Cerita Pagi

Suatu pagi….

Ibu A : “Ehhh si adek sudah bangun yaaaa….. Mau ikut Mama ngajar ya, Nak”

Ibu X : “Enggak tante, aku mau berjemur dulu”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut ‘bercengkrama’

“blablablablablablablablaaaaaaaaaaaa….”

Mulai dari harga bawang, hingga harga garam..

Mulai dari kehidupan pasar, sampai tumpakan bawang di kamar..

Lalu kemudian si bayi berceloteh..

“Ammppphhhhhhh… ardkgkkssss…”

Dialog seru antar ibu tersebut berhenti sejenak. Salah satunya berkata;

Apa..le…”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut berbisik-bisik seru…. Menjadikan salah seorang penghuni kos baru sebaagai bahan perbincangan..

Dan si bayi kembali memotong diskusi ibunya

“Oamrrrrghjkjkkk..aappmmhhhh..”

Dengan sedikit rengekan, bayi yang usianya tak lebih dari 3 bulan tersebut tak hanya ‘ngeroweng’ beberapa saat… tetapi sepanjang kedua ibu-ibu itu berbicara mesra.

Hingga kemudian, si Mama berkata

“Sebentar ta le.. diam dulu. Kok kamu cerewet si. Mama ngomong sebentar”

Oke… setidaknya perbincangan tersebut berlangsung selama 30 menit. Waktu yang setidaknya bisa digunakan untuk ‘memanaskan’ si bayi. Si Mama mengatakan anaknya cerewet, lalu dia bagaimana? -_-

Well done, Mam!

Advertisements

Hari Besar Tanpa Tanggal Merah

Ternyata Indonesia tidak hanya kaya akan budaya dan sumber daya alamnya. Negeri ini juga punya banyak ‘hari-hari istimewa’ yang pada kalender angkanya tidak berwarna merah. Gak kebayang kalau misalnya semua peringatan tersebut dijadikan hari libur nasional… Waaahhh…. bisa-bisa setiap hari adalah akhir pekan… Ini lah beberapa peringatan yang sejauh ini saya ketahui dirayakan pada bulan April – Mei….

Wuuiiihhhh… Banyak juga loh ternyata 🙂

Yaahhh mungkin bisa semakin menegaskan bahwa Indonesia adalah negeri yang super kaya dari sisi manapun & apapun

21 April: Hari Kartini

22 April: Hari Bumi

23 April: Hari Buku

24 April: Hari Angkutan Nasional

24 April: Hari Solidaritas Asia-Afrika

27 April: Hari Permasyarakatan Indonesia

Mei

1 Mei: Hari Peringatan Pembebasan Irian Barat

1 Mei: Hari Buruh Sedunia

2 Mei: Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)

3 Mei: Hari Surya

5 Mei: Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)

8 Mei: Hari lahir Henry Dunant – bapak Palang Merah Sedunia

11 Mei: Hari POM – TNI

15 Mei: Hari Korps Resimen Mahadjaya/ Jayakarta (Menwa Jayakarta)

17 Mei: Hari Buku Nasional

19 Mei: Hari Korps Cacat Veteran Indonesia

20 Mei: Hari Kebangkitan Nasional

21 Mei: Hari Peringatan Reformasi

29 Mei: Hari Keluarga

31 Mei: Hari Anti Tembakau Internasional

Libur Yang Ditukar!

Semua orang yang bekerja pada orang lain harus patuh pada orang lain yang mempekerjakannya. Semua karyawan harus tunduk pada ketentuan perusahaan tempat ia bekerja. Itu memang sudah menjadi risiko yang harus diterima oleh sispapun yang sudah berkecimpung di dunia perkantoran, tetapi hanya berperan sebagai karyawan biasa.

Tapi bukankah ada undang-undang ketenagakerjaan yang mengatur tata cara bekerja dan mempekerjakan?

Kalau bicara mengenai undang-undang mungkin terlalu berat, tapi setidaknya ada rasa saling mengerti antara karyawan dengan perusahaan. Bukannya henda kmelakukan protes atau mungkin bahasa orang kator ‘mengkonfrontasi’, melainkan hanya kurang setuju dengan sikap perusahaan yang main tukar hari libur resmi dari Pemerintah.

Sudah lebih dari sekali saya dituntut untuk menghabiskan waktu libur nasional dengan menyelesaikan pekerjaan yang bukan salah saya pekerjaan tersebut menumpuk sehingga harus ada yang namanya kerja di tanggal merah. Memang ada uang lembur yang diterima, tetapi mengganti tanggal merah dengan uang lembur tidak selalu menjadi pilihan utama. Tanggal Merah itu lebih penting dari uang lembur sekalipun.

Terus terang saja, sejak Natal tahun lalu planning yang saya susun untuk menggunakan waktu libur nasional selalu dikacaukan oleh kebijakan perusahaan yang menurut saya sama sekali tidak bijak. Karena pemeritahuan tersebut selalu saja mendadak. Besok tanggal merah, hari ini pengumuman untuk masuk kerja di tanggal merah esok. Ada pula ketentuan menukar hari libur. Libur nasional yang harusnya jumat dengan gampangnya dirubah menjadi sabtu. Kenapa harus diubah-ubah coba?

Mungkin lebih enak memang mengubah hari libur yang harusnya jumat menjadi sabtu supaya waktu libur menjadi lebih panjang dan jam kerja jauh lebih efektif, tapi setidaknya pemberitahuan hal tersebut tidak dilakukan secara mendadak. Harus ada sosialisasi dan komunikasi dari atasan jauh-jauh hari sebelumnya. Minimal seminggu sebelumnya lah!

Kalau sudah tukar-menukar hari libur nasional begini, yang susah adalah karyawan yang punya rencana di tanggal merah seperti saya. Undang-undang memang sudah menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi seorang pekerja untuk masuk kantor saat hari libur nasional, tapi masalahnya kantor ini nakalan! Liburan dipindah hari, supaya karyawannya tetap masuk. Kalau tidak, ya potong gaji…. padahal kan tanggal merah…jadi kalau tak masuk harusnya tak ada istilah pengurangan gaji sehari bukan?

Entah apa maksud kantor yang hobi sekali tukar-menukar jadwal libur nasional. Sekalian saja nanti pas tanggal merah lebaran dituker juga liburnya!

Sama sekali tak ada maksud untuk melanggar atau membantah ketentuan atasan.Hanya saja di hari libur besok saya benar-benar ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Mana bisa pindahan ditunda? Mindah barangnya dari luar kota pula! Dan rencana ini sudah ada jauh sebelum pemberitahuan yang tiba-tiba merusak suasana hati saya pagi tadi!

Ah… inilah nasib kaum buruh. Tidak punya wewenang untuk menentukan nasib. Mengadu sudah, tapi hanya dianggap angin lalu dan selalu ditangkis dengan berbagai argumen khas manajemen perusahaan. Jadilah, bertukar hari libur nasional tetap berlangsung (dan saya tetap libur sebagaimana kalender yang ditetapkan Pemerintah). Berharap tidak ada lagi tukar jadwal libur seperti ini!

Christmas is 25 December, isn’t it?

Sedikit kesal atas kebijakan yang sudah di buat oleh perusahaan menyangkut hari libur Natal. Libur natal yang sedianya berlangsung tanggal 25 Desember tiba-tiba saja ditukar menjadi 24 Desember. Alasannya…. karena tanggal 25 adalah hari selasa sedangkan 24 adalah hari senin sehingga karyawan bisa menikmati liburnya sejak hari minggu hingga senin. Tidak terganggu dengan adanya ‘harpitnas’, sehingga karyawan yang berasal dari luar daerah bisa meghabiskan waktu libur yang cukup lama di kampung halaman. Dan katanya kebijakan tersebut diputuskan atas musyawarah bersama. Bersama siapa? 😦

Bagi saya perubahan libur itu sama saja dengan tidak menghormati umat kristiani yang merayakan hari besarnya. Saya muslim, tapi saya tinggal di Indonesia yang peraturannya diatur oleh pemerintah. Pemerintah sudah menetapkan libur di tanggal 25 dan bagi saya itu mutlak harus diikuti. Bukannya mau sok nasionalis atau idealis atau apatis, tapi yang namanya peraturan tetap peraturan! Kalau umat muslim tidak mau menghormati umat beragama lainnya, bagaimana bisa muslim dihormati? Hormatilah maka kalian akan dihormati. Hargailah maka kalian akan dihargai. Bukankah kita sudah pernah belajar kerukunan antar umat beragama?

Sekali lagi ini Indonesia…negeri yang memiliki berjuta keragaman, termasuk keyakinan rakyatnya. Jika hanya berkaca pada satu keyakinan, kenapa tidak pindah saja ke negara Arab yang peraturannya adalah peraturan yang islami?! 😐 

Kesal lagi karena di hari selasa saya sudah memiliki rencana yang terplanning sejak sebelum keputusan menukar hari libur digulirkan oleh perusahaan 😦

Tapi karena saya adalah rakyat Indonesia maka saya ikut aturan pemerintah. Lagipula di kontrak kerja yang sudah saya buat dengan perusahaan, hari libur nasional perusahaan sesuai dengan kalender Pemerintah.