Cerita Pagi

Suatu pagi….

Ibu A : “Ehhh si adek sudah bangun yaaaa….. Mau ikut Mama ngajar ya, Nak”

Ibu X : “Enggak tante, aku mau berjemur dulu”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut ‘bercengkrama’

“blablablablablablablablaaaaaaaaaaaa….”

Mulai dari harga bawang, hingga harga garam..

Mulai dari kehidupan pasar, sampai tumpakan bawang di kamar..

Lalu kemudian si bayi berceloteh..

“Ammppphhhhhhh… ardkgkkssss…”

Dialog seru antar ibu tersebut berhenti sejenak. Salah satunya berkata;

Apa..le…”

Lalu kemudian kedua ibu-ibu tersebut berbisik-bisik seru…. Menjadikan salah seorang penghuni kos baru sebaagai bahan perbincangan..

Dan si bayi kembali memotong diskusi ibunya

“Oamrrrrghjkjkkk..aappmmhhhh..”

Dengan sedikit rengekan, bayi yang usianya tak lebih dari 3 bulan tersebut tak hanya ‘ngeroweng’ beberapa saat… tetapi sepanjang kedua ibu-ibu itu berbicara mesra.

Hingga kemudian, si Mama berkata

“Sebentar ta le.. diam dulu. Kok kamu cerewet si. Mama ngomong sebentar”

Oke… setidaknya perbincangan tersebut berlangsung selama 30 menit. Waktu yang setidaknya bisa digunakan untuk ‘memanaskan’ si bayi. Si Mama mengatakan anaknya cerewet, lalu dia bagaimana? -_-

Well done, Mam!

Grazie Juventus

Musim 2014-2015  diawali dengan rentetan cerita yang kurang menyenangkan.

Keputusan Antonio Conte untuk meninggalkan posisi sebagai kepala pelatih di Vinovo hingga penunjukan Max Allegri sebagai pengganti merupakan pembuka yang hambar. Bukan pilihan pengganti yang tepat, itulah pemikiran mayoritas teman-teman Juventini di seluruh muka Bumi. Banyak alasan yang menjadikan unjuk rasa penolakan Allegri sebagai pelatih Juve. Saya sendiri menolak Allegri bukan karena dia tidak bisa melatih, melainkan karena dia ‘bukan Juve’. Entahlah… yang jelas, saya tidak sedikitpun melihat semangat Bianconeri pada mantan arsitek tim Milano tersebut. No spirit. Tak ada ‘Lo spirito alla Juventus’ dalam sosok Max.

Tapi mau bagaimana lagi, keputusan siapa yang akan menukangi Juve tetap berada di tangan para petinggi club. Mau tak mau, ucapan ‘Welcome Max’ pun harus saya lontarkan. Lupakan Conte!

Belum lagi rumor, desas-desus serta gosip akan rencana hengkangnya Arturo Vidal ke Manchester merah… Awal musim yang begitu menggiatkan kerja suprarenalis!

Satu-satunya kisah manis di awal musim ini adalah kunjungan Juventus ke Indonesia. Melihat mereka berlari-lari di lapangan secara langsung, hanya berjarak 10 meter. Setelahnya.. saya berencana untuk menjalani musim ini dengan rentetan doa. Bukan karena pasrah, melainkan sebuah permohonan pada yang Kuasa untuk tetap mempertahankan tim ini dengan mental juara. Pasalnya, sebagaimana pemaparan di awal, tak ada aura ‘spirit’ dalam sekujur tubuh pelatih baru. Kami sudah meraih tiga gelar serie A beruntun, butuh mental yang lebih lagi untuk bisa mempertahankannya menjadi empat.

Musim kompetisi pun diawali dengan lawatan ke Verona. Sebuah laga pembuka yang sama sekali tak saya ingat jalannya. Skor akhir sepertinya didapat dengan susah payah. Setidaknya gol tunggal Martin Caceres membuat Juve membukukan 3 poin pertama di musim kompetisi baru. Pekan keduapun sama, tak ada greget Juve. Bermain di kandang menjamu Udinese juga tak membuat semangat Juve terlihat di lapangan… Bolehlah Tevez dan Morata mencetak masing-masing sebuah gol, tapi tetap… rasa Juve seakan-akan tak terlihat di J-Stadium.

Tapi tetap, dukungan saya 100% untuk tim. Berusaha untuk tetap setia menyaksikan mereka dari layar kaca. Tetap menjadikan nonton bareng sebagai salah satu agenda kencan. Berangkat ke venue Nobar pada pekan ketiga, berusaha tetap ceria walau panasnya arena nobar naudzubillah… Dan yaaa kecewa, karena tak bisa menonton pertandingan hingga akhir.. tak lebih dari 15 menit, listrik di wilayah setempat padam. Pekan ketiga vs Milano pun gagal menjadi titik balik semangat akhir pekan yang musim lalu selalu saya dapatkan sepulang nobar. Untunglah kami masih mendapatkan tiga poin. Menang satu gol (lagi).

Pekan-pekan setelahnya, setiap pertandingan di liga domestik tidak menggairahkan. Menang dalam tiga pertandingan beruntun, termasuk menggeser posisi AS Roma sebagai capolista di pekan ke 6… namun sama sekali tak terasa semangat alla Juve.

Benar memang, posisi puncak tetap berada di genggaman I bianconerri ketika tim hebat ini harus kalah sebiji gol dari Genoa di pekan ke 9, tetapi hasrat akan ‘Juventus’ tak juga muncul. Jujur saaja, musim ini saya sempat melewatkan beberapa pertandingan. Tak ada semangat untuk nonton bareng di akhir pekannya. Bahkan di sebuah jadwal pertandingan besar melawan tim biru hitam (nama tim sebenarnya tak boleh disebutkan, tabu!), pacar saya tertidur hingga kami batal nonton bareng. Dimulai dari pekan 17 itulah semangat saya akan Juventus hilang seketika.

Berkurangnya semangat pada tim juga ditunjukkan dengan kegagalan meraih tropi Piala Super Italia di Qatar pada bulan Desember…

Saya bukannya berhenti mendukung Juventus, melainkan tak ada semangat yang saya rasa kala Tim ini berlaga di liga. Tapi tetap saja, Juventus masih & selalu yang tercinta.

Rentetan pertandingan di Liga hingga pekan ke 38 tak saya hafal dengan benar… tak ada catatan rapi seperti musim lalu. Saya hanya berdoa. Hingga kemudian asa itu menjadi nyata. Kami tetap juara di pentas liga Italia. Berhasil finish di urutan terdepan. Tanpa 102 poin. Hanya butuh 87 saja dengan catatan 3 kali kalah, beberapa kali seri dan sisanya menang… Ahh, bahkan rincian hasil seri dan menangpun saya tak tahu.

Perjalanan Juve tak hanya sampai di Liga.. Kami pun menjadi jawara Coppa Italia. Sepuluh gelar untuk kompetisi kelas dua di negeri Pizza. Plus harapan besar untuk menggenapi musim di ranah Eropa.

Setelah sukses lolos dari babak penyisihan grup, Juve menghentikan laju Monaco di 16 besar, lalu menjegal Dortmund pada perempat final, hingga memaksa sang juara bertahan El Real angkat kaki di semi final pada laga Liga Champions Eropa (UCL). Partai puncak di Berlin mengharuskan kami bersua Barcelona. Sebuah asa lain muncul… di luar ekspektasi siapapun Juventus berhasil menembus final UCL musim 2014-2015.

Kata legenda hidup & besar Juve;

From Berlin to Serie B, From Serie B to Berlin!”

Harapan untuk membawa pulang Piala Kuping Besar dan uang 10 juta Euro semakin meningkat. Berharap Gigi Biffon bisa mendapatkan kesuksesan di stadion yang sama kala Ia mengankat trophy World Cup untuk Italia pada 2006 silam. Saya optimis, tetapi tetap realistis.

Skuad ‘alakadarnya’ akan berhadapan dengan bintang-bintang lapangan hijau. Saya percaya pada tim, bahwa mereka akan melakukan yang terbaik… tapi kami masih harus banyak belajar. Di akhir 90 menit pertandingan, Berlin belum berpihak pada Juventus.

Juventus masihlah salah satu yang terbaik di Eropa, dan selalu terbaik di pikiran dan hati saya. Delapan kali menembus final UCL dengan hanya dua kemenangan adalah cerita kurang beruntungnya kami di partai puncak. Menjadi runner-up yang ke 6 kali di pentas Eropa jauh lebih membanggakan daripada mereka yang hanya bisa berkomentar lantaran clubnya hanya bisa berlaga di liga lokal pada musim depan.

Musim ini…Target perempat final UCL terlampaui hingga final…. maka Juventus telah memberikan lebih daripada harapan yang mereka emban.

Berlin telah selesai… Juventus pulang tanpa mahkota, tapi bagi saya mereka tetaplah Juara. Saya pikir saya akan bersimbah air mata atas kegagalan di partai final UCL ini, ternyata yang ada hanya bangga dan rasa cinta yang lebih besar pada La Vecchia Signora.

Musim lalu kami gagal di kompetisi kedua Eropa, kemudian Juve memperbaikinya di musim ini dengan menembus Final UCL. Maka musim depan, prasangka positif untuk Trophy UCL haruslah dimiliki semua elemen Juve.. termasuk Juventini. Cukuplah hadiah 6.5 juta Euro untuk membenahi skuad di musim depan.

Jika memang Max Allegri tetap menjadi pilihan manajemen untuk mengarsiteki Juventus di musim depan maka dia HARUS memperbaiki ‘semangat’ Juve! Mengembalikan ‘Lo Spirito alla Juventus’ pada setiap pertandingan.

Terimakasih untuk musim ini, Tim! Apapun dan bagaimanapun hasilnya, selalu bangga bisa menjadi salah satu bagian dari semangat Bianconerri. Musim depan, semangat itu harus lebih digali. Harus lebih besar. Musim depan, kitalah yang terbaik di Eropa..

Cukuplah untuk musim ini… 33 gelar dan satu bintang perak… #4Ju33 #LaDecima …

Grazie Juventus.

#ProudOfJu

 

Maafkan Saya Yang Katrok

Dua kali saya mendapatkan cercaan dari siswa dengan alasan yang sama. Mereka menilai bahwa saya katrok (ndeso or tidak gaul).

Cercaan itu dituturkan oleh dua siswa yang berbeda 3 tingkat.

Siswa pertama menuturkan hal tersebut beberapa bulan lalu. Ketika saya ‘magabut’ di kelasnya  lantaran semua materi telah selesai. Siswa cantik yang super banyak bicara selama jadwal les, tetapi yang terpandai diantara kawannya; mengajak saya bercengkrama tentang tempat-tempat nongkrong di wilayah sekitar tempat bimbel. Dia dengan santainya menceritakan berbagai tempat yang katanya asik untuk menghabiskan waktu luang, sementara saya menimpali dengan menuturkan tempat nongkrong asik ala saya. Hingga kemudian dia bertanya;

“Miss, aku mau beli pasco aaahhh…. Mau titip gak?”

Saya secara spontan bertanya

“Pasco itu apa?”

karena memang kata itu asing di telinga saya. Dan keluarlah kalimat..

“Ihh…katrok deh gak ngerti pasco.. Helloo… anda dari planet mana?”

Semenjak itu dia mengatakan saya sebagai tentor gak gaul -_-

Mana tahu saya pasco? Mana saya tahu jika si pascco adalah minuman ringan yang dijajakan di rombong-rombong pinggir jalan? Tak jauh beda dengan pop ice yang diblender!

Lalu beberapa saat lalu, ada seorang siswa yang saya tak begitu kenal mengawali monolognya tentang dunia politik tanah air.

Dia secara menggebu-gebu memborbardir saya dengan kisah KPK Vs Polri jilid 2. Katanya kasus ini lebih seru daripada jilidd 1.

Sebagai respon, saya hanya menganga… lalu kemudian saya bertanya..

“Memangnya ada apa dengan KPK dan Porli?”

Jawaban yang saya terima tak jauh beda dengan cap katrok.

“Mbak gak gaul ya? Gak pernah nonton berita? Wah, kasian Indonesia kalo semua warganya kayak mbak. Jangan-jangan mbak gak tahu ya harga BBM udah jadi 7600?”

Ohh… ya yaa… ingin sekali saya mengatakan bahwa saya memang tak pandai dengan kisah KPK dan Porli… Tidak mengerti dengan peperangan dua institusi penegak keadilan di Indonesia itu. Memangnya sekarang saya punya waktu untuk mengamati keduanya? Saya hanya punya waktu beberapa detik untuk melihat judul TL di salah satu medd-sos tentang perang mereka, setelah itu sisa waktu saya habiskan untuk memikirkan bagaimana cara saya mencukupi kebutuhan sebulan ke depan. Memangnya saya anggota KPK dan Porli yang akan mendapatkan gaji bulanan tinggi untuk makan sehari-hari?

Yah.. mungkin dunia politik Indonesia merana jika semua penduduknya ‘tak gaul’ seperti saya, namun betapa menyedihkannya bangsa beberapa tahun ke depan jika semua generasi penerusnya mendefiniskan kata parental saja tak bisa!

hahahaha… ketika kamu menyebutkan angka 7600, SPBU di Indonesia (Jawa mungkin) sudah menjual premium dengan harga 6700 per liter. Ah, jangan-jangan tak pernah membeli bensin sendiri? Berbahagialah tangki motor full karena orang tua, tapi tak perlulah sok menjadi dewa yang mengerti segalanya! You just a shit boy, so shut up your f*ck*’ mouth! (Sorry, God!)

Hei.. kids… maafkan saya yang katrok! Tapi belajar sajalah kalian dengan benar.

3 Pekan Setelah Liburan

Yaaayy… liburan sudah selesai… Kembali pada rutinitas menyebar sedikit ilmu dan pengetahuan alakadarnya. Tidak berbeda dengan kegiatan di awal semester lalu, aktivitas siswa di tempat ‘les’ tak jauh-jauh dari menghabiskan waktu luang. Ada satu atau dua atau tiga yang memang niat mempertebal catatannya, tetapi lebih dari sepuluh siswa yang menjadikan tempat ‘les’ sebagai arena ‘bermain’.

Tapi bagi saya dan teman-teman pengajar, lembaga bimbingan itu merupakan wahana untuk menunaikan kewajiban guna mendapatkan hak di awal bulan.

Tapi tetap… I love doing that.

Beberapa siswa memang masih menunjukkan sikap acuh tak acuhnya, saat menerima materi. Beberapa lagi malas-malasan di kelas. Beberapa lainnya masih terus berkicau sepanjang jam pelajaran.

Tiga pekan terakhir, saya harus mengisi kelas yang beraneka rupa. Saya harus mengisi kelas yang acuh-tak acuh untuk memulai semester genap ini. Lalu dilanjutkan dengan kelas yang tak banyak tingkah karena mereka sedang berada di kelas tua yang tak lama lagi harus berperang di ujian nasional.

Mengawali minggu kedua, saya harus berjibaku di kelas yang ramainya begitu sangat -_- Mungkin karena memang materi yang diajarkan merupakan pengulangan di semester pertama, sehingga muncul komentar seperti;

“Ahh.. materi itu sudah semester lalu. Ngapain diulang lagi”

Padahal ketika saya mengajukan pertanyaanpun, tak ada yang bisa menjawab.

Lalu ada kelas yang maunya cepat-cepat pulang. Menyuruh saya untuk bergegas menjelaskan materi dan membahas soal. Kemudian mereka minta pulang. Padahal waktu tiap kelas adalah 90 menit. 30 menit waktu saya menulis, 30 menit waktu mereka menulis, 30 menit untuk menjelaskan dan membahas soal. Tapi kelas ini melewatkan waktu 30 menit menulis mereka; alasannya papan yang penuh tulisan saya sudah difoto dan akan disalin di rumah. Jadilah ada sisa waktu 30 menit. Tak mungkin saya memulangkan siswa saat sisa waktu belajar mereka masih 30 menit… saya tak mau dibilang korupsi waktu. Tapi permasalahannya siswa-siswa itu merajuk untuk dipulangkan saja. Saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak tahan dengan rengekan mereka, saya seringkali mengeluarkan siswa dari kelas sebelum bel usainya jam pelajaran berdering. Saya kerap kali memulangkan mereka sepuluh atau lima menit sebelum bel.

Dan akhirnya ada teguran untuk tidak mengeluarkan siswa sebelum bel….

-_- Oke, saya masih belum bisa menahan siswa untuk betah di kelas dalam sisa waktu pelajaran. Tapi saya tak mau dianggap tidak mengajar penuh. Apa gunanya di dalam kelas jika materi yang telah dibahas sudah selesai? Percayalah saya bahkan pernah meninggalkan kelas 15 menit setelah bel karena memang materi belum dibahas tuntas. Jadi anggapan saya hanya duduk-duduk di kelas itu tak bisa saya terima.

Dan yaa.. minggu ketiga ini saya harus membatalkan satu hari KBM (3 kelas) karena diare yang datangnya tiba-tiba. Saat izin untuk membatalkan kelas pada koordinator saya mendapatkan jawaban yang sebenarnya membuat geli “Kenapa mendadak ijinnya?”

Ahh…kalau saya tahu hari itu saya kena diare, pastilah saya sudah izin jauh-jauh hari sebelumnya. Manusia mana yang mengetahui dia sakit kapan? Kalau saya tahu saya akan mati minggu depan… pastilah saya mengajukan ijin tak masuk karena alasan mati -_- Tapi untung pada akhirnya koordinator masih mau menerima ijin pembatalan kelas saya, meskipun (mungkin) dengan berat hati.

Dan minggu ketiga ini masih menyisakan 3 hari. Dari jadwal yang saya miliki, setidaknya saya akan mengisi kelas-kelas normal. Semoga saja tak ada aral melintang untuk menyelesaikan tugas di bulan pertama semester genap ini.

Sebuah Kompetisi

Salah satu efek dari implementasi kurikulum 2013 adalah semakin kompetitifnya subjek pendidikan.

Iya.. guru dituntut untuk lebih berkompetensi, yang secara tidak langsung juga harus berkompetisi dengan guru-guru lain dalam ujian kompetensi guru (UKG).

Murid? Saya pikir, sejak zaman dahulu memang ada kompetisi atara anak yang satu dengan yang lain. Banyak diantara mereka yang selalu ingin menduduki peringkat pertama di kelas. Setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Saya sendiri menjadi saksi hidup bagaimana ‘perang’ itu terjaddi.

Suatu hari adek les saya tidak mencatat soal pekerjaan rumah yang dituliskan guru di papan sekolahnya. Alasan adek les saya adalah dia tidak sempat mencatat karena soal dihapus ketika bel pulang dibunyikan. Hanya kurang 3 soal. Soalnya pun tidak berbentuk kalimat panjang. Sekedar angka, karena perintahnya hanya menggambar bentuk sudut.

Kebetulan saya memiliki mantan adek les yang sekelas dengan adek les saat ini. Saya mencoba menanyakan 3 soal sisa tersebut pada mantan adek les, tetapi jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan.

“Aku les mbak… pulangnya malem. Gak bisa ngasih tau. Salah sendiri gak nyatet di sekolah”

Sebuah jawaban yang menggambarkan persaingan antara siswa. Jadi, saya tidak berhasil menanyakan ketiga soal tersebut. Adek les saya sih tenang-tenang saja. Dia tidak panik, tidak juga ambil pusing dengan pekerjaan rumahnya yang kurang tiga soal. Mungkin itu pulalah yang membedakan kaum adam dengan lawan jenisnya, adek les saya ini laki-laki yang sama sekali belum punya beban dan pikiran. Kalau saja yang kurang 3 soal itu mantan adek les saya, mungkin dia akan merengek kebingungan dan tidak mau masuk sekolah esok harinya.

Namun saya masih tetap mencoba untuk menghubungi orang tua mantan adek les… Meminta tolong apakah bisa memotretkan soal pekerjaan rumah  milik anaknya. Hanya soalnya saja. Saya tak butuh diberi contekan jawaban. Lalu, jawaban yang saya dapatkan tetaplah penolakan.

“Anakku masih les, mbak. Pulangnya malem. Jadi aku gak janji”

Well… padahal saya dan si Mama mantan adek les cukup mengenal. Kami juga masih sering berkomunikasi. Tapi entah kenapa secara tiba-tiba permintaan tolong saya tidak dikabulkan. Padahal saya tidak meminta yang macam-macam. Hanya meminta untuk diberitahu soal pekerjaan rumah anaknya. Itulah bentuk kompetisi orang tua. Secara tidak langsung, Mama dari mantan adek les saya tidak ingin nilai anaknya di bawah adek les saya. Logikanya adalah jika adek les saya hanya mengerjakan 7 dari 10 soal, maka nilai maksimal yang didapat hanya 70… sementara anaknya yang mengerjakan semua soal berpeluang untuk mendapatkan nilai 100.

Yaaa..itu memang hanya pemikiran saya… tetapi jika memang tak ada unsur kompetitif, kenapa tidak mau memberi tahu 3 soal yang saya minta?

Ahh… memang sih.. salah satu interaksi yang terjadi pada setiap kehidupan adalah kompetisi.