Kerjakanlah Apa Yang Kamu Suka!

Tahukah kamu kenapa banyak orang yang selalu mengeluh dengan  pekerjaan yang sedang digelutinya? Jawabannya memang beragam. Banyak banget! Tak jarang sifatnya subjektif. Lalu ujung-ujungnya relatif. Dari sudut pandang saya, mereka yang mengeluh itu karena tidak mengerjakan pekerjaaan yang disukai. Memang, semua orang bekerja atas dasar penghasilan. Tuntutannya adalah uang. Tapi, kalau harus melakukan pekerjaan demi uang tanpa rasa suka akan pekerjaan itu… akhirnya berbagai keluhan terlontar.

Yang capek lah…pusing lah… kesel lah…mangkel lah….sakit perut lah…. dan apapun yang menggambarkan seakan-akan dirinya adalah mahkluk yang paling menderita di dunia!

Seorang teman kantor beda tugas selalu mengeluhkan betapa pekerjaannya itu tidak mudah, dan saya tahu akan hal itu. Dia juga selalu mengatakan bahwa badannya remuk redam karena setiap hari harus pulang hingga melewati batas jam kantor. Hal yang sebenarnya sudah saya sampaikan pada pimpinan kantor dimana memulangkan karyawan melebihi batas jam kerja tanpa ada kompensasi ekstra adalah melanggar Undang-Undang Pekerja. Tapi kemudian keluhan kawan saya itu merembet pada masalah membanding-bandingkan antara posisinya dan posisi saya. Dia berkata

Rasanya pengen tukar posisi biar teman-teman lain juga ngerasain pekerjaanku itu kayak gimana. Sudah pernah sih  sebenarnya, tapi gak bisa

Agak geli dengan pernyataan tersebut. Pertama karena jelas saya tak mau tukar posisi karena posisinya itu bukanlah pekerjaan yang ada dalam list pekerjaan impian saya. Saya sudah menjadi apa yang saya cita-citakan, kenapa harus bertukar posisi? Dan yang kedua karena saya merasa kami tidak pernah bertukar posisi sehingga kalimat ‘sudah pernah sih’ itu terlalu lebay! Belum lagi kata ‘gak bisa’! Uhh…seakan-akan pekerjaannya adalah yang paling berat sedunia. Sempat membatin “memangnya situ bisa ngerjain tugas gw?! Songong banget” karena pada kenyataannya memang dia tak punya talenta untuk melakukan pekerjaan yang saya lakukan (bukan sombong, cuma bicara fakta 😛 ).

Tapi ya itu tadi, faktor tidak suka adalah pemicu utamanya. Pasti! Dia mungkin bisa menerima pekerjaannya sehingga mau melakukan apapun tugas yang dibebankan. Namun karena tidak benar-benar menyukai, setiap ada masalah pastilah keluar berbagai keluhan.

Kalau suka, harusnya bisa menerima risiko apapun. Baik buruk, positif negatif, hingga susah senangnya.

Saran saya, kalau memang masih saja mengeluhkan pekerjaan yang kita lakukan….resign!!! Carilah pekerjaan yang benar-benar kita sukai. Daripada mengeluh setiap hari? Kasian yang dengerin keluhan, sakit kuping! Bekerjalah di dunia yang benar-benar kalian suka, niscahaya kalian akan bahagia. Masalah tahta dan rupiah itu urusan Gusti Allah, yang penting kita sudah berusaha 🙂

Advertisements

Kawan Kantor Yang Pergi (Lagi)

Ahhh…lagi-lagi harus kehilangan teman kantor untuk yang keberapa kalinya. Begini ya rupaya dunia kerja. Orang datang dan pergi tanpa pernah diduga. Ketika sudah terbiasa dengan keberadaannya, lalu tiba-tiba tak bisa lagi bersua gara-gara bermacam alasan….rasanya aneh. Dunia kerja ini benar-benar menguras akal dan fikiran. Seperti dipermainkan setiap saat.

Harus kenal dengan seseorang, lalu kemudian saat sudah mulai mengenal, si rekan harus hengkang dari kesebelasan kantor. Lalu kemudian datang lagi orang baru yang membuat saya harus kembali mengenal karakter dan perilakunya sebagai rekan kerja. Profesional dalam melakukan pekerjaan itu harus, tetapi lingkungan kerja juga menjadi pendukung  baik buruknya sebuah kinerja.

Dan bagi saya, gonta ganti rekan kerja itu sama halnya dengan lingkungan yang tidak mendukung. Ibaratnya sebuah tim sepakbola…. seorang striker yang harus berganti-ganti tandem second striker bukan tak mungkin performanya menurun. Tak bisalah menciptakan tim kuat jika skuadnya harus bongkar pasang sebulan sekali. Ada waktu untuk adapatasi dan saling mengenal satu sama lain. Perlu juga acara untuk membangun suatu chemistry. Kalau sebulan sekali ada personel yang datang dan pergi, tim kuat yang bisa meraih kemenagan akan sulit dibentuk.

Ya, mau bagaimana lagi…. Saya tidak punya kapasitas dan wewenang untuk membentuk kebijakan mengenai ‘sebuah tim ideal’. Tapi saya berharap, kondisi yang kerap berubah-ubah ini, baik sistem maupun anggotanya, tidak menyurutkan semangat saya dan rekan-rekan lama yang masih bertahan untuk tetap melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab.

Saya masih percaya bahwa rencana Tuhan jauh lebih indah daripada persiapan matang saya dan siapapun. Semoga teman-teman yang tak lagi menjadi kawan kantor saya bisa mendapatkan kantor lain yang kalian cita-citakan 🙂

Hanya Masalah Sepele, Mei!

Saya: “Mas aku minta kerjaan”

Mas: “Iya sebentar, Mei. Ini punya si A. Kemarin kayaknya salah file”

Tiba-tiba datang seseorang yang memotong perbincangan saya dan Mas Senior.

Miss K: “Kemarin aku sudah ngasih ke kamu filenya yang bener. Kok bisa ngerjain file yang lama”

Saya: diam. Sembari berfikir.

Mas: “Mungkin si Miss yang salah kasih, Mei. Kamu baca dulu materinya, terus kalau bingung kita discuss” (berkata pelan, setengah berbisik)

Saya: mengangguk

Awal yang tidak menyenangkan untuk memulai pekerjaan. 

Selalu saja ada hal yang membuat tekanan darah ini meningkat. Sesuatu yang sifatnya sepele bisa membuat pikiran dan akal hilang entah kemana. Tak jarang juga hal sepele yang membuat rasa kesal itu berasal dari seseorang yang cukup akrab atau teman dekat sendiri bahkan bisa saudara sendiri. Dan lagi-lagi sesuatu yang sepele namun mengesalkan itu sealalu saja bersumber dari tempat yang namanya kantor. 

Setelah menerima file dan berkas-berkas pekerjaan saya segera menuju meja kerja. Hal yang saya lakukan adalah mengecek apa yang sudah dikatakan oleh Miss K pada saya. Apakah benar perkataannya tersebut. Saya cek file yang dia beri dengan file yang baru saja saya terima hari ini. Dan hasilnya tidak sama. Terus…. apa itu salah saya? Memangnya saya bertugas mengurusi file-file pekerjaan? Memangnya saya yang menata file baru atau file lama? Tugas saya hanya mengerjakan file yang saya terima. Mana saya tahu itu file lama atau baru?! Itu tugas administrator, bukan tugas writer!! Kalau misalnya si admin kebingungan memilah file lama atau file baru karena file pekerjaan terlalu banyak, kenapa tak diatur yang bener filenya? Please deh… apa sih susahnya memilah-milah file sesuai deadlinenya? Membuat folder masing-masing dan mengelompokkannya sesuai tanggal pekerjaan atau sesuai apapun yang admin suka, apa susahnya? Kalau sampai ada kejadian salah memberikan file karena kebingungan membedakan file lama dan file baru, jangan menyalahkan orang lain yang tugasnya tidak mengatur file pekerjaan dong! Saya sendiri sudah berusaha mempermudah tugas mereka dengan menamai file pekerjaan sesuai tanggal pengumpulan plus nama client. Terus kalau saya disalahkan karena hal yang bukan tanggung jawab saya, ihhh… ogah!!!

Saya memang bukan orang yang paling sabar di dunia. Bukan juga mahkluk paling berbesar hati yang bisa menerima setiap kritik dan saran. Tapi mengingat watak saya yang kata orang keras kepala, idealis, dan pantang pulang sebelum menang…. perilaku yang sudah saya tunjukkan dalam menghadapi setiap hal sepele namun menyebalkan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Sungguh, butuh ratusan istighfar supaya saya bisa menahan diri untuk tidak meletup-letup. 

Mungkin ada baiknya juga anugrah sifat cuek dan tak peduli yang Tuhan beri pada saya, sebagai penyeimbang sikap frontal dan keras kepala saya yang luar biasa. 

Saya diam saja ketika Miss K si admin seakan-akan menyalahkan saya karena pekerjaan yang diminta tidak sesuai dengan request client, tapi frontal, keras kepala, dan tak mau kalah ini tetap harus saya lampiaskan. Mulut diam, tapi tulisan tetap jalan 😛

Saya tahu bahwa masalah sepele namun membuat kesal ini tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada dan muncul pada waktu yang tak bisa diterka. Selama saya masih hidup, selama itu pulalah hal sepele yang membuat kisruh akan hadir. Karena itulah saya hanya berharap untuk tetap bisa menahan diri supaya sesuatu yang sepele tidak menjadi penyulut masalah besar. Capek kalau harus menghadapi masalah yang sebenarnya tak layak dipermasalahkan. Untuk apa juga membingungkan hal yang tak layak dibingungkan? Ikhlas mungkin sulit, tapi setidaknya saya harus bisa menerima apabila besok, lusa, dan kapanpun sesuatu yang sepele itu kembali mencolek saya. I Can, Therefore I’m 🙂

Saat Sedang Tidak Ingin Menulis

Lagi-lagi sedang terbentur dengan masalah “sedang tidak ingin menulis”. Kalau sudah ini masalahnya, mau dibuat bagaimana juga tetap tak bisa menghasilkan apa-apa. Hanya bisa mencoret-coret buku sembari mengetikkan kalimat seadanya yang mau muncul dari celah pikiran yang entah mengapa mengecil. Mau dipaksa bagaimana juga tetap saja tak bisa menghasilkan rangkaian paragraf berisi.

Nah kalau sudah begini rasanya saya ingin tidur saja. Iya. Tidur adalah salah satu cara saya untuk memunculkan kembali passion untuk menulis. Tidak perlu lama, cukup 2 jam saja. Setelah bangun, bergegas menyeduh serbuk kopi (instan) ke dalam cangkir favorit. Lalu kemudian menyalakan si leppie dan fokus membaca-baca materi yang berkaitan dengan tema yang akan dituturkan.

Simple.. Tidur lalu minum kopi. 

Itu adalah cara saya untuk membangkitkan rasa tak ingin menulis. Tapi masalahnya adalah kondisi “tak ingin menulis” tersebut kerap kali muncul di saat jam kerja. So, saya sih tak mau ambil pusing. Karena di jam kerja saya “tak ingin menulis” maka saya melakukan pekerjaan sebisa dan semaksimal saya di waktu “tak ingin menulis” tersebut, tapi bukan berarti tak ada konsekuensi. Selalu ada untung rugi. Karena prinsip saya menyelesaikan pekerjaan harus sesuai dengan deadline kantor maka mau tak mau saya harus menyerahkan waktu petang saya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai.

Untungnya selama ini kondisi “tak ingin menulis” tak pernah datang di waktu malam saya. Entah mengapa malam dan dini hari adalah saat dimana otak menunjukkan produktivitas yang jauh lebih maksimal daripada prooduktivitasnya di siang hari. Untungnya lagi adalah saya bisa menjadi manusia nocturnal tanpa mengurangi kewajiban saya  sebagai pekerja diurnal . Dan lebih untung lagi adalah kondisi “tak ingin menulis” tak pernah menghampiri di saat saya berada pada tenggat waktu pengumpulan. 

Dan selepas ini acara saya sudah pasti. Tidur dulu, lalu minum kopi, lalu menuntaskan pekerjaan yang harus selesai esok sore.

Karena ‘Mengerti’ Lebih dari Sebuah Kata

Semua orang meminta “Tolong mengerti aku”

Semua orang bersikeras “Kita ngerti kalian, Tapi Tolong ngertiin kita

Bagi saya, mereka yang meminta untuk dimengerti bukanlah sosok yang bisa mengeti orang lain. Simple. Gunakan saja teori sebab akibat. ‘tidak mau mengerti‘ maka ‘tidak dimengerti‘.

Karena itulah saya benar-benar muak karena masih saja ada perkataan “Aku ngerti, Mei penulis itu butuh suasana kondusif. Tapi penulis juga harus ngerti dong sama manajemen yang juga punya deadline

PREEEEEETT!!!

Rasanya telinga ini sakit dan gatal ketika pernyataan “tolong ngertiin admin dan editor“.

Uhh…padahal ya dari awal saya sduah menegaskan bahwa saya bukan tipe pekerja yang suka direcoki ketika mengerjakan tugas. Saya tidak suka didatangi beberapa kali untuk ditanyai progress pekerjaan harian. Saat saya mengajukan protes mengenai hal tersebut, jawaban yang saya terima adalah

Takutnya mbak Mei, kesulitan

UUUHHHHHHHH….Padahal saya juga sudah menegaskan bahwa saya sendiri yang akan meminta bantuan jika mengalami kesulitan dan kalau saya tidak meminta bantuan berarti saya memang tidak mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas yang telah dibebankan. Tapi tetap saja ada mas-mas atau mbak-mbak yang menghampiri meja kerja untuk bertanya “ada kesulitan yang bisa dibantu, mbak?” -_______-

Apa itu yang namanya mengerti?? Saya sudah berusaha untuk berlaku profesional. Mendapatkan tugas, dikerjakan, dikumpulkan sesuai deadline. Tanpa pernah memprotes topik yang harus saya jabarkan dalam ribuan kalimat. Saya rasa dengan menyelesaikan tugas sesuai konsep dan tepat waktu sudah termasuk dari ‘pengertian’ yang kerap kali disampaikan oleh mbak-mbak dan mas-mas yang mengurusi masalah orderan!

Jadi rasanya bullshit sekali ketika mereka menyampaikan “aku sudah berusaha ngerti bagaimana penulis”, sementara mereka juga minta dimengerti. Kalau mau mengerti seseorang, tak perlu menuntut untuk dimengerti karena itu berarti mereka tidak benar-benar mengerti.

Berhentilah berkata “ngetiin aku” atau “aku ngerti kamu” di hadapan semua orang, karena mengerti harusnya lebih dari sekedar ucapan!

Serangan Underpressure!

Ketika deadline mulai mengejar dan tak bisa lagi ditangguhkan, keteganganpun tak dapat dielakkan. Awal tahun benar-benar penuh dengan pekerjaan yang menekan. Akibatnya seluruh kantor berada di bawah tekanan. Underpressure all the time. Semua orang memang masih tertawa-tawa dan bercanda satu sama lain, tetapi raut mereka tidak bisa lepas dari yang namanya ‘tertekan’!

Ada yang menangis, ada yang tiba-tiba diam, bahkan ada yang lari ke Alfamart depan kantor untuk membeli minuman dingin dan meletakkan botol minuman tersebut di dahinya… mungkin supaya bisa menurunkan suhu kepala yang panas karena tegangan kantor.

Dan hari ini, ketegangan yang sudah saya tamengi untuk tidak mendekati saya ternyata lolos dari jebakan tikus. Ketegangan itu pun meledak di pagi ini. Dan korban ledakannya adalah seorang mas-mas yang sebenarnya tidak salah apa-apa. Dia hanya sekedar bertanya apakah saya sudah menyelesaikan deadline pekerjaan hari ini, tetapi jawaban saya ‘BELUM’ dengan ketegasan nada 6 oktaf. Saya kesal karena saat itu saya tengah berkonsentrasi pada proses editing. Mengecek penulisan setiap paragraf. Lalu tiba-tiba datang sosok yang menanyakan pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai, sehingga rusaklah konsentrasi dan mood saya. Akhirnya keluarlah satu kata yang sebenarnya sederhana. Hanya kata ‘belum’, tetapi saya ucapkan dengan nada yang tidak menyenangkan.

Si masnya sih hanya menimpali kata ‘belum’ saya dengan hembusan nafas panjang, tapi itu sudah cukup membuat saya menyesal.

Duhhhhhh… menyesal karena tidak bisa mengontrol emosi. Menyesal karena menuturkan sebuah kata yang tidak menyenangkan. Saya pasti tidak suka jika mendapatkan jawaban kurang menyenangkan dari seseorang yang saya tanyai, tapi saya sendiri memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan pada orang. Huhuhuhuhuhu…. menyesal.

Akibatnya konsentrasi saya semakin buyar. Semakin tidak bisa menuntaskan pekerjaan yang sudah selesai.

Harusnya ya… setertekan apapun, semarah apapun, setegang apapun… saya tidak patut bersikap tidak menyenangkan pada sosok yang memang menjalankan tugasnya. I really sorry for that. For sure!

Dan sebagai bentuk penyesalan, saya sudah meminta maaf atas sikap konyol yang sudah saya tunjukkan. Untunglah si masnya berbaik hati untuk memaklumi sikap edan saya padanya di pagi ini.

Pelajaran penting supaya saya  lebih bisa mengontrol emosi dalam kondisi apapun, khususnya pada masa tegang di kantor seperti sekarang ini. Deadline boleh menumpuk, tapi suasana hati tidak boleh buruk. Lagipula deadline itu adalah tumpukan pekerjaan yang saya suka… pekerjaan yang saya pilih… Jadi, kenapa harus terpancing dengan pressure?

Underpressure?? NOPE!!!!

Rasanya Teman Kantor di PHK

Awal pekan di kantor disuguhi dengan acara perpisahan dengan seorang rekan kerja. Sebuah acara yang membuat semangat awal pekan menjadi sedikit berkurang. Memang bukan baru pertama kantor ini memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya, tetapi kali ini rekan kerja yang terdepak adalah partner kerja yang paling saya suka. Seorang rekan kerja yang bisa memberikan warna di antara kebutekan jam kerja saya. Rekan seruangan pula 😦

Melihat meja kerjanya yang tiba-tiba tak berpenghuni untuk waktu yang tak dapat ditentukan dan tak mungkin diisi oleh individu yang sama.

Terlepas dari bagaimanapun kinerjanya sehingga perusahaan tidak lagi membutuhkan jasanya, sosok yang menjadi korban PHK kantor kali ini adalah sosok yang menurut saya paling bisa bergaul dengan saya. Saat saya pertama kali masuk ke dalam perusahaan ini, sosok itulah yang membuka tangannya untuk menyambut saya. Sosok yang paling awal menerima cara saya bekerja dan bercanda. Sosok yang mungkin memang tidak bisa saya ajak bertukar pikiran, tetapi adalah satu-satunya orang yang bisa saya ajak bercanda di kantor ini sehingga bisa sedikit merendahkan tekanan deadline setiap harinya.

Sekarang, setelah tidak ada lagi sosok seperti itu…. rasanya aneh. Sedih mungkin. Atau apa ya? Rasanya seperti berada di ruang hampa udara. Tidak tahu harus bagaimana. Dan karena memang tidak punya kuasa, saya hanya bisa menerima bahwa sebuah meja telah kehilangan penghuninya. Semoga saja ketidaknyamanan ini tak terus saya rasakan sehingga mengganggu peforma kerja saya ke depannya.

Lebih Keras, Lebih Cepat, & Lebih Cerdas

Kemarin kantor mendatangkan seorang motivator. Tidak sekelas Mario Teguh memang, tetapi tetap seorang motivator. Namanya siapa juga saya lupa (hehehehe 😛 ). Karena saya memang bukan seseorang yang suka dengan acara-acara seminar, prosiding, atau apapun yang berhubungan dengan kumpul-kumpul di dalam sebuah ruangan, tidak ada antusias khusus seperti rekan kerja lain dalam menyimak aksi si motivator.

Tapi bukan berarti saya tidak acuh. Ada quotes yang membuat saya terdiam dan merasa tertusuk. 

“Tetaplah Bekerja Lebih Keras, Tetaplah Bekerja Lebih Cepat, & Bekerja lebih Cerdas”

Rasanya seperti sebuah nasihat akan kinerja saya yang akhir-akhir ini memang sedikit di bawah standar. Saya memang masih lebih keras bekerja dibandingkan teman-teman lain. Masih lebih cepat juga dari mereka. Dan juga tetap berusaha lebih cerdas. Tapi lebih keras, cepat dan cerdas yang saya lakukan berada di bawah standar performance saya. Sangat jauh berada di bawah standar sehingga hasilnya hanya sekedar ‘baik’, tidak ‘excellence‘.

Karena itulah rasanya saya harus segera memperbaiki kinerja. Lebih keras lagi. Lebih cepat lagi. Lebih cerdas lagi.

Bukan untuk siapa, tapi untuk saya. Hanya untuk kebaikan saya saja. 

Whatever w/ Your Mouth

Ada sebuah penilaian yang tidak sengaja saya dengar dari seseorang tentang cara kerja saya. Mereka menilai bahwa saya seringkali terlihat santai di saat jam kerja. Bisa sambil ngetwit, sambil upload foto di FB, sambil edit-edit foto, dan bahkan sambil ngeblog. Tapi pekerjaan selesai. Sampai sekarang saya tidak pernah mengerti bagaimana caranya saya terlihat santai di depan kawan-kawan sementara pekerjaan yang saya lakukan relatif lebih berat dari mereka.

Sebenarnya itu hak mereka untuk mengemukakan pendapat. Itu juga kebebasan mereka untuk memberikan penilaian. Tapi sebagai manusia normal, ada saat dimana saya merasa jengah dengan komentar-komentar mereka. Ada waktu dimana saya ingin menampar mereka satu-persatu. Menonjok wajah mereka yang mengatakan saya tidak bekerja.

Belum lagi ketika atasan memberikan nilai yang lebih positif terhadap saya yang kata mereka tidak melakukan apa-apa sementara nilai mereka tidak memuaskan padahal mereka telah bekerja dengan  sangat keras. Dengungan pun semakin keras terdengar di telinga saya.

Kalau memang saya tidak mengerjakan apa-apa, kenapa ada nilai positif dari atasan?

Saya juga tidak tahu dan bahkan sampai sekarang bertanya-tanya mengapa saya tidak pernah terlihat rempong seperti teman-teman lain. Membuat semua orang di satu divisi berkumpul mengitari meja kerja untuk memecahkan masalah yang tampaknya tak mau dipecahkan. Mengerutkan dahi sepanjang hari tanpa mau bertegur sapa dengan rekan kerja.

Bukannya saya tidak pernah ada masalah, atau tak pernah diam sepanjang jam kantor. Tapi bukan berarti harus mengabaikan teguran rekan kerja. Bukan berarti harus tetap memandang layar leptop sok sibuk dan sok pekerja yang tugasnya paling berat sedunia.

Tugas yang saya terima memang berat. Bukan tugas ringan di lingkungan kerja yang saya pilih. Tapi kalau saya bisa menyelesaikannya dengan santai, kenapa harus menggebu-gebu? Kalau dengan senyuman bisa diselesaikan, kenapa harus mengerutkan dahi? Ini pekerjaan pilihan saya, susah atau tidak maka saya tetap suka melakukannya. Itulah prinsip saya.

Tapi tetap, rasanya kesal dan sedikit terganggu atas penilaian mereka terhadap kinerja saya. Manusiawi jika saya kesal atas dugaan konyol mereka mengenai cara kerja saya. Kalau memang mau bersantai-santai FB an, Twitter an, nonton video Youtube, dan apapun yang santai-santai…. kenapa tak lakukan saja? Toh Saya tak pernah ikut campur dengan apa yang mereka lakukan selama jam kerja. Bukankah setiap individu telah memiliki tugasnya masing-masing?

Tapi yang aneh adalah, ketika mereka yang merasa bekerja keras sampai ‘tak sempat’ main-main di FB malah kelabakan dengan tugasnya sehingga tugas tersebut harus dikerjakan oleh orang lain. Hebat!

Jadi, siapa yang salah?

Awal Pekan Mencekam!

Inilah susahnya kalau harus bekerja di bawah empat orang atasan sekaligus dimana keempatnya memiliki tipikal yang berbeda tapi merasa memiliki satu visi padahal visi mereka sama sekali tidak sama. Yang satu ngomong A, satunya nyuruh C, lalu yang lain minta Z. 😦

Bisa bekerja dalam kondisi tertekan dan selalu dikejar deadline bukan berarti seseorang tidak membutuhkan waktu untuk merenggangkan otot. Sedekat apapun deadlinenya….Sebesar apapun tekanannya, yang namanya pekerja tidak bisa memaksimalkan hasil kerjanya kalo punya atasan yang tak bisa menggunakan otaknya dengan bijak. Bukan masalah deadline atau pekerjaan yang menumpuk, melainkan cara atasan mendelegasikan tugasnya secara tidak pintarlah yang membuat saya geregetan.

Ini hari Senin, awal pekan. Hari dimana seharusnya pekerjaan diawali dengan semangat dan energi positif. Tapi sayang, gara-gara seorang atasan yang kurang cerdas… awal pekan ini harus saya mulai dngan gerutuan 😦

Setahu Saya sih, yang namanya atasan itu harus lebih cakap dan lebih mahir dari pada anak buahnya. Tak harus bergelar lebih tinggi atau lebih tua memang, tetapi paling tidak bisa menggunakan jabatannya secara bijak. Ini sebaliknya… satu dari empat orang yang mengawasi pekerjaan saya, bukanlah seseorang yang menurut saya memiliki kapasitas untuk menjadi seorang atasan.

Pertama… karena kami bergerak di area tulis-menulis, sudah pasti harus tahu dan bisa merangkai kata menjadi rentetan kalimat yang layak dibaca dan dimengerti secara ilmiah. Tapi tak tahu kenapa beliau tak punya kemampuan untuk itu. Bulshit sekali saat beliau memberikan penilaian terhadap hasil kerja anak buahnya, sementara pekerjaannya sangat tidak layak untuk seorang koordinator! Serius…jangankan membuat artikel ilmiah sebanyak 10 halaman, membuat dua halaman pertanyaan wawancara saja tak bisa dilakukannya!

Kedua……. di matanya, semua orang bernilai negatif! Tidak ada sisi positif dari setiap orang yang bekerja untuknya.

Ketiga….. Suka sekali mencari muka dnegan bermanis-manis ria di depan seseorang, tetapi bermuram durja di belakangnya. Sinting! Maaf saja…dia tak akan pernah menemukan mukanya di tempat saya!

Bukannya mau menjelek-jelekkan salah satu atasan, atau memberikan penilaian buruk terhadapnya… melainkan hanya kesal saja karena nyaris setiap hari beliau menunjukkan perilaku yang menurut saya tidak profesional. Bagi saya, keberadaannya di kantor ini tak lebih dari sampah. Ya… sampah! Entah demi apa bos besar mempertahankannya… tapi jika memang harus memberikan penilaian positif… satu-satunya hal yang baik dari sampah adalah sebagai sumber energi bagi detritus

Entah apa lagi tekanan yang akan beliau berikan pada saya… Jika kasak-kusuk yang saya dengar akan tabiatnya pada ‘anak baru’ yang menurutnya ‘berbahaya’ benar, saya benar-benar akan membahayakannya!

Please Bos…Jangan Lama-Lama!

Meskipun pekan ini tak diawali dengan semangat 3 poin, paling tidak saya masih memiliki semangat untuk menatap layar lepi guna menuntaskan kewajiban saya pekan ini. Sayangnya semangat satu poin (namun tetap capolista) yang saya usung harus mandek gara-gara koordinator tercinta tidak datang tepat waktu. Entah apa yang membuat beliau terlambat ngantor selama dua jam. Karena biasanya si bos mengirimkan file-file pekerjaan via email, segeralah saya meluncur ke akun surel tersayang. Sayang, tak ada  surat cinta harian dari pak bos. Akhirnya memang harus menunggu.

Kemudian iseng-iseng saya mengecek daftar pekerjaan yang sudah saya lakukan di bulan ini. Hasilnya adalah saya hanya menyisakan dua biji tugas di bulan ini. Karena itulah, semangat yang tadinya menyurut akibat keterlambatan atasan kembali meningkat. Saya bertujuan untuk menuntaskan sisa pekerjaan tersebut secepatnya. Supaya beberapa pekan ke depan saya bisa sedikit beristirahat (red: malas-malasan 😉 ). Saya pun menempelkan sebuah memo di monitor PC si bos untuk meminta file pekerjaan dengan segera. Sementara si bos datang dan membaca sticky note yang saya tempel di kompie beliau, saya berkelana di dunia maya 😉

Dua jam 15 menit setelah saya meletakkan memo tersebut, si bos datang. Kemudian beliau memanggil saya dan bertanya

File pdf yang mana, Mei? Kamu ngerjain apa sih hari ini?

Saya pun menjadi takjub. Padahal materi yang saya minta tersebut sudah saya minta minggu lalu, dengan maksud mempelajarinya terlebih dahulu sebelum mengerjakannya. Namun si bos tak juga memberikannya pada saya entah karena apa.Karena deadlinenya memang masih panjang maka saya tak terlalu mengoyak-ngoyak pak bos untuk segera mengirimkan materi pekerjaan tersebut pada email saya. Dan hari ini ketika tak ada lagi berkas kerja yang tersisa, maka tidak salah jika saya meminta file pekerjaan yang deadline masih lama tersebut. Pekerjaan yang entah kenapa dilupakan oleh atasan 😦

Ternyata seorang atasan juga bisa melupakan pekerjaan untuk anak buahnya. Haduhhh….Menjadi bawahan itu memang repot ya. Mengerjakan deadline malas-malasan mendapatkan teguran bahkan resiko pemecatan, mengerjakan cepat  malah membuat bos pikun >.< Kalau harus terus-menerus menunggu bos untuk menyelesaikan setiap pekerjaan, bisa-bisa speedy saya tak lebih dari kuota paket internet kartu GSM yang perlu speed boaster. LAMA!!!!!!!!!!!!