Sebuah Pengingat Dari Seorang Adek Les

Malam itu saya tengah menghabiskan waktu bersama salah satu adek les yang menunggu jemputan mamanya. Richa namanya. Tangan kami sibuk dengan kertas lipat untuk membuat origami yang dia sebut sebagai ‘cubit-cubitan’ sembari mengobrol santai.

Obrolan yang sebenarnya lebih bersifat monolog Richa yang memang senang bercerita. Kemudian mencuat sebuah topik obrolan bertema cita-cita yang dilontarkan oleh Richa.

Richa : “Mbak, kemarin di sekolah aku baca puisi. Judulnya cita-citaku. Cita-cita mbak Mei apa?”

Sebuah pertanyaan yang entah kenapa tak bisa saya jawab.

Pertanyaan sederhana yang terlontar dari seorang bocah berusia 7 tahun tak bisa saya jawab. Mulut saya benar-benar terkatup tanpa suara. Bahkan rasanya jantung saya berhenti berdetak selama sepersekian detik. Dada terasa sesak. Saya, entah sejak kapan tak pernah lagi punya passion terhadap sesuatu yang berbau cita-cita. Hal yang saya ingat mengenai cita-cita di akhir-akhir waktu ini adalah penyanyi yang mempopulerkan sebuah lagu yang menjadi top hits di tempat kerja, bahkan mungkin di seluruh tanah air… -_-

Saya tak lagi punya cita-cita. Belum selesai meratapi diri yang merindu akan rasanya passion mengejar cita-cita, pernyataan Richa kembali membuat saya merasa miris..

“Cita-citaku guru mbak. Aku pengen kayak mbak Mei, bisa ngajarin murid terus muridnya jadi pinter. Nilainya jadi bagus. Besok karnaval di hari pahlawan aku maunya pake baju guru mbak…tapi bajunya gak ada.”

Sebuah pernyataan lugu yang membuat saya terenyuh. Oh Gosh…. Saya sama sekali tak pernah menyangka pemikiran tersebut akan muncul pada adek les. Saya sama sekali tak pernah berpikir dia menjadikan ‘guru’ sebagai cita-citanya. Menjadikan saya saya inspirasinya. Ironisnya selama mengajar, niat saya tak lebih dari sekedar mencari tambahan uang jajan, sementara bocah yang berusia 7 tahun memberikan pemikiran bahwa saya telah membuatnya pandai dan menjadikan sosok guru lesnya ini sebagai salah satu sosok pahlawan. Iya, saya memang mengajar.. tapi saya belum pantas menyandang predikat sebagai seorang guru. Belum, saya masih manusia biasa yang kebetulan bisa, memiliki sedikit pengetahuan, dan mau membaginya dengan siswa-siswi sekolah.

Terimakasih untuk ‘alarm’-nya, adek Richa….. Setidaknya monologmu bisa membuat saya kembali mengingat akan cita-cita serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap tanggung jawab pada bidang pekerjaan yang telah saya pilih.

P.S: Dear Richa…I wishes the best for you. You have to be better than me, girl!!

719 Cuk!!

 

Terhitung 5 tahun sudah saya bergelut dengan kota ini.

Merasakan panas yang naudzubillah… Macet jalanan yang tak pernah berhenti…. Air kran yang tak layak minum… hingga sungai beralirkan sampah saya temukan di kota ini!

Surabaya oh Surabaya….. Hari ini tepat 719 tahun usianya…. Saya bukan penduduk ber-KTP Surabaya, tetapi 5 tahun bukan waktu yang singkat untuk mendiami suatu tempat. Walaupun tak dilahirkan di Suroboyo…. boleh dong ikut merayakan semangat Sparkling 719 Suroboyo bersama penduduk asli 🙂

Happy anniversarry,  Suroboyo….. Semoga satu tahun ke depan bisa lebih baik dari 719 tahun sebelumnya! Siapa yang bisa menjadikan Suroboyo lebih baik? Tentu saja kalian yang telah meletakkan diri di kota pahlawan ini!

Jadilah penduduk Suroboyo yang taat peraturan… Jadilah penduduk Suroboyo yang selalu membuang sampah di tempatnya… Jadilah penduduk Suroboyo yang peduli terhadap sesama… Jadilah penduduk Suroboyo yang jujur…. Jadilah penduduk Suroboyo yang pintar… Jadilah penduduk Suroboyo yang religius… Jadilah penduduk Suroboyo yang terbuka terhadap arus global tetapi tetap kokoh dengan pondasi Suroboyo!

Selamat kepada kalian yang telah menghadirkan angka 719 bagi kota ini 🙂