Hebohnya Kurikulum 2013

Tiba-tiba saja dunia sekolah dasar di sekitar tempat tinggal dihebohkan dengan perubahan kurikulum. Saya hanya mendengar gerutuan wali murid mengenai kurikulum anyar tersebut melalui orang tua adek les. Masalah internet, raport online, hingga mata pelajaran tematik.

Hebohnya masya Allah…. dan sebagian besar dari orang tua murid yang heboh tersebut memusingkan masalah teknologi yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di semester ini. Lucu saja ketika harus mendengarkan ibu-ibu yang kebingungan dan mungkin setengah ketakutan saat mengatakan

“Internet iku opo… piye carane gawe” (Internet itu apa, gimana cara menggunakannya?)

Belum lagi mereka yang pusing dengan kurikulum 2013 yang mereka kenal sebagai kurikulum tematik. 😀

Ahh Ibu….

Internet itu tidak susah, kok… Hanya perlu dibiasakan saja. Tidak jauh beda dengan mengutakatik smartphone. BBM dan facebook-an saja lancar, masa iya hanya melihat nilai raport anak via internet gelagapan???

Dan tidak perlu juga memusingkan masalah kurikulum 2013. Sama saja. Mau kurikulum apapun semuanya sama-sama memberikan pengajaran bagi anak. Benar memang, orang tua harus lebih aktif di kurikulum baru ini… tapi kurikulum 2013 ini lebih ditekankan untuk mengup-grade kompetensi guru. Supaya para tenaga pendidik juga tidak ketinggalan zaman. Dunia sudah berkembang pesat…jika metode pengajaran di sekolah tidak dikembangkan juga; peserta didik di sekolah formal tidak akan belajar banyak. Kurikulum tematik tersebut juga diterapkan supaya anak tidak menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk selembar ijazah karena ‘rencana’ pembelajaran pada kurikulum 2013 tidak hanya mencakup IQ, tetapi juga EQ serta pengembangan bakat plus minat peserta didik.

Kalau benar-benar diterapkan… kurikulum 2013 ini oke kok…. 😀

Secuil Potret Sekolah Tanah Air

 

Mengingat masa-masa sekolah…. Saya kerap kali mengeluh saat bapak/ibu guru memasuki ruang kelas. Malas sekali jika mereka memberikan tumpukan PR. Tak ada dispensasi untuk tidak mengerjakan PR. Karena setiap mata pelajaran diajarkan oleh seorang guru, maka tak jarang PR yang saya dapatkan setiap harinya membentuk antrian panjang untuk diselesaikan.

Saking banyaknya PR, saya sering berharap diajar oleh seorang guru saja supaya saya tak mendapat PR setiap hari. Jika diajar dengan satu orang guru, setidaknya beliau tahu bahwa muridnya telah mendapat PR matematika sehingga tidak perlu memberikan PR fisika di hari yang sama. Kalau banyak guru, mereka tidak akan peduli berapa banyak PR yang telah tertumpuk di pundak murid. Itulah fikiran dodol saya ketika masih duduk di bangku sekolah.

Namun saat melihat berita mengenai suatu sekolah yang hanya memiliki seorang guru, rasanya mak jlebb! Sekali lagi Tuhan menyentil saya denga sangat halus nan menusuk. Saya yang dulu sangat membenci puluhan guru yang ada di sekolah betul-betul manusia paling tidak bersyukur jika dibandingkan dengan adik-adik berseragam putih merah yang hanya memiliki seorang guru. Satu orang guru menangani enam kelas? Ya Tuhan…..bagaimana cara mereka belajar? Bagaimana cara mereka menyerap ilmu? Terlepas dari seorang guru yang mungkin multitasking sehingga mampu mengajar di enam kelas dalam satu hari, saya sama sekali tak pernah bisa membayangkan bagaimana cara mengajarnya. Sehari mengajar enam kelas dimana setiap kelas per harinya diisi oleh 3 sampai 4 mata pelajaran. Hiii…..bagaimana ceritanya coba??? Miris nan ironis!

Sangat jauh dengan kondisi sekolah dasar saya dahulu. Saya memang tidak bersekolah di ibukota dengan fasilitas AC di setiap kelasnya. Namun untuk standar kota kecil, sekolah dasar saya adalah yang terbaik. Bangunan sekolah tidak reyot! Kamar mandi tidak hanya sebiji. Tidak ada bangku-bangku rapuh karena rayap. Tidak ada atap bocor. Dan tidak diajar dengan seorang guru. Tukang kebun saja tiga orang, asa iya gurunya hanya seorang?! Tapi kesadaran akan betapa beruntungnya dunia sekolah dasar saya baru berlangsung saat ini.

Potret pendidikan di negeri ini, apakah akan terus buram? Kalau buramnya bersifat artistik sih bagus…. Bukankah banyak sekali sekolah-sekolah tinggi yang mendidik masyarakat untuk menjadi guru? Kemana lulusan sekolah tinggi tersebut sehingga masih ada sekolah yang tak memiliki guru? Setidaknya jumlah guru sejalan dengan jumlah kelas yang ada di sekolah!

Terimakasih Tuhan, karena saat duduk di bangku sekolah dasar saya tak pernah sekalipun kekurangan guru sehingga saya harus berdiri di depan kelas untuk mengajar teman-teman sebaya…..