Vihara Budha Tidur

Potret di Vihara Budha Raksasa

Di Depan Pintu Masuk. Berjajar Patung-Patung Budha yang tegak berdiri. Seakan-akan menjadi Pagar Ayu Bagi siapapun yang hendak memasuki ruang utama Vihara yang hanya dikhususkan untuk berdoa

Di Depan Pintu Masuk. Berjajar Patung-Patung Budha yang tegak berdiri. Seakan-akan menjadi Pagar Ayu Bagi siapapun yang hendak memasuki ruang utama Vihara yang hanya dikhususkan untuk berdoa

Bangunan Khusus Pemujaan

Bangunan Khusus Pemujaan

Patung Budha Tidur

Patung Budha Tidur

Di Tepi Kolam Teratai :)

Di Tepi Kolam Teratai πŸ™‚

Pose Terlarang 1

Pose di Tempat Terlarang 1

Pose di Tempat Terlarang 2

Pose di Tempat Terlarang 2

Dengan latar belakang Background Candi Borobudur. Semoga bisa mengunjungi aslinya kembali dengan segera

Dengan latar belakang Background Candi Borobudur. Semoga bisa mengunjungi aslinya kembali dengan segera

Advertisements

Liburan Tak Terencana (2)

Hari kedua… melanjutkan liburan tak terencana di Trowulan. Hari ini lokasi yang menjadi sasaran saya dan teman saya adalah Vihara Budha, Candi Tikus, dan Museum Majapahit.

Spot pertama adalah Vihara Maha Budha. Sebuah tempat yang menampilkan patung Budha raksasa dengan posenya yang tertidur miring. Sebenarnya, agak aneh dengan pose si Budha Raksasa. Mengapa harus berpose ‘tidur miring’ bak foto model? Kurang paham maknanya. Di area vihara juga terdapat sebuah pendopo mungil yang ditengahnya juga terdapat patung Budha (ukuran kecil) dengan pose wajar Budha pada umumnya. Patung Budha tersebut dikelilingi oleh cawan-cawan keramik yang berisi abu dupa plus beberapa batang dupa yang tertancap di atasnya.

Naluri saya dan kawan saya sebagai pelancong tentu tak bisa melihat objek yang tak ada di sembarang tempat seperti itu, jadilah kami menapakkan kaki di atas pendopo mungil tersebut dengan tujuan memotret pastinya. Nyaris semua sisi pendopo menjadi angel bidikan kamera kami. Hingga akhirnya kami membaca selembar kertas yang tertempel di salah satu pilar pendopo, isinya adalah “Dilarang Masuk Pendopo Bagi Yang Tidak berkepentingan/Melakukan Pemujaan/Ritual Doa. Dilarang Mengambil Gambar”. Nahhh looohhhh…. Serta merta kami melesat meninggalkan pendopo tersebut dengan cekikikan. Bukan maksud melanggar aturan, melainkan memang tidak sengaja melewatkan membaca peraturan yang tertempel di tempat yang bagi saya terkesan tersembunyi. Susah dilihat, sehingga membuat pengunjung yang tak mengerti seperti saya dan teman saya dengan bebasnya membidikkan jepretan kamera dengan pose-pose cantik kami πŸ˜€ Iya, saya akui kami bersalah…Tapi kami tidak sengaja. Jadi semoga tak ada azab dari apapun dan siapapun yang menyebabkan tempat tersebut tidak diperkenankan sebagai tempat berfoto.Β 

Selain patung Budha tidur dan pendopo kecil ‘terlarang’, di lokasi Vihara ini terdapat miniatur candi Borobudur. Hanya sebatas replika mini, tapi paling tidak menjadikan masyarakat sekitar dan yang belum mnengunjungi Borobudur mengeahui bagaimana rupa situs sejarah yang pernah menjadi 7 keajaiban dunia cagar budaya tersebut.

………………………

Dari Vihara Budha, kami menuju Candi Tikus. Berbeda dengan candi-candi lain di Trowulan, candi Tikus tidak menjulang tinggi, tetapi lebih terkesan berada di bawah tanah. Nama candi Tikus sendiri adalah sebutan dari masyarakat setempat karena pada saat pertama kali ditemukan, candi tersebut merupakan sarang Tikus. Bagi kerajaan Majapahit sendiri, Candi ini tidak diketahui dengan pasti fungsingya. Ada yang mengatakan sebagai tempat pemandian karena strukturnya dikelilingi kolam dan ada pula yang mengatakan sebagai tempat pemujaan.Β 

Bagi saya, candi Tikus sama seperti candi-candi lainnya. Situs yang menandakan Indonesia memiliki kejayaan di masa lalunya.Β 

……………………….

Museum Majapahit adalah destinasi terakhir kami. Sama seperti museum-musem kerajaan lainnya, isi dari Museum Majapahit adalah arca-arca, stupa, serta alat-alat yang berhubungan dengan kerajaan. Ada pula fosil dan cerita keseluruhan tentang kerajaan Majapahit yang dibingkai dalam pigura-pigura. Mulai cerita berdirinya, hingga penyebarluasan kekuasaannya dan juga pengaruhnya bagi keyakinan yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Jadi intinya, yang mau belajar sejarah, khsuusnya materi Kerajaan Majapahit, kunjungilah museum Majapahit. Biaya masuk hanya Rp 2.500 plus parkir motor Rp 2.000.

Dan liburan saya berakhir di tempat yang katanya sebagai arena bermain/taman Β putra-putri raja.

Semoga liburan tak terencana ini bisa menjadi dopping untuk memulai aktivitas kerja esok hari.

Saatnya bersiap pulang πŸ™‚

P.S: Terimakasih Aisha sudah membawa saya ‘belajar sejarah’ di liburan akhir pekan ini Β 

Berharap Akan Ada Liburan Lain

Berharap Akan Ada Liburan Lain

Pendopo Agung

Mari kita ke Pendopo Agung πŸ™‚

Patung Kepala Patih Gajah Mada

Patung Kepala Patih Gajah Mada

Saya Tak Tahu ini Patung Apa :P

Saya Tak Tahu ini Patung Apa πŸ˜›

Dan ini artinya apa????? :D

Dan ini artinya apa????? πŸ˜€

Gak tahu artinya juga...

Gak tahu artinya juga…

Relief Rlief Dinding, Kisah Perjuangan Pasukan Majapahit

Relief Rlief Dinding, Kisah Perjuangan Pasukan Majapahit

Di depan makam Paku Alam, lokasinya di belakang Pendopo Agung

Di depan makam Paku Alam, lokasinya di belakang Pendopo Agung

Mari Kita Pergi Ke TP

 

Sudah lebih dari empat tahun bersemayam di Kota Pahlawan, tetapi tak pernah sekalipun bermain-main di area Tugu Pahlawan. Kebangetan deh! Bukan tidak mau, melainkan memang tidak ada waktu. Selama empat tahun terakhir saya kan kuliah… jadi tak boleh terlalu banyak main…terlebih lagi jarak antara kampus saya dengan TP (red: Tugu Pahlawan) relatif jauh untuk ukuran seseorang yang buta akan kemudi motor πŸ˜‰

Dan akhirnya setelah lewat empat tahun, kesempatan tersebut datang. Bermain-main ke Tugu Pahlawan πŸ™‚ Yang perlu dicatat adalah bukan saat hari Minggu pagi karena di saat itu TP berubah menjadi pasar dengan aneka dagangannya. Mirip pasar minggu di kampus UGM atau sepanjang jalan Semeru di kota Malang. Benar-benar murni TP…. TUGU PAHLAWAN (not Tunjungan Plaza).

Ada apa di Tugu Pahlawan dan kenapa harus Tugu Pahlawan…

Ada Tugu… dan karena saya mau ke sana saja.

Memangnya tidak boleh?

Siang-siang setengah sore, bersama partner in crime setia….. kami berada di area TP. Niatnya adalah mengitari seluruh area TP. Tidak hanya melihat tugu Soekarno-Hatta yang memang terlihat jelas dari arah luar, tetapi juga mengetahui apa yang ada di balik tembok yang mengitari patung Soekarno-Hatta. Benar-benar ingin tahu. Dari luar, bagian dalam TP itu hanya lapangan berumput yang dihiasi dengan patung Soekarno-Hatta pada umumnya (memegang naskah proklaamasi) serta sebuah tiang bendera. Namun kata beberapa orang kenalan yang sudah pernah masuk, di dalamnya juga ada patung-patung pahlawan lain. Tak hanya Soekarno-Hatta. Namanya juga Tugu Pahlawan.

Hari Itu…..Sesampainya di sana…. TUTUP! 😦

Bagian dalam TP yang ingin saya ketahui tidak dibuka karena hari itu adalah hari cuti bersama. Petugasnya sedang long weekend sehingga saya dan Chaca tak bisa mengksplore bagian dalam TP. Lalu? Ya sudah…. tak bisa masuk ke dalam…..Kata petugas yang saya temui hari itu, di hari biasa TP buka mulai hari minggu hingga jumat. Sabtunya libur. Buka mulai pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB (kalau ini kata teman saya).

Sayangnya saya tak bisa membuktikan perkataan orang-orang tersebut. Kenapa tidak mencari informasi melalui mbah gugel saja? Bukankah saya telah mengatakan bahwa saya ingin melihatnya sendiri. Ingin mengetahuinya sendiri.

Langsung pulang? GAK DONG!!!!

Kami berdua memang berniat main-main di TP, jadi meskipun tak bisa melihat-melihat bagian dalam…. bagian luar juga lumayan. Beberapa dindingnya yang berukir relief-relief yang mengisahkan kehidupan masyarakat Surabaya di zaman kolonial Belanda atapun Japan juga bisa dijadikan arena jepret-jepret lensa kamera. Kebetulan juga saat itu langit sedang menampakkan view apiknya. Meskipun jalanan di depan TP dijejali dengan kendaraan bermotor, langit di atasnya tetap menampakkan biru cerah dengan beberapa ornamen awan. Cukup asik untuk diabadikan dalam bidikan kamera.

Karena masih belum menunaikan niat sepenuhnya…. tak banyak cerita yang bisa yang eksplore… cerita yang bisa saya paparkan mengenai kebenaran patung-patung pahlawan itu akan tersaji pada kunjungan ke TP di kesempatan berikutnya…. πŸ™‚ Paling tidak, saya sudah pernah berada di kawasan Tugu Pahlawan. Bukan untuk makan bebek pahlawan atau shopping barang-barang (relatif) murah, melainkan untuk melihat patung orang-orang yang membebaskan Surabaya dari tangan penjajah… Untuk merayakan hari jadi Kota Pahlawan, bukankah lebih tepat jika mengunjungi Tugu Pahlawan daripada uyel-uyelan di mall demi acara SSF πŸ˜‰

Tugu Pahlawan (1951) Bangunan Cagar Budaya. Bekas Gedung Raad Van Justitie yang dulunya adalah markas Kenpetai di masa penjajahan Jepang.

Langitnya bagus banget kan… Perhatikan saja langitnya. Abaikan lainnya πŸ˜‰

ceritanya di gambar itu, rakyat sedang merapatkan bagaimana caranya mengusir kolonial Belanda dan saya berusaha untuk menghormati mereka πŸ˜‰

Salah satu objek favorit saya adalah manusia yang kurang pekerjaan. Salah satunya adalah manusia yang hobi sekali memotret kawan-kawan tomcat (seerangga) πŸ˜‰

Wellcome to TP