Kembali Ke Aturan Lama

 

Ada kabar dari almamater mengenai sistem seminar proposal TA. Kata teman saya, saat ini sistem seminar proposal kembali ke awal. Ada lulus dan tak lulus seminar proposal. Jadi, mahasiswa yang melakukan seminar proposal belum tentu bisa lulus dan segera melakukan penelitiannya. Tidak seperti tiga semester terakhir yang mengusung cara semua yang masuk ruang seminar pasti lulus. Kembali ke zaman saya.

Bagus menurut saya karena itu berarti bisa semakin meningkatkan kualitas mahasiswa yang lulus. Jika saya melihat mereka yang melakukan seminar proposal di tiga semester terakhir, tidak ada keseriusan mereka di mata saya. Terkesan menyepelekan. Asal bisa masuk ruang seminar, pasti lulus sehingga tak ada usaha keras untuk memahami materi. Bukannya mau menjelek-jelekkan mereka yang mengikuti seminar di kloter 3 semester terakhir, tetapi memang begitu kenyataannya.

Mereka yang sebagian juga teman-teman angkatan saya, tidak menunjukkan keseriusan belajar saat menghadapi seminar. Memang bukan urusan saya bagaimana cara mereka menghadapi seminar masing-masing. Mau belajar atau tidak itu sama sekali bukan urusan saya. Tapi itu urusan jurusan yang menaungi mereka. Meluluskan mahasiswa yang tidak pantas diluluskan itu sama saja lewat pintu belakang untuk meningkatkan akreditasi. Karena itulah, kembalinya aturan seminar proposal ke cara lama patut saya acungi jempol.

Aturan tersebut bisa membuat mahasiswa semakin giat belajar dan tidak menyepelekan seminar. Dengan begitu lulusan jurusan jauh lebih berkualitas. Dan dengan kembalinya aturan tersebut, kembali pula sensasi mendebarkan suatu seminar proposal di jurusan. Deg deg kan menunggu hasil. Saat lulus melegakan, saat tak lulus menyedihkan!

Overall, i’ll always hope the best for my institute

 

Advertisements

Rempong Sekali Yaaaaaa

Jika melihat reaksi teman-teman yang sedang mempersiapkan kelulusan strata satunya, satu kata yang ada di pikiran saya “REMPONG”!!!

Saat hendak ujian TA (read: sidang) rempong ngurusin materi yang harus dipelajari. Rempong mikirin konsumsi yang akan disajikan untuk penguji. Rempong untuk membuat slide presntasinya. Aduuhhh…intinya repot alias rempong!

Setelah lulus sidang, rempong lagi mengejar dosen penguji untuk masalah revisi.

Terus ngurus surat bebas ini dan itu. bebas perpus, bebas laboratorium, bebas ruang baca jurusan, bebas spp, bebas IKOMA, Bebas TOEFL dan bebas lain-lainnya sungguh sangat REMPONG!!

Belum lagi masalah format buku TA beberapa pekan lalu membuat heboh teman-teman sedikit frustasi. Ngeprint berkali-kali. Menjilid berkali-kali. Menunggu berjam-jam dengan diiringi spot jantung.

Sekarang setelah semua prosedur menuju wisudah selesai, mereka tetap saja menunjukkan kerempongan. Mikirin baju yang akan digunakan untuk acara wisudah. Rempong banget deh kayaknya… mesti beli high heels, beli kebaya, beli jilbab, beli make up atau booking perias untuk mendandani di hari wisudah.

Ada salah satu teman saya yang sengaja menjahit baju untuk wisudah, tetapi setelah bajunya jadi dia malah marah-marah gara-gara model bajunya tak sesuai harapan. Nah lohh….. kalau sudah begitu mau bagaimana coba?

Hanya untuk sehari dengan waktu yang tak lebih dari enam jam saja repotnya luar biasa….. Ahhhhhhhhhhhh… Kenapa harus rempong….

e-Book & Taman

Setiap mahasiswa yang lulus WAJIB untuk ‘menyumbangkan’ buku di ruang baca.

Itu adalah salah peraturan lain yang ada di kampus saya. Gak masalah sih nyumbang buku. Tapi masalah kalo misalnya buku yang harus disumbangkan adalah e-book dalam bentuk hardcopy!Kan cuma tinggal print….. Susahnya apa coba? Susahnya adalah aturan untuk ngeprint dengan tinta yang tak bisa luntur kalo kena air.

Tahu e-book bukan? Gak mungkin kan e-book itu hanya 10-15 halaman… Minimal 500 halaman. Coba dikalkulasi… satu lembar ngeprint dengan tinta anti air adalah 5 ribu rupiah. Kalo 500 lembar berapa coba? Ya ampun…please deh Bapak dan Ibu dosen…. biaya untuk kelulusan saja sudah sangat banyak. Kami (saya) ini kan mahasiswa tak berpenghasilan, semua biaya itu adalah sesuatu yang berat…. 😦

Lalu kemudian ada solusi lain untuk mengganti e-book…

Setiap mahasiswa yang lulus WAJIB membuat tamandengan menggunakan jasa ahli pertamanan

Uuhhh lagi!!! Membuat taman? hemm.. Bagus!! Ini apa-apaan sih??? Buat taman? Kenapa harus mahasiswa yang membuat taman dengan menggunakan jasa ahli pertamanan? Bukankah kampus sudah memiliki anggaran untuk pembangunan gedung? Astaga….. i’m so spechless, God! 

Kata salah satu karyawan di jurusan “Sabar dek… Jalani saja semuanya dengan ikhlas. Ingat, Tuhan akan bertindak sesuai prasangka hambaNya. Kamu relax aja. Nanti pasti ada jalan keluar lain

Ooohhhh….. I hope so, sist!!