Kerja Karena Suka

Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa Bekerja dimanapun sama saja…

Pasti ada sosok aantagonis & protagonis. Pasti ada wajah yang berperan sebagai ibu peri, atau mereka yang menjadi pengadu domba. Dan sungguh, itu kenapa untuk bertahan di suatu komunitas kerja harus benar-benar menjadi individu yang adaptif.

Bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tapi bukan berarti harus merubah diri. Jika kalian hidup dalam lingkungan reptil, dikerumuni oleh manusia yang berbisa macam ular… maka jadilah Elang! Punya cakar & paruh yang tajam untuk menerkam si Ular.

Dan ya… beradaptasi tidak berarti harus merubah diri… tetap menjadi diri sendiri! Karena itulah, jika sulit merubah diri untuk menjadi individu adaptif… setidaknya carilah pekerjaan yang kita sukai. Biarkanlah ada bisa ular, ada jebakan, ada sumpah serapah, bahkan fitnah yang membabi buta sekalipun… tetapi setidaknya hasil akhir dari yang kita kerjakan tetap menyenangkan, sehingga kita (tetap) dibayar untuk bersenang-senang!

Dari ‘Aku’ Menuju ‘Kami’

Bagaimana rasanya setelah melakukan suatu pekerjaan dengan perasaan otak sendiri, tetapi kemudian ada pernyataan “Kami sudah mencoba menyelesaikan…” dari orang lain? Kesal? Jengkel? Marah? Wajar kalau iya. Setelah menyelesaikan semua tugas sendiri lalu mendengar “KAMI yang menyelesaikan” rasanya antara ingin menjontorkan wajah orang itu ke dinding atau menyumpel mulutnya dengan lap basah supaya tidak banyak bicara. Jahat mungkin. Tapi Saya rasa itu wajar. Salah satu bentuk ekspresi manusia normal.

Jujur, Saya juga pernah memiliki pikiran sadis nan jahat seperti itu. Kesal ketika hasil kerja sendiri diakui sebagai hasil kerja bersama. Wajar!

Tapi perasaan kesal itu hanya sekelebat singgah karena saya tahu benar bahwa pekerjaan itu memang pekerjaan ‘kami’. Memang benar saya yang mengerjakan, tetapi sebelum pekerjaan tersebut mendekam manis di atas meja kerja saya; bukankah ‘ia’ harus melewati meja-meja kerja lainnya? Harus singgah di tempat Customer Service lalu kemudian diarsipkan di bagian Administrator. Lalu harus diverifikasi dan diolah setengah jadi dulu sebelum saya matangkan. Dan setelah selesai saya kerjakan, hasil akhir itu tidak akan memiliki value jika hanya tersusun rapidi folder deadline. Harus ada proses editing sebelum akhirnya sampai ke tangan pelanggan. Dan di saat mengerjakan pun ada pihak-pihak lain yang juga memberikan andil dalam setiap pengerjaan tugas saya. Karena itulah; statement “pekerjaan kami” mungkin memang lebih layak dibandingkan “aku”.

Sulit memang untuk mengubah kebiasaan “aku” menjadi “kami”. Sangat tidak mudah melepas pikiran “aku” menuju “kami”. Sulit dan tidak mudah, bukan berarti tidak bisa kan? Saya pun masih harus banyak belajar untuk tidak lagi berpikiran “aku”. Tetap berusaha untuk meletakkan prinsip “kami” pada setiap pekerjaan. Bukan untuk menggantungkan diri pada orang lain, melainkan mengikuti mata rantai yang bertujuan sama; mendapatkan hasil maksimal pada setiap pekerjaan. Kalaupun ada satu atau dua lakon yang tidak menjalankan perannya dengan baik maka itu urusan lakon lain, mungkin mereka memang digariskan untuk menjadi lakon yang tidak becus. Selebihnya, pekerjaan kantor adalah pekerjaan bersama ๐Ÿ™‚

P.S: No more ‘Aku’

Image

Selebrasi Terbaik di Paruh Pertama Musim 2011-2012

Selebrasi Yang Paling Saya Suka dari pencetak gol Juve di sepanjang paruh pertama 2011-2012... Salam cinta Arturo Vidal----> Menang 4-1 atas Parma (11 September 2011)

Satu Gol yang menjadi penentu kemenangan Juventus atas Siena (18 September 2011)..... Che Matri ๐Ÿ™‚

2 Oktober 2011 Marchissio membungkam Milan dengan 2 golnya ke gawang Abbiati ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚