Pendaki Juga Harus Religi

Salah satu hal yang paling saya suka saat mendaki adalah kesan religi yang tiba-tiba muncul. Bahkan kadang-kadang, seseorang akan lebih religius saat berada di atas gunung daripada di bawah gunung.Memang sih…sifat religius orang itu adalah salah satu bawaan individu masing-masing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa gunung bisa menjadi salah satu tempat dimana manusia bisa mengucapkan kata tobat.

Para pendaki,yang muslim, rasanya tak akan pernah meninggalkan shalat 5 waktu. Atau yang paling sederhana, mereka akan melafalkan kalimat-kalimat Tuhan sebagai bentuk pujian atas keindahan alam yang tiada duanya. Contoh saja kawan seperjalanan saya si aisyah Babon… walaupun kosakata Jancuknya masih saja berkumandang, di sela-sela itu ada lafalan kalimat pujian seperti Subhanallah dan Alhamdulillah…Bahkan tak jarang ia mengucapkan Allahu Akbar.Sesuatu yang tak pernah (jarang) saya dengar dari ais babon saat kami bersama di dataran rendah.

yang paling saya suka lagi adalah pendaki yang tak lupa melaksanakan shalat 5 waktu. Hei…mendaki bukan berarti harus lalai terhadap kewajiban kita sebagai umat Tuhan bukan? Daki jalan, shalat pun tak pernah ketinggalan!

Salah satu pendaki yang tak lalai dengan shalatnya πŸ™‚ Gantengnya nambah 100000%

 

Advertisements

Siang Hari di Ranu Kumbolo Bersama Sendu

Senja diantara tenda-tenda kuning

Berada di samping sebuah batu. Semacam monumen sederhana untuk seorang pendaki yang meninggal di tanah Semeru. Beberapa penduduk setempat meyakini bahwa monumen batu ini memiliki penjaga Kumbolo yang wajib disembah. Karena itulah ada beberapa sesajen seperti potongan pisang rebus dan kelopak-kelopak bunga di sekitar batu tersebut.

Sebuah Batu Nisan Lain untuk mengenang seorang sahabat, kawan, kerabat yang menghembuskan nafas terakhirnya di tanah Semeru. Di Ranu Kumbolo sendiri ada sekitar 5 batu nisan yang merupakan simbol bahwa nama yang terukir di batu nisan tersebut pernah ada di Semeru. Batu Nisan di atas bisa dijumpai di awal Tanjakan Galau.

Maunya sih mengheningkan cipta sejenak…tapi kenapa pose si senja menantang begitu ya?? Merusak suasana haru nan mistis πŸ˜‰

Hi guys… inilah Tanjakan Cinta yang sempat membuat Galau beberapa pendakinya. Tanjakan Cinta selesai, mimpi selanjutnya adalah Bukit Penyesalan. Setelah menuntaskan Semeru tentunya (semoga).

Di sisi Selatan Ranu Kumbolo

Semeru, Mimpi Yang Belum Usai (4)

13 Oktober 2012

(17.30 WIB)

Tiba-tiba saya merasa kedinginan. Benar-benar merasa kedinginan. Badan ini menggigil tak karuan. Tidak tahu kenapa rasanya tubuh tak bisa mentolerir suhu Ranu Kumbolo yang begitu rendah. Telapak tangan saya membengkak. Pokoknya dingin banget dan membuat saya kembali melungker di dalam tenda dengan tubuh tertutup jaket, kaus kaki tangan, syal plus sleepingbag.

Dan saya tertidur.

(18.40 WIB)

Where is the toilet?

Pertanyaan itu membuat saya terbangun. Saya tidak tahu siapa penanyanya, tetapi dari aksen suaranya saya tahu bahwa seorang bule tengah menanyakan toilet pada siapapun yang berada di depan tenda kami.

Lalu saya kembali tertidur selama beberapa saat karena kemudian saya mendengar double Aisyah tertawa ngakak dengan suara kencang dan cemprengnya.

Beberapa menit kemudian Aisyah Kemplo & Aisyah Babon measuk ke dalam tenda kami dengan sajian makan malam. Hihihihihihihi…lagi-lagi hidup bagai pemalas… Bangun tidur langsung menyantap makanan tanpa perlu ikut rempong di depan kompor πŸ™‚

Menu makan malam kami adalah sayur sop dan mie telor dengan makanan penutup kolak kacang hijau. Menu yang kata salah satu pendaki lain sangat istimewa dan membuat mereka terpana karena kami (Ais Babon) masih sempat memasak sesuatu di luar mie instan dan sosis πŸ™‚ Kalau kata Senja, mendaki tidak harus mengurangi asupan nutrisi bukan?

Sembari menyantap menu spesial itu terkuaklah kisah mengenai gelegar tawa double Aisyah yang membangunkan saya.

Ceritanya ketika mereka sedang memasak, seorang bule menanyakan letak toilet pada mas-mas pendaki yang dilewatinya. Si mas yang ditanya dengan santainya menunjukkan pada bule letak toilet umum yang ada di bumi perkemahan ini.

Over there, miss” kata si mas pada bule yang sepertinya memang sedang kebelet.

Kebetulan toilet tersebut letaknya tak jauh dari tenda kami. Double Aisyah yang menyaksikan bule tersebut meluncur ke arah toilet kemudian saling pandang dan salah satunya berkata;

Yuk kita lihat bagaimana ekspresi si bule setelah melihat toilet

Setelah hitungan ketiga yang mereka buat, terdengarlah suara keras bule;

Oooohhhhh…. MY GOOOODDDDDD

dan ekspresi bule itu disambut tawa ngakak Aisyah Kemblo & Aisyah Babon.

Hihihihihihihi….mungkin si bule tidak benar-benar mengenal Indonesia. Mungkin si bule tidak paham betul akan karakter budaya masyarakat kita. Karena jika telah mengerti, bule tersebut tidak akan mungkin mau melongokkan kepalanya ke dalam toilet umum Indonesia….. di atas gunung pula!

Tahu kan maksud saya……. πŸ™‚

Saya sendiri tak tahu apa isi toilet tersenut. Namun mendengar cerita dari salah satu pendaki bahwa di dalam sana banyak bungkusan yang tidak pantas untuk dibungkus serta teriakan bule yang sangat ekspresif setelah melihat isi toilet maka bisa dibayangkan bagaimana tak pantasnya toilet umum tersebut!

(20.30 WIB)

Perut kenyang. Tidur πŸ™‚

14 Oktober 2012

(05.00 WIB)

Maunya lihat sunrise di Ranu Kumbolo, tetapi karena kabut, terbitnya matahari tak bisa dilihat jelas. Udara dingin pula….. Ya sudah…ketika teman-teman lain sibuk menunggu munculnya matahari, saya tetap mendekam di dalam tenda πŸ™‚

Pagi hari, Mulai munculnya matahari di ufuk timur Semeru

(06.00 WIB)

Kami mulai berkemas. Hendak meninggalkan Semeru. Sampah pun masuk dalam daftar barang yang harus kami kemas. Karena kami adalah warga negara yang baik. Di shulter sendiri sudah ada pesan tertulis

Jangan meninggalkan apapun selain jejak. Jangan Mengambil apapun selain foto. Jangan Membunuh apapun selain waktu”

Kami fikir kami sudah mematuhi aturan tertulis tersebut πŸ™‚

(08.00 WIB)

Wahhhh…rasanya baru beberapa jam menghirup udara bersih, sudah harus kembali ke kota yang penuh polusi.

Saat tubuh sudah mulai terbiasa dengan kondisi alam sekitar, harus kembali menyesuaikan dengan kondisi dataran rendah…… Agak enggan sebenarnya meninggalkan tanah Kumbolo ini. Masih ingin lebih lama. Dan masih sangat ingin terus sampai Mahameru. Sungguh, tempat ini layak menjadi salah satu destinasi untuk penghilang penat.

Ranu Kumbolo dari atas Pos 4″ ;14 Oktober 2012, 09.40 WIB (Fotografer: Nikon Nope)

Tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang masih segar, Semeru juga mengajarkan banyak hal pada kami. Kerja sama itu pasti. Saling berbagi juga mesti. Dan bagi saya sendiri Semeru menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Jawa saya.

Di Semeru inilah saya mengerti bahwa ‘katu’an’ itu berarti kedinginan dan ‘serngingi’ adalah sinar matahari. Dan dua kata itu saya dengar dari empat orang gadis yang menjadi kawan daki saya. Ketika saya menanyakan arti dua kosa kata tersebut pada mereka, salah satunya sempat menyinggung seakan-akan saya berpura-pura tidak mengetahui maknanya. Tapi sungguh, Rek… saya benar-benar baru mendengar dua kosa kata tersebut dari kalian. Saya memang dibesarkan di daerah yang masih berlokasi di tanah Jawa, tetapi sejak kecil orang tua saya membesarkan putri mereka dengan bahasa Indonesia. Karena itulah perbendaharaan saya akan bahasa daerah serta istilah-istilahnya tidak sebanyak kalian, jadi terimakasih karena telah menambah pengetahuan saya akan bahasa Jawa πŸ™‚

Tapi yang pasti, semangat saya untuk Semeru belum usai. Saya masih berhutang pada Mahameru. Mimpi itu masih ada…. Hingga saya bisa melewati Kalimati… Hingga saya memijak Arcapada…. Hingga saya berada di sisi Jongrang Saloka…. Semeru masihlah mimpi yang belum usai.

(13.40 WIB)

Menunggu truck di Ranu Pani. Truck yang akan mengangkut kami kembali ke peradaban kota dengan hiruk pikuknya yang memekakkan telinga…. See yaaa, Semeru πŸ™‚

Bersama Anak Sopir truck Yang akan Saya Tumpangi πŸ™‚

Cerita Lain Di Welirang

Mengingat waktu ‘jalan-jalan’ ke tanah Welirang beberapa pekan lalu…..

Saya kira saya adalah manusia paling awam untuk menjamah gunung. Tapi ternyata sesampainya di sana saya menemukan cerita ajaib yang sama sekali tak pernah saya bayangkan akan dilakukan seseorang yang disebut pendaki. Bahkan saya yang awampun tak akan pernah melakukannya.

Pertama mengenakan celana jins model pensil ala Cangcuter. Toeng!!! Sama sekali bukan pakaian yang pantas untuk naik gunung karena celana yang ngepres body itu bisa mengganggu aliran darah saat melakukan pendakian. Saya memang bukan ahli kesehatan, tetapi percaya deh…. kita yang biasa hidup di dataran rendah akan sedikit mengalami kesulitan saat berada di dataran tinggi karena suhu, tekanan udara, serta kadar oksigen di gunung dengan di dataran rendah jauh berbeda sehingga baju-baju press body sangat tidak disarankan untuk digunakan.

Ada lagi yang mengenakan high heels model weidgest!!! HADUH…… Memangnya jalanan gunung sama dengan catwalk??? Pake weidgest?? ini beneran loh ya… Saya berpapasan dengan mbak-mbak yang mengenakan weidgest sebagai alas kakinya. Mungkin niatnya memang tidak hendak mendaki hingga puncak, tapi please dehhh…. masa iya pake weidgest??? 😦

Terus ada lagi yang super ajaib… Seorang anak muda mendaki tanpa membawa bekal konsumsi. Yang dia bawa adalah uang tunai sebanyak 5 juta rupiah!! WHATTTTTT????? Tidak bawa konsumsi, hanya uang 5 juta! Kalo ada pendapat “Loh…kan gak papa… duitnya bisa dibuat beli konsumsi di atas gunung” maka saya akan menjawab “kenapa gak sekalian aja duitnya itu dimakan??”. Heran dehhh…. ngapain bawa uang tunai 5 juta tanpa membawa bekal makanan??? Memangnya di puncak gunung ada orang jualan?? Ada sih.. penjual belerang.. kalo mau silahkan beli dan makan tu belerang!!Kalau maksudnya untuk biaya transportasi, kenapa gak bawa bekal coba? Memangnya saat itu kami sedang mendaki Alpen (hope for that πŸ˜‰ ) sehingga butuh uang 5 juta untuk kembali ke tanah air???

Ya ampun… inilah yang sampai sekarang masih membuat saya senyum-senyum sendiri jika mengingat perjalanan di Welirang.

Mungkin benar kata orang bahwa kita akan menemukan hal-hal aneh saat mendaki gunung. Contohnya adalah bertemu pendaki yang membawa uang saku 5 juta rupiah plus mengenakan weidgest…. So real, so funny πŸ™‚

Mencoba Menaklukkan Welirang (31 Desember 2011)

(31 Desember 2011) 00.15 WIB

Tenda telah didirikan, waktunya merebahkan kaki yang telah menempuh perjalanan berat dan memejamkan mata yang telah bekerja keras melihat dalam gelap.

Ahhh…rasanya tidak sabar menunggu esok. Melanjutkan pendakian menuju puncak gunung yang tingginya tak kalah tinggi dari Mahameru. 3156 m sama 3676 gak jauh-jauh amat kan????!! πŸ˜‰

(31 Desember 2011) 06.00 WIB

Ya Allah… Kaki saya tak bisa digerakkan. Ok, mungkin sedikit kelelahan. Saya luruskan kembali si kaki, berharap ia membaik.

Uhhh… tapi kenapa tetap merasa linu??

(31 Desember 2011) 07.30 WIB

Kaki masih linu. Jalan tak normal karena tapakan kaki tak bisa memijak dengan benar. Nyeri sangat.

Akhirnya, perjalanan saya di gunung Welirang hanya sampai shelter ini. Hanya terhenti di Kop-Kopan. Hanya bisa menaklukkan setengah dari 3156 m 😦

Maunya sih terus, tapi daripada susah di tengah jalan lantaran kaki yang tak bersahabat ini maka solusi utamanya hanyalah stay di tempat camping ini. Lagipula saya tak mau menyusahkan teman-teman pendaki karena dari pos Kop-Kopan ini (rencananya) saya tak hanya menuju puncak dengan dua orang, tetapi juga bersama rombongan pendaki (19 0rang) dari Bojonegoro yang kebetulan salah satunya adalah senior adik saya.

(31 Desember 2011) 08.30 WIB

Saya melepas kepergian mereka yang akan melanjutkan pendakian, termasuk dua orang mas-mas yang menemani pendakian malam saya.

Jadilah semua impian merayakan pergantian tahun di puncak gunung menjadi tengah gunung….. It’s Ok… masih ada waktu lain (insya Allah) untuk menaklukkan gunung ini….

Teman-Teman Dari Bojonegoro

Kaki Sakit Tapi Kamera Tetap Eksis πŸ˜‰