan bahkan diisukan sebagai anak haram karena kerja ( :p ).

Jadi, yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah menikmati setiap prosesnya dan mensyukuri setiap hasilnya. Jika harus ada hal yang dikorbankan, memang seperti itulah siklusnya.

Belajar Senang

Menghadapi kelakuan bocah berseragam sekolah itu memang membutuhkan kesabaran yang sangat. Ada saja tingkah mereka yang terkadang tak terduga. Dan benar bahwa perkembangan manusia juga mengikuti perkembangan zaman. Tidak wajar jika menuntut mereka untuk berpola pikir dengan anak sekolah di era 90’ sementara mereka dilahirkan pada saat penjamuran teknologi melebihi jamur.

Benar memang bahwa alat komunikasi dalam bentuk apapun sudah sewajarnya dinonaktifkan saat pengajar berkicau di depan kelas, tetapi menyuruh anak-anak zaman sekarang untuk lepas dari gadget sepanjang waktu di kelas sama dengan mengunyah batu.. keras dan alot. Saya sendiri saja menyumpal telinga dengan earphone sepanjang menerima materi di era kuliah…secara sembunyi-sembunyi memang karena saya tahu tak ada dosen yang suka mahasiswanya menyalakan alat elektronik dalam bentuk apapun kala dia menjelaskan pelajaran di depan kelas… tapi setidaknya saya memahami materi yang dijelaskan. Jadi itulah prinsip saya sekarang ketika memberikan pengajaran… ‘Gadget Oke, Otak kece’. Saya tidak mengharamkan mereka ngegames di kelas, selama memahami materi yang saya berikan. Saya sama sekali tak mempermasalahkan di depan mereka ada laptop selama mereka bisa menangkap pelajaran saya di kelas itu. Mau putar musik sepanjang pelajaran pun saya persilahkan, asal semua tenang ketika saya mengoceh di depan. Tak ada pula larangan untuk berteriak-teriak di kelas, asal mereka senyap ketika saya memaparkan materi. Boleh makan dan minum di kelas, asal tidak membuang sampah di dalam kelas.

Lalu saya dibilang pengajar yang kurang disiplin? Ahh, kedisiplinan tidak sebatas duduk manis di kelas dengan meja yang hanya dipenuhi alat tulis. Lagipula mereka datang ke lembaga bimbingan belajar bukan untuk diajarkan tentang disiplin, melainkan penjelasan materi pelajaran yang di era ini merupakan barang langka di sekolah. Hal terpenting adalah siswa senang dan mau belajar!

Selain gadget, hal yang sedang trendi di kalangan anak-anak sekolah saat ini adalah selfie. Iya, bahkan ada beberapa siswa yang rajin sekali foto selfie lalu menjadikannya sebagai status update di BBB mereka. Di suatu kelas contohnya.. saat saya baru saja menutup pintu, seorang siswi mendatangi saya lalu mengajak saya berfoto selfie bersama..kemudian dia menjadikan foto kami sebagai status update BBM dan akun jejaring sosialnya dengan caption “Mau mulai les dengan Mbak Guru”. Hal tersebut juga dilakukan sebelum saya meninggalkan kelas. Foto selfie, lalu update status.

Mengajak foto selfie terang-terangan ini jauh lebih menyenangkan daripada tindakan siswa-siswa yang hobi mencuri-curi foto. Kan tidak enak ketika saya sedang berkonsentrasi menulis materi di depan kelas terpotong oleh panggilan siswa;

“Ibu… Ibu…”

Lalu ketika saya menoleh, blitz kamera menyambar-nyambar. Ya ampun adek…kan lebih enak minta foto daripada harus mencuri-curi begitu -_- Saya merasa seperti tersangka kasus korupsi yang disambar oleh kilat lensa para pemburu berita.

Sebagai pengajar, saya bukannya tak punya haters… Pasti adalah satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sosok yang tidak sepaham dengan pola pikir saya.. baik itu siswa maupun sesama pengajar atau siapapun di tempat saya bekerja saat ini. I don’t cares.. tapi saya geli pada salah satu hater yang berasal dari kalangan siswi. Dia terlihat begitu garang setelah teman lelakinya ‘sengaja’ mencuri pandang pada saya yang tengah berdiri di depan kelas untuk mendengarkan lagu yang diputar sebagai relaxasi selama 5 menit. Saya yang sadar akan pandangan tersebut balas memberikan pandangan dan seutas senyum simpul, yang kemudian dibalas senyum sumringah oleh siswa tersebut dan perempuan di sebelahnya memberikan kernyit dahi plus mulut manyun pada saya. Hahahahahaha…… Lucu sekali. Dikiranya saya sedang berusaha menarik minat pacar siswi yang cembetut itu. Dan setelahnya dia (si siswi) begitu kepo… menanyakan identitas saya pada operator CS dan beberapa pengajar. Yang kemudian, entah dia tahu dari siapa dan entah siapa yang membuat gosip, dia tahu saya sudah menikah -_- Ya sudahlah…

So far, so fun… Semoga saya tetap sabar dan tetap mau belajar.

Mengajar Di Pekan Pertama

Begini rasanya menjadi pengajar yang peserta didiknya memiliki panca indera lengkap dan tubuh tanpa cacat. Bisa berbicara keras, motil, serta sistem eksresi yang masih normal. Bising, berisik, dan bau keringat bercampur menjadi satu di ruang kelas yang ukurannya sekitar 7 x 6 meter. Ya salam… ramenya tak kalah seru dari pasar malam.

Minggu pertama ketika harus bergumul dengan adek-adek pengguna seragam putih abu-abu dan putih biru terasa mengejutkan. Semacam ada shock culture. Iya, mereka memang mendengarkan saat pengajar di depan kelas menerangkan materi, tetapi tetap saja saat pengajar menuliskan materi… semua mulut sepertinya berkicau. Berebut untuk berbicara.

Singkat cerita, dalam satu kali memberikan pelajaran di kelas, waktu saya adalah 90 menit. 30 menit untuk menuliskan materi di papan tulis, 25 menit untuk menjelaskan materi, 5 menit istirahat (biasanya diputarkan musik oleh mbak-mbak CS), dan 30 menit untuk membahas soal-soal yang berkaitan dengan materi yang telah saya jelaskan.

Adek-adek yang usianya sudah belasan itu biasanya langsung mengikuti kelas (les) sepulang sekolah, jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka. Masih berseragam, dengan aktivitas di sekolah yang mungkin seabrek. Kucel dengan sedikit bau-bauan masam, sebuah kombinasi relaksasi aromaterapi yang tak akan mudah dilupakan. Ditambah dengan ocehan yang seakan tak ada putusnya plus tawa hingar bingar, lengkaplah sudah nina bobo bagi saya di setiap siang/sore hari.

Kadang-kadang, ada beberapa kelas yang seakan-akan tidak menganggap keberadaan saya di depan kelas. Mungkin bagi mereka, saya hanya manekin hidup yang merangkap sebagai sales yang menjajakan ‘materi’ pelajaran.

Saya juga sering ‘dirasani’… dikata kurang tinggi (memang 😀 ), dibilang tulisannya terlalu mini (kan mirip orangnya hohohoho), atau bahkan dibilang terlalu hobi menulis lantaran materi yang saya berikan terlalu banyak.

Ada juga yang suka iseng mencuri-curi memotret saya saat sedang menjelaskan materi… -___-

Yang paling mengesalkan adalah jika mereka mengajukan pertanyaan yang tidak semestinya. Misalnya ketika materi pelajaran berhubungan dengan sistem reproduksi, ada beberapa gelintir bocah yang tanpa malu-malu menanyakan bagaimana caranya mengeluarkan cairan sperma -__- Saya yakin mereka paham, hanya usil saja menanyakannya pada pengajar baru.

Ahhh…adek-adek yang lucu…

Sempat beberapa kali ingin melemparkan spidol atau penghapus pada mereka yang tidak mau mendengar penjelasan atau mengoceh dari awal hingga akhir kelas, tetapi akhhirnya saya hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Menyadari bahwa mereka masih terlalu muda untuk mengerti tentang susahnya mencari nafkah, mungkin dulu saya juga begitu.

Saya juga bukan  tanpa celah.. di minggu pertama berbagi ilmu, saya sempat beberapa kali kurang fokus. Pertama karena materi yang saya pelajari saat malam hari ternyata bukan materi yang harus saya jelaskan di depan kelas. Ada misscommunication antara pengajar dengan pembuat jadwal. Kedua, karena saya belum terbiasa dengan keramaian kelas.. suara-suara ribut membuat konsentrasi saya kacau, inginnya marah-marah. Tapi setidaknya, masa orientasi sepekan bisa saya lalui.

Mengajar itu memang susah, tapi menyenangkan 🙂

Semoga saja kelas-kelas selanjutnya bisa memberikan kejutan lain yang tak kalah seru seperti di pekan pertama lalu.

Image

Kuliah Lapangan @ BALITJESTRO, Batu,Malang

Di atas Bus Yang Ngaret 3 jam

'Teman-Teman'

Secret Captured

Indor Activity ---> Mendengarkan hanya karena Kewajiban, bukan ketertarikan...ckckckck...

Ladies Ladies (Dulunya)

(Ibu Widiastuti) , Pemateri yang Baik Banget Karena mau menunggu keterlambatan 3 jam Kami 🙂

Maaf Mbak Dewi... Kameranya Bisa Dibalikin gak??? 😉

poto bersama

My Lectures: (Kiri-Kanan) Kristanti Indah Purwani, S.Si.,M.Si., N.D.Kuswytasari, S.Si.,M.Si., & Ir. Sri Nurhatika, MP.

@ Bakpo Telo, Jalan Raya Malang-Pasuruan