Cerita Pagi

Suatu pagi….

Ibu A : “Ehhh si adek sudah bangun yaaaa….. Mau ikut Mama ngajar ya, Nak”

Ibu X : “Enggak tante, aku mau berjemur dulu”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut ‘bercengkrama’

“blablablablablablablablaaaaaaaaaaaa….”

Mulai dari harga bawang, hingga harga garam..

Mulai dari kehidupan pasar, sampai tumpakan bawang di kamar..

Lalu kemudian si bayi berceloteh..

“Ammppphhhhhhh… ardkgkkssss…”

Dialog seru antar ibu tersebut berhenti sejenak. Salah satunya berkata;

Apa..le…”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut berbisik-bisik seru…. Menjadikan salah seorang penghuni kos baru sebaagai bahan perbincangan..

Dan si bayi kembali memotong diskusi ibunya

“Oamrrrrghjkjkkk..aappmmhhhh..”

Dengan sedikit rengekan, bayi yang usianya tak lebih dari 3 bulan tersebut tak hanya ‘ngeroweng’ beberapa saat… tetapi sepanjang kedua ibu-ibu itu berbicara mesra.

Hingga kemudian, si Mama berkata

“Sebentar ta le.. diam dulu. Kok kamu cerewet si. Mama ngomong sebentar”

Oke… setidaknya perbincangan tersebut berlangsung selama 30 menit. Waktu yang setidaknya bisa digunakan untuk ‘memanaskan’ si bayi. Si Mama mengatakan anaknya cerewet, lalu dia bagaimana? -_-

Well done, Mam!

Advertisements

The Worst Week Ever!

Minggu yang kacau.

Suasana kantor tiba-tiba menjadi rusuh. Banyak kritikan dan perubahan sistem kerja. Kritikan karena bos merasa deadline kantor tidak terpenuhi. Kritikan karena kualitas pekerjaan yang di bawah ekspektasi beliau. Akhirnya kritikan tersebut mengarah pada perubahan sistem kerja di kantor.

Hal yang membuat saya bingung adalah mengapa deadline pekerjaan termasuk dalam alasan si bos melontarkan kritikannya. Padahal, saya sudah sangat yakin bahwa deadline pekerjaan saya tak pernah melebihi tenggat waktu yang si bos tetapkan. Lalu kualitas…. bagaimana bisa si bos menilai kualitas sementara beliau tak pernah secara langsung menganalisis hasil kerja anak buahnya? Kualitas dari sisi mana pun tak diungkapkan dengan jelas, sehingga saya dan teman-teman seprofesi menjadi bingung bagian mana yang salah dari kami.

Lalu kemudian ada perubahan sistem kerja dimana koordinator divisi saya hanya fokus pada anak-anaknya. Tak boleh diributkan dengan urusan lain. Bagus, karena selama ini mas koordinator saya lebih sering melakukan pekerjaan yang sama sekali tak berhubungan dengan tugas dia.

Tapi kemudian, sistem baru tersebut berubah keesokan harinya. Entah demi apa… yang jelas… seseorang nampaknya berusaha menjatuhkan area kerja saya.

Seriously… masalah deadline yang gagal itu sangat konyol bagi saya! Saya sudah sangat meyakini dan jelas-jelas memiliki catatan untuk setiap hasil pekerjaan yang telah saya dan teman-teman penulis selesaikan. Tapi kemudian ada teguran bahwa pekerjaan kami sangat melewati tenggat waktu.

Hello…. kok bisa?

Singkatnya; tim saya (penulis) selalu mengirimkan hasil kerja kami ke koordinator. Selanjutnya koordinator akan meneruskan pekerjaan tersebut pada Manajer tim yang juga merangkap sebagai editor. Lalu editorlah yang bertanggung jawab atas hasil akhir pekerjaan di timnya. Mengirimkan hasil kerja pada bagian operasional yang akan mengirimkan hasil-hasil tulisan pada pemesannya.

Kalau misalnya penulis sudah mengirimkan hasil kerja ke koordinator dan koordinator telah meneruskannya ke editor… tapi kemudian klien tidak menerima orderannya dengan tepat waktu…. Siapa yang salah? Salah siapa?

Saking kacaunya…. minggu ini bukanlah minggu terbaik saya di kantor. Pekerjaan memang selesai, tetapi tak ada waktu untuk chit-chat dengan teman atau sentil-sentilan via YM dengan orang sekantor. Tak ada waktu untuk membalas SMS atau melirik HP sekalipun. Satu-satunya waktu luang hanya untuk salat! Bukan karena pekerjaan susah… hanya saja otak sedang tidak bergairah untuk menuturkan rangkaian kata. Parahnya adalah kemarin…. SAYA LUPA MENYENTUH PEKERJAAN YANG HARUS SAYA SELESAIKAN!!! 😦

BENAR-BENAR LUPA. Akhirnya ada tugas yang saya selesaikan di luar deadline…. Hikssss…

Benar-benar minggu yang tidak baik..

Iri, Tidak. Sombong, Jangan.

Beberapa saat yang lalu saya kedatangan seorang customer yang berseragam khas pegawai negeri sipil, batik hijau. Profesinya bukan PNS, tetapi seorang guru di salah satu sekolah yang ada di daerah kos saya. Jika menilik dari seragamnya, sebagian besar orang pasti mengatakan dia memiliki pekerjaan yang layak. Terlihat keren karena setiap hari keluar rumah dengan menggunakan seragam. Terlihat lebih prestisius dan mewah dibandingkan pekerjaan yang saya lakukan saat ini (catat: menurut pikiran masyarakat awam). 

Bahkan saya merasa sikap si customer terhadap sayapun demikian. Ia merasa lebih high class daripada saya. Sikapnya ketika menyuruh saya untuk mengetikkan selembar surat keputusan (SK) seolah-olah dia orang paling penting di dunia ini. Dan entah apa maksudnya yang tiba-tiba meletakkan ponselnya di atas meja tempat saya mengetikkan SK nya. Awalnya saya kira dia hanya sekedar meletakkan Hp tersebut sesaat karena dia harus mengambil sesuatu atau melakukan apa yang membutuhkan kedua tangannya. Tetapi lama-lama saya merasa aneh karena dia meletakkan HP tersebut selama saya melakukan pengetikan, sedangkan dia duduk di kursi yang memang disediakan untuk menunggu ketikan selesai. Hello…maksudnya apa coba naruh HPnya di meja saya? Mau ngasih Hp itu ke saya atau gimana coba?

Dan akhirnya saya bisa menebak dengan tebakan yang mungkin saja tidak benar atau buruk sangka, bahwa ia hendak pamer! Ketika saya mengatakan “Mbak, ini handphonenya kenapa di taruh di sini

Jawabannya adalah “Oh, iya..lali aku (aku lupa) Kalo hilang bisa mati aku. hape larang e. Titip situ dulu mbak

Konyol! Oh My god! Memamerkan Hpnya yang menurut dia super canggih itu pada saya sama saja dengan konyol! Kenapa harus menggunakan pernyataan ‘Hp larang’??!! Apa dia mengira saya tidak mengerti berapa rupiah harga ponselnya. Dan caranya menyampaikan kata larang itu tak dengan mimik bercanda, karena saya tahu pasti bagaimana ekspresi seseorang yang humoris dengan yang congkais (red: songong). Saya hanya diam menaggapi pernyataan ‘larangn’nya tersebut, tetapi dalam hati saya tersenyum simpul agak ngakak, menertawai kekonyolan sikapnya.

Handphonenya itu memang bagus. Bermerek dan mahal. Bahkan saya sempat hendak membeli ponsel tersebut. Tapi maaf, ponsel saya tak hanya bagus dan bermerek tetapi juga pintar. Kenapa saya harus iri pada ponselnya yang bagus , mahal dan bermerek tersebut?

Kemudian, ketika saya telah menyelesaikan pesanannya dia berkata

Mbak, S.E nya jangan lupa diketik! itu oh yang setelah nama. itu gelar sarjana

Dan jawaban saya singkat “Iya” sembari tersenyum geli di dalam hati! 

Lalu hari ini ketika seorang ibu-ibu meminta saya untuk mengetikkan suatu surat permohonan, saya jadi semakin tahu bahwa saya tak perlu iri dengan seorang sarjana ekonomi yang memiliki hape bagus, mahal, dan bermerek tersebut. Surat yang saya ketik ini adalah permohonan kenaikan gaji guru-guru suatu sekolah yang secara kebetulan adalah sekolah tempat mbak-mabk SE berhape bagus,mahal, dan bermerek tersebut mengajar. Di situ jelas tertulis nominal rupiah yang diterima si mbak SE berhape bagus, mahal, dan bermerek setiap bulannya. 

Ya Tuhan…. tak usah saya sebutkan jumlah pastinya, yang pasti angkanya jauh di bawah angka yang saya dapatkan setiap bulan. Jika dilihat-lihat, seragamnya yang prestisius itu harusnya memiliki pendapatan jauh lebih besar daripada pekerja paruh waktu seperti saya, bukan? Inilah kenapa saya tak perlu iri-irian terhadap mbak tersebut.

Apa yang mau dibuat iri? bagian mananya? Bagian seragam? Ohhhh…hari gini masih pake seragam? Memangnya saya anak sekolahan?! 😉

Gelar S.E nya? Ngapain? Saya juga sarjana! Bahkan kampus saya jauh lebih reputable daripada almamaternya. Hp nya? Kenapa harus iri dengan handpone mahal kalau HP saya jauh lebih pintar? 

Pokonya tak boleh iri pada siapapun dan apapun karena masih banyak seseorang yang kurang beruntung dari kita. Dan tak perlu sombong pula dengan apa yang kita miliki karena di atas langit masih ada langit! 🙂

Ketika Saya Malas

Malas itu sikap yang wajar. Semua orang pasti pernah malas. Ingat ya…konteksnya wajar! Kalau selalu malas-malasan, namanya bukan malas wajar tetapi memang pada dasarnya adalah pemalas!

Dan hari ini saya malas 🙂

Malas mau ngapain-ngapain. Bukan bad mood. Tapi malas! Bangun kesiangan sehingga menyebabkan waktu kerja mundur selama 30 menit. Lalu menyapu ruangan asal-asalan. Tidak membenahi meja plus PC seperti biasanya. Dan tidak melakukan pengecekan koneksi semua PC client seperti yang saya lakukan tiap pagi.  Bahkan saya sama sekali tak punya niatan untuk membantu partner kerja yang kebetulan tugasnya masih menumpuk. Sama sekali tak menawari bantuan padanya, sebaliknya saya tiba-tiba pula menjadi sok tak acuh nan tak peduli karena itu salah dia sendiri yang kerap kali menunda-nunda untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadilah dia bekerja keras, sedangkan saya bersantai-santai. Karena apa, karena saya malas! Hahahahahahahahahahhaaa

Tak tahulah…tiba-tiba saja tak mau melakukan apa-apa. Sekali lagi beda dengan bad mood! Saya sedang malas, tetapi suasana hati saya tidak buruk. Maunya senang-senang saja, sedikit bekerja. Ngeblog pun masuk dalam daftar kegiatan yang sedang malas saya lakukan… hihihihihihihihi

Akhirnya….Buka youtube, liat video Kemal Palevi yang absurd dan gak lucu tapi bikin ngakak. Tiga jam saya buang untuk melihat kegilaan si comic Arab via youtube. Setelah bosan, lanjut download lagu-lagu yang sedang ingin saya dengarkan. Selanjutnya berselancar di akun social network terbaru. Abis gitu, clingak-clinguk cari makanan karena entah kenapa tiba-tiba lapar…

Heran…biasanya ketika banyak sekali hal yang harus dikerjakan, tak ada keinginan untuk makan..tapi ini…kerjaan hanya duduk manis (meski sesekali menghampiri customer yang agak kurang ngerti gimana caranya make mozzila dan kawanannya… tetep! Kisah ini selalu terjadi tiap hari, jadi tak perlu diceritakan panjang lebar karena saya bosan), laparnya minta ampun. Konyol!

Entah kenapa Tuhan itu Maha Baik. Di saat saya sedang malas…. Dia tidak memberikan tugas yang harus saya selesaikan. Tak ada ketikan macam-macam. Tak ada insiden aneh-aneh. Tak ada customer super ajaib yang membuat tepar. Saya diijinkan malas.

Sepertinya memang begitu…saya mendapatkan lisensi malas dari Tuhan 😉 Sungguh tak tahu diri saya ini jika mengeluh ketika harus berhadapan dengan sedikti masalah yang ditimbulkan pengunjung warnet karena setelahnya saya diberi waktu untuk melemaskan otot. Entah kebetulan atau tidak…walaupun jam kerja mundur 30 menit, saya masih terbilang tepat waktu untuk datang ke ‘arena main’ saya itu karena ketika saya berada di sana  gerbang warnet masih tergembok dan tiga menit kemudian barulah si pemilik datang untuk membukakan kunci pintu. Waaahhh… benar-benar malas yang direstui Tuhan.

Thanks for today, God 😉

Tapi sekali lagi…ini malas yang manusiawi loh yaaaa….malas wajar…I’m not Lazier!

Tentang Seorang Bos

 

Teringat akan kata-kata salah satu pembimbing saya; “Gimana sih ‘mbok’ mu itu! Tanggung jawab dia ke kamu itu lebih besar, tapi kok gak datang di acara sepenting ini. Bayarannya juga beda!”

Itulah salah satu karakter seorang atasan atau bos atau senior yang kerap kali saya ketahui akhir-akhir ini.

Banyak orang ingin menjadi bos daripada kacung. Banyak orang mengincar jabatan sebagai general manager dibandingkan karyawan biasa. Bahkan orang akan lebih memilih jendral dibandingkan kopral.

Alasannya tentu saja karena prestise.

Menjadi bos itu enak. Pendapatannya jauh lebih tinggi daripada kacung. Bisa menyuruh apapun yang ia suka pada bawahannya. Sementara si kacung kelimpungan mengerjakan tugasnya yang berjibun.

Menjadi general manager itu lebih keren. Pakai jas bermerek plus sepatu kulit asli Italia. Makan di kapal-kapal pesiar. Plesir ke luar negeri setiap saat. Sedangkan karyawannya sibuk di belakang meja sembari berteman dengan PC tak kurang dari 7 jam.

Siapa pula yang mau memilih seorang kopral jika berkesempatan langsung menjadi jendral?

Tapi masalahnya, bos-bos dan senior jaman sekarang ini sedikit tidak beres! Mereka seolah-olah bersikap;

Ehh… Guwa ini bos! Guwa senior! Suka-suka guwa dong mau ngapain! Nih ada tugas buat lo… guwa gak sempet ngerjain karena sibuk! Guwa sibuk twiteran!! Kenapa? Masalah buat lo??

Uhhh…. menurut saya bos yang seperti itu adalah bosok!

Mentang-mentang atasan, lalu seenaknya memberikan pekerjaan pada karyawannya? Mentang-mentang senior, jadi boleh bersikap kasar pada junior? Dan apa karena seseorang menjadi pimpinan maka ia bisa datang dan pulang kantor sesuka hatinya?! Ada lagi sikap konyol seorang senior yang saya dengar dari salah satu teman…. si senior iri pada tugas junior yang katanya jauh lebih mudah.

Yang namanya bos, senior, atau atasan, Tugas dan tanggung jawabnya pastilah lebih besar dari bawahan. Kalau memang merasa iri dengan pekerjaan juniornya, balik aja lagi kerja jadi junior. Bukankah semua ada porsinya? Tugas senior jauh lebih berat, tetapi bukankah telah diganjar dengan gaji yang lebih besar daripada junior? Masa mau kerjaan junior dengan gaji senior?

Dan yang namanya atasan harusnya memberikan contoh baik. Bukannya datang ke kantor jam 12 siang lalu pulang jam 2 siang! Bos macam apa itu?! Kecuali memang ada tugas atau pekerjaan yang harus dilakukan di luar kantor, bertemu klien misalnya, bolehlah datang ke kantor saat jam makan siang. Kalau perkaranya tak berhubungan dengan urusan pekerjaan, harusnya tak ada maaf untuk bos yang seperti itu.

Menjadi bos bukan berarti lebih hebat daripada siapapun. Tidak berarti dengan gampangnya menyerahkan tanggung jawabnya pada bawahan. Tidak sepantasnya juga seorang bos bersikap tak ramah terhadap karyawan yang telah menyelesaikan pekerjaannya, sementara pekerjaan si bos masih menggunung. Memangnya siapa yang salah jika bos direpotkan dengan tugasnya yang menggunung sementara bawahannya sedang makan malam bersama karena tak ada lagi tugas yang harus dikerjakan?

Percaya deh… semua jenjang pekerjaan itu ada manis dan pahitnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi pekerjaan yang kita terima. Untuk merasakan sesuatu yang prestisius tak melulu hanya menjadi atasan atau bos. Memang benar jika menjadi pimpinan itu jauh lebih terpandang karena memiliki pendapatan yang tinggi. Tapi kalau si pimpinan tak becus dalam bekerja, apanya yang mau dipandang?

Menyelesaikan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Itulah yang paling penting. Tak perlu iri-irian dengan tugas orang karena hal itu malah akan membuat tugas sendiri terlupakan. Tak perlu sok menginspeksi pekerjaan orang, karena belum tentu pekerjaan sendiri lebih baik dari lainnya.

Just take your responsibility and than you’ll be happy with your job! 🙂