Sebuah Diskusi Yang Tidak Pantas

Awal bulan ini saya mendengar begitu banyak keluhan dari orang-orang sekitar mengenai kurikulum pembelajaran 2013 atau kurikulum 2013. Mayoritas dari mereka yang mengeluh adalah orang tua (wali murid) dan para pengajar.

Kurikulum anyar tersebut dinilai merepotkan. Terlalu banyak memeras tenaga dan pikiran semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Guru harus lebih berkompeten dalam menerangkan materi-materi pembelajaran, murid dituntut untuk lebih kreatif, sementara orang tua harus lebih berperan aktif dalam kegitan belajar anaknya.

Ironisnya… ketika mayoritas para tenaga pendidik yang saya ketahui tengah berjuang memikirkan repotnya kurikulum anyar, secara tak sengaja saya mendapati gerombolan pengajar yang sibuk mendiskusikan  hal-hal yang sifatnya sangat non akademis.

Bolehlah membahas masalah rekreasi perpisahan untuk siswa kelas 6, tapi bukankah tahun ajaran baru dimulai 3 minggu? Reksreasi sekolah masih pertengahan tahun depan… masih sangat lama.. kenapa harus dibahas sekarang? Lalu kemudian mereka mengubah topik pembicaraan.. menjadikan ‘adegan kasur’ sebagai  bahan diskusi. Ohh… terserah mereka memang mau menceritakan hubungan dengan pasangan masing-masing, tetapi tak bisakah mendiskusikan hal-hal rahasia tersebut di tempat yang lebih tertutup?

Saat itu kami sedang di warung makan pinggir jalan. Banyak pembeli lain. Ada beberapa pembeli yang masih di bawah umur pula. Sangat tidak etis rasanya jika harus bertukar cerita mengenai hubungan suami istri di tempat tersebut.

Kenapa tidak mendiskusikan kurikulum yang katanya susah? 😐

Hebohnya Kurikulum 2013

Tiba-tiba saja dunia sekolah dasar di sekitar tempat tinggal dihebohkan dengan perubahan kurikulum. Saya hanya mendengar gerutuan wali murid mengenai kurikulum anyar tersebut melalui orang tua adek les. Masalah internet, raport online, hingga mata pelajaran tematik.

Hebohnya masya Allah…. dan sebagian besar dari orang tua murid yang heboh tersebut memusingkan masalah teknologi yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di semester ini. Lucu saja ketika harus mendengarkan ibu-ibu yang kebingungan dan mungkin setengah ketakutan saat mengatakan

“Internet iku opo… piye carane gawe” (Internet itu apa, gimana cara menggunakannya?)

Belum lagi mereka yang pusing dengan kurikulum 2013 yang mereka kenal sebagai kurikulum tematik. 😀

Ahh Ibu….

Internet itu tidak susah, kok… Hanya perlu dibiasakan saja. Tidak jauh beda dengan mengutakatik smartphone. BBM dan facebook-an saja lancar, masa iya hanya melihat nilai raport anak via internet gelagapan???

Dan tidak perlu juga memusingkan masalah kurikulum 2013. Sama saja. Mau kurikulum apapun semuanya sama-sama memberikan pengajaran bagi anak. Benar memang, orang tua harus lebih aktif di kurikulum baru ini… tapi kurikulum 2013 ini lebih ditekankan untuk mengup-grade kompetensi guru. Supaya para tenaga pendidik juga tidak ketinggalan zaman. Dunia sudah berkembang pesat…jika metode pengajaran di sekolah tidak dikembangkan juga; peserta didik di sekolah formal tidak akan belajar banyak. Kurikulum tematik tersebut juga diterapkan supaya anak tidak menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk selembar ijazah karena ‘rencana’ pembelajaran pada kurikulum 2013 tidak hanya mencakup IQ, tetapi juga EQ serta pengembangan bakat plus minat peserta didik.

Kalau benar-benar diterapkan… kurikulum 2013 ini oke kok…. 😀