Kritik, Saran,& Koreksi!

Ketika sebuah pekerjaan diberi saran, tetapi saran tersebut bersifat menjatuhkan… Apa iya harus dilakukan?

Saat kritik itu ditujukan, tetapi kritik tersebut justru menjerumuskan… Apa iya tetap diperhatikan?

Jika sebuah koreksi diberikan untuk setiap hal yang dilakukan, tetapi koreksi tersebut diberikan pada hal yang tidak patut dikoreksi… Apa iya tetap harus dijalankan?

Tidak.

………………………………………………………………………………………………

Dan hari ini rasanya begitu kesal ketika tiba-tiba saja sebuah kritikan, koreksi dan saran yang tidak pada tempatnya tersebut. Bukannya tidak ingin dikritik, dikoreksi, atau diberi saran, melainkan saya memang bukan sosok yang bisa menerima kritik, koreksi, dan saran dengan mentah-mentah. Sama halnya dengan saat hendak memberi kritik, koreksi, dan saran.

Tak ada maksud untuk membantah atau memberontak atau tak bisa diatur atau bersikap sok tahu…hanya saja terkadang ada pemikiran tidak setuju dan ingin membenahi ketika sebuah kritik, saran, maupun koreksi tersebut ditujukan pada hal yang sebenarnya tidak perlu dikritik, diberisaran, ataupun dikoreksi.

Serius… memberi kritik, koreksi, dan saran itu tidak bisa seenak hati; apalagi untuk hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab.

Dan hanya gara-gara kritik, saran, dan koreksi yang tidak pada tempatnya itu sedikit perang dingin dengan rekan pun terjadi.

Saya bisa saja meletup-letup dengan melontarkan perkataan super jahat dan muka super seram. Tapi untuk menghadapi seseorang yang suka sekali melakukan sesuatu tidak pada tempatnya seperti memberi kritik, saran, dan koreksi tersebut; butuh lebih dari sekedar kalimat jahaat dan wajah seram.

Berikan saja pembenarannya. Berikan bukti autentiknya. Misalnya; saat saya dikoreksi “mbak, harusnya kata ‘teoretis’ itu ‘teoritis’ jadi kerjaan mbaknya salah”

Tanyakan “Salahnya dimana”

Lalu saat kritikus masih ngotot “ya Salah mbak”

Tidak perlu banyak cakap, saya suguhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menyuruhnya mencari pembenaran terhadap kata Teoretis atau Teoritis.

Kritik-mengritik… saran-menyaran… ataupun koreksi-mengoreksi adalah hal yang simple sih. Bukan perkara besar. Kasarnya, hanya sekedar menyalahkan dimana susahnya???

Tapi bukan berarti harus memiliki prinsip ‘mudah menyalahkan’ tanpa dasar yang jelas bukan?

Memberi kritik, saran,dan koreksi boleh kok! Asal ada bukti yang tidak absurd ataupun dibukti-buktikan untuk ‘menyalahkan’ seseorang.

Diberi kritik,saran, dan koreksi juga boleh menolak! Asal juga memiliki bukti autentik untuk memberikan pembenaran atas hal yang ‘disalahkan’.

…………………………………………………………….

Belanja + Bayi = Bakat

Saya pernah mengatakan bahwa belanja itu butuh bakat. Iya, sekarang saya pertegas kembali bahwa “belanja sambil membawa bayi itu sangat butuh bakat dan keterampilan”. Sungguh, ngemall dengan balita yang masih belum bisa berjalan tapi sok centil gak mau digendong itu harus punya talent!

Akhir pekan lalu, saya menjadi saksi hidup bagaimana amazingnya berbelanja dengan seorang bayi berusia 11 bulan. Niat awal menemani mbak Ika mencari sesuatu untuk hadiah ulang tahun suaminya, sekalian mampir ke toko buku untuk membeli novel yang saya mau. Destinasi pertama adalah outlet tempat kado yang mbak Ika cari. Babynya masih diam. Masih ormed sepertinya… Melihat kanan kiri. Kata emaknya, si baby mengantuk. Saat di toko buku, si baby mulai merem. Ya… oke… tidurlah nak… 

Biarkan aunty dan Mama terjaga berdua. 

Then, we have a lunch. Dengan kondisi bayi yang tertidur, otomatis barang belanjaan (mbak Ika) saya yang bawa. Masa iya seorang ibu menggendong bayi harus menjinjing tas dan kantung-kantung belanjaan?!

Dan setelah makan, kami menuju salah satu departement store untuk membungkus barang yang akan dihaddiahkan mbak Ika pada suaminya. Selagi barang dibungkus, melangkahlah kami ke tempat jejeran baju yang digantung-gantung. Lalu, Lyra terbangun. Dari sinilah kenapa saya katakan bahwa “belanja sambil membawa bayi itu sangat butuh bakat dan keterampilan”. 

Tidur tak lebih dari satu jam ternyata cukup bagi bayi perempuan yang centilnya kayak si Mama itu untuk beraktivitas ria! Ngoceh-ngoceh sambil jalan-jalan! Sok gak sih bayi seperti itu? Belum bisa jalan tapi minta jalan. So… ya sudah, si Mama yang mentatah. Dengan riang gembira Lyra tertawa-tawa sambil melangkahkan kakinya yang hanya beralaskan kaus kaki!

Aktivitas bayi tersebut berlanjut hingga kami berada di supermarket. Si Bayi malah sama sekali tak mau digendong! Maunya lari-lari!!! Ya Tuhan Nak… Kamu itu belum bisa jalan tapi sok mau lari-lari… 

Sumpah. Mama memang berbakat untuk berbelanja. Padahal membawa bayi… masih sempat pilih baju. Masih sempat pilih buku. Masih sempat pilih daging giling. Masih sempet bungkus kado. Masih sempat telpon suami.  Semua barang-barang itu pun menjadi tugas panggul saya. Pilihannya adalah membawa Lyra atau kantung belanjaan. Tugas yang jika diujikan beda nyatanya dengan uji Tukey akan menunjukkan signifikansi yang negatif. Tidak ada bedanya. Sama-sama beratnya. 

Hebat! Bawa bayi tapi bisa belanja ini itu. Hal yang sama sekali tidak bisa saya bayangkan. 

My appriciation for you, Ma… Seriously… You’re really amazing

P.S: Thanks for that day Mam 🙂

Me & My Best Sister :)

Me & My Best Sister 🙂

Kami & Si Baby Yang Masih Tidur Pulas

Kami & Si Baby Yang Masih Tidur Pulas

Cuma Kumpul di Hari Lebaran

Lebaran tahun ini (1434 H) = sepi. Lebaran pertama saya & keluarga habiskan di kota tinggal anyar. Lebaran pertama yang benar-benar hanya dirayakan oleh Saya dan keluarga inti. Lebaran kedua tanpa sosok Mami. Hari raya yang sepi cerita mungkin, tapi setidaknya tetap berkumpul bersama keluarga. Simple sih.. cuma ngumpul. Tapi kegiatan ‘cuma’ tersebut tak bisa dilakukan setiap saat. 

Hanya ada satu orang tua, dua kakak, dua kakak ipar, 1/2 lusin ponakan, dan seorang adik. Kami bertigabelas seakan-akan membentuk skuad sendiri untuk merayakan lebaran tahun ini. Tidak ingin ada campur tangan keluarga lain. Just our family. 

Tidak ada yang spesial juga. Hanya shalat Id bersama, kemudian sungkeman, dan selanjutnya makan-makan. Setelah itu menggiring ponakan-ponakan ke waterboom yang ada di dekat hunian kami. Sayangnya keadaan tubuh saya sedang tidak mendukung aktivitas yang berlebihan. Kondisi tubuh yang kurang fit pada hari raya membuat saya harus stay di rumah sementara ponakan, adik, & kakak saya plus suaminya bermain air di waterboom. 

Hari Kedua Lebaran; kami menuju rumah bude di Situbondo. Silaturahmi pula dengan tetangga di rumah lama. Ada rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Jember, tetapi karena saudara dari Jember beraksud mendatangi bude yang bermukim di Situbondo, rencana ke Jember dibatalkan. 

Benar-benar sepi. Kalau mungkin bisa dibilang ramai; bertemu dengan beberapa kawan SMA di hari ketiga lebaran adalah sesuatu yang berbeda dari kegiatan kumpul-kumpul dengan keluarga. Atau mungkin kegiatan bermain dengan ponakan-ponakan di alun-alun kota adalah keramaian lebaran lainnya. 

Secara keseluruhan, acara lebaran tahun ini cuma kumpul-kumpul biasa. Baik dengan keluarga, maupun dengan teman. Semoga saja kegiatan ‘cuma’ yang hanya tiga hari tersebut bisa kembali dilakukan lebaran tahun depan. 

Maaf Untuk Tuhan

Ini semacam pemberontakan padaMu.

Iya, aku tahu aku tidak akan mungkin menang.

Mana bisa sosok lemah sepertiku mengalahkan Kau yang Maha Segalanya?

Tidak bisa.

Aku hanya ingin melawan, meskipun aku tahu bahwa perlawanku ini akan sia-sia

Maaf Tuhan, Sebenarnya aku tak ingin  melawanMu…Sama sekali tidak

Bahkan logikapun dengan pasti menyuruhku untuk menyerah saja

Tapi bukankah Kau sudah sangat tahu bahwa aku bukan sosok yang dengan mudahnya mengibarkan bendera putih

Akupun tahu saat ini Kau tengah tersenyum memperhatikan pola pemberontakanku

Kau pasti sedang melihatku dari tempatMu yang jauh di atas sana dengan tergelak hebat

Aku tahu Kau juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyentilkan balasanMu atas pemberontakan ini

Kau memang tidak pernah bermain kartu dengan semua hambaMu, tapi aku merasa Kau sedang mengusiliku

Ya Tuhanku, mengapa Kau begitu usil?

Apakah begitu caraMu membalas ketaatanku sejauh ini

Apa ini balasan bagi setiap sujudku?

Aku memberontak, Tuhan

Aku melawanMu

Tapi aku tetap percaya padaMu

Karena itu Tuhan… Maaf.

Sesorean Bersama Kawanan Juventini

Kumpul-kumpul dengan teman-teman Juventini kali ini adalah bagi-bagi takjil untuk berbuka puasa di salah satu sudut Jalan Raya Darmo Surabaya. Cuma kumpul-kumpul sembari berbagi dengan pengendara jalanan. Sekalian juga untuk lebih mengenal satu sama lain, bukan? Satu lagi, hari ini juga menjadi hari jadi Juventus Club Indonesia yang ke 7.

Semoga saja bendera Bianconerri bisa tetap berkibar ke seluruh penjuru Indonesia dengan Lo Spirito alla Juventus & Semangat Merah Putih pastinya!!!

Identitiy of Community

Identitiy of Community

Opening

Opening

Takjil Yang Dibagi-Bagikan

Takjil Yang Dibagi-Bagikan

The Action

The Action.

 

Finished :D

Finished 😀

La Squadra Della Juvedonna :)

La Squadra Della Juvedonna 😀

Eksistensi Juvedonna

Eksistensi Juvedonna

Bersama Kapten JCI Chapter Surabaya

Bersama Mr. Kapten JCI Chapter Surabaya @Warung Manyar Surabaya

Kelakuan 'Sopan' Anggota Kepada Ketua :D

Kelakuan ‘Sopan’ Anggota Kepada Ketua 😀

Setelah Menyantap Menu Buka Puasa

Setelah Menyantap Menu Buka Puasa

Mbak Ima-Saya-Adik Saya

Mbak Ima-Saya-Adik Saya

Alhamdulillah....Masih Bisa Buka Bersama :)

Alhamdulillah….Masih Bisa Buka Bersama 🙂

 

Relationships are So Complicated!

Malam itu, entah untuk yang ke berapa kalinya saya dan dua orang kawan menghabiskan seperempat waktu malam di sebuah kafe langganan kami. ‘Duduk’, istilah kami. Duduk sembari meneguk minuman kegemaran masing-masing. Cappucino ice untuk saya, cappucino hot untuk seorang kawan, dan kawan satunya selalu berganti-ganti pesanan, dengan alasan ingin mencoba saja.

Tapi malam itu, perbincangan kami tidak sama. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang hanya saling bertukar cerita atas aktivitas harian. Tiba-tiba saja malam itu kami membahas masalah ‘hubungan’. Iya, hubungan diantara sepasang anak manusia.

Saya mengawali topik itu dengan mengeluarkan pertanyaan, “Kenapa harus ada perselingkuhan?”

Lalu berbagai macam jawaban keluar dari kedua orang kawan saya ini. Panjang lebar dengan segala macam susunan persepsi. Tapi intinya satu, mereka sama-sama sepakat bahwa perselingkuhan itu adalah ‘hilaf seorang manusia’.

Benarkah demikian? Bagaimana dengan kejadian perselingkuhan yang diulang-ulang? Apa itu juga termasuk kategori hilaf? Apakah esensi dari mahluk yang bernama manusia hanyalah hilaf?

Kembali pada topik ‘hubungan’…. kenapa menjalin hubungan dengan orang itu begitu rumit ya? Katanya cinta, katanya sayang, katanya suka… tapi selingkuh.. tapi selalu marah-marah..tapi selalu membuat pasangannya menderita. Uuhhh… Rumit.

Tapi kemudian saya menemukan sebuah rangkaian kata yang berbunyi

𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒔𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒉𝒂𝒕𝒊, 𝒕𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒅𝒖𝒍𝒊 𝒃𝒆𝒕𝒂𝒑𝒂 𝒉𝒆𝒃𝒂𝒕 𝒍𝒐𝒈𝒊𝒌𝒂..  𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒌𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒕𝒖𝒌 𝒈𝒖𝒏𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒐𝒈𝒊𝒌𝒂, 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒉𝒂𝒕𝒊𝒎𝒖 𝒕𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒖𝒌𝒂.

Mungkin saat ini kalimat tersebut benar. Cinta itu bukan perkara logika. Tidak ada hubungannya pula dengan raga. Cinta itu masalah hati..HATI, bukan salah satu organ dalam manusia, melainkan sesuatu yang tak kasat mata, namun bisa dirasa. Itulah yang membuat seseorang berani untuk menciptakan suatu ‘hubungan’. Dan ketika ‘hubungan’ itu harus kandas, karam, kacau, rusak, berantakan lalu ada perselingkuhan, harusnya logika bisa menjadi senjatanya bukan? Tapi kemudian kembali lagi pada statement awal bahwa cinta itu lebih hebat dari logika. Karena itulah, masih belum ada titik terang dari perbincangan salah satu  ‘kacau’ kami malam itu.

Ahh…hubungan itu memang rumit!

14 For Llorente

Tevez first, Then Llorente. Setelah nomor 10, nomor 14 terpakai sebagai salah satu nomor punggung di musim depan. Kepastian Llorente untuk menjadi bagian dari skuad Bianconerri memang sudah terpatri sejak musim lalu, namun secara resmi striker jangkung ini tiba di Vinovo pada 2 Juli  2013.

Semoga saja kedatangan Llorente dan Tevez bisa menjadi salah satu pemecah masalah Juventus di musim lalu, kurangnya eksekutor untuk mencetak skor!!!

Tevez, Llorente…Lalu… Jovetic?? Who knows?!!!

Over all.. welcome, Llorente… Enjoyed Juventus as yours 🙂

Sehatnya Jantungku

Ya Allah…

Terimakasih karena menganugrahkan jantung yangsehat pada saya.

Sungguh…kalau bukan kerena ciptaanMu, jantung ini tak akan mampu berdetak dan berdebar-debar sekencang ini.

Dengan jantung sekuat ini, atraksi heboh yang dilakukan si dedek tidak mungkin dapat saya terima dalam keadaan sehat walafiat.

Dengan jantung sekuat ini, semua tingkah ajaib di dedek itu bisa saya nikmati walaupun dengan tambahan bumbu kesal

Ya Allah…

Entah sampai kapan jantung bertahan sehat

Saya tidak minta lebih..

Hanya minta kekuatan…

what doesn’t kill me, just make me stronger…. Thats All.

Keranjang Kepercayaan

Kalau ditanya siapa yang paling kalian percaya di dunia ini, jawabannya apa?

Orang tua? Saudara? Kakak? Teman? Adik? Kakek? Nenek? Om? Tante? Sepupu? Tetangga? Guru? Dosen? Pembantu?

Masing-masing orang memiliki sosok yang dipercayai bukan?

Kalau saya, saya percaya pada Tuhan. Percaya pada orang tua. Percaya pada saudara. Percaya pada teman. Percaya pada siapapun yang pantas untuk dipercaya. Selain Tuhan & Orang Tua & Saudara, mempercayakan sesuatu pada seseorang bergantung pada sesuatu tersebut. Ibaratnya orang yang memiliki kebun buah lima ha, saat kebun buahnya memasuki masa panen tidak mungkin bukan meletakkan seluruh hasil panennya pada sebuah keranjang? Perlu banyak keranjang sebagai wadah hasil panen tersebut supaya hasilnya tidak berjatuhan dan tumpah berceceran di sembarang tempat. Kalau misalnya dengan banyak keranjang hasil panen masih ‘bocor’ dan berserekan… itu artinya, kalian salah membeli keranjang. Salah memilih sosok yang bisa menampung hasil panen yang kalian titipkan.

Jadi, siapapun yang telah menjadi sosok yang di percaya oleh orang lain, sosok yang berperan sebagai keranjang hasil panen….tetaplah menjaga kepercayaan tersebut. Sungguh, kepercayaan itu bukanlah sesuatu yang mudah didapat.

P.S: Untuk ‘keranjang-keranjang’ saya, terimakasih karena telah menjaga kepercayaan yang saya berikan. All of you always amazing 🙂