2nd Years

Happy 2 Years, My ‘Home’.

2 years

2 Tahun sudah ‘Home’ ini menyelubungi dunia maya. Menjadi tempat saya menggosipkan siapa saja yang saya suka. Menjadi tempat saya untuk menceritakan apa saja yang saya suka. Menjadi tempat saya untuk mengadukan apapun yang saya suka. Menjadi tempat untuk mendokumentasikan apapun yang saya suka. Menjadi ‘home’ suka-suka bagi saya.

Entah sudah berada postingan yang saya buat dan siapa saja yang sudah tersesat di ‘home’ suka-suka saya ini. Tapi yang jelas, menjaga niatan untuk tetap menulis dan menulis selama dua tahun itu tidak mudah. Banyak aral yang melintang. Banyak rencana yang menggagalkan niatan untuk menuliskan sesuatu.

Tapi suatu kebanggaan bagi saya karena bisa menceritakan apapun pada siapa saja yang mau membaca atau sekedar nyasar di sini.

Semoga saya masih diberi niatan untuk menjaga ‘home’ ini hingga tahun-tahun ke depan, because colour is everywhere 🙂

Yang Terpenting dari Menulis Bukanlah Ide, Tapi Kemauan

Menulis itu mudah.

Apa susahnya menulis di jaman sekarang ini. Oke, mari anggap menulis di sini sebagai merangkai kata. Entah mau menggunakan media pensil atau bolpoin beserta buku tulisnya atau dengan menggunakan MS Word yang terprogram di perangkat PC, tablet, ipad, atau laptop! 

Ide untuk menulis itu memang penting, karena tanpa ide mau menuliskan apa? Tapi kalau ide dijadikan alasan untuk dimulainya menulis atau tidak, saya rasa kurang tepat. Sebenarnya ide itu bisa dari mana saja. Tidak perlu repot-repot mencari yang namanya ide. Duduk di depan cermin pun kadang-kadang mendatangkan ide yang bisa dituliskan. Makan bersama teman-teman juga bisa menjadi sumber ide.

Atau cara simple dan cerdasnya tentu saja membaca. Dengan membaca, ide akan muncul dengan sendirinya.

Jadi masalahnya adalah ketika seorang penulis berkata “Aduh lagi gak ada ide nih“, bukanlah tidak ada ide melainkan tidak ada kemauan dan keinginan untuk menulis. Ide pastilah banyak, hanya kemauan saja yang sedang menghilang entah kemana.

Seseorang pernah mengatakan pada saya;

Kalau memang sedang buntu dan tidak ingin menulis apa-apa. Buka-buka aja buku atau jurnal-jurnal. Ketik ulang apa yang dituliskan oleh jurnal atau buku yang kamu baca. Ketik ulang, bukan copy paste. Dengan begitu akan ada banyak hal yang tiba-tiba muncul dipikiranmu dan mereka memintamu untuk segera menuangkannya dalam lembaran-lembaran halaman

Jadi, selain membaca…passion menulis yang hilang bisa dimunculkan dengan menuliskan ulang kalimat-kalimat dari sebuah buku atau jurnal atau bacaan apapun yang kita suka.

Bukan tak ada ide, melainkan tak ada keinginan menulis.

Menulis itu mudah, asal ada kemauan untuk menulis 🙂

Membaca & Menulis Pun Sebuah Bakat

Sungguh… membaca dan menulis itu adalah bakat. Selama ini selalu saja ada pikiran bahwa tidak semua orang bisa menulis dengan benar. Menulis sesuai EYD atau grammar yang tepat. Menulis dengan susunan SPOK yang tepat supaya orang lain bisa membacanya dengan benar.

Tapi membaca juga butuh bakat. Maksud saya bukan sekedar membaca kalimat dengan lancar. Tetapi juga menelaah suatu kalimat sehingga kalimat tersebut tak hanya sekedar dibaca tanpa tahu maknanya. Serius. Banyak orang bisa membaca karya sastra atau novel roman, tetapi apakah semua orang bisa ‘membaca’ maksud dari si penulis? Tidak! Ponakan saya bisa membaca dengan lancar. Bahkan sejak Ia berusia tiga tahun. Dia bisa membaca, tetapi tak tahu maksud dari bacaannya itu!

Jadi, ya itu tadi….. membaca juga membutuhkan bakat, sama halnya dengan menulis. Karena itulah menjadi penulis harus pandai menujukan karyanya. Penulis harus tahu pangsa pasar tulisannya. Penulis juga harus mengerti bagaimana pola pikir pembacanya.

Dan jika dipikir-pikir, susah juga menjadi penulis yang tulisannya disalah artikan oleh si pembaca. Kadang-kadang niatnya bercanda, tetapi si pembaca malah beranggapan tulisan tersebut adalah celaan sehingga muncullah yang namanya kontroversi yang tak jarang berujung pada konflik. 

Kalau sudah begitu…siapa yang salah? Jika menyalahkan penulis saya rasa kurang tepat, karena mungkin begitulah gayanya menulis…kalau pembaca merasa sakit hati, berarti si pembaca yang kurang pandai mengelola pola pikirnya sehingga terjadilah kesalahan membaca.

Tapi seandainya si pembaca bersikukuh bahwa si penulis yang salah bagaimana? Menurut saya sih, abaikan saja! Mungkin si pembaca itu sesungguhnya memang tak punya bakat membaca. Dan itu bukan kesalahan. Namanya juga bakat…anugerah dari Tuhan, jadi tak semua orang memilikinya. Karena itulah, baik pembaca maupun penulis harus menyadari bahwa mereka sama-sama ciptaan Tuhan yang tidak sempurna. Sama-sama mahklukNya yang memiliki dua sisi sehingga walaupun tak memiliki bakat yang sama, keduanya masih bisa hidup bersama.