Semeru, Mimpi yang Belum Usai (3)

13 Oktober 2012

(09.00 WIB)
Setelah semalaman menggigil kedinginan dan tak bisa menghentikan kerja saraf motorik sementara, mengambil potret keadaan sekitar tenda jam 5 pagi adalah kegiatan yang membuat saya akhirnya menggelungkan badan hingga pukul 09.00. Bangun-bangun, di depan saya sudah siap tumisan kangkung campur sosis dan nasi panas.

Wuiihhhh…ini baru namanya hidup pemalas. Bangun tidur langsung disuguhi sarapan. Apalagi setelah semalaman diterpa angin gunung beserta kabutnya yang membuat badan menggigil….. Padahal sebelum saya benar-benar memejamkan mata, semua penghuni tenda kuning masih sibuk dalam dunia tidurnya. Namun ternyata setelah saya terlelap mereka justru sibuk bermain dengan kompor mainan unyu (dan baru) milik Senja.

Untuk itulah… special thanks pada koki kami, Aisyah Intan Paramartha yang tidak kehilangan passion memasaknya walaupun berada di tanah asing πŸ™‚ Sayangnya saya sedang kehilangan nafsu untuk memainkan lensa kamera. Pertama karena saya tidak membawa Kodie dalam perjalanan ini. Kedua masih ngantuk dan kedinginan dan malas πŸ˜‰

(10.00 WIB)

Sudah selesai packing dan membereskan barang-barang di tempat lapang yang hanya terdiri dari tenda kami. Lima wanita galau ini pun telah bersolek untuk melanjutkan perjalanan ke bumi perkemahan Ranu Kumbolo.

Kata teteh Noni Wibisono, “Reporter tidak harus kucel dan kusam. Reporter juga punya hak untuk cantik”. Kata kami, “Pendaki tak harus kumal dan berkeringat. Pendaki juga harus cantik dong” πŸ™‚

4 Pendaki Cantik πŸ™‚ Yang Motret Juga Cantik Loh…. Karena Tak ada tripot atau fotografer nganggur, maka salah satu dari kamilah yang merelakan wajahnya Tak Tampak di Depan Kamera pada sesi kali ini… Maaf ya Nope πŸ˜‰

(10.40 WIB)

Perjalanan dari padang rumput antah berantah ke bumi perkemahan Ranu Kumbolo tidak lama, kawan. Tak lebih dari 10 menit untuk waktu normal. Jadi seebenarnya jarak tenda kami dini hari tadi dengan camping ground cukup dekat sekali, tetapi karena kabut jarak yang singkat itu harus tertunda selama lebih dari 7 jam.

Tapi waktu yang 10 menit itu harus diperpanjang karena kami HARUS melakukan sesi pemotretan di sepanjang perjalanan menuju bumi perkemahan πŸ™‚

(11.30 WIB)

Sampai di Bumi Perkemahan Ranu Kumbolo

Hal pertama yang kami lakukan tentu saja mendirikan tenda. Karena perlengkapan kami yang sangat kurang maka kami mengikuti saran bapak Medan untuk mendirikan tenda di shulter.

Sama Sendu. Menuju Camping Ground πŸ™‚

πŸ™‚ (Fotografer: Aisyah Intan Paramartha)

Welcome in Ranu Kumbolo πŸ™‚

Tenda kami, menjadi satu-satunya tenda yang nangkring di shulter Ranu Kumbolo. Shulter ini semacam pos peristirahatan yang terbuat dari kayu. Di dalamnyaterdapat dua bangku kayu permanen yang memanjang di sisi kanan dan kirinya. Kalau dibilang bangku mungkin terlalu besar, jadi semacam dipan sehingga bisa digunakan untuk berebah atau tenpat para pendaki memindangkan diri sebelum atau setelah melihat Mahameru. Biasanya shulter ini digunakanuntuk tempat singgah para porter. Porter apa’an? Manusia yang menyediakan jasa angkut barang-barang pendaki ke puncak. Pada umumnya pengguna porter adalah pendaki-pendaki mancanegara. Biayanya sekitar 150.000 – 300.000 IDR per harinya. Kami pake porter? HUAHAHAHAHAHAHHA…..bayar hartop aja ogah, apalagi ngebayar porter πŸ™‚

Alhamdulillah saya dan teman-teman masih mampu memanggul daybag masing-masing.

(11.40 WIB)

Acaranya tetap foto-foto di area Ranu Kumbolo

Selalu Riang dengan Kostum Juventus πŸ™‚

5 dara yang niat Nyasar di Ranu Kumbolo (Photografer: Mas Bule, PA Rafflesia Jakarta Selatan)

(15.00 WIB)

Menurut jam tangan, waktu sudah sore. Namun menurut saya pagi, siang & sore hari tidak berbeda nyata jika harus dibandingkan di tempat yang bernama Ranu Kumbolo. Angin pegunungan masih berhembus. Suhu pun masih rendah. Dan tentu saja tubuh masih saja membuat fikiran memunculkan kata dingin. Walaupun tidak seekstrim malam pertama yang kami lalui, bagi saya suhu sore ini tetap masuk kategori dingin banget.

Apa yang kami lakukan di sore ini?

Mencoba menyusuri salah satu spot terkenal di gunung Semeru. Tanjakan Cinta. Sebuah legenda yang entah darimana datangnya dimana dikisahkan jika pendaki sanggup menyusuri tanjakan tersohor ini tanpa menoleh ke belakang sembari memikirkan sosok yang dicintainya maka mereka akan berjodoh. Karena memang penasaran maka kami berlima pun menjajal jalanan di Tanjakan ‘Galau’ ini. Ingin tahu juga apakah berjalan di trek tanjakan ini memberikan sensasi yang berbeda dengan trek lain yang ada di gunung Semeru.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran teman-teman lain ketika kaki kami telah berpijak pada tanah Tanjakan Cinta ini. Tapi yang jelas double Aisyah dan Senja tidak sedang memikirkan jodoh mereka karena tiga orang tersebut sedang ribut dan berteriak-teriak mengeluhkan betapa terjalnya tanjakan galau yang tengah kami susuri ini. Dan Novera sibuk memainkan camdignya. Saya sendiri sempat berniat untuk menjajal magicnya Tanjakan Galau tersebut. Namun setelah berada di tengah-tengah tanjakan saya tersenyum pada diri sendiri karena menyadari selama beberapa saat saya hilang akal. Bukankah jodoh itu ditangan Tuhan? Kenapa harus memfokuskan pikiran pada sesuatu yang tak pasti sementara tanjakan tersebut membutuhkan konsentrasi supaya pendakinya bisa segera sampai di atas tanjakan dengan nafas yang normal? πŸ™‚

Yahh…namanya juga cerita rakyat… percaya atau tidak bergantung pada individu masing-masing.

Mengenai tanjakan ini sendiri, dinamakan Tanjakan Cinta karena kata orang jika dilihat dari kejauhan tanjakan ini berbentuk hati dimana jalan setapak yang biasanya dilewati pendaki adalah bagian tengah yang membagi hati menjadi 2 bagian. Katanya sih… πŸ™‚

Tapi kata saya… Tanjakan Cinta adalah salah satu titik di antra banyak titik di Ranu Kumbolo yang layak dijadikan studio foto.

Menuju Tanjakan Galau πŸ™‚

Menjajaki Tanjakan Galau πŸ˜‰

(16.00 WIB)

Kami sudah melewati tanjakan cinta. Sekarang di depan kami terhampar tanah lapang yang luas. Bisa loh buat lapangan bola. Tempat lapang tersebut dinamakan Oro-Oro Ombo yang artinya tanah yang luas.

Sore ini pun berhenti di hadapan tanah yang luas. Tempat dimana kami bisa melihat para pendaki yang hendak menjumpai Mahameru dan Jongrang Salokanya atau mereka yang sudah merasakan berada di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Iri sebenarnya pada mereka yang bersua dengan puncak Mahameru, tapi kami (saya) tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di gunung Semeru.

Sore Terakhir di Gunung Semeru πŸ™‚

Semeru, Mimpi Yang Belum Usai (2)

12 Oktober 2012

(18.00 WIB)

Saya dan 8 orang teman lain sudah berada di tanah Semeru. Dari Surabaya saya memang hanya pergi dengan 4 orang dara yang tak jelita, namun ketika di perjalanan atau lebih tepatnya saat berada di rumah Pak Rus, kami menemukan teman seperjalanan tambahan. 4 orang tambahan pendaki sudah cukup untuk meramaikan perjalanan kami. 3 orang laki-laki dan seorang gadis pun menjadi bagian dari ekspedisi dadakan ini.

Sepanjang jalan tak banyak kisah yang bisa kami dapatkan. Kiri jurang, kanan tebing dan jalanan benar-benar setapak. Tujuan kami semua adalah Ranu Kumbolo. Yup…Hanya Ranu Kumbolo. Sebenarnya saya ingin sampai puncak. Sampai Mahameru. Namun, melihat kondisi tidak memungkinkan. Senja tidak bersedia membawa kami berempat ke atas Mahameru dan tiga teman lainnya juga terlihat belum siap untuk melintasi Kalimati dan Arcapada. Karena itulah, hanya Ranu Kumbololah tujuan kami. Tak apa, yang penting sudah di atas ketinggian 1500 mdpl bukan?! Jadi sudah dikatakan naik gunung!

(19.00 WIB)

Tidak ada cerita.

Sepanjang perjalanan hanya ada banyolan-banyolan kecil antara kami. Langit juga sudah mulai gelap. Penerangan hanya berasal dari senter yang kami bawa. Saya tak henti-hentinya berdoa. Yah, walaupun sebelum naik kami sudah memanjatkan doa bersama sepanjang perjalanan saya tetap membatinkan lafal-lafal doa yang saya ketahui.

Jujur, malam itu yang saya takutkan adalah munculnya ‘sesuatu’ yang tak terduga…. hiiiiiii… Saya memang orang beriman, tapi saya tetap takut setan! Dan kata orang di gunung banyak setan πŸ˜‰

Karena itulah doa saya adalah supaya saya tak melihat ocong atau mbak kunti atau kawanan mereka berdua!

Saya juga berdoa semoga kami tidak berjumpa dengan makhluk-makhluk melata. Tak ingin bertemu dengan ular 😦

Dan syukurlah… Allah mendengar doa saya itu

(22.00 WIB)

Kaki masih kuat, namun nafas sudah ngos-ngosan. Berkali-kali kami menghentikan perjalanan. Istirahat sejenak sambil minum-minum dan ngemil-ngemil. Capek.

Rasa lelah yang ditambah dengan perut lapar itu sangat tidak enak. Apalagi salah satu anggota perjalanan ini adalah si Hj Kemplo Caca. Gaya jalannya yang ke kanan kiri sak kareppe dhewe benar-benar menghawatirkan. Bagaimana tak khawatir, kiri jurang dan jalannya si Caca mirang-miring gontai tak karu-karuan.

“Hati-hati, Ca! Jalan ke kanan ae” sudah berkali-kali saya sampaikan pada Caca yang berjalan di depan saya, namun tetap saja jalannya si Caca bergoyang-goyang kanan kiri. Mungkin keseraman setan-setan malam itu digantikan oleh cara jalan Caca yang tak karuan. Seram kan kalau tiba-tiba ia terus miring ke kiri dan jatuh ke jurang?! Bisa-bisa dia menambah daftar kematian yang tertempel di mading pos perijinan Ranu Pani.

Karena itulah sepanjang perjalanan, kegontaian Caca juga menjadi sedikit hiburan bagi kami yang sudah kelelahan.

(23.00WIB)

Setiap kali teman-teman bertanya “masih lama ta, Nja”

Jawaban Senja adalah, “Sedikit lagi sampe, Rek!”

Saya sendiri tahu bahwa jawaban Senja itu adalah jawaban diplomatis seorang pemimpin untuk anak buahnya yang sudah sedikit putus asa nan lelah. Karena saya tahu bahwa perjalanan kami masih sedikit agak lama, saya hanya berjalan sembari diam dan sesekali melihat ke arah langit.

Subhanallah…bintangnya indah. Sungguh, malam itu langit cerah. Saya merasa langit Semeru sedang tertawa karena kedatangan salah satu pendakinya yang sudah lama memimpikannya. semeru menyambut saya dengan bintang-bintangnya, apa yang lebih indah daripada itu? πŸ™‚

Rasa lelah pun hanya sekedar rasa biasa karena indahnya malam itu jauh lebih berharga untuk sebuah keluhan karena lelah.

(24.00 WIB)

Kami sudah melewati pos 4, sekitar 500 m dari perkemahan Ranu Pani. Namun saat itu kabut benar-benar tebal. Jarang pandang tak lebih dari 1 meter. Tak ada yang bisa dilihat kecuali padang rumput. Akhirnya kami berlima memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat tersebut. Yah, karena 4 orang teman tambahan kami itu berada di belakang kami. Mereka memang masih newbie di area pegunungan sehingga jalannya sedikit lebih lama daripada kami. Dan ketika kami telah sampai di pos 4, mereka tak jua menampakkan tanda-tanda kedatangan sehingga pikiran kami adalah mereka memutuskan untuk ngecamp di pos tiga, tempat terakhir kami berlima bersama mereka.

Kami sendiri mau melanjutkan ke bumi perkemahan, tapi takutnya di jalan terjadi sesuatu karena jarak pandang yang sangat terbatas. Belum lagi angin yang super kencang dan suhu yang sudah sangat rendah. membuat kami yang lelah dan kelaparan dan ngantuk menjadi super kedinginan.

Dengan cepat berdirilah sebuah tenda di tempat tersebut.

Sebelum tidur, senesting mie instan dan telur orak arik terhidang. Menjadi pengisi perut sekaligus penghangat tubuh yang sudah menggigil.

brrrrrrr….sungguh dingin malam itu. Tak ada selimut tebal. Sleeping bag pun hanya sebiji dan itu pun dibuat alas tidur karena matras kami basah terkena uap kabut. Jaket dobel dan kaus kaki tangan juga tak mampu membuat tubuh kami hangat. Yahhh…mau bagaimana lagi. Kami tak tahu koordinat pasti posisi kami dari bumi perkemahan. Setenda diri di sebuah padang rumput yang tak tahu kanan kirinya apa. Yang jelas saya tahu bahwa saat itu kami sudah di area Ranu Kumbolo. Hanya tak tahu si Ranu berada di sebelah mana. Kalau kami memaksakan untuk tetap melanjutkan perjalanan, bagaiamana jika tiba-tiba kami terjebur danau dan tenggelam…hiiiii….lebih baik ngecamp.

Dan melanjutkaan perjalanan esok hari.

13 Oktober 2012

(05.00 WIB)

Saya terbangun dengan tubuh yang masih menggigil. Senja segera membuka pintu tenda, hal yang sebenarnya ingin saya lakukan. Ingin mengetahui dimanakah tenda ini berdiri.

Dan ternyata 5 meter di depan kami adalah sebuah danau yang di atasnya masih tertutup kabut putih. Ya Tuhan…kalau saja semalam kami melanjutkan perjalanan ke arah yang Ais Babon pilih, maka daftar nama di mading pos perijinan Ranu Pani resmi memunculkan nama Ais… ya iyalah nama Ais saja karena ketika Ais bermaksud memilih jalannya, saya sudah memilih jalan saya…. hihihihihihihii…. tapi untunglah jadinya ngecamp πŸ™‚

05.00 WIB…. Hiiiiiii Dinginnya

Setelah Cuci Cuci Muka Seadanya dan Buang hajat πŸ˜‰

Sama Senja πŸ™‚

Semeru, Mimpi Yang Belum Usai

Semeru, salah satu gunung favorit para pendaki. Kata orang kalau belum menjamah Semeru, bukan pendaki namanya. Walau masih amatir, keinginan untuk mendaki Semeru juga ada di pikiran Saya. Terlebih setelah Surat Ijin Naik Gunung telah saya genggam. Tidak tahu kenapa, awal bulan ini keinginan itu semakin besar. Rasanya seperti ada kode bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mendaki Semeru.

Dan entah kenapa tiba-tiba saya mengajukan usulan pada teman-teman main saya yang ‘manis-manis’ untuk bermain ke Semeru. Hasilnya adalah tersusunlah rencana untuk mendaki Semeru awal November ini. Segala persiapan untuk November telah tersusun.

Namun persiapan untuk bulan November itu hanyalah sebuah persiapan. Rencana November hanya tinggal rencana. Batal.

Karena rencana yang kami buat pada awal pekan Oktober itu terlaksana di minggu kedua Oktober πŸ™‚

Yuhuuuuuu…….. Naik Semeru pun berlangsung. Alkisah pada Rabu malam pekan lalu, sebelum shalat isya’ tiba-tiba saja ide gila itu muncul di kepala Saya. Saya fikir Semeru menginginkan kedatangan saya secepatnya, tetapi tidak di bulan November. Karena itulah saya yang saat itu memang sedang berada di kosan Ais Babon bersama dua orang rah gennah lainnya segera bertanya,

Gimana kalo kita naik jumat besok?”

Pertanyaan gila tersebut pun mendapatkan anggukan!

Meskipun rencananya dadakan. Meskipun persiapannya tiba-tiba. Walaupun Hj Kemplo sempat galau antara ikut atau tidak. Walaupun polybag yang telah dibeli ‘tak sengaja’ dijatuhkan Kemplo. Walaupun logistik kami ‘seadanya’. Walaupun keberangkatan ini diawali dengan sedikit kebohongan yang beragam. Akhirnya Jumat pagi itu kami berlima, setelah Novera bersedia ikut kami ke Semeru, sudah meninggalkan teriknya Surabaya.Β 

Just like a dream, but it’s true πŸ™‚

12-10-2012

(10.00 WIB)

Kami berada di Desa Tumpang. Tempat awal sebelum pos perijinan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ranu Pani. Karena satu-satunya manusia yang pernah melakukan ekspedisi ini adalah Senja maka saya dan tiga makhluk lainnya bergantung pada Sendu. Tapi sayangnya ketergantungan kami ini salah tempat. Senja sama sekali tak tahu bagaimana caranya supaya kami bisa sampai Ranu Pani. Bukannya tak tahu sama sekali, melainkan tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan angkutan selain Jeep atau Hartop. Naik Jeep atau Hartop memang bisa segera membawa kami berada di Ranu Pani, tetapi membuat kami tak bisa kembali ke dataran rendah setelahnya. Harganya mahal (untuk kami). Satu jeep dan hartop disewakan dengan harga Rp 400.000- Rp 450.000 atau perkepala di hitung Rp 90.000, kecuali jumlah penumpang 15 orang, perkepala ditarik Rp 30.000. Sementara kami yang hanya berlima, uang senilai Rp 90.000 perkepala itu over budget. Pokoknya perjalanan ke Semeru ini harus sesuai dengan budget yang telah kami tentukan di awal, itulah prinsip kami! Money management πŸ™‚

Karena masih buntu harus naik apa, akhirnya dari terminal Tumpang kami menuju sebuah warung kopi. Beruntunglah kami…. karena pemilik warung kopi ini sungguh baik hati. Pak Saiful namanya. Seorang tukang ojek yang juga membuka warung kopi di depan pangkalan ojeknya. Beliau menanyakan dengan apa kami akan ke Ranu Pani. Setelah kami menjelaskan bahwa kami belum menemukan angkutan, Pak Saiful mengantarkan kami ke rumah seorang pemilik truck yang biasanya memang digunakan para pendaki lokal untuk sampai ke pos Ranu Pani.

Β (12.30 WIB)

Kami sudah berada di rumah Pak Rus. Pemilik truck yang akan kami tumpangi. Alamat jelasnya di Jalan Kudusan 52, Tumpang. Pak Rus memiliki 3 buah truck yang biasanya digunakan untuk mengangkut pupuk kandang dari kota ke desa-desa yang ada di kaki gunung Semeru. Karena itulah, sebagai sampingannya truck tersebut juga digunakan sebagai angkutan untuk pendaki-pendaki dari Tumpang – Ranu Pani atau Ranu Pani – Tumpang. Biayanya juga sesuai dengan estimasi dan budget kami πŸ™‚

Beristirahat di Rumah Pak Rus

Lumayan loh menggunakan jasa truck milik Pak Rus untuk sampai ke Ranu Pani. Harganya oke, bisa santai-santai pula. Pak Rus beserta keluarganya juga ramah-ramah. Kita mendapatkan seceret teh hangat sebelum berangkat. Bisa menggunakan kamar mandinya pula. Jadi harga Rp 30.000 itu sudah termasuk kamar mandi, minum teh hangat, ngeces hape, sekaligus angkutan trucknya.

Kalau memang kemalaman di jalan, kita juga dipersilahkan untuk bermalam di rumah Pak Rus. Bisa telepon terlebih dahulu juga jika memang ingin memesan angkutan, takutnya penuh jika datang secara dadakan. Nih nomor teleponnya 0341- 789 162 atau 0341 – 9777231.Β 

(14.00 WIB)

Di Atas Truck menuju Ranu PaniΒ 

Di Atas Truck Yang Mengangkut Pupuk Kandang πŸ˜‰

5 Dara di Atas Tumpukan Pupuk Kandang a.k.a Tai Sapi πŸ˜‰

(16.30 WIB)

Setelah melewati jalanan yang kanan tebing kiri jurang atau kanan jurang kiri tebing serta berpetak-petak tanah yang ditanami bawang daun dan kembang kol, sampailah kami di pos perijinan Ranu Pani. Kata orang, pendakian dilarang jika jam sudah di atas pukul 4 sore. Alasannya karena track pendakian kerap kali ditutupi kabut tebal. Namun entah mengapa bapak-bapak asli Medan yang sore itu bertugas di pos pendakian mengizinkan kami untuk menginjak Semeru sore itu juga. Walaupun sempat sedikit diospek oleh si Bapak Medan dimana beliau berkata bahwa logistik kami kurang untuk 3 hari berkemah, yang penting ijin naik dikantongi.Β 

Eittsss…ijinnya juga pakai retribusi dong… cukup bayar 8000 IDR per orang. Termasuk asuransi kematian tuhh πŸ˜‰

Bismillah…. Mari kita mendaki.

Pos Perijinan TNBTS Ranu Pani

πŸ™‚

P.S: Mom, I’m in SemeruΒ πŸ™‚Β Terimakasih atas izinnya, Mami

Mencoba Menaklukkan Welirang (31 Desember 2011)

(31 Desember 2011) 00.15 WIB

Tenda telah didirikan, waktunya merebahkan kaki yang telah menempuh perjalanan berat dan memejamkan mata yang telah bekerja keras melihat dalam gelap.

Ahhh…rasanya tidak sabar menunggu esok. Melanjutkan pendakian menuju puncak gunung yang tingginya tak kalah tinggi dari Mahameru. 3156 m sama 3676 gak jauh-jauh amat kan????!! πŸ˜‰

(31 Desember 2011) 06.00 WIB

Ya Allah… Kaki saya tak bisa digerakkan. Ok, mungkin sedikit kelelahan. Saya luruskan kembali si kaki, berharap ia membaik.

Uhhh… tapi kenapa tetap merasa linu??

(31 Desember 2011) 07.30 WIB

Kaki masih linu. Jalan tak normal karena tapakan kaki tak bisa memijak dengan benar. Nyeri sangat.

Akhirnya, perjalanan saya di gunung Welirang hanya sampai shelter ini. Hanya terhenti di Kop-Kopan. Hanya bisa menaklukkan setengah dari 3156 m 😦

Maunya sih terus, tapi daripada susah di tengah jalan lantaran kaki yang tak bersahabat ini maka solusi utamanya hanyalah stay di tempat camping ini. Lagipula saya tak mau menyusahkan teman-teman pendaki karena dari pos Kop-Kopan ini (rencananya) saya tak hanya menuju puncak dengan dua orang, tetapi juga bersama rombongan pendaki (19 0rang) dari Bojonegoro yang kebetulan salah satunya adalah senior adik saya.

(31 Desember 2011) 08.30 WIB

Saya melepas kepergian mereka yang akan melanjutkan pendakian, termasuk dua orang mas-mas yang menemani pendakian malam saya.

Jadilah semua impian merayakan pergantian tahun di puncak gunung menjadi tengah gunung….. It’s Ok… masih ada waktu lain (insya Allah) untuk menaklukkan gunung ini….

Teman-Teman Dari Bojonegoro

Kaki Sakit Tapi Kamera Tetap Eksis πŸ˜‰