Sebuah Kompetisi

Salah satu efek dari implementasi kurikulum 2013 adalah semakin kompetitifnya subjek pendidikan.

Iya.. guru dituntut untuk lebih berkompetensi, yang secara tidak langsung juga harus berkompetisi dengan guru-guru lain dalam ujian kompetensi guru (UKG).

Murid? Saya pikir, sejak zaman dahulu memang ada kompetisi atara anak yang satu dengan yang lain. Banyak diantara mereka yang selalu ingin menduduki peringkat pertama di kelas. Setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Saya sendiri menjadi saksi hidup bagaimana ‘perang’ itu terjaddi.

Suatu hari adek les saya tidak mencatat soal pekerjaan rumah yang dituliskan guru di papan sekolahnya. Alasan adek les saya adalah dia tidak sempat mencatat karena soal dihapus ketika bel pulang dibunyikan. Hanya kurang 3 soal. Soalnya pun tidak berbentuk kalimat panjang. Sekedar angka, karena perintahnya hanya menggambar bentuk sudut.

Kebetulan saya memiliki mantan adek les yang sekelas dengan adek les saat ini. Saya mencoba menanyakan 3 soal sisa tersebut pada mantan adek les, tetapi jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan.

“Aku les mbak… pulangnya malem. Gak bisa ngasih tau. Salah sendiri gak nyatet di sekolah”

Sebuah jawaban yang menggambarkan persaingan antara siswa. Jadi, saya tidak berhasil menanyakan ketiga soal tersebut. Adek les saya sih tenang-tenang saja. Dia tidak panik, tidak juga ambil pusing dengan pekerjaan rumahnya yang kurang tiga soal. Mungkin itu pulalah yang membedakan kaum adam dengan lawan jenisnya, adek les saya ini laki-laki yang sama sekali belum punya beban dan pikiran. Kalau saja yang kurang 3 soal itu mantan adek les saya, mungkin dia akan merengek kebingungan dan tidak mau masuk sekolah esok harinya.

Namun saya masih tetap mencoba untuk menghubungi orang tua mantan adek les… Meminta tolong apakah bisa memotretkan soal pekerjaan rumah  milik anaknya. Hanya soalnya saja. Saya tak butuh diberi contekan jawaban. Lalu, jawaban yang saya dapatkan tetaplah penolakan.

“Anakku masih les, mbak. Pulangnya malem. Jadi aku gak janji”

Well… padahal saya dan si Mama mantan adek les cukup mengenal. Kami juga masih sering berkomunikasi. Tapi entah kenapa secara tiba-tiba permintaan tolong saya tidak dikabulkan. Padahal saya tidak meminta yang macam-macam. Hanya meminta untuk diberitahu soal pekerjaan rumah anaknya. Itulah bentuk kompetisi orang tua. Secara tidak langsung, Mama dari mantan adek les saya tidak ingin nilai anaknya di bawah adek les saya. Logikanya adalah jika adek les saya hanya mengerjakan 7 dari 10 soal, maka nilai maksimal yang didapat hanya 70… sementara anaknya yang mengerjakan semua soal berpeluang untuk mendapatkan nilai 100.

Yaaa..itu memang hanya pemikiran saya… tetapi jika memang tak ada unsur kompetitif, kenapa tidak mau memberi tahu 3 soal yang saya minta?

Ahh… memang sih.. salah satu interaksi yang terjadi pada setiap kehidupan adalah kompetisi.