Diplomat & Basa-Basinya

Sebenarnya antara diplomasi dan basa-basi itu tidak jauh berbeda. Bahkan jauh sebelum ini saya sudah menyebutkan bagaimana basa-basi adalah salah satu cara untuk berdiplomasi. Tapi seorang diplomat yang bertugas untu melakukan diplomasi harus tahu benar bagaimana caranya berbasa-basi yang punya kelas. Tidak hanya sekedar berkoar-koar atau sekedar menyanggupi dan menjanjikan sesuatu yang tak ubahnya kader parpol dalam pemilu, tetapi juga tahu maksud dan tujuan akhir dari tugasnya.

Diploma itu tidak hanya harus tahu bagaimana caranya menghandle client, tetapi juga mengerti apa yang diinginkan client dan menemukan solusi supaya keinginan client bisa terwujud.

Hanya sekedar ngomong “ini bisa kok dikerjakan” tanpa memikirkan bagaimana cara mengerjakannya sama saja dengan bullshit!

Diplomat juga harus tahu dengan benar bagaimana hasil diplomasinya itu dapat diselesaikan oleh para stafnya. Tak hanya menyuruh dan menyuruh, tanpa pernah mengerti apa materi yang disuruhkan. Ketika staff ada kesulitan di tengah jalan dan meminta solusi dari diplomat, yang staff inginkan bukanlah jawaban “ya seperti apa yang sudah dituliskan di konsep awal itu loh. Bagian A dijelaskan. Bagian B dijelaskan. Bagian C dijelaskan”. Apa si staff sebegitu tololnya sehingga sang Diplomat membacakan apa yang dituliskan pada selembar kertas???

Yang diinginkan staff bukan jawaban seperti itu. Kenapa Diplomat tak memberikan jawaban dengan langsung menjelaskan pengerti A, B, atau C? Kalau sampai ada jawaban “ngapain aku yang jelasin kalau aku punya staff? Terus tugas staffku enak dong?!”

Diplomat kampret!!! Belum lagi ketika terjadi miss communication pada teknik basa-basi yang dilakukaknnya. Meskipun Diplomat tak pernah menyalahkan staff, tapi imbas paitnya juga terciprat pada staff yang tak tahu menahu mengenai duduk permasalahan sebenarnya. Endingnya staff dimonitoring oleh Presiden. Dipressure dengan berbagai macam sistem.

Menurut saya akar masalahnya adalah si diplomat terlalu banyak basa-basi! Diplomasi yang dilakukan hanya sekedar orasi manis yang penuh janji-janji absurd!! Tidak ada realisasi nyata dari semua abang-abang lambenya.

Cuma basa-basi tanpa isi. Jika akarnya sudah rusak, kenapa tak cabut saja akarnya???

Advertisements

Rumitnya Komunitas Perusahaan

Sungguh. Hubungan diantara manusia itu cukup kompleks. Rumit dan sukar dipahami. Apalagi interaksi di suatu komunitas yang bernama perusahaan. Saat melihat di televisi mengenai intrik-intrik yang terjadi antar karyawan di perusahaan atau antara kepala divisi satu dengan lainnya rasanya biasa saja. Tapi ketika menyaksikan sendiri bagaimana konflik di suatu perusahaan, rasanya aneh. Seperti berada di planet asing.

Kenapa coba orang-orang yang satu kantor bisa bermanis-manis muka di hadapan satu sama lain, tetapi saling membicarakan di belakang?

Ya ampun… ada apa sih dengan orang-orang ini? Kalau memang tidak suka, kenapa harus pura-pura suka? Kalau memang ada masalah, kenapa terlihat seperti tak punya perkara? Kalau memang masalah pekerjaan sudah mendapatkan solusi sebagai titik tengahnya, harusnya masalah tersebut tak perlulah di angkat ke permukaan kembali!

Pusing! Kalau memang harus menanyakan sesuatu seperti kata atasan saya saat lalu, maka hal yang saya tanyakan adalah mengapa interaksi yang terjadi di perusahaan ini sangat kompleks?!!

Kata Mereka Tentang Kampus Saya

Masih dalam kondisi mbulet dengan masalah-masalah teknis Tugas Akhir (Trending topic saat ini adalah TUGAS AKHIR). Tiba-tiba saja kemarin ada sebuah gerundelan hati orang luar kampus mengenai kampus saya. Namanya gerundelan, jelas sesuatu tersebut bukanlah hal yang baik.

Kemarin itu salah satu peneliti yang berasal dari Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) datang ke kampus saya denga tujuan menghadiri sidang TA salah satu teman. Awalnya hanya itu yang saya ketahui. Namun kemudian, gosippun menyebar…

Mbak peneliti itu ternyata merasakan bahwa memang ada yang tidak beres dengan kampus saya. Si mbak kesal karena pertama dia merasa tidak sepantasnya kampus setenar kampus saya bergelut dengan jam karet.

Pembimbing teman saya yang masih relatif muda tersebut tidak menyukai yang namanya jam karet. Kemarin sidang TA teman saya itu rencananya dilakukan pada pukul 13.00 WIB dan saya sendiri mengetahui si mbak peneliti telah tiba di kampus satu jam sebelum acara di mulai. Beliau telah siap di ruang sidang. Kemudian saat jam menunjukkan pukul satu lewat lima menit, beliau memanggil teman saya dan bertanya “Dosen penguji lainnya kemana dek? Sekarang sudah jam satu lewat lima loh?“. Teman saya yang sudah terbiasa dengan kekaretan jam di kampus merasa bingung saat disodori pertanyaan tersebut. Astaga…. harusnya sebelum acara sidang TA ini, teman saya memberikan penjelasan secara mendetail mengenai semua hal yang berlaku di kampus. Termasuk ‘JAM KARET’ 😦

Kedua, beliau merasa dosen-dosen di kampus saya terlalu sok dan terkesan tak mau mendengar mahasiswanya. Menyalahkan mahasiswa. Mementahkan argumen mahasiswanya. Namun tidak memberikan penjelasan dan solusi untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan mahasiswa. Menyalahkn tanpa solusi, benar-benar tipikal orang yang seenaknya sendiri! Mbk peneliti mengatakan bahwa selama dia di Aussie, dia tidak menemukan sikap congkak dari seorang dosen yang bergelar proffesor sekalipun. Orang pandai yang ia temui di tempatnya menimba ilmu benar-benar mencerminkan ilmu padi “Semakin berisi, semakin merunduk”.

Lalu, mbk peneliti juga merasa status dosen pembimbing perlu dipertanyakan. Seorang pembimbing harusnya menghadari acara sidang anak bimbingnya karena itu adalah mutlak kewajiban seorang pembimbing. Alasan yang bisa membuat pembimbing bebas tugas sebagai pembimbing hanyalah saat si pembimbing berada pada kondisi sakit parah atau mati! Selain itu, tak boleh ada alasan lain untuk tidak menghadiri sidang anak bimbinnya. Toh acara sidang mahasiswa pada umumnya telah disampaikan minimal H-7 sidang, kalau memang ada acara lain di hari sidang, kenapa membubuhkan tanda tangan untuk hadir?

Saya tidak tahu seberapa besar rasa kecewa mbk LIPI tersebut, tetapi saya rasa cukup besar karena mbak yang saya tahu selama ini ramah dan mudah tersenyum tiba-tiba saja menjadi diam sembari menghembuskan nafas panjang setelah acara sidang teman saya selesai.

Aduh…… bagaimana ini? Bisa-bisa karena kekecewaan mbk peneliti tersebut kampus saya jadi di blacklist. Bisa-bisa saat saya butuh literatur, tak ada lagi senyum hangat dan pelayanan ramah dari mereka…. :(.

Dan ini adalah kali kedua orang luar memaparkan kekecewaannya terhadap sikap yang ada di area kampus saya… Hhhhhhhhhh

P.S: Mbk Fadilah yang baik, atas nama almamater, tolong maafkan sifat tak baik kampus saya ya… Kejadian kemarin itu, tolong jangan dijadikan patokan bahwa semua makhluk di lingkungan kampus ini seperti itu…… Maaf ya, mbak… 🙂