Shoot From Blitar

Kasur Hotel :D

Kasur Hotel πŸ˜€

Sarapan Kami. Sangat Jauh dari sarapan bayangan sebelum tidur :P

Sarapan Kami. Sangat Jauh dari sarapan bayangan sebelum tidur πŸ˜›

Jalanan Menuju Makam Dari Arah Hotel

Jalanan Menuju Makam Dari Arah Hotel

Pelataran Museum di Lokasi Makam

Pelataran Museum di Lokasi Makam

Salah Satu Lukisan Wajah Bung Karno Yang Saya Suka

Salah Satu Lukisan Wajah Bung Karno Yang Saya Suka

Sama Adek Silla. Dedek yang Suka Pose & Saat Itu sedang Berkunjung ke Museum Bersama Kakeknya yang Secara Kebetulan menjadi Tour Guide Singkat Saya. Terimakasih atas sambutannya ya dedek Silla.. Kapan-kapan kita ketemu lagi yaa :)

Sama Adek Silla. Dedek yang Suka Pose & Saat Itu sedang Berkunjung ke Museum Bersama Kakeknya yang Secara Kebetulan menjadi Tour Guide Singkat Saya. Terimakasih atas sambutannya ya dedek Silla.. Kapan-kapan kita ketemu lagi yaa πŸ™‚

Saat Bung Karno Berdiskusi dengan Bung Hatta yang tengah Terbujur Sakit

Saat Bung Karno Berdiskusi dengan Bung Hatta yang tengah Terbujur Sakit

Membelakangi Pelataran Perpustakaan & Museum di area Makam Bung Karno

Membelakangi Pelataran Perpustakaan & Museum di area Makam Bung Karno

Advertisements

Asmaraqondi, Tempat Mandi Sore

Sebelum ke Makam Wali yang ke 5 di Jawa Timur, Mampir Bentar ke makam Asmaraqondi. Saya kurang faham siapa itu Asmaraqondi, saya hanya tahu bahwa di area ini banyak sekali kamar mandi umum yang bersih & enakdibuat mandi sore. So, saat yang lain sibuk di area makam saya menyempatkan diri membasahi diri di sebuah kamar mandi umum. Biayanya murah kok…Rp. 2000. Lebih murah daripada bayar toilet di terminal ataupun pusat perbelanjaan di Surabaya.

Habis mandi… foto dong πŸ™‚

All Peserta Tour. KecualiSaya Tentunya :( *Lupa bawa tripod

All Peserta Tour. Kecuali Saya Tentunya 😦 *Lupa bawa tripod

Mbak Ila (kanan) & Istri Salah Satu Karyawan Kantor Yang Anaknya Sempat Menghilang

Mbak Ila (kanan) & Istri Salah Satu Karyawan Kantor Yang Anaknya Sempat Menghilang

Poto Bertiga ;) Diselamatkan Oleh Sebuah Kursi Plastik, Pengganti Tripod

Poto Bertiga πŸ˜‰ Diselamatkan Oleh Sebuah Kursi Plastik, Pengganti Tripod

Mbak-Mbak Yang Gak Mandi Seharian :D

Mbak-Mbak Yang Gak Mandi Seharian πŸ˜€

Saya Sudah Mandi Sore Loh Ini :)

Saya Sudah Mandi Sore Loh Ini πŸ™‚

Ekspedisi Dadakan – Galeri (Pantai) Pelang Indah

Jalanan Menuju Pantai & Air Terjun

Jalanan Menuju Pantai & Air Terjun

Salah Satu Batu Karang Berbentuk Badan Kapal di Sisi Barat Pantai Pelang Indah

Salah Satu Batu Karang Berbentuk Badan Kapal di Sisi Barat Pantai Pelang Indah

DIlarang Mandi, Tapi Tidak Dilarang Menuliskan Sesuatu Di Batu Karang :P

DIlarang Mandi, Tapi Tidak Dilarang Menuliskan Sesuatu Di Batu Karang πŸ˜›

Potret Buruh Laut Yang Panas-Panasan Menarik Jaring Tarik, Tapi Tetap Semangat :)

Potret Buruh Laut Yang Panas-Panasan Menarik Jaring Tarik, Tapi Tetap Semangat πŸ™‚

 

Poto Bareng Bos Nelayan ;)

Poto Bareng Bos Nelayan πŸ˜‰

Usaha Keras Untuk Mengeluarkan Seekor Ikan Layur Kecil... Ahhh...harga ikan kecil itu tak seberapa, laku pun belum tentu. Tapi Si Ibu Tetap Berusaha Sekuat Tenaga Mengeluarkan Layur Kecil Dari Jaringnya

Usaha Keras Untuk Mengeluarkan Seekor Ikan Layur Kecil… Ahhh…harga ikan kecil itu tak seberapa, laku pun belum tentu. Tapi Si Ibu Tetap Berusaha Sekuat Tenaga Mengeluarkan Layur Kecil Dari Jaringnya

Bapak Kaus McD yang sedang mengumpulkan bagian ikan miliknya

Bapak Kaus McD yang sedang mengumpulkan bagian ikan miliknya

Sekeranjang Ikan yang dihargai 100000 rupiah :(

Sekeranjang Ikan yang dihargai 100000 rupiah 😦

Thisss.... Pelang Indah Beach

Thisss…. Pelang Indah Beach

Ekspedisi Dadakan – Pelang Indah

Saya kira perjalanan panjang di atas motor akan selesai saat rombongan meninggalkan tempat yang bernama Teleng Ria. Tapi tidak. Ada spot yang di luar rencana yang ‘terpaksa’ harus menjadi bagian dari ekspedisi ini. Surprise’s Expedition mungkin. Perjalanan pulang pun harus terhenti di sebuah tempat yang lagi-lagi pantai. Masih pantai selatan yang mengarah pada Samudera Hindia tentunya.

Pelang Indah. Sebuah pantai terkenal di kota Trenggalek.Β 

Sama sekali tak pernah berfikiran untuk singgah ke kota ini. Hal yang saya ketahui mengenai Trenggalek adalah kota ini adalah kampung halaman dari salah satu (dua lebih tepatnya karena mereka kembar) kawan SD saya. Selain itu mungkin buah durian gunungnya yang bersaing dengan durian gunung Pacitan, dalam hal rasa maupun harga. Sekedar info, satu buah durian big size di Pacitan atau Trenggalek bisa didapatkan dengan harga Rp 10.000 – Rp 15.000.Β 

Ada apa di Pelang Indah? Ada pantai yang dikenal dengan pasir putihnya plus air terjun yang entah mengapa jauh lebih ramai dibandingkan pantainya. Nama lokasinya ‘Pantai Pelang Indah’, tetapi lokasi pantainya tidak dijamah oleh wisatawan. Kenapa tak dinamai ‘Air Terjun Pelang Indah’ saja ya? Seperti nonton konser artis papan atas, tapi sambutan meriah didapatkan oleh bintang tamunya.

Sebenarnya pantai ini memang tidak begitu istimewa bagi saya. Saya bukan pecinta pantai, ditambah kondisi pantai yang ‘hanya sekedar’ berpasir putih, satu-satunya hal yang membuat saya takjub adalah Tuhan itu benar-benar Maha Karya Agung. Bisa menciptakan apapun yang meskipun tak menjadi favorit saya, tetap tak bisa membuat saya mengeluarkan cercaan dan celatuan hina. Dan karya itu bisa berada di tempat yang tersembunyi sekalipun.

Pantai Pelang Indah memang tidak istimewa. Pantai dan hamparan lautnya selalu dipenuhi oleh nelayan yang sibuk dengan jaring tali mereka. Hanya untuk mendapatkan ikan-ikan kecil, para buruh nelayan rela menarik jaring tali yang beratnya naudzubillah. Belum lagi sinar matahari yang begitu terik. Lengkaplah sudah kucuran keringat mereka. Mungkin dari semua pantai yang saya kunjungi, Pelang Indah lah yang memberikan panorama spesial bagi saya.Β 

Tidak ada seruling air atau spinx of coral memang, tetapi gurat semangat dari setiap wajah buruh nelayan yang menarik hasil tangkapan semalaman lebih bercerita. Saya tahu bahwa 30 orang buruh nelayan itu sama-sama hidup dalam garis kemiskinan, tetapi mereka sama sekali tidak saling menjatuhkan. Saat Dua keranjang besar ikan ada di hadapan mereka, mereka tahu diri bahwa satu keranjang adalah milik bos nelayan. Mereka yang ber 30 itu berbagi sama rata satu kerangjang ikan lainnya. Masing-masing orang mendapatkan satu kantung plastik kecil. Dan sama sekali tak ada yang korupsi ikan. Jika kantung plastik mereka telah penuh, tak ada upaya untuk menambah kuota ikan pada kantung plastik. Berebut memang terjadi, tapi tak sampai berkelahi. Mereka berebut supaya cepat mendapatkan satu kantung plastik ikan sehingga cepat menemukan konsumen yang mau membeli ikannya. Bukan berebut untuk mendapatkan jumlah ikan yang terbanyak, melainkan memperebutkan pembeli. Semakin cepat kantung plastik terisi ikan, semakin cepat pula mereka pulang ke rumah untuk menanak beras.Β 

Sayang, kunjungan saya ke Pelang Indah hanyalah sebuah kunjungan singkat yang benar-benar di luar rencana. Walaupun begitu kunjungan di luar dugaan ini sedikit melapukkan relung hati saya yang kata orang lebih mirip batu πŸ˜‰

Ekspedisi Pacitan – Salah Satu Perjalanan Panjang

Sebuah perjalanan panjang. Perjalanan darat terlama yang pernah saya lakukan. 10 jam di atas motor. Tidak mengemudikannya memang, tetapi lelah dan panasnya glutea tak bisa disangkal. Kaki sedikit keram dan menahan rasa kantuk yang sesekali datang. Perjalanan panjang dan melelahkan menuju tempat bernama Pacitan.

Tapi kalau saya harus mengulanginya, saya mau. Lelah memang, tetapi setidaknya saya punya cerita dan cerita itu tidak hanya Yogyakarta. Yogyakarta memang bagian Indonesia yang paling saya suka, tetapi cerita tak harus melulu dari Jogja bukan? πŸ™‚

Mengunjungi tanah kelahiran Presiden SBY adalah sebuah pengalaman yang tak bisa dibeli di departement store manapun. Mulai dari boncengan selama 10 jam (waktu pergi) + 10 jam (waktu pulang) + berjam-jam (waktu mampir-mampir πŸ˜› ); sampai harus menjadi kurir kebutuhan pokok seorang anak dari ibu-ibu yang tokonya saya kunjungi untuk membeli oleh-oleh. Si anak yang kuliah di Surabaya entah mengapa meminta ibunya mengirimi sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, plus jajanan kecil via saya dan teman-teman yang tengah berkelana hingga negerinya. Jujur, saya tidak mengenal sosok si anak. Meskipun ada beberapa anggota yang pernah tahu pada anak si ibu penjual oleh-oleh karena mereka satu kampus, tapi tetap saja mereka tidak kenal.

Jadinya? Kami tetap menjadi kurir. Membawakan kebutuhan pokok si anak. Dan sebagai gantinya si ibu membiarkan kami memamah jajan dari warungnya secara gratis. Dan tidak tahu kenapa di warung tersebut seorang nenek buyut yang merupakan nenek dari ibu penjual oleh-oleh memeluk saya. Katanya beliau senang saya berkunjung ke sana. Si mbah buyut juga menyuruh saya untuk sering-sering main ke rumahnya. Dan hanya saya yang mendapat pelukan erat nan hangat dari si mbah buyut. Hikkssss….. pikiranpun langsung terbang ke tanah saya tumbuh besar di salah satu kota paling timur di provinsi ini. Mengingat si mbah putri yang sudah tidak bisa beraktivitas normal…. Ahhh… saya sedang berada di kota paling barat di Provinsi Jawa Timur, sesaat ada bayangan betapa jauhnya saya dari tempat dimana si mbah putri hidup bersama bude dan sepupu-sepupu. Tapi itu cuma sesaat; karena saya tahu bahwa perjalanan saya belum selesai.Β 

Perjalanan panjang menuju Pacitan hanya salah satu perjalanan 10 jam di atas motor. Saya masih ingin melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang dari sekedar Pacitan. Pacitan hanya salah satu perjalanan panjang yang mengisi salah satu sudut memori dengan berbagai rangkaian ceritanya.Β 

Arrivederci Pacitan. Hope to see you again, ASAP :D

Arrivederci Pacitan. Hope to see you again, ASAP πŸ˜€

Ekspedisi Pacitan – Pantai Teleng Ria

Suka pantai tetapi tidak suka jalanan yang terlalu sulit nan terjal? Di Pacitan ada Teleng Ria Beach. Pantai yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Hanya 5 – 10 menit dari alun-alun kota Pacitan (naik kendaraan bermotor). Dekat bukan? Itulah salah satu kelebihan Pantai Teleng Β Ria. Mudah disinggahi. Tak perlu repot-repot naik turun bukit.

Tapi bagi saya, pantai ini hanyalah salah satu lanskap yang ada di kota. Bukan tempat yang cocok untuk membuang penat. Tidak ada keistimewaan lain dari pantai Teleng Ria daripada dekat dengan kota. Hanya sebuah pantai yang beberapa bagiannya telah didekorasi oleh bungkus-bungkus snack dan botol-botol bekas air mineral.Β 

Pasir pantainya juga sudah mulai pudar… lebih cenderung abu-abu daripada putih.

Dan kunjungan saya ke Pantai Teleng Ria tidak direncanakan, hanya sebatas berkunjung dan ingin tahu bagaimana rupa pantai yang ada di tengah kota Pacitan ini. Karena sebenarnya di kalangan wisatawan domestik yang sekedar berwisata, Pantai Teleng Ria jauh lebih populer dibandingkan Klayar. Tapi taste Teleng Ria, kalah jauh kalau harus bersaing dengan Klayar. Mungkin karena itu tadi, lokasi Teleng Ria yang mudah dijangkau dibandingkan Klayar. Selain itu, di pantai ini sering dilakukan pertunjukan atau sekedar pagelaran seni di akhir pekan. Tak jarang juga ada orkes dangdung yang menjadi favorit masyarakat setempat. Balap kuda juga kerap kali dilangsungkan di Teleng Ria.

Karena letaknya di tengah kota, harga tiket masuknya lebih mahal daripada pantai-pantai tersembunyi yang ada di bukit Pacitan. Tiket masuk ke Srau & Klayar Rp 3000 + parkir Rp 2000, di Teleng Ria harga tiket dibanderol Rp 5000 + parkir Rp 2000.Β 

Yahh… paling tidak saya sudah pernah mengunjungi Teleng Ria.

Surise Di Teleng Ria

Surise Di Teleng Ria

Ekspedisi Pacitan – Srau Beach

Srau juga sebuah lokasi pantai yang ada di Pacitan. Sama halnya dengan Klayar, untuk sampai ke pantai yang bernama Srau dibutuhkan kehandalan dalam berkendara. Jalanan berkelok dan lebih berbatu. Kalau saya harus menjabarkan arahnya, saya menyerah. Saat berada di atas motor, konsentrasi saya bukanlah mengingat arah, melainkan berkonsentrasi supaya saaya tidak terpelanting dari atas motor.Β 

Dan apa bedanya Srau dengan Pantai lain yang ada di Pacitan?Β 

Sama-sama pantai sih sebenarnya. Tapi pantai Srau dikenal dengan ombaknya yang pas untuk berselancar. Yuhuuu… jika Klayar digunakan untuk poto-poto dengan segala spotnya, Srau digunakan sebagai pelepas adrenalin untuk berselancar, khususnya bagi mereka yang masih newbie dalam dunia surfing. Ombaknya memang lumayan besar. Tapi saya tidak tahu pasti ukuran ombak besar atau kecil bagi para peselancar πŸ˜›

Selain berfoto-foto, hal yang saya lakukan adalah melahap es kelapa muda. Satu buah kelapa dihargai Rp. 4000. Sebenarnya harga tersebut adalah harga untuk turis asing. Kata pengunjung lain, harga es kelapa muda satu buahnya hanya Rp 2500. Ahh…biarlah saya membayar Rp. 1500 lebih mahal dari pada umumnya, lagipula tak setiap hari pula saya mengunjungi Srau πŸ™‚

Sekali lagi saya bukanlah pecinta pantai, dan mengunjungi Srau bukan karena suka, melainkan hanya ingin tahu bagaimana tempat yang bernama Srau. Kalau beberapa bule sudah pernah menapakkan kakinya di Srau, saya yang orang Indonesia juga tak boleh kalah bukan?! πŸ™‚

Salah Satu Sisi Pantai Srau

Salah Satu Sisi Pantai Srau

Ekspedisi Pacitan – Ngemper di Pom Bensin

si Dedek lagi Bobok Malem di Teras Pom Bensin :D

si Dedek lagi Bobok Malem di Teras Pom Bensin πŸ˜€

Sopir Saya sedang Mencuci Si Putih Kesayangannya

Sopir Saya sedang Mencuci Si Putih Kesayangannya

Numpang Istirahat Di Pom Bensin Sembari Cuci Motor. Benar-Benar Pelanggan Tak Tahu Diri Yaaa :P

Numpang Istirahat Di Pom Bensin Sembari Cuci Motor. Benar-Benar Pelanggan Tak Tahu Diri Yaaa πŸ˜›

Poto Bareng SI Putihnya Liverpooldlian

Poto Bareng SI Putihnya Liverpooldlian

Berjuta Terimakasih Untuk Pom Bensin Di Daerah Madiun Yang Sudah Menyediakan Tempat Ngemper Bagi Saya & Teman-Teman

Berjuta Terimakasih Untuk Pom Bensin Di Daerah Madiun Yang Sudah Menyediakan Tempat Ngemper Bagi Saya & Teman-Teman