Tentang G30SPKI

Di sebuah sesi Try Out ujian nasional dua orang siswa berbisik pelan sembari mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang menjadi materi Try Out hari ini.

Siswa Satu: “Aku minggu depan ada pementasan drama lagi”

Siswa Dua: “Lohh..aku sudah kemarin.. tentang Snow White”

Siswa Satu: “Ohh.. pementasan dongeng ya. Besok aku pementasan tentang sejaran Indonesia”

Siswa Dua: “Apa? Sangkuriang? Apa Malin Kundang?”

Siswa Satu: “bukan.. G30SPKI”

Siswa Dua: “Opo iku????”

Siswa Satu: “Yaa itu perang-perang.. aku juga gak tahu”

Siswa Dua: “Aneh..”

Saya pun tertegun.. Oh adek… Sangkuriang dan Malin Kundang itu bukan sejarah… Kedua kisah itu hanya sebatas legenda.. G30SPKI tak tahu? Well.. saya memang bukan ahli sejarah, tak hafal pula setiap kisah heroik di Nusantara. Namun tak mengerti apa itu G30SPKI sungguh keterlaluan. Bukankah kisah itu adalah salah satu materi pelajaran di sekolah dasar? -_-

Advertisements

Shoot From Blitar

Kasur Hotel :D

Kasur Hotel ๐Ÿ˜€

Sarapan Kami. Sangat Jauh dari sarapan bayangan sebelum tidur :P

Sarapan Kami. Sangat Jauh dari sarapan bayangan sebelum tidur ๐Ÿ˜›

Jalanan Menuju Makam Dari Arah Hotel

Jalanan Menuju Makam Dari Arah Hotel

Pelataran Museum di Lokasi Makam

Pelataran Museum di Lokasi Makam

Salah Satu Lukisan Wajah Bung Karno Yang Saya Suka

Salah Satu Lukisan Wajah Bung Karno Yang Saya Suka

Sama Adek Silla. Dedek yang Suka Pose & Saat Itu sedang Berkunjung ke Museum Bersama Kakeknya yang Secara Kebetulan menjadi Tour Guide Singkat Saya. Terimakasih atas sambutannya ya dedek Silla.. Kapan-kapan kita ketemu lagi yaa :)

Sama Adek Silla. Dedek yang Suka Pose & Saat Itu sedang Berkunjung ke Museum Bersama Kakeknya yang Secara Kebetulan menjadi Tour Guide Singkat Saya. Terimakasih atas sambutannya ya dedek Silla.. Kapan-kapan kita ketemu lagi yaa ๐Ÿ™‚

Saat Bung Karno Berdiskusi dengan Bung Hatta yang tengah Terbujur Sakit

Saat Bung Karno Berdiskusi dengan Bung Hatta yang tengah Terbujur Sakit

Membelakangi Pelataran Perpustakaan & Museum di area Makam Bung Karno

Membelakangi Pelataran Perpustakaan & Museum di area Makam Bung Karno

Ekspedisi Pacitan – Salah Satu Perjalanan Panjang

Sebuah perjalanan panjang. Perjalanan darat terlama yang pernah saya lakukan. 10 jam di atas motor. Tidak mengemudikannya memang, tetapi lelah dan panasnya glutea tak bisa disangkal. Kaki sedikit keram dan menahan rasa kantuk yang sesekali datang. Perjalanan panjang dan melelahkan menuju tempat bernama Pacitan.

Tapi kalau saya harus mengulanginya, saya mau. Lelah memang, tetapi setidaknya saya punya cerita dan cerita itu tidak hanya Yogyakarta. Yogyakarta memang bagian Indonesia yang paling saya suka, tetapi cerita tak harus melulu dari Jogja bukan? ๐Ÿ™‚

Mengunjungi tanah kelahiran Presiden SBY adalah sebuah pengalaman yang tak bisa dibeli di departement store manapun. Mulai dari boncengan selama 10 jam (waktu pergi) + 10 jam (waktu pulang) + berjam-jam (waktu mampir-mampir ๐Ÿ˜› ); sampai harus menjadi kurir kebutuhan pokok seorang anak dari ibu-ibu yang tokonya saya kunjungi untuk membeli oleh-oleh. Si anak yang kuliah di Surabaya entah mengapa meminta ibunya mengirimi sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, plus jajanan kecil via saya dan teman-teman yang tengah berkelana hingga negerinya. Jujur, saya tidak mengenal sosok si anak. Meskipun ada beberapa anggota yang pernah tahu pada anak si ibu penjual oleh-oleh karena mereka satu kampus, tapi tetap saja mereka tidak kenal.

Jadinya? Kami tetap menjadi kurir. Membawakan kebutuhan pokok si anak. Dan sebagai gantinya si ibu membiarkan kami memamah jajan dari warungnya secara gratis. Dan tidak tahu kenapa di warung tersebut seorang nenek buyut yang merupakan nenek dari ibu penjual oleh-oleh memeluk saya. Katanya beliau senang saya berkunjung ke sana. Si mbah buyut juga menyuruh saya untuk sering-sering main ke rumahnya. Dan hanya saya yang mendapat pelukan erat nan hangat dari si mbah buyut. Hikkssss….. pikiranpun langsung terbang ke tanah saya tumbuh besar di salah satu kota paling timur di provinsi ini. Mengingat si mbah putri yang sudah tidak bisa beraktivitas normal…. Ahhh… saya sedang berada di kota paling barat di Provinsi Jawa Timur, sesaat ada bayangan betapa jauhnya saya dari tempat dimana si mbah putri hidup bersama bude dan sepupu-sepupu. Tapi itu cuma sesaat; karena saya tahu bahwa perjalanan saya belum selesai.ย 

Perjalanan panjang menuju Pacitan hanya salah satu perjalanan 10 jam di atas motor. Saya masih ingin melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang dari sekedar Pacitan. Pacitan hanya salah satu perjalanan panjang yang mengisi salah satu sudut memori dengan berbagai rangkaian ceritanya.ย 

Arrivederci Pacitan. Hope to see you again, ASAP :D

Arrivederci Pacitan. Hope to see you again, ASAP ๐Ÿ˜€

Ekspedisi Pacitan – Srau Beach

Srau juga sebuah lokasi pantai yang ada di Pacitan. Sama halnya dengan Klayar, untuk sampai ke pantai yang bernama Srau dibutuhkan kehandalan dalam berkendara. Jalanan berkelok dan lebih berbatu. Kalau saya harus menjabarkan arahnya, saya menyerah. Saat berada di atas motor, konsentrasi saya bukanlah mengingat arah, melainkan berkonsentrasi supaya saaya tidak terpelanting dari atas motor.ย 

Dan apa bedanya Srau dengan Pantai lain yang ada di Pacitan?ย 

Sama-sama pantai sih sebenarnya. Tapi pantai Srau dikenal dengan ombaknya yang pas untuk berselancar. Yuhuuu… jika Klayar digunakan untuk poto-poto dengan segala spotnya, Srau digunakan sebagai pelepas adrenalin untuk berselancar, khususnya bagi mereka yang masih newbie dalam dunia surfing. Ombaknya memang lumayan besar. Tapi saya tidak tahu pasti ukuran ombak besar atau kecil bagi para peselancar ๐Ÿ˜›

Selain berfoto-foto, hal yang saya lakukan adalah melahap es kelapa muda. Satu buah kelapa dihargai Rp. 4000. Sebenarnya harga tersebut adalah harga untuk turis asing. Kata pengunjung lain, harga es kelapa muda satu buahnya hanya Rp 2500. Ahh…biarlah saya membayar Rp. 1500 lebih mahal dari pada umumnya, lagipula tak setiap hari pula saya mengunjungi Srau ๐Ÿ™‚

Sekali lagi saya bukanlah pecinta pantai, dan mengunjungi Srau bukan karena suka, melainkan hanya ingin tahu bagaimana tempat yang bernama Srau. Kalau beberapa bule sudah pernah menapakkan kakinya di Srau, saya yang orang Indonesia juga tak boleh kalah bukan?! ๐Ÿ™‚

Salah Satu Sisi Pantai Srau

Salah Satu Sisi Pantai Srau

Ekspedisi Pacitan – Pantai Klayar

Sebuah Pantai bernama Klayar. Salah satu pantai di Pacitan yang masih belum sering dikunjungi oleh manusia. Bukan karena pantai ini tidak indah, melainkan karena letaknya yang jauuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh dari pusat kota Pacitan. Sekitar 45 km kalau saya tak salah. Kata orang Klayar adalah Tanah Lot alla Pacitan, tapi ya itu tadi… karena letaknya tidak di tengah keramaian kota dan jalanan yang harus dilewati cukup memacu adrenalin, pantai ini adalah salah satu pantai yang masih bisa dikatakan perawan.

Klayar terkenal dengan salah satu spotnya yang disebut seruling samudra. Sebuah lubang kecil di tengah-tengah batu karang yang berada di sisi timur pantai akan menyemburkan air yang tingginya bisa mencapai 10 meter, tergantung besar kecilnya ombak yang menerpa sisi karang. Lubang kecil dengan semburan air itulah yang membuat bagian tersebut dinamakan seruling samudera. Satu lagi, menurut orang, salah satu batu karang yang terdapat di sana berbentuk spinx, salah satu situs terkenal yang ada di Mesir. Tapi tetap, cuma Indonesia yang punya Klayar.

Karena kondisi masih sangat jauh dari keramaian, pantai masih terlihat bersih. Pasirnya masih putih. Dan lautnya masih biru jernih. Tidak ada bekas botol frestea atau bungkus permen kopiko yang berceceran. Dan bagi pecinta pantai, Klayar adalah pantai yang patut menjadi destinasi di waktu luang atau waktu yang diluang-luangkan ๐Ÿ˜›

Saya sendiri bukan pecinta alam bagian pantai, laut, dan sesuatu yang ada hubugannya dengan air… Ahh.. ironi memang… menjadi warga negara maritim, tetapi tidak suka pantai dan laut. Namun saya tetap harus mengakui bahwa Klayar jauh lebih eksotis daripada Parangtritisnya Jogja (but I Love Yogyakarta So Much!). Satu hal yang saya fikirkan saat berada di Klayar adalah “Apakah para penjajah tidak pernah menginjakkan kakinya di Klayar? Mengapa tempat itu terkesan tak terjamah oleh bangsa kolonial sekalipun?”

Potret Klayar Dari Atas Bukit :)

Potret Klayar Dari Atas Bukit ๐Ÿ™‚

Ironi Kecil di Tanah yang Besar

Beberapa minggu lalu saya bepergian dengan menggunakan jasa transportasi kereta api. Ada sesuatu yang berbeda yang tak saya temui ketika terakhir kali berkunjung ke stasiun (Gubeng, Surabaya). Tidak ada lagi pedagang asongan yang berkeliaran di dalam stasiun. Penumpang baru bisa masuk ke dalam stasiun 30 menit sebelum keberangkatan dimana sebelumnya asal menunjukkan tiket, penumpang sudah boleh masuk area stasiun sembari menunggu keretanya di kursi tunggu penumpang. Tidak ada lagi pengamen organ tunggal yang biasanya menjadi periuh suasana kala menunggu kereta.

Lalu kemudian saya ingat cerita yang disampaikan oleh salah satu kawan bahwa usaha keluarganya di lingkungan stasiun terkena penggusuran. Padahal usaha tersebut sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Tapi kemudian tanpa peringatan dari PT KAI dan pihak-pihak berwenang lain, bangunan usahanya digusur. Tanpa kompensasi, tanpa peringatan. Alasan penggusuran juga tidak dijelaskan secara rinci. Petugas yang menggusur hanya memberikan surat perintah penggusuran sembari mengatakan bahwa segala usaha rakyat di stasiun sudah tidak diperkenankan lagi. Petugas berdalih bahwa usaha tersebut di bangun di atas tanah negara sehingga negara berhak melakukan apapun terhadap tanahnya itu.

Tapi tak ingatkah negara akan Undang-Undang dasar 1945 Pasal 33 ayat (3). Bukankah di situ tertulis jelas bahwa “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan DIPERGUNAKAN untuk sebesar-besarnya KEMAKMURAN rakyat”. Negara hanya berperan sebagai penguasa supaya tidak dicaplok oleh negara lain. Tapi semua itu adalah hak bangsa. Untuk kemakmuran rakyat! Sampai kapankah cerita tak menyenangkan seperti itu bergulir di Bumi Pertiwi ini?

Cerita di atas mungkin hanyaย  secupil kisah pilu yang dialami oleh anak bangsa. Masih sebaris jeritan pilu dari ratusan juta paragraf yang mengisahkan betapa terjajahnya bangsa ini.

P.S: Sebuah cerita di Link ini (Ketika Pedagang Harus Menunggu Pak Jonan di Atas Relย  ) juga menjadi bukti bahwa bangsa ini masih saja dijajah di rumahnya sendiri.

Saya Bukan Siapa-Siapa

Saya bukan pelukis yang bisa menghasilkan coretan tinta berkelas di atas selembar kanvas

Saya bukan penyanyi yang bisa memainkan nada-nada dengan range vocal yang beraneka ragam

Saya bukan olahragawan yang berhasil menyumbangkan medali emas bagi bangsa saat Olimpiade

Saya bukan profesor yang mampu menciptakan pesawat terbang berbahan bakar biodiesel

Saya pun bukan Soekarno yang mampu menjadi pelecut semangat pemuda untuk memerdekakan Indonesia

Saya buka siapa-siapa

Tapi saya yang bukan siapa-siapa ini juga punya hak untuk hidup

Saya yang bukan siapa-siapa ini punya daya untuk tetap hidup

Saya yang bukan siapa-siapa ini tidak pernah takut untuk menantang cerita yang tak pasti alurnya

Saya yang bukan siapa-siapa ini setidaknya memiliki kemauan yang besar untuk terus belajar guna membangun bangsa

Sungguh….mungkin saya bukan warga negara yang baik

Tapi setidaknya saya hafal Indonesia Raya

Saya memang bukan penduduk yang patuh hukum

Tapi paling tidak saya tak pernah lupa isi Pancasila

Saya memang warga negara yang tak banyak berkontribusi bagi kemajuan bangsa

Tapi saya cinta Indonesia dengan sepenuh jiwa

Mencintai tanpa alasan… Mencintai tanpa balasan…

Bukan karena ingin mencari muka, tapi memang karena Indonesia Tanah Air Beta

Saya bukanlah siapa-siapa, tapi saya cinta Indonesia