Maaf Untuk Tuhan

Ini semacam pemberontakan padaMu.

Iya, aku tahu aku tidak akan mungkin menang.

Mana bisa sosok lemah sepertiku mengalahkan Kau yang Maha Segalanya?

Tidak bisa.

Aku hanya ingin melawan, meskipun aku tahu bahwa perlawanku ini akan sia-sia

Maaf Tuhan, Sebenarnya aku tak inginย  melawanMu…Sama sekali tidak

Bahkan logikapun dengan pasti menyuruhku untuk menyerah saja

Tapi bukankah Kau sudah sangat tahu bahwa aku bukan sosok yang dengan mudahnya mengibarkan bendera putih

Akupun tahu saat ini Kau tengah tersenyum memperhatikan pola pemberontakanku

Kau pasti sedang melihatku dari tempatMu yang jauh di atas sana dengan tergelak hebat

Aku tahu Kau juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyentilkan balasanMu atas pemberontakan ini

Kau memang tidak pernah bermain kartu dengan semua hambaMu, tapi aku merasa Kau sedang mengusiliku

Ya Tuhanku, mengapa Kau begitu usil?

Apakah begitu caraMu membalas ketaatanku sejauh ini

Apa ini balasan bagi setiap sujudku?

Aku memberontak, Tuhan

Aku melawanMu

Tapi aku tetap percaya padaMu

Karena itu Tuhan… Maaf.

Advertisements

Sejuta Kisah Tentang Blitar (5)

Hei…cerita ke Blitar ternyata belum usai. Akhir pekan lalu, kawan seperjalanan saya kembali singgah ke Surabaya. Lalu, dia menuturkan perjalanan pulangnya dari Blitar.

Sebenarnya, saya dan kawan saya tidak pulang bersama. Kami berpisah jalan. Setelah leyeh-leyeh sekitar satu jam di serambi masjid besar Blitar dan membeli jajanan cilot, kami berpisah arah. Saya menuju stasiun kota Blitar, sedangkan kawan saya memutuskan untuk menggunakan jasa angkutan bus umum sebagai alat transportasi meninggalkan rumah Bung Karno. Ceritanya saya mendapatkan tiket pulang dengan menumpang kereta Penataran-Dhoho yang secara garis besar rutenya adalah Blitar-Kertosono-Surabaya. Sementara kawan saya berdomisili di Malang. Kalau saja tiket pulang yang saya miliki adalah tiket kereta Penataran, kami bisa saja pulang bersama.ย 

Oke..intinya adalah kawan saya pulang dengan bus. Untuk menaiki bus jurusan Malang, tentu saja harus menuju terminal atau jalanan besar tempat lewatnya bus. Dan letaknya tidak dekat dari alun-alun, khususnya bagi pengendara kaki. Dengan bekal GPS yang menjadi salah satu fitur ponsel smartnya, dia pun menapaktilasi jalanan yang kami lalui saat menuju alun-alun.

Tujuannya satu, kembali ke tempat angkutan carteran yang dengan baik hati mau mengangkut kami menuju alun-alun untuk mencari abang becak atau angkutan umum (yang beroperasi normal tanpa dicarter orang). Kawan saya tetap berjalan dengan santainya. Dia bilang sekitar 2 KM dari alun-alun, dia baru menemukan sebuah becak yang menganggur di tepi jalan. Tapi masalahnya, abaang becaknya terlihat sedang tidak berniat mengayuh. Akhirnya perjalanannya berlanjut. Hingga di suatu sudut jalanan yang dia sendiri juga tak tahu jalan apa namanya dan dikoordinat berapa pastinya, dia menemukan seorang abang becak yang bersedia mengantarkannya ke tempat menunggu bus jurusan Malang.ย 

Inilah susahnya di Indonesia… tak ada halte bus yang bisa menjadi penanda bahwa jalanan tersebut dilalui oleh bus yang bersangkutan. Kalaupun ada halte, fungsinya abstrak. Bahkan tak lebih sebagai spot tanpa guna selain sebaagai tempat berteduh saat hujan atau hunian para gelandangan.ย 

Lalu, entah bagaimana ceritanya kawan saya sudah berada di atas bus jurusan Malang. Dia mendeskripsikan bahwa badan bus itu kecil. Lebih kecil daripada bus kota yang biasanya beroperasi di Surabaya. Namun, karena sebelum menaiki bus dia mendengar pak kondektur berteriak-teriak ‘MALANG MALANG MALANG’, maka ditariklah suatu kesimpulan bahwa bus tersebut memang akan membawanya kembali ke kota Apel.

Busnya bagus. Ber AC pula. Dan dia tak perlu berdesakan. Singkat kata diapun terlelap. Menikmati kenyamanan berkendara dengan bus yang tak kami rasakan di saat keberangkatan. Beberapa jam kemudian…dia terbangun. Melihat seisi bus. Hasilnya, di atas bus hanya ada tiga gelintir orang. Bus dalam keadaan terparkir. Kawan saya semakin bingung saat mengetahui bahwa bus tersebut berhenti di sebuah tempat yang tidak dikenalnya. Bukan terminal Arjosari, sebagaimana tujuan awalnya. Karena masih tidak tahu dimanakah dia saat itu maka pertanyaan kepada seorang perempuan pun terlontar “Mbak, ini bisnya mau kemana ya?”

Si perempuan menjawab, “Mau ke Blitar, Mbak”

BODOH!! HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

Saya tahu sekarang, sebenarnya kawan saya itu masih tidak ingin pulang. Dia masih ingin stay di Blitar! Pasti ๐Ÿ˜€

Tahukan kalian, saat itu dia tengah berada di terminal Gadang. Gadang memang merupakan wilayah administratif dari kota Malang, tetapi secara geografis letaknya jauh di sebelah utara kota Malang. Untunglah saat itu masih ada sebiji angkutan yang mau membawanya ke terminal Arjosari. Sebiji angkutan hasil tanya jawabnya dengan seorang ibu yang hendak pergi ke daerah Kacuk.

Karena itu kawan…berhat-hatilah..bagi kalian yang hendak keluar dari Blitar menuju Malang kota dengan perhentian terakhir terminal Arjosari, jangan sekali-kali naaik bus berbadan kecil plus ber AC. Karena bus tersebut hanya akan menurunkan kalian di terminal Gadang. Bagus kalau kondisi masih pagi, kalau malam hari seperti teman saya? HAHAHA…ย 

* Saat itu, di waktu yang sama, saya sedang tertidur lelap di atas gerbong kereta yang sempat delay selama satu jam. Dalam tidur saya melihat diri saya tersenyum. Senyum yang tak saya ketahui alasannya sebelum akhir pekan lalu ๐Ÿ™‚

Keranjang Kepercayaan

Kalau ditanya siapa yang paling kalian percaya di dunia ini, jawabannya apa?

Orang tua? Saudara? Kakak? Teman? Adik? Kakek? Nenek? Om? Tante? Sepupu? Tetangga? Guru? Dosen? Pembantu?

Masing-masing orang memiliki sosok yang dipercayai bukan?

Kalau saya, saya percaya pada Tuhan. Percaya pada orang tua. Percaya pada saudara. Percaya pada teman. Percaya pada siapapun yang pantas untuk dipercaya. Selain Tuhan & Orang Tua & Saudara, mempercayakan sesuatu pada seseorang bergantung pada sesuatu tersebut. Ibaratnya orang yang memiliki kebun buah lima ha, saat kebun buahnya memasuki masa panen tidak mungkin bukan meletakkan seluruh hasil panennya pada sebuah keranjang? Perlu banyak keranjang sebagai wadah hasil panen tersebut supaya hasilnya tidak berjatuhan dan tumpah berceceran di sembarang tempat. Kalau misalnya dengan banyak keranjang hasil panen masih ‘bocor’ dan berserekan… itu artinya, kalian salah membeli keranjang. Salah memilih sosok yang bisa menampung hasil panen yang kalian titipkan.

Jadi, siapapun yang telah menjadi sosok yang di percaya oleh orang lain, sosok yang berperan sebagai keranjang hasil panen….tetaplah menjaga kepercayaan tersebut. Sungguh, kepercayaan itu bukanlah sesuatu yang mudah didapat.

P.S: Untuk ‘keranjang-keranjang’ saya, terimakasih karena telah menjaga kepercayaan yang saya berikan. All of you always amazing ๐Ÿ™‚

Another Pict W/ My Office Frens

Mbak Admin & Senior Writer

Mbak Admin & Senior Writer

2 Anak Gadis dan Seorang Perempuan Bersuami

2 Anak Gadis dan Seorang Perempuan Bersuami

Mas-Mas & Bapak-Bapak Yangsibuk Kriuk-Kriuk dengan sajian pembuka, Kerupuk.

Mas-Mas & Bapak-Bapak Yangsibuk Kriuk-Kriuk dengan sajian pembuka, Kerupuk.

Pose Dengan Mas IT (kiri)  & Pak Rotal yang tiap hari sudah menyuguhkan minuman buat saya & teman-teman lain :)

Pose Dengan Mas IT (kiri) & Pak Rotal yang tiap hari sudah menyuguhkan minuman buat saya & teman-teman lain ๐Ÿ™‚

Saya & Orang-Orang 'Tak Wajar' Lainnya

Saya & Orang-Orang ‘Tak Wajar’ Lainnya

Semakin Ke Kiri, Semakin Unknown :D

Semakin Ke Kanan, Semakin Unknown ๐Ÿ˜€

Bersama Kepala Divisi yang Ngakunya Pecinta The Red Devils tapi Juga Suka Lazio & Pengen Punya Jaket Juventus... Dasar Suporter Tak Setia!

Bersama Kepala Divisi yang Ngakunya Pecinta The Red Devils tapi Juga Suka Lazio & Pengen Punya Jaket Juventus… Dasar Suporter Tak Setia!

Dhita Jelek Berjilbab  Biru Ini Ibaratnya Rumput Liar yang Harusnya 'Dicabut' dari Potret Kamera

Dhita Jelek Berjilbab Biru Ini Ibaratnya Rumput Liar yang Harusnya ‘Dicabut’ dari Potret Kamera

Pose Sebelum kami Meninggalkan Acara Sebelum Menu Dihidangkan

Pose Sebelum kami Meninggalkan Acara Sebelum Menu Dihidangkan

Terimakasih Untuk Adikku Yang Ajaib, Tuhan!

Dear God….

Terimakasih karena sudah memberi saya adik yang ajaib

Terimakasih… karena dengan keberadaan adik saya yang ajaib itu ada kekuatan ekstra yang saya miliki dalam menjalani kehidupanMu

Sungguh Tuhan… saya bersyukur karena Kau tidak membuat saya harus susah-susah mencari pengalaman dan pembelajaran hidup karena adik saya yang ajaib itu

Terimakasih Tuhan.. karena membuat saya bisa belajar banyak dari adik saya tentang apa-apa yang tidak bisa saya alami sendiri

Mungkin saya tidak bisa kuat jika harus mengalami alur cerita yang terjadi pada adik saya, tapi dengan adanya dia saya menjadi pribadi yang cukup kuat karena turut merasakan betapa luar biasa curamnya jalan yang dipilih adik saya itu

Terimakasih, Tuhan..

Terimakasih tiada tara untuk semua pelajaran ini…

Kalau saya memang cukup kuat untuk menerima keajaiban adik saya yang lain, maka tunjukkanlah kekuatan itu

Tapi kalau saya sudah tak mampu lagi, tolong…. cukupkanlah kelakuan ajaib adik saya

Overall…Thanks God!

Dinner

Makan Malam…OTW Surabaya

Menunggu Antrian Makan..

Menunggu Antrian Makan..

Bapak-Bapak Bagian Transportasi

Bapak-Bapak Bagian Transportasi

Bapak Direktur Perusahaan. Kata Beliau, Tahun Depan Kami Umroh bersama (AMIN) *Ke Italia bersama juga boleh Pak :P

Bapak Direktur Perusahaan. Kata Beliau, Tahun Depan Kami Umroh bersama (AMIN) *Ke Italia bersama juga boleh Pak ๐Ÿ˜›

One Family. Keluarga Bapak Heri :)

One Family. Keluarga Bapak Heri ๐Ÿ™‚

Sudah Makan :)

Sudah Makan ๐Ÿ™‚

Poto di Parkiran Rumah Makan Sebelum Pulang.

Poto di Parkiran Rumah Makan Sebelum Pulang.

 

Teman Sebangku Di Bus :)

Teman Sebangku Di Bus ๐Ÿ™‚

Asmaraqondi, Tempat Mandi Sore

Sebelum ke Makam Wali yang ke 5 di Jawa Timur, Mampir Bentar ke makam Asmaraqondi. Saya kurang faham siapa itu Asmaraqondi, saya hanya tahu bahwa di area ini banyak sekali kamar mandi umum yang bersih & enakdibuat mandi sore. So, saat yang lain sibuk di area makam saya menyempatkan diri membasahi diri di sebuah kamar mandi umum. Biayanya murah kok…Rp. 2000. Lebih murah daripada bayar toilet di terminal ataupun pusat perbelanjaan di Surabaya.

Habis mandi… foto dong ๐Ÿ™‚

All Peserta Tour. KecualiSaya Tentunya :( *Lupa bawa tripod

All Peserta Tour. Kecuali Saya Tentunya ๐Ÿ˜ฆ *Lupa bawa tripod

Mbak Ila (kanan) & Istri Salah Satu Karyawan Kantor Yang Anaknya Sempat Menghilang

Mbak Ila (kanan) & Istri Salah Satu Karyawan Kantor Yang Anaknya Sempat Menghilang

Poto Bertiga ;) Diselamatkan Oleh Sebuah Kursi Plastik, Pengganti Tripod

Poto Bertiga ๐Ÿ˜‰ Diselamatkan Oleh Sebuah Kursi Plastik, Pengganti Tripod

Mbak-Mbak Yang Gak Mandi Seharian :D

Mbak-Mbak Yang Gak Mandi Seharian ๐Ÿ˜€

Saya Sudah Mandi Sore Loh Ini :)

Saya Sudah Mandi Sore Loh Ini ๐Ÿ™‚

Setahun Sudah

Sudah satu tahun, Mom.

Sudah satu tahun Mami berada dalam tidur panjangnya. Ingin sekali tahu bagaimana kabarmu, tapi saya yakin bahwa duniamu di sana jauh lebihย  indah daripada Bumi ini.

Serius Mam… cuaca saat ini sedang tidak bagus. Jauh lebih tidak bagus daripada sebelumnya. Bukankah Mami tidak suka perubahan cuaca yang tidak menentu? Terlalu panas,lalu tiba-tiba dingin. Hujan pun datang hampir setiap hari. Cuaca di tempat Mami pasti jauh lebih baik, bukan?

Ah…Mami..

Kadang-kadang saya merasa Mami pergi terlalu cepat karena masih banyak hal yang belum saya ceritakan. Banyak hal juga yang belum Mami ceritakan.

Rasanya merindukan saat Mami secara sembunyi-sembunyi mendengarkan percakapan saya dengan seseorang melalui hubungan telepon. Merindukan Mami yang secara diam-diam membuka inbox SMS di HP saya. Merindukan Mami yang mencoba untuk membaca semua paragrag di buku harian saya tanpa permisi. Merindukan Mami yang selalu saja ingin mengetahui setiap halaman MSWord yang saya gauli.

Maaf Mam, belum sempat mengenalkan siapa yang sedang bercakap-cakap dengan saya itu. Maaf karena saya tidak pernah menyimpan SMS apapun yang bisa memuaskan keingintahuanmu. Maaf karena buku harian itu tidak cukup memberikan informasi akan hal yang ingin kau ketahui. Maaf karena MS Word itu selalu saya protect dengan password.

Tapi sekarang Mami bisa melihatnya sendiri bukan?

Apa yang sedang saya lakukan. Bagaimana keadaan saya. Dengan siapa saya. Dimana saya berada. Mami bisa melihatnya lebih jelas, bukan?

Sudah setahun kepergianmu,Mam…. Tapi sangat sering tiba-tiba saya menekan nomor ponselmu, hendak menanyakan apa yang sedang kaulakukan di rumah. Tak jarang pula saya menunggu SMS mu di waktu subuh,supaya saya tidak melewatkan ibadah wajibdua rakaat di pagi hari. Lalu kemudian saya ingat bahwa nomor ponselmu sudah tak aktif. SMS mu pun tak lagi datang di setiap subuh.

Seandainya saya tahu bahwa Mami akan pergi secepat ini, SMS SMS darimu tidak akan saya hapus. Kalau bisa,saya burning saja.

Benar kata orang… siapapun yang benar-benar menyayangi kita tidak akan pernah pergi kemana-mana. Bahkan hingga saat ini saya masih bisa merasakan Mami masih setia mengawasi saya dengan segala petuah-petuahnya.

Satu tahun tanpa Mami, agak aneh memang. Tapi toh saya bisa melaluinya, karena hidup memang terus berjalan.

Baik-baiklah di sana, Mam…maka saya akan baik-baik di sini.

Peluk cium terhangat dari anakmu yang masih menjadi penghuni Bumi…. ๐Ÿ™‚

Gak Harus Nunggu Cowok Selesai Jumatan Kok!!

Lagi-lagi saya harus tersenyum geli karena sikap salah kaprah seseorang terhadap ajaran keyakinannya. Hari Jumat, hari dimana laki-laki muslim wajib menunaikan salat jumat. Wajib. Untuk wanita? mau salat jumat monggo, enggak juga gak papa. Free!

Hal yang membuat saya benar-benar geli adalah karena sampai saat ini masih saja pikiran “kalau mau salat dhuhur hari jumat itu nunggu cowok-cowok selesai salat jumat”. Ya… hari ini ketika saya mengajak teman-teman kantor untuk melaksanakan salat dhuhur, jawaban yang saya terima sama..

“kan sekarang hari jumat”

“Cowoknya masih salat jumat, Mei”

Bahkan ada yang memberikan ekspresi heboh seakan-akan ajakan saya untuk salat itu adalah sesuatu yang konyol

“LOHH…TUNGGU COWOKNYA PULANG DARI MASJID. SEKARANG KAN JUMATAN”

Ketika saya menanyakan pada mereka mengenai alasan atas pernyataan masing-masing yang serupa… Ada yang tersenyum lalu kembali melanjutkan aktivitasnya di depan laptop, ada yang mengatakan “aku belum tahu sih”, dan ada yang merengutkan dahinya sembari manyun-manyum jelek dan juga melanjutkan aktivitasnya di depan laptop. Entah apa yang kalian pikirkan mengenai ajakan saya, tapi yang saya pikirkan saat mendengar jawaban kalian adalah kalian gak pinter.

Ahhh… kenapa masih saja ada kesalahan berfikir dari sosok yang saya anggap berpendidikan.

Saya memang tak hafal hadis dan semua ayat Al Quran. Saya juga bukan ahli fiqih. Tapi saya tahu dan mengertiย  bagaimana ajaran agama yang saya yakini. Dan kalau mau berbicara nilai sebagai alat ukur pengetahuan seseorang, nilai agama di transkrip saya A kok. Apa? Kenapa?! kalian pikir saya sombong? HAH?! ๐Ÿ˜›

Tak ada hukum wajibnya bahwa untuk melakukan salat dhuhur di hari jumat, wanita harus menunggu selesainya salat jumat. Tak ada ketentuan bagi wanita untuk melakukan salat dhuhur setelah kaum adam selesai menunaikan salat jumat! Kalau sudah dengar suara adzan, itu tandanya sudah masuk maktu salat, mau hari senin..selasa..rabu..kamis.. atau jumat sekalipun… perempuan yang tidak menjalankan salat jumat, bisa saja menunaikan salat dhuhur tanpa menunggu selesainya salat jumat! Tak perlu menunggu si laki-laki menuntaskan kewajiban salat jumatnya!

Kecuali kalian mau salat dhuhur di masjid saat hari jumat. Ya memang harus nunggu jamaah salat jumat selesai lah! Kalau salatnya di rumah atau di kantor atau di kos, ngapain pake acara nunggu salat jumat selesai??? Kan tempat salatnya gak dipake jumatan?! Yang perlu diperhatikan adalah sudah azan apa belum! Gila itu bukan salat sebelum cowok-cowok selesai salat jumat, melainkan salat sebelum waktunya!!

So Please… jangan mengada-adakan aturan yang tidak ada. Manusia ini memang aneh. Dikasih peraturan yang wajib malah dilanggar, gak ada peraturannya malah diada-adakan. Ck ck ck… Keliatan banget gak pinternya ๐Ÿ˜ฆ

Buat kalian yang masih saja punya pikiran “cewek harus nunggu cowok selesai salat jumat baru boleh salat dhuhur”, ganti dan buang jauh-jauh pikiran konyol itu!

Sekarang gini deh ya.. kalo misalnya kita ada ujian atau janjian jam 1 di hari jumat. Salat jumat itu kan kira-kira selesainya setengah 1, kalo harus nunggu salat jumat selesai berarti sisa waktu kita untuk salat dhuhur hanya 30 menit. Cukup memang untuk salat. Tapi kalau harus mengantri berwhudu? Mengantri mukenah (ini buat kalian yang males bawa mukenah sendiri!)? atau bahkan ngantri tempat salat? Apa cukup waktu 30 menit? Akhirnya kita (kalian) jadi terlambat ujian dan janjian. Kalau ditanya alasan keterlambatan mau jawab “abis salat” gitu?? Sangat tidak bijaksana menjadikan salat sebagai alasan atas kesalahan diri sendiri.

Jadi, masih berfikiran stupid mengenai waktu salat dhuhur di hari jumat???

Menunggu Datangnya Ikhlas

Mungkin benar bahwa ikhlas itu susah. Gampang jika hanya sekedar mengatakan “aku ikhlas kok”. Tapi nyatanya setiap saat selalu muring-muring. Selalu saja mengeluh. Selalu saja meminta lebih. Dan itu semua bukan ikhlas, Mei!!

Ada niatan sebenarnya untuk ikhlas, tetapi tetap saja susah. Dan untuk bisa ikhlas saya rasa tak perlu suruhan dari orang lain. Ikhlas itu datang dengan sendirinya, tanpa paksaan.

Sebuah pesanpun saya dapat:

Kalau kita belum bisa merasakan ikhlas atas apapun yang tengah terjadi, tidak usah mengeluh dan mengeluh. Jalani saja dengan baik. Dari situ kita akan bisa menerima. Kalau kita bisa menerima, lama-lama ikhlas itu akan datang tanpa perlu kita katakan bahwa kita ikhlas. Karena sebenarnya ikhlas itu adalah keserasian antara fikiran dan perasaan, sebuah harmoni yang tidak bisa dijabarkan dengan jutaan kata.

Ya, saya belum sepenuhnya ikhlas. Tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menerima dengan menjalani semua hal yang belum saya ikhlaskan itu. Semoga ikhlas itu segera datang ๐Ÿ™‚