Dimanapun, Mengajar itu Sama

Orang-orang yang hidup di ujung-ujung negeri, selalu saja beranggapan bahwa menjadi tenaga pendidik di tengah kota jauh lebih beruntung dari pada mereka yang mengajar di hutan belantara. Alasannya karena arus informasi bisa berlangsung lebih cepat…gaji yang rutin setiap waktu… ada tunjangan ini itu… bisa melihat pergerakan kemajuan zaman.

Ahh…hanya sebuah perspektif dari mereka yang terlalu lama hidup di daerah.

Padahal sama saja. Tak ada beda antara pendidik di daerah dengan pendidik kota. Kalau ingin mendapatkan uang dengan cepat, jadilah koruptor..jangan jadi tentor.

Gaji lebih besar karena mereka yang di kota punya pengeluaran lebih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harus membeli bahan bakar elpiji untuk memasak… Kalau di kota masih ada lahan kayu bakar, mungkin saja tak ada tabung gas ijo dan biru yang diperjualbelikan.

Mau membandingkan dari perjuangan pendidik yang harus mengayuh sepeda melewati rawa dan bukit untuk sampai ke tempatnya bertugas? Di kota banyak jalan raya, kawan. Jalan raya itu tak kalah seramnya dari hutan rimba. Tidak jauh berbahaya pula dari sebuah rawa.

Di hutan mungkin ada macan, jalan raya punya banyak pengendara liar yang pengemudinya sibuk main henpon. Jika di rawa ada buaya, di jalan raya ada balapan bus kota. Resiko kecelakaan dan kematiannya sama!

Mau menjadikan model siswa sebagai perbandingan?

Pendidik di daerah harus sabar dengan sikap siswa yang enggan belajar karena lebih suka mencari kayu bakar, namun  pengajar di kota juga harus bersabar dengan kelakuan siswanya yang datang ke tempat belajar hanya untuk show off.

Bagaimana mungkin pendidik yang hidup di kota dikatakan lebih beruntung daripada mereka yang di daerah? Sama saja, kawan. Yang membedakan adalah bagaimana cara mereka mentransfer ilmu serta kemauan setiap individu untuk terus mengajar atau tidak. Oleh karena itulah, mengajar dimanapun tidaklah berbeda. Sama-sama membagi pengetahuan pada generasi penerus.

Tentang G30SPKI

Di sebuah sesi Try Out ujian nasional dua orang siswa berbisik pelan sembari mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang menjadi materi Try Out hari ini.

Siswa Satu: “Aku minggu depan ada pementasan drama lagi”

Siswa Dua: “Lohh..aku sudah kemarin.. tentang Snow White”

Siswa Satu: “Ohh.. pementasan dongeng ya. Besok aku pementasan tentang sejaran Indonesia”

Siswa Dua: “Apa? Sangkuriang? Apa Malin Kundang?”

Siswa Satu: “bukan.. G30SPKI”

Siswa Dua: “Opo iku????”

Siswa Satu: “Yaa itu perang-perang.. aku juga gak tahu”

Siswa Dua: “Aneh..”

Saya pun tertegun.. Oh adek… Sangkuriang dan Malin Kundang itu bukan sejarah… Kedua kisah itu hanya sebatas legenda.. G30SPKI tak tahu? Well.. saya memang bukan ahli sejarah, tak hafal pula setiap kisah heroik di Nusantara. Namun tak mengerti apa itu G30SPKI sungguh keterlaluan. Bukankah kisah itu adalah salah satu materi pelajaran di sekolah dasar? -_-

Ingatan Akan Siswa

Pada zaman sekolah, saya sempat menganggap sebagian besar guru itu sombong karena terkadang tidak mengenal siswanya ketika berada di luar sekolah. Sempat beberapa kali menyapa seorang guru di sebuah departemen store, tetapi balasan yang saya dapat hanya anggukan kecil serta senyum simpul. Tak jarang pula saya dilewati begitu saja ketika berpapasan di tempat lain. Yaa.. maklumlah.. saya memang bukan kriteria siswa yang bisa diingat. Tak masuk dalam kategori jenius dan lolos pula dari klasifikasi tukang buat onar. Hanya golongan siswa medium dengan prestasi alakadarnya.

Tapi kemudian… setelah saya berkecimpung sendiri di dunia pengajaran… mengingat setiap  siswa memang tak semudah mengingat nama bintang film kesayangan.. Apalagi jika setiap tahun selalu ada regenerasi siswa. Saya sudah merasa mengingat setiap rupa siswa yang pernah saya isi kelasnya. Merasa pede bahwa saya hafal betul setiap paras mereka. Namun kemudian saya disadarkan oleh seorang siswa bahwa sebenarnya saya sama seperti mayoritas pendidik. Tidak benar-benar hafal pada semua peserta didiknya.

Akhir pekan kemarin, saya kembali memberikan tambahan pelajaran kepada seorang bocah SMP. Les privat ini juga merupakan rekomendasi seorang rekan di tempat kerja, sama sekali tidak berfikiran bahwa adek les  tersebut adalah bagian dari tempat saya mengajar selama ini.

Selama 60 menit saya sama sekali tidak mengenali bocah lelaki yang dengan tabahnya mendengarkan ocehan saya. Di akhir les, tiba-tiba dia berkata;

“Saya diajar ibu loh… ehh mbak..”

Dengan merespon dengan sedikit kekagetan;

“Ahh..masa? Kamu kelas berapa?”

Dan dia menjawab dengan santainya;

“Iya, Mbak.. kelas 193. Kemarin mbak masuk kelasku pake masker. Waktu mbak lagi sakit itu loh..”

Ahh.. ya… saya memang pernah sekali mengisi kelas dengan mengenakan masker.

Ya Tuhan kelas itu adalah kelas yang diisi siswa dengan mulut yang tak bisa berhenti mengoceh selama 90 menit. Saya pikir saya tahu betul setiap pemilik mulut yang tak mau tertutup di kelas itu. Namun ternyata ingatan saya tidak sepenuhnya sempurna. Diantara  mereka banyak omong itu ada satu siswa yang cenderung pendiam.. yang luput dari ingatan visual saya.

Benar memang.. untuk mengingat siswa memang lebih mudah jika mereka masuk dalam dua kategori khusus. Punya otak brilliant atau pembuat masalah di kelas 🙂

Pekan Magabut

Kegiatan belajar mengajar di semester pertama sudah selesai. Sudah selesai sejak akhir pekan lalu sebenarnya, namun  karena kebijakan dari bos pusat maka bimbel tempat saya ‘bermain’ baru akan mengakhiri semester ganjil pada akhir pekan ini. Dan selama satu pekan ini semua ‘pembicara’ diwajibkan  untuk mengisi kelas sesuai jadwal yang telah disusun bidang akademik.

Saya pun demikian… sudah memiliki jadwal untuk mengisi kelas selama satu minggu penuh.

Sayangnya, tidak semua  siswa sepakat dengan kebijakan bis pusat. Setelah UAS di masing-masing sekolah sekolah selesai, maka  bimbel juga selesai.Mayoritas siswa begitu.

Ada beberapa gelintir yang memang tetap datang ke tempat les, tetapi mereka punya  motif sendiri, yang mana mortif tersebut sama sekali tidak berkerabat dengan belajar. Alasan beberapa siswa yang tetap datang ke tempat les walaupun UAS sekolah telah selesai bermacam-macam, tetapi intinya sama. KABUR dari rumah.

Bagi sebagian siswa, tempat les adalah pelarian yang mumpuni dari segala pekerjaan rumah yang ditimpakan oleh orang tua. Mereka lebih memilih berdiam diri di tempat bimbel selama 180 menit, daripada harus melakukan tugas menyapu atau mencuci piring di rumah. Tempat les juga lebih dipilih ketimbang mendengarkan omelan Ibu masing-masing di rumah.

Jadi walaupun minggu ini sebenarnya saya punya jadwal full untuk mengisi kelas, hanya beberapa kelas saja yang memang saya bereskan… itupun hanya sekedar membahas soal-soal ujian. Sebagian besar siswa justru lebih memilih menghabiskan waktunya dnegan bercerita, ada pula yang mengajak saya untuk bermain origami, sisanya bahkan memohon supaya jadwal lesnya diliburkan saja -_-

Jadilah…pekan ini adalah pekan magabut untuk saya..

Alhamdulillah, bisa mengistirahat saliva walau hanya sejenak… istirahat sebentar, sebelum semester baru di mulai awal tahun depan.

P.S: Semoga saja adek-adek les saya berhasil dengan nilai ujian mereka…

Sebuah Pengingat Dari Seorang Adek Les

Malam itu saya tengah menghabiskan waktu bersama salah satu adek les yang menunggu jemputan mamanya. Richa namanya. Tangan kami sibuk dengan kertas lipat untuk membuat origami yang dia sebut sebagai ‘cubit-cubitan’ sembari mengobrol santai.

Obrolan yang sebenarnya lebih bersifat monolog Richa yang memang senang bercerita. Kemudian mencuat sebuah topik obrolan bertema cita-cita yang dilontarkan oleh Richa.

Richa : “Mbak, kemarin di sekolah aku baca puisi. Judulnya cita-citaku. Cita-cita mbak Mei apa?”

Sebuah pertanyaan yang entah kenapa tak bisa saya jawab.

Pertanyaan sederhana yang terlontar dari seorang bocah berusia 7 tahun tak bisa saya jawab. Mulut saya benar-benar terkatup tanpa suara. Bahkan rasanya jantung saya berhenti berdetak selama sepersekian detik. Dada terasa sesak. Saya, entah sejak kapan tak pernah lagi punya passion terhadap sesuatu yang berbau cita-cita. Hal yang saya ingat mengenai cita-cita di akhir-akhir waktu ini adalah penyanyi yang mempopulerkan sebuah lagu yang menjadi top hits di tempat kerja, bahkan mungkin di seluruh tanah air… -_-

Saya tak lagi punya cita-cita. Belum selesai meratapi diri yang merindu akan rasanya passion mengejar cita-cita, pernyataan Richa kembali membuat saya merasa miris..

“Cita-citaku guru mbak. Aku pengen kayak mbak Mei, bisa ngajarin murid terus muridnya jadi pinter. Nilainya jadi bagus. Besok karnaval di hari pahlawan aku maunya pake baju guru mbak…tapi bajunya gak ada.”

Sebuah pernyataan lugu yang membuat saya terenyuh. Oh Gosh…. Saya sama sekali tak pernah menyangka pemikiran tersebut akan muncul pada adek les. Saya sama sekali tak pernah berpikir dia menjadikan ‘guru’ sebagai cita-citanya. Menjadikan saya saya inspirasinya. Ironisnya selama mengajar, niat saya tak lebih dari sekedar mencari tambahan uang jajan, sementara bocah yang berusia 7 tahun memberikan pemikiran bahwa saya telah membuatnya pandai dan menjadikan sosok guru lesnya ini sebagai salah satu sosok pahlawan. Iya, saya memang mengajar.. tapi saya belum pantas menyandang predikat sebagai seorang guru. Belum, saya masih manusia biasa yang kebetulan bisa, memiliki sedikit pengetahuan, dan mau membaginya dengan siswa-siswi sekolah.

Terimakasih untuk ‘alarm’-nya, adek Richa….. Setidaknya monologmu bisa membuat saya kembali mengingat akan cita-cita serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap tanggung jawab pada bidang pekerjaan yang telah saya pilih.

P.S: Dear Richa…I wishes the best for you. You have to be better than me, girl!!

Panggilan Dari Murid

Sebagian besar panggilan untuk sosok yang tugasnya mengajar siswa adalah Ibu atau bapak…. Pak atau bu… Itu formal…

Tetapi ada pula beberapa panggilan yang lebih santai, seperti mbak atau mas.. atau miss atau kakak…

Saya sendiri pernah dipanggil ‘Bu’ atau ‘Ibu pada beberapa kesempatan mengisi kelas. Dan lebih sering disapa ‘Mbak’ dan ‘Kakak’ oleh sebagian besar siswa.

Namun baru pertama kalinya saya di panggil ‘Tante” oleh seorang siswa kelas 1 SMP yang berusia 10 tahun -_-

Oke… I’m sure that i’m an aunt. I has a half dozen nieces (and nephew). Tapi wajarkah seorang pengajar disapa ‘tante’ oleh anak didiknya??

Ketika saya menanyakan alasan pada si murid tentang panggilannya kepada saya, dia menjawab bahwa saya mirip tantenya di rumah 😀

Setelahnya dia memanggil saya dengan “miss”.

Sebutan-sebutan itu berlaku jika siswa berada di hadapan pengajarnya.

Lain lagi jika mereka membicarakan pengajar di luar jangkauan pendengaran pengajar.

Ada saja sebutan mereka…

Saya sempat mendengar siswa menyebut tentornya dengan “Bu Pendek”

Atau “Bapak Jomblo”

Dan yang lebih sering adalah menyebut pengajar sesuai dengan Mapel yang diajarkan.

Saya sendiri pernah mendengar sebagai beberapa siswa mendiskusikan saya dengan sebutan “guru gila” , “mbak gaul”, dan “miss amoeba”  -_- dikira saya bisa membelah diri…

Yang jelas, sapaan-sapaan tersebut adalah salah satu simbiosis antara siswa dan pengajar. Entah itu yang bersifat positif mauun negatif.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Mengajar Di Pekan Kedua

Pekan kedua memerah otak bukanlah tanpa celah..

Saya memulai minggu ini dengan sebuah ketololan yang menggelikan. Saya dengan bisanya lupa tidak menggunakan helm saat berkendara motor dari rumah kakak menuju tempat mengajar. Kebetulan awal pekan ini saya ditugaskan di lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota. Harus melewati jalanan raya yang super padat oleh bus dan truk-truk besar. Belum lagi siang hari, para pejabat polisi selalu berkeliaran di jalan raya.. mengatur arus jalan dan (mungkin sembari) mencari mangsa pengendara yang lalai terhadap perarturan lalu lintas. Saya, melewati tiga orang polisi di tiga titik macet pusat kota, tetapi ketiganya tidak mengacuhkan saya. Tidak menyetop motor yang dikemudikan adek. Saya baru menyadari tidak ada helm yang melekat di kepala ketika kami hampir sampai di tempat tujuan. Ya Tuhan.. kenapa saya begitu stupid 🙂 . Mungkin karena terlalu excited dengan tempat mengajar yang jauh dari kota, dan yang pertama kali bagi saya menjamah daerah tersebut… sehingga amnesia akan helm.. Bersyukur rasanya tidak terkena operasi Mr. Police… Semoga saja Tuhan membalas kebaikan polisi-polisi yang tidak menjadikan saya sebagai ‘mangsa’ mereka (AMIN).

Esok harinya dan lusanya, tidak banyak kejutan yang saya dapatkan… Celotehan siswa masih tetap sama.. tentang saya yang kurang tinggi serta tulisan yang begitu mini. Satu dua orang berceletuk;

“Tahu gini aku pake kacamata”

“Aduh..aku gak terbiasa nyatet dengan tulisan kecil”

Lalu kemudian setelah selesai mencatat materi, saya menuju jajaran bangku paling belakang di kelas tersebut. Mencoba membaca tulisan saya yang kata mereka tak terlihat. Hasilnya… saya bisa kok membaca tulisan saya. Saya akui bahwa tulisan saya tidak besar, tetapi tidak berarti mirip sandi rumput yang tak terbaca. Saya juga iseng menanyakan pada salah satu siswa yang masih mencatat;

“Bisa gak baca tulisanku di depan?”

Siswa yang saya tanya menjawab;

“Bisa kok, Bu”

Lalu kemudian ada suara lain yang menimpali dari jajaran bangku di depan;

“Bisa kok dibaca, tapi aku males nyatet.. besok kalau mau ulangan aku fotokopi aja”

Ahh…tulisan saya yang kecil menjadi kambing hitam dari sebuah kemalasan bocah SMP 🙂

Jadi, setelahnya jika masih ada komentar tentang tulisan saya yang kecil.. saya datangi bocahnya dan saya tanyakan;

“Yang mana yang gak kelihatan, Dek? Aku diktekan sekarang”

Kemudian di kelas itu tak ada lagi bulan-bulanan tentang tulisan saya yang kecil… Kalau malas mencatat, ya tidak usah mencatat semua… jadi tak perlu menjadikan tulisan di papan tulis sebagai alasannya.. hohohohoohohoo..

Saya kembali terkejut ketika harus mengisi materi di kelas 2 SMP. Seperti mengasuh bocah playgroup. Kelas itu seperti taman bermain. Mereka berlari ke sana- kemari. Usil menyembunyikan tutup spidol saya.. Bahkan ada yang dengan sengaja berdiri terus di sebelah saya, mengikuti setiap gerakan yang saya lakukan. Mungkin baginya saya tak jauh beda dengan instruktur senam di kelas itu..

Berteriak-teriak di kelas adalah kegiatan yang berlangsung selama 90 menit penuh, baik lelaki maupun wanitanya. Ada juga siswa yang suka memotong pembicaraan. Ketika saya menjelaskan tentang ‘A’, tiba-tiba saja ada teriakan dari sisi kelas;

“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…COBA LIHAT SOAL NOMOR 3..ITU MAKSUDNYA APAAAA????!!!!!!!!”

Semua kata dilafalkan dalam nada 12 oktaf… teriakan nada seorang Mariah Carey pun lewat -_-

Lalu ketika hendak memberikan jawaban, ada lagi teriakan lain dari sisi sebelah… Padahal membahas soal sudah ditentukan dilakukan setelah menjelaskan materi. Tapi, aturan itu tak bisa diberlakukan pada siswa yang berada pada usia labil…di satu sisi mereka sudah harus berhadapan dengan masa akil baliq primer, tetapi di sisi lain mereka masih pantas berseragam putih merah.

Jadilah.. saya yang harus mengerti. Menahan diri untuk tidak melayangkan benda-benda sekitar pada keliaran mereka. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG… Harus atur nafas dengan benar. Selesai mengajar, saya berasa baru saja melakukan lari cepat 10 KM.. Lelahnya.. Alhamdulillah, sistem pernafasan saya masih normal dan oksigen masih tersedia bebas di alam.

Semoga saja edisi lari di kelas tak ada lagi di sesi mengajar selanjutnya… Tak apalah lari-lari sedikit, asal ilmunya bisa diterima. Asal mereka senang. Asal mereka mau belajar. Kalau senang, insya Allah belajarnya mau.. ilmunya sampai..