Kerja Karena Suka

Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa Bekerja dimanapun sama saja…

Pasti ada sosok aantagonis & protagonis. Pasti ada wajah yang berperan sebagai ibu peri, atau mereka yang menjadi pengadu domba. Dan sungguh, itu kenapa untuk bertahan di suatu komunitas kerja harus benar-benar menjadi individu yang adaptif.

Bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tapi bukan berarti harus merubah diri. Jika kalian hidup dalam lingkungan reptil, dikerumuni oleh manusia yang berbisa macam ular… maka jadilah Elang! Punya cakar & paruh yang tajam untuk menerkam si Ular.

Dan ya… beradaptasi tidak berarti harus merubah diri… tetap menjadi diri sendiri! Karena itulah, jika sulit merubah diri untuk menjadi individu adaptif… setidaknya carilah pekerjaan yang kita sukai. Biarkanlah ada bisa ular, ada jebakan, ada sumpah serapah, bahkan fitnah yang membabi buta sekalipun… tetapi setidaknya hasil akhir dari yang kita kerjakan tetap menyenangkan, sehingga kita (tetap) dibayar untuk bersenang-senang!

Advertisements

Kerja Senang

Berbicara kenyamanan di tempat kerja, maka indikatornya adalah senang. Senang akan setiap tugas dan kewajiban, senang akan ruangan kerja, serta senang akan rekan kerja di sekitar.

Sayangnya untuk mendapatkan ketiga senang tersebut tidaklah gampang.

Selalu saja ada gerundelan tentang tempat kerja. Kesampingkan masalah penghasilan, kenyamanan di tempat kerja seringkali terganggu dengan rekan kerja…entah itu perilakunya, karakternya, maupun sifatnya yang kurang ramah. Bagi saya semua kriteria tersebut bukanlah masalah, asal masih dalam batas profesionalitas kerja dan tidak merugikan rekan kerja lain.

Tapi, tidak sulit mendapatkan kenyamanan di tempat kerja… Mudah kok.. caranya adalah, carilah dunia pekerjaan yang benar-benar kita suka. Menyukai jenis pekerjaannya. Mau seburuk apapun tempat kerja, bagaimanapun menjengkelkannya orang-orang sekitar… setidaknya kita masih punya rasa senang saat melakukan semua tugas dan kewajiban.

Syukur-syukur jika semua faktor nyaman  bisa kita dapatkan… hingga akhirnya kita dibayar untuk bersenang-senang 🙂

Lembaga Bukanlah Hutan Rimba

Mungkin benar, dimanapun… yang namanya tempat kerja tak ubahnya hutan rimba. Siapa yang kuat dialah sang juara. Tak peduli benar atau salah, asal punya kuasa dialah yang bebas dari siksa.

Mau lembaga sebesar dan setenar apapun, hukum yang kuat yang menang adalah aturan mutlak yang tak tertulis.

Bohong jika tak ada faham senioritas! Nyatanya hampir semua institusi, pihak minor selalu saja menjadi sosok yang dipersalahkan.

Benar mungkin pandangan teori yang pernah saya baca di beberapa literatur bahwa sebenarnya mayoritas perusahaan, lembaga dan institusi di tanah air lebih menjadikan materi sebagai indikator kesuksesan lembaga. Menjadikan kepuasaan pelanggan sebagai target, tanpa peduli dengan kompetensi SDM.

Selalu saja menomersatukan aset materil daripada aset manusiawi.

Yang dipikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan ‘pelanggan’ sebanyak mungkin di setiap semester, tanpa peduli pada kualitas SDM yang menjalankan lembaga. Kalaupun ada pelatihan untuk SDM, paling-paling indikatornya berupa angka… Selalu saja dinilai melalui ujian yang isinya soal-soal. Padahal, angka hasil ujian bisa berubah sewaktu-waktu.

Jarang sekali saya dapati sebuah lembaga melakukan perbaikan mental, pola pikir, perilaku, dan sifat SDM.

Memperbaiki mental karyawan yang tak lebih dari sebuah kerupuk basah, memanipulasi waktu kerja untuk dicantumkan dalam laporan kerja harian misalnya.

Merubah pola pikir yang luasnya tak lebih besar dari daun talas.Hanya beranggapan bahwa kerja itu harus disebuah ruangan. Atau belajar itu harus duduk di bangku dan ada setumpuk kursi di atas mejanya.

Merubah perilaku yang suka bergunjing, bergosip, atau memperbincangkan keburukan rekan kerja di hadapan rekan kerja lain.Perilaku yang bermanis-manis muka, namun kerap menusuk seketika saat dirinya merasa bersalah namun tak mau kalah!

Serta memperbaharui difat SDM yang semanunya sendiri, mau menang sendiri, sok berkuasa, sok senior, dan sok bersih!

Sangat disayang jika suatu lembaga tersohor memiliki punggawa yang kualitasnya hanya sebatas ukuran angka 0-9. Lembaganya sudah punya nama, seharusnya SDM yang tergabung di dalamnya punya cara supaya nama tenar lembaga tidak tercemar.

Terlebih lagi jika lembaga (institusi) tersebut berhubungan dengan dunia pendidikan….Harusnya setiap individu yang bergabung dengan lembaga terkemuka bisa menjaga diri untuk tidak ‘menerkam’ rekan kerjanya…Menyalahgunaan kewenangan yang dipunya atau bersikap tak mau disalahkan! Toh sama-sama mencari nafkah… sama-sama memiliki bagian kerjanya… Sama-sama mengemban nama baik lembaga. Kenapa pula harus menjadikan tempat kerja sebagai hutan rimba?

Ketika On Time Dipersoalkan

Risih rasanya ketika seorang penjaga gedung menuturkan pernyataan

“Ngapain mbak datang jam segini? Ngajarnya jam berapa coba? Emangnya situ udah jadi pegawai beneran di sini?”

yang kemudian diikuti gerundelan dan bisik-bisiknya  dengan beberapa pekerja di sana.

Sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa mindset-nya terpaku pada pegawai kontraklah yang harusnya datang sebelum jam mengajar.

Saya hanya menimpali dengan senyuman…tapi membatin..

“Hei Boy… saya lebih suka datang lebih awal daripada harus terlambat.”

Mau dikontrak atau tidak, saya tak suka dengan keterlambatan. Harusnya protes itu tidak ditujkan pada saya. Kenapa kalimat sarkasmenya tidak dituturkan saja pada pekerja yang harusnya datang jam 12.00, tetapi justru menampakkan batang hidungnya pukul 14.00 ?

Saya terbiasa untuk on time, jadi jika benar-benar tak ada halangan untuk terlambat maka saya akan berada di sana tepat waktu. Mau dibilang lebay karena datang terlalu awalpun saya tak peduli, toh kedatangan awal saya tidak menyusahkan mereka. Saya datang tanpa minta dijemput. Tanpa meminta ongkos kendaraan umum.

Tak perlulah mengatur-ngatur saya untuk datang pukul berapa atau menyuruh-nyuruh saya untuk pindah tempat tinggal supaya saya lebih dekat dengan tempat kerja, sehingga tak perlu berangkat terlalu awal. Mau saya tinggal di antariksa pun jika saya bisa menyelesaikan setiap kewajiban mengajar tak masalah bukan? Tepat waktu untuk datang ke tempat kerja bukan karena dikontrak atau tidak, melainkan karena kebiasaan.

Jika saya menceritakan bagaimana si penjaga gedung itu ‘menasehati’ saya pada beberapa orang (include my boyfriend-perhaps), mereka pasti menuturkan ;

“Mungkin dia hanya mengemukakan pendapat. Biarkan saja”

Ahh..berpendapat… hidup saya bukan ajang musyawarah yang bisa menampung pendapat siapapun. Know before you judge, dude!

Ya..mungkin si penjaga gedung itu hanyalah salah satu wujud buramnya warna dunia kerja di Indonesia. Ada saja persoalan aneh yang seharusnya tak perlu diributkan, termasuk kebiasaan tepat waktu.

Tak perlu terlalu diambil pening pula, toh dia bukan siapa-siapa… hanya sosok yang mungkin begitu peduli dengan saya.

 

 

Kerja, Rupiah, Dan Setia.

Beberapa hari lalu seseorang pernah mengatakan bahwa semua perusahaan membutuhkan loyalitas dari pekerjanya, dengan begitu perusahaan akan memberikan apresiasi lebih pada pekerja. Beliaupun menuturkan;

“Seseorang yang digaji 10 juta per bulan, belum tentu dia bisa loyal pada perusahaan”

Ahh.. iyaa benar memang. Tapi logikanya.. pekerja yang digaji 10 juta per bulan saja belum tentu loyal, bagaimana dengan pekerja yang hanya diupah 500 ribu per bulan?

Maka sebenarnya loyalitas itu tak dapat diukur dengan nilai mata uang.

Tujuan utama dari bekerja adalah mencari nafkah… mendapatkan upah. Sementara setia pada tempat kerja adalah topik lain yang akan lahir dengan sendirinya.

Karena itulah, indikator loyal dan setia merupakan sikap fundamental yang menghubungkan pekerja dengan tempat kerjanya. Hubungan itu akan sedikit goyah jika salah satu pihak berusaha merugikan pihak lain. Dan namanya juga bekerja, kerugian yang paling nyata tentu saja yang berbau material.

Maka dari itu.. sesungguhnya (mayoritas) tujuan utama dari bekerja adalah rupiah, barulah bisa menunjukkan sikap setia.

Ingatan Akan Siswa

Pada zaman sekolah, saya sempat menganggap sebagian besar guru itu sombong karena terkadang tidak mengenal siswanya ketika berada di luar sekolah. Sempat beberapa kali menyapa seorang guru di sebuah departemen store, tetapi balasan yang saya dapat hanya anggukan kecil serta senyum simpul. Tak jarang pula saya dilewati begitu saja ketika berpapasan di tempat lain. Yaa.. maklumlah.. saya memang bukan kriteria siswa yang bisa diingat. Tak masuk dalam kategori jenius dan lolos pula dari klasifikasi tukang buat onar. Hanya golongan siswa medium dengan prestasi alakadarnya.

Tapi kemudian… setelah saya berkecimpung sendiri di dunia pengajaran… mengingat setiap  siswa memang tak semudah mengingat nama bintang film kesayangan.. Apalagi jika setiap tahun selalu ada regenerasi siswa. Saya sudah merasa mengingat setiap rupa siswa yang pernah saya isi kelasnya. Merasa pede bahwa saya hafal betul setiap paras mereka. Namun kemudian saya disadarkan oleh seorang siswa bahwa sebenarnya saya sama seperti mayoritas pendidik. Tidak benar-benar hafal pada semua peserta didiknya.

Akhir pekan kemarin, saya kembali memberikan tambahan pelajaran kepada seorang bocah SMP. Les privat ini juga merupakan rekomendasi seorang rekan di tempat kerja, sama sekali tidak berfikiran bahwa adek les  tersebut adalah bagian dari tempat saya mengajar selama ini.

Selama 60 menit saya sama sekali tidak mengenali bocah lelaki yang dengan tabahnya mendengarkan ocehan saya. Di akhir les, tiba-tiba dia berkata;

“Saya diajar ibu loh… ehh mbak..”

Dengan merespon dengan sedikit kekagetan;

“Ahh..masa? Kamu kelas berapa?”

Dan dia menjawab dengan santainya;

“Iya, Mbak.. kelas 193. Kemarin mbak masuk kelasku pake masker. Waktu mbak lagi sakit itu loh..”

Ahh.. ya… saya memang pernah sekali mengisi kelas dengan mengenakan masker.

Ya Tuhan kelas itu adalah kelas yang diisi siswa dengan mulut yang tak bisa berhenti mengoceh selama 90 menit. Saya pikir saya tahu betul setiap pemilik mulut yang tak mau tertutup di kelas itu. Namun ternyata ingatan saya tidak sepenuhnya sempurna. Diantara  mereka banyak omong itu ada satu siswa yang cenderung pendiam.. yang luput dari ingatan visual saya.

Benar memang.. untuk mengingat siswa memang lebih mudah jika mereka masuk dalam dua kategori khusus. Punya otak brilliant atau pembuat masalah di kelas 🙂

Korban Pekerjaan

Selalu ada yang dikorbankan. Apapun pekerjaannya, selalu ada tumbal.

Seorang teman yang harus bekerja di tempat yang jauh di ujung negeri harus rela mengorbankan waktu kebersamaan dengan suaminya karena tugas pekerjaan. Seorang teman yang lain juga harus terpisah ruang dan waktu dari sang suami yang merantau di tanah orang. Kedua kawan saya ini harus mengorbankan kebersamaan demi sebuah pekerjaan.

Pengorbanan dari sebuah pekerjaan pun tak melulu soal waktu. Korbannya juga tak harus zat yang bernyawa.

Saya pun demikian. Karena salah satu tugas saya adalah berkutat dengan anak sekolah dasar yang aktivitas dan kelincahannya tak bisa dikira maka sudah banyak sekali benda yang harus saya korbankan ketika mengajar. Meja belajar mini yang baru saya beli harus ‘lumpuh total’ karena kakinya mengalami fruktura. Belum lagi meja belajar kawan sekamar yang dijadikan kanvas oleh tangan-tangan kreatif adek les.

Flasdisk yang saya simpan di tempat aman supaya tak terjamah mereka, tatap menjadi korban tak berdaya. Dan terakhir saya harus mengorbankan si blackberry yang entah diperlakukan bagaimana oleh adek les, sehingga si BB ngambek tak mau menyala 😐

Dan masih banyak bentuk pengorbanan lain dari sebuah rutinitas pekerjaan… Jomblo karena kerja…bertengkar dengan pasangan karena kerja… tak ada kawan karena kerja… tak punya tetangga karena kerja… dan bahkan diisukan sebagai anak haram karena kerja ( :p ).

Jadi, yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah menikmati setiap prosesnya dan mensyukuri setiap hasilnya. Jika harus ada hal yang dikorbankan, memang seperti itulah siklusnya.

Dari ‘Aku’ Menuju ‘Kami’

Bagaimana rasanya setelah melakukan suatu pekerjaan dengan perasaan otak sendiri, tetapi kemudian ada pernyataan “Kami sudah mencoba menyelesaikan…” dari orang lain? Kesal? Jengkel? Marah? Wajar kalau iya. Setelah menyelesaikan semua tugas sendiri lalu mendengar “KAMI yang menyelesaikan” rasanya antara ingin menjontorkan wajah orang itu ke dinding atau menyumpel mulutnya dengan lap basah supaya tidak banyak bicara. Jahat mungkin. Tapi Saya rasa itu wajar. Salah satu bentuk ekspresi manusia normal.

Jujur, Saya juga pernah memiliki pikiran sadis nan jahat seperti itu. Kesal ketika hasil kerja sendiri diakui sebagai hasil kerja bersama. Wajar!

Tapi perasaan kesal itu hanya sekelebat singgah karena saya tahu benar bahwa pekerjaan itu memang pekerjaan ‘kami’. Memang benar saya yang mengerjakan, tetapi sebelum pekerjaan tersebut mendekam manis di atas meja kerja saya; bukankah ‘ia’ harus melewati meja-meja kerja lainnya? Harus singgah di tempat Customer Service lalu kemudian diarsipkan di bagian Administrator. Lalu harus diverifikasi dan diolah setengah jadi dulu sebelum saya matangkan. Dan setelah selesai saya kerjakan, hasil akhir itu tidak akan memiliki value jika hanya tersusun rapidi folder deadline. Harus ada proses editing sebelum akhirnya sampai ke tangan pelanggan. Dan di saat mengerjakan pun ada pihak-pihak lain yang juga memberikan andil dalam setiap pengerjaan tugas saya. Karena itulah; statement “pekerjaan kami” mungkin memang lebih layak dibandingkan “aku”.

Sulit memang untuk mengubah kebiasaan “aku” menjadi “kami”. Sangat tidak mudah melepas pikiran “aku” menuju “kami”. Sulit dan tidak mudah, bukan berarti tidak bisa kan? Saya pun masih harus banyak belajar untuk tidak lagi berpikiran “aku”. Tetap berusaha untuk meletakkan prinsip “kami” pada setiap pekerjaan. Bukan untuk menggantungkan diri pada orang lain, melainkan mengikuti mata rantai yang bertujuan sama; mendapatkan hasil maksimal pada setiap pekerjaan. Kalaupun ada satu atau dua lakon yang tidak menjalankan perannya dengan baik maka itu urusan lakon lain, mungkin mereka memang digariskan untuk menjadi lakon yang tidak becus. Selebihnya, pekerjaan kantor adalah pekerjaan bersama 🙂

P.S: No more ‘Aku’

Jenuh & Lelah Kerja Itu Biasa

Kata salah satu teman kantor, saya adalah sosok yang dilihatnya tak pernah mengeluhkan pekerjaan. Selalu terlihat santai setiap menjalani rutinitas kantor. Selalu terlihat tak pernah jenuh dengan segala deadline. Dilihat tak pernah lelah. Bahkan dinilai tak pernah merajuk untuk meminta tambahan waktu pengerjaan. Hal yang membuat dia merasa heran mengapa saya bisa begitu.

Kalau dia bertanya langsung pada saya, maka jawaban saya adalah apa yang dilihat dan dinilainya itu tidak tepat. Memang benar saya tak pernah mengeluhkan apa yang saya kerjakan sekaligus merajuk meminta additional time, karena ini adalah pilihan saya. Kalau saya mengeluh,mengapa saya harus memilih pekerjaan ini? Tapi salah kalau sampai dia menilai bahwa saya tidak pernah jenuh. Sangat salah bila dinilai saya tak pernah lelah.

Hei… I’m also human. Jenuh, capek, lelah…semuanya itu juga pernah saya alami, kawan. Itu manusiawi. Ada kok saat dimana saya merasa sangat jenuh dengan tumpukan berkas-berkas deadline sehingga satu-satunya hal yang sayalakukan pada mereka adalah membiarkannya begitu saja. Bahkan sempat ada pikiran bahwa saya ingin resign saja supaya bisa jalan-jalan ke Jogja untuk menghilangkan kejenuhan yang super ini. Lelah juga sudah pasti. Saat jenuh dan tak ingin melakukan apa-apa biasanya juga dibarengi oleh lelah nan capek. Ingat loh ya…hanya lelah dan capek. Bukan putus asa, Hanya butuh rehat.

Kalau seseorang melihat bahwa saya tak pernah jenuh dan capek, heii….saya bukan robot. Capek, istirahat. Jenuh, tinggalkan kantor. Biasanya hal yang saya lakukan saat jenuh adalah jalan-jalan. Kalau misalnya jenuh itu datang di waktu jam kerja, saya mengenyahkan diri dari meja kerja. Keluar ruangan sebentar, menyeduh kopi lalu bercengkerama sebentar dengan kantor beda jobdesk.

Cara untuk menghilangkan jenuh dan lelah pada individu yang satu dan yang lain itu tak sama,karena itulah apa yang saya lakukan belum tentu bisa menghilangkan jenuh nan lelah kalian pada masing -masing pekerjaan. Tapi yang pasti, jenuh & lelah pada pekerjaan itu lumrah. Tinggal bagaimana pintarnya kita mengembalikan semangat untuk on fire sehingga penyelesaian tugas tak lewat dari tenggat waktu yang ditentukan.

Try To Be Honest, Please!

Semua mahkluk di dunia ini pasti pernah berbohong,kecuali mereka adalah malaikat atau Nabi. Jangan bilang “aku loh gak pernah bohong” karena itu bullshit!!! Coba ingat jaman sekolah…pasti ada banyak daftar kebohongan yang pernah kita buat.

Simplenya kalau kita terlambat sekolah. Saat guru bertanya “Kenapa terlambat?”

Jawaban mayoritas pastilah “Macet,Bu”atau “Ban motor bocor,Pak”

Entah kebohongan kecil apa lagi yang mungkin saat itu adalah bentuk kenakalan kecil seorang anak manusia.

Tapi lama-kelamaan, bohong sederhana itu bisa menjadi modal untuk sebuah kebohongan besar di masa tua! Saya bukannya tidak pernah berbohong, pernah kok. Dan saya tahu bahwa bohong itu tidak baik. Karena saya tahu bahwa bohong itu tidak baik, saya sebisa mungkin dan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berbohong. Terlepas dari bawaan sebagai makhluk yang tidak sempurna, berbohong itu bisa diminimalisir.

Cara paling sederhana adalah tidak berbohong kecil. Meskipun tidak ada niatan jahat saat berbohong, kebohongan tetap sebuah kebohongan bukan?!

Gampangnya semisal mendapatkan SMS yang isinya ajakan seorang teman untuk jalan-jalan sementara saat itu kita sedang tidak ingin jalan-jalan, dengan alasan tidak ingin menyakiti hati teman baik kerap kali balasan kita “Aduh sorry, aku lagi keluar” padahal kita sedang tiduran di kasur!

Kalau saya… SMS itu tidak saya balas. Selalu begitu. Kalau ada teman yang mengajak jalan-jalan apalagi dadakan (Caca kemplo misalnya 😛 ) dan saya sedang tak ingin jalan-jalan SMS nya tidak saya balas. Tidak dengan alasan pergi keluar atau pergi ke dalam. Dengan tidak membalas SMS teman saya itu tahu bahwa saya sedang tak ingin berada di tengah keramaian. Jadi tak perlu berbohong macam-macam. Saya sih gitu… Diam saja. Itu juga salah satu sunnah Rasul yang diajarkan dalam kepercayaan saya.

Itu cuma satu cara untuk tidak membiasakan kebohongan karena sesuatu yang dibiasakan, meskipun sederhana akan berlanjut pada hal-hal yang sifatnya lebih serius. Apalagi ketika harus berkecimpung di dunia pekerja.

Saat harus mengetahui berbagai hal yang berbau bohong di tempat kerja ini, rasanya kaget. Karena pekerjaan yang saya lakukan ini berhubungan dengan masa depan seseorang, berbohong dalam bentuk apapun dan alasan apapun seharusnya tidak dilakukan. Saya tahu sendiri bagaimana mereka yang berhubungan langsung dengan klien menuturkan kebohongan yang mungkin simple dan tidak mengandung niat jahat, tetapi tetap tidak baik. Misalnya:

Client: “Mas, file pesenanku sudah di email kan?”

Mas: “Sudah kok, Bu. Dari tadi”

Client: “Ohh..tapi belum masuk. Sebentar aku cek dulu ya”

Mas: “Iya Bu”

Lalu beberapa saat kemudian saya mendengar;

Mbak: “Wes dikirim ta, Mas?”

Mas: “Sudah kok, ke admin”

Mbak: “HAHAHAHAHAHAHA….”

Hhhhh….. It’s bad, isn’t it?!

Kalau dipikir-pikir memang benar jawaban si Mas atas pertanyaan client mengenai filenya bahwa email memang sudah dikirim. Si Mas juga melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa client hanya menanyakan apakah filenya sudah dikirim via email, tidak memberikan penjelasan email siapa. Tetapi sebagai seorang profesional seharusnya jawaban itu tidak keluar dari seseorang yang sudah saya anggap senior dan berpengalaman di tempat kerja ini. Terlepas dari apapun alasan mengenai file yang harus dikirim via email tersebut, jawaban yang jujur saya rasa jauh lebih baik daripada alasan bohong. Dan kejadian tersebut tidak berlangsung sekali atau dua kali atau tiga kali. Seringkali!

Atas dasar itulah saya mulai mengurangi respect jika harus berkomunikasi terkait masalah pekerjaan dengan senior terkait. Bukan menyepelekan, melainkan tidak percaya 100% pada apa yang dikatakannya yang mungkin saja benar. Tapi karena saya melihat sendiri bagaimana ketidakjujurannya pada client, bagaimana mungkin saya bisa percaya 100% saat dia berbicara pada saya?

Serius, bohong kecil yang dibiasakan itu dapat menghasilkan akibat yang besar. Salah satunya krisis kepercayaan seseorang terhadap kita!

Sekali lagi, bukannya mau sok tidak pernah berbohong….tetapi ada baiknya mengurangi intensitas & frekuensi bohong sejak dini bukan?

Diplomat & Basa-Basinya

Sebenarnya antara diplomasi dan basa-basi itu tidak jauh berbeda. Bahkan jauh sebelum ini saya sudah menyebutkan bagaimana basa-basi adalah salah satu cara untuk berdiplomasi. Tapi seorang diplomat yang bertugas untu melakukan diplomasi harus tahu benar bagaimana caranya berbasa-basi yang punya kelas. Tidak hanya sekedar berkoar-koar atau sekedar menyanggupi dan menjanjikan sesuatu yang tak ubahnya kader parpol dalam pemilu, tetapi juga tahu maksud dan tujuan akhir dari tugasnya.

Diploma itu tidak hanya harus tahu bagaimana caranya menghandle client, tetapi juga mengerti apa yang diinginkan client dan menemukan solusi supaya keinginan client bisa terwujud.

Hanya sekedar ngomong “ini bisa kok dikerjakan” tanpa memikirkan bagaimana cara mengerjakannya sama saja dengan bullshit!

Diplomat juga harus tahu dengan benar bagaimana hasil diplomasinya itu dapat diselesaikan oleh para stafnya. Tak hanya menyuruh dan menyuruh, tanpa pernah mengerti apa materi yang disuruhkan. Ketika staff ada kesulitan di tengah jalan dan meminta solusi dari diplomat, yang staff inginkan bukanlah jawaban “ya seperti apa yang sudah dituliskan di konsep awal itu loh. Bagian A dijelaskan. Bagian B dijelaskan. Bagian C dijelaskan”. Apa si staff sebegitu tololnya sehingga sang Diplomat membacakan apa yang dituliskan pada selembar kertas???

Yang diinginkan staff bukan jawaban seperti itu. Kenapa Diplomat tak memberikan jawaban dengan langsung menjelaskan pengerti A, B, atau C? Kalau sampai ada jawaban “ngapain aku yang jelasin kalau aku punya staff? Terus tugas staffku enak dong?!”

Diplomat kampret!!! Belum lagi ketika terjadi miss communication pada teknik basa-basi yang dilakukaknnya. Meskipun Diplomat tak pernah menyalahkan staff, tapi imbas paitnya juga terciprat pada staff yang tak tahu menahu mengenai duduk permasalahan sebenarnya. Endingnya staff dimonitoring oleh Presiden. Dipressure dengan berbagai macam sistem.

Menurut saya akar masalahnya adalah si diplomat terlalu banyak basa-basi! Diplomasi yang dilakukan hanya sekedar orasi manis yang penuh janji-janji absurd!! Tidak ada realisasi nyata dari semua abang-abang lambenya.

Cuma basa-basi tanpa isi. Jika akarnya sudah rusak, kenapa tak cabut saja akarnya???