Bagusnya ‘Diam’ Saat Hormon Tak Sepakat Dengan Otak

Susah memang jika harus berfikiran logis di saat keseimbangan hormonal sedang tidak stabil. Ada saja yang membuat kesal! Masalah sepele sebenarnya, tapi tetap saja membuat mangkel dan akhirnya muncullah pikiran-pikiran buruk beserta gerundelan yang sama buruknya.

Dan inilah yang sedang saya alami beberapa hari terakhir. Hormon sedang tidak seimbang!!

Sebentar ketawa, sebentar marah. Sebentar ceria, sebentar gundah gulana. Akhirnya….lelah!

Manusiawi memang…. tapi saya merasa beberapa hari terakhir yang berisikan ketidaknormalan hormon ini saya bisa jauh lebih ‘jinak’. Susah memang mengontrol diri saat fungsi otak dan hormon sedang tidak sinkron, tapi paling tidak saya sudah berusaha senormal mungkin untuk terlihat sedang tidak ‘sehat’ diantara lingkungan kantor yang selalu saja menimbulkan masalah sepele namun membuat kesal nan menjengkelkan.

Caranya adalah DIAM!!!!

Iya beneran! Diama saja. Diam di tempat yang tidak diisi oleh orang-orang yang berkaitan dengan rutinitas pekerjaan. Karena saya berbagi ruangan dengan rekan kerja, maka tempat diam saya adalah mushallah. Kalau tempat salat di kantor itu sedang digunakan ibadah, maka warung mie ayam sebelah kantor adalah tempat saya untuk diam guna mendamaikan fungsi kerja otak dan hormonal.

Setidaknya dengan ‘diam’ saya bisa kembali duduk manis di depan leptop kerja tanpa harus mengerutkan muka.

Pentingnya Spasi

Selalu saja begini. Hal-hal yang harus direvisi dari naskah yang saya buat adalah masalah editorial yang sifatnya sepele. Kurang dan lebih huruf, kelebihan dan kekurangan spasi,bahkan kurangnya pemberian tanda titik untuk mengakhiri suatu kalimat.  ARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH……

Kesalahan yang juga membuat saya harus bolak-balik melakukan revisi saat menuliskan buku TA. Fiuuhh..hanya gara-gara kurang spasi dan kelebihan huruf, tanda tangan dari dosen pembimbing harus tertunda sehari. Kesel kan?!

Sekarang juga begitu… saat menerima editing dari editor atas hasil pengerjaan saya, ada satu dua kalimat yang ditandai dengan warna merah. Saya sendiri tidak mengerti kenapa ada satu dua biji kata yang berwarna lain dari kerumunan kata lainnya. Awalnya saya berfikir kata-kata itu harus saya uraikan lebih panjang lagi atau harus digantikan dengan sesuatu yang lain. Tapi setelah saya tidak bisa mengartikan kata berwarna merah tersebut seorang diri, pergilah saya ke tempat editor. Meminta penjelasan atas maksud pewarnaan pada beberapa kata tersebut.

Jawabannya adalah “itu gak usah pake spasi, mbak”

Tanggapan saya hanya “oooo” lalu menghembuskan nafas panjang, lalu pergi meninggalkan editor.

Spasi kawan-kawan… hanya karena spasi saya harus berfikir panjang untuk mengerti mengapa kata-kata tersebut berwana lain dari pada yang  lain.

Jadi kesimpulannya adalah spasi pada penulisan itu penting. Iya dong penting. Cobasajakitamembacatulisanyangtidakadaspasinya…. pasti susah, bukan? Kesalahan simple memang, tapi kalau simplenya di sembarang tempat jadi merusak karya yang harusnya luar biasa. Jadi…perhatikanlah spasi pada saat kita menuliskan sesuatu 🙂

Hanya Masalah Sepele, Mei!

Saya: “Mas aku minta kerjaan”

Mas: “Iya sebentar, Mei. Ini punya si A. Kemarin kayaknya salah file”

Tiba-tiba datang seseorang yang memotong perbincangan saya dan Mas Senior.

Miss K: “Kemarin aku sudah ngasih ke kamu filenya yang bener. Kok bisa ngerjain file yang lama”

Saya: diam. Sembari berfikir.

Mas: “Mungkin si Miss yang salah kasih, Mei. Kamu baca dulu materinya, terus kalau bingung kita discuss” (berkata pelan, setengah berbisik)

Saya: mengangguk

Awal yang tidak menyenangkan untuk memulai pekerjaan. 

Selalu saja ada hal yang membuat tekanan darah ini meningkat. Sesuatu yang sifatnya sepele bisa membuat pikiran dan akal hilang entah kemana. Tak jarang juga hal sepele yang membuat rasa kesal itu berasal dari seseorang yang cukup akrab atau teman dekat sendiri bahkan bisa saudara sendiri. Dan lagi-lagi sesuatu yang sepele namun mengesalkan itu sealalu saja bersumber dari tempat yang namanya kantor. 

Setelah menerima file dan berkas-berkas pekerjaan saya segera menuju meja kerja. Hal yang saya lakukan adalah mengecek apa yang sudah dikatakan oleh Miss K pada saya. Apakah benar perkataannya tersebut. Saya cek file yang dia beri dengan file yang baru saja saya terima hari ini. Dan hasilnya tidak sama. Terus…. apa itu salah saya? Memangnya saya bertugas mengurusi file-file pekerjaan? Memangnya saya yang menata file baru atau file lama? Tugas saya hanya mengerjakan file yang saya terima. Mana saya tahu itu file lama atau baru?! Itu tugas administrator, bukan tugas writer!! Kalau misalnya si admin kebingungan memilah file lama atau file baru karena file pekerjaan terlalu banyak, kenapa tak diatur yang bener filenya? Please deh… apa sih susahnya memilah-milah file sesuai deadlinenya? Membuat folder masing-masing dan mengelompokkannya sesuai tanggal pekerjaan atau sesuai apapun yang admin suka, apa susahnya? Kalau sampai ada kejadian salah memberikan file karena kebingungan membedakan file lama dan file baru, jangan menyalahkan orang lain yang tugasnya tidak mengatur file pekerjaan dong! Saya sendiri sudah berusaha mempermudah tugas mereka dengan menamai file pekerjaan sesuai tanggal pengumpulan plus nama client. Terus kalau saya disalahkan karena hal yang bukan tanggung jawab saya, ihhh… ogah!!!

Saya memang bukan orang yang paling sabar di dunia. Bukan juga mahkluk paling berbesar hati yang bisa menerima setiap kritik dan saran. Tapi mengingat watak saya yang kata orang keras kepala, idealis, dan pantang pulang sebelum menang…. perilaku yang sudah saya tunjukkan dalam menghadapi setiap hal sepele namun menyebalkan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Sungguh, butuh ratusan istighfar supaya saya bisa menahan diri untuk tidak meletup-letup. 

Mungkin ada baiknya juga anugrah sifat cuek dan tak peduli yang Tuhan beri pada saya, sebagai penyeimbang sikap frontal dan keras kepala saya yang luar biasa. 

Saya diam saja ketika Miss K si admin seakan-akan menyalahkan saya karena pekerjaan yang diminta tidak sesuai dengan request client, tapi frontal, keras kepala, dan tak mau kalah ini tetap harus saya lampiaskan. Mulut diam, tapi tulisan tetap jalan 😛

Saya tahu bahwa masalah sepele namun membuat kesal ini tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada dan muncul pada waktu yang tak bisa diterka. Selama saya masih hidup, selama itu pulalah hal sepele yang membuat kisruh akan hadir. Karena itulah saya hanya berharap untuk tetap bisa menahan diri supaya sesuatu yang sepele tidak menjadi penyulut masalah besar. Capek kalau harus menghadapi masalah yang sebenarnya tak layak dipermasalahkan. Untuk apa juga membingungkan hal yang tak layak dibingungkan? Ikhlas mungkin sulit, tapi setidaknya saya harus bisa menerima apabila besok, lusa, dan kapanpun sesuatu yang sepele itu kembali mencolek saya. I Can, Therefore I’m 🙂

Di Kala BITS 07 Terserang Virus TA

Stres akut! Mungkin itulah yang bisa menggambarkan keadaan di sekitar saya saat ini. Detik-detik mendekati angka 104 benar-benar horor! Uuuhhhh… dan saya baru mengerti mengapa orang mengatakan menjadi sarjana itu susah. Selain mata kuliah Kalkulus, masa-masa mendekati wisudahlah yang membuat saya menyetujui bahwa menjadi sarjana itu benar-benar susah.
Sidang ok… Revisi naskah bukan masalah… tapi untuk mendapatkan goresan pena yang membentuk liukan huruf-huruf bersambung itulah yang membuat susah. Susah sekali mendapatkan sebuah tanda tangan dosen. Just signatured!!!! Apa sih susahnya menandatangani sesuatu yang sebenarnya bukan perkara besar? Lagipula tanda tangan itu tidak untuk disalahgunakan. Hanya sekedar masalah teknis sebagai salah satu cara kelulusan. Heran dehh… baru kali ini saya tahu ada pengajar yang gak suka membantu murid-muridnya untuk lulus…. Guru-guru SD, SMP, dan SMA saya tak pernah sekalipun membuat sulit siswanya untuk lulus sekolah. Mereka justru senang jika siswanya cepat lulus… terlepas dari tak ingin melihat si siswa lagi atau bangga pada si siswa, tak ada satupun guru sekolah saya yang menghalangi kelulusan siswanya. Tidak dipersulit dengan masalah-masalah sepele yang sama sekali tak bersifat edukatif!!!
Ok…ini memang bukan masalah besar bagi saya… tapi melihat teman-teman yang setiap hari menunggu di kampus… klesotan di lantai depan pintu ruang dosen… menunggu kedatangan mereka yang punya nomer induk pegawai…. kemudian ditolak saat hendak menemui mereka. Ok lah ya jika penolakannya beralasan kuat. Tapi alasan-alasan yang saya dengar adalah alasan gokil banget!!! Membuat speachless!!!!!
Si dosen seakan-akan bersembunyi dari mahasiswanya. Kata teman saya, dosen yang dikejarnya itu pernah berada di ruang makan selama seharian penuh. Datang jam 10 pagi, naruh tas di ruang dosen, lalu masuk ruang makan hingga pukul 16.00 WIB. Astaga…. ngapain coba di ruang makan? Di kampus saya itu ada aturan tak tertulis bahwa mahasiswa tak boleh masuk ruang makan dosen dan aturan tersebut meengindikasikan bahwa dosen yang berada di ruang makan seharian penuh tak mau melayani mahasiswananya. Tak mau diganggu! Astaghfirullah… tidak mau diganggu??? Memangnya kami, mahasiswa, ini pengganggu? Lalu tugas dosen itu apa coba??
Sebenarnya saya sedikit tidak percaya saat teman-teman membicarakan dosen yang ‘ngumpet’ di ruang makan itu karena jujur saja selama ini beliau adalah salah satu dosen yang saya suka. Ada respect tersendiri dari saya terhadapa beliau. Namun kemarin, kadar hormat saya itu menurun. Kemarin itu saya berencana menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan TA saya karena beliau adalah salah satu penguji  saya. Hal yang ingin saya tanyakan itu simple dan sama sekali tak ada hubungannya dengan revisi atau bimbinga atau tanda tangan.
Jam enam pagi saya berangkat dari kosan saya yang letaknya tak bisa dibilang dekat dengan kampus hanya untuk menemui beliau. Pukul delapan pagi saya melihat dosen saya itu memasuki ruang TU. Ok, ibunya pasti absen. Saya menunggu hingga beliau memasuki ruang dosen. Namun ternyata ibunya turun ke lantai 1…. Ok, mungkin mau beli sarapan. Beberapa saat kemudian si ibu kembali ke lantai dua dengan sepiring nasi beserta lauknya… dugaan saya tepat.. Tak apalah.. toh masih pagi… saya harus memaklumi beliau yang mungkin memang belum makan pagi. 20 menit kemudian beliau kembali turun ke lantai 1  dimana kali ini saya tak punya gambaran apa yang akan dilakukan ibunya. Karena takut beliau menghilang, saya pun turun dari lantai 1. Lalu, saya melihat beliau masuk salah satu lab yang ada di lantai dasar. Tunggu sajalah. Mungkin sebentar lagi beliau masuk ruang dosen. Pukul 09.30 beliau benar-benar masuk ruang dosen. Ok… inilah saatnya saya menemui beliau. Segera saja saya menuju lantai dua. Kemudian menuju ruang dosen. Gagang pintu ruang dosen saya gerak-gerakkan… Tapi hasilnya pintu  tak mau terbuka. Saya coba untuk kembali membuka pintu tersebut dengan sedikit kekuatan ekstra. Hasilnya nihil! Si pintu tetap bergeming. Tak mau membuka dirinya untuk saya. Oh My God…. inilah bukti dari apa yang teman-teman katakan.
NGAPAIN SIH MENGUNCI DIRI DI RUANG DOSEN PADA JAM KERJA??? Sibuk apa coba? Sekarang bukan masa perkuliahan aktif. Tidak ada UAS atau UTS yang harus dikoreksi. Tidak ada tugas untuk memasukkan nilai. Lalu sibuk apa???? Proyek?? AAAAAAAAAAAAAAAA……..
Ada lagi teman saya yang saat itu hendak menemui beliau di ruangannya. Yang didapatkan adalah si dosen membuka pintu, lalu berkata “Ada apa? Besok saja ya. Hari ini saya sibuk!”, kemudian menutup pintu sebelum teman saya sempat mengeluarkan satu huruf pun dari mulutnya.
Mungkin benar kata salah satu pembimbing saya, “kalau mau cari kerjaan yang membuat diri sendiri paling benar atau mau bersikap sak kareppe dewe, jadi dosen saja”.
Hembusan nafas panjang ini rasanya tak berhenti-berhenti jika mengingat kejadian penguncian diri dosen saya tersebut di ruang dosen.
Dan yang membuat teman-teman saya kesal hari ini adalah terlontarnya statement dari salah satu dosen kami. Tadi siang itu saya dan teman-teman menunggu seorang teman angkatn kami yang tengah melakukan sidang TA. Menjadi suporter teman. Buknkah hal tersebut sesuatu yang wajar? Menjadi suporter teman yang tengah sidang TA itu saya fikir adalah aturan tak tertulis lain yang ada di kampus kami atau bahkan mungkin di seluruh kampus yang ada di negeri ini.
Namun kemudian setelah sidang TA teman saya itu selesai, salah satu penguji yang kelua ruangan berkata “Ngapain sih sok-sok an jadi suporter. Urus diri kalian sendiri loh! Kerjain revisinya ta. Jadi suporter gak bakal ningkatin nilai!”
Sontak teman-teman yang bergerombol terdiam dan saling bertatap muka. Maksudnya apa sih??? Kami tahu bahwa menjadi suporter teman yang tengah melakukan sidang TA tidak akan berpengaruh pada proses penilaian. Tapi kami yang datang dan duduk kelesotan itu sama sekali tak berfikiran ke arah situ. Tak pernah tahukah beliau tentang ikatan pertemanan? Atau jangan-jangan tak pernah punya teman?
Ya Tuhan…. kenapa sih harus melontarkan kalimat seperti itu? Teman-teman saya yang bergerombol di depan ruang sidang itu juga tidak bermaksud menelantarkan revisi TA mereka. Saya tahu dengan benar mereka telah mengerjakan revisi masing-masing. Mereka sudah melakukan tugas mereka. Masalahnya adalah mereka merevisi tetapi sosok yang menyuruh revisi tak mau diganggu dengan revisian preketek mahasiswanya. Lalu… siapa yang salah??
Saya jadi bertanya-tanya… di Institut ini, apakah semua jurusannya sama seperti jurusan saya? Apakah semua dosen-dosennya senang bermain petak umpet? Kenapa jurusan saya tak kunjung sembuh, ya Allah…. Beberapa saat lalu ada perbaikan, tetapi kenapa sekarang menunjukkan gejala sakit lagi?
Serius deh… kalau sikap semua dosen masih labil seperti itu, bisa-bisa tak ada peningkatan akreditasi untuk jurusan saya…. Mungkin malah harus ditutup… Hiiiiiii…Naudzubillah!!!
Semoga saja saya dan teman-teman diberi kesabaran ekstra untuk menghadapi waktu-waktu ini. Setidaknya kami harus bertahan untuk dua bulan ke depan. Bersabar hingga bertatap muka langsung dengan Pak Rektor. Kalau saja ada kesempatan untuk berbincang dengan pihak rektorat yang ‘tidak sakit’, ingin sekali saya mengadukan ketidakberesan ini. Ada tidak sih komnas perlindungan mahasiswa???

P.S: ‘Kept Fight, Owl’s 2007!!! Still Moving Foward!! Be Patient…. We can pass this  moment, guys! FIGHTING’ 🙂