Potret di Lapak Rujak Tak Terekomendasi

My Partner in Crime 🙂

Masih Bisa Senyum (Sebelum Bayar)

Ekspresi di foto itu 100% berubah ketika kami harus meninggalkan lapak rujak cingur milik unknown ibu-ibu! Semoga saja Tuhan membukakan pintu hati si ibu supaya ia menjadi pedagang yang jujur.. Supaya hasilnya membawa berkah lebih… Supaya lapak rujaknya lebih ramai… Supaya saya tak usah menjelek-jelekkan ia di lapak saya ini!

Not Recomended Rujak in Surabaya

 

Salah satu makanan tradisional yang saya sukai adalah rujak cingur, bahkan bisa dibilang sangat saya sukai. Kemanapun saya pergi jika menemukan lapak rujak cingur, maka saya selalu mengusahakan diri untuk singgah ke lapak tersebut untuk merasakan si rujak. Selain itu bisa saya jadikan referensi jika memang rasanya ajib… kalau rasanya biasa saja, saya anggap sebagai pengetahuan bahwa rujak di tempat tersebut kurang maknyosss!

Dan malam ini saya mendapatkan pengetahuan bahwa lapak rujak cingur di area lapangan KODAM Surabaya tidak saya rekomendasikan sebagai rujak cingur yang ajib!

Porsinya gede… Banyak banget! Rasanya  biasa saja. Penjualnya kurang ajar!

Harga sepiringnya memang standar rujak cingur… hanya 10 ribu IDR, tetapi caranya menjual itu sama sekali tak saya sukai.

Ceritanya saat si ibu memberikan rujak cingur yang saya & Chaca pesan, dia juga menyerahkan empat bungkus kerupuk pada kami. Karena merasa tidak memesan, saya bertanya

Bu, ini kerupuknya gratis?”

Si ibu mengangguk. Lalu Chaca kembali menanyakan hal yang sama pada si ibu dan jawabannya adalah “Iya, Nak. Gratis kok”

Lalu…. siapa sih yang gak mau sama gratisan? Kambing hidup gratis saja saya mau, apalagi kerupuk yang siap makan 😉

Saat membayar ternyata kerupuk yang telah kami lumat itu masuk dalam hitungan bill yang harus kami bayar…. Chaca, tentu saja langsung melakukan kroscek pada si ibu

Chaca : “Loh buk…kan kerupuknya gratis

Ibu : “Kabeh yo mbayar mbak… Endi ono’ gratisan?

Terus tadi sewaktu kami bertanya apakah kerupuk ini gratis atau tidak… kenapa jawabannya ‘iya’??!!!

Harga kerupuknya memang tidak sampai 500 ribu IDR, tetapi cara ibunya itu loh yang membuat kami kesal! Hiiii….Kalau memang tak gratis, bilang saja dari awal! Kalaupun tak gratis, kemungkinan kami membelinya juga ada karena rujak tanpa kerupuk itu kurang okay! Kalau caranya seperti si Ibu itu, boleh dong jika saya merasa tertipu?!!

Sungguh sikap yang tidak terpuji dari seseorang yang mencari rezeki melalui berdagang. Di dalam kitab suci keyakinan saya memang disebutkan bahwa Tuhan paling banyak melimpahkan rezekinya di area jual beli atau berdagang… Tetapi saya yakin bahwa cara berdagangnya tidak dengan tipu muslihat! Buat saya, si Ibu sudah menjadi nila setitik di hari jadi kota Surabaya….

P.S: lapak rujak terbaik di kota ini tetap di kawasan Mulyosari! porsi besar, rasa okay, penjual jujur!

 

Sedikit Mengobati Kangen Makanan di Kampung

Mencari-cari yang namanya rujak cingur di daerah Surabaya, khususnya Surabaya timur atau lebih tepatnya yang deket dengan area kampus saya, susah susah gampang. Banyak yang jual, tetapi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya…. rasanya kurang ok. Tidak pas. Tidak seperti rasa rujak cingur yang saya temukan di kampung halaman.

Tapi, dari semua kios rujak cingur yang dekat dengan kampus saya….. Saya bisa merekomendasikan satu… Warung rujak cingur yang ada di kawasan Mulyosari. Alamat lengkapnya sih saya tak tahu ( 😉 ). Pokoknya daerah Mulyosari. Kalau dari arah Kenjeran, di kanan jalan… beberapa meter setelah belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Kalau dari arah ITS, kiri jalan sebelum belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Duuhhh… piye yo ngomongnya….. Pokoknya Mulyosari lah…

Rujak cingur di sana lumayan. Porsinya juga tidak tanggung-tanggung lohhh…. cukup banyak kata Puput dan sangat banyak kata saya 🙂

Warungnya sih tidak sebesar resto-resto modern….. Hanya sebuah etalase kaca kecil tempat bahan rujaknya dan sebuah meja yang juga tidak besar sebagai tempat ulekan serta peralatan lainnya. Tempat makan di sanapun hanya cukup untuk lima orang seukuran tubuh saya dan itupun harus desek-desekan. Tapi… semua yang serba minimalis itu terbayar dari rasa rujaknya yang maksimalis.

Harganya?? 8 ribu rupiah untuk satu porsi. Standarlah untuk harga rujak cingur di kota sebesar ini. Bahkan menurut saya harganya terbilang murah karena sama dengan harga rujak cingur di kampung saya.

Sayangnya saya tak bisa mendokumentasikan si pemilik warung karena ia tak mau dipoto. Mau coba curi-curi motret, tapi gagal lantaran saya sibuk dengan urusan menikmati sepiring rujak. Setidaknya cukup untuk mengobati rasa kangen akan makanan kampung…..

Para Manusia Kampus yang Kerap Kali menjadi Partner Saya saat Makan Rujak Cingur