Mengunjungi Candi Jawi

Masih di Kawasan Tretes…..Perjalanan pulang setelah menyantap durian

Pernah mendengar Candi Jawi??

Jujur saja… saya baru mengetahui adanya Candi Jawi sepekan yang lalu saat hendak mendaki Welirang. Dan pekan ini saya mampir untuk mengunjungi si candi. Alamat lengkapnya, saya tak tahu pasti (hehehehehehe). Namun pastinya di kaki gunung Welirang, desa Candi Wates, kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur πŸ™‚

Ada apa dengan candi Jawi? Sama seperti Prambanan, Borobudur, Penataran, serta candi-candi lainnya…. Ada cerita, kawan πŸ™‚

Dari seorang bapak yang menunggui pintu masuk candi Jawi ini, Pak Solikhin, saya mendapatkan sepenggal cerita akan Candi Jawi ini.

Candi Jawi yang juga dikenal sebagai candi Jawi-Jawi berdiri pada tahun 1300 yang merupakan peninggalan kerajaan Singosari. Tahun 1331 candi ini disambar petir yang kemudian padaΒ  1138-1146 dilakukan pemugaran pertama. Tahun 1975-1980 dilakukan pemugaran kedua.

Menurut Pak Solikhin, candi berasal dari kata ‘cagra’ yang berarti rumah dan ‘dirga’ yang berarti mati. Sehingga secara harfiah, candi merupakan rumah orang mati. Namun, ada beberapa pendapat yang mengemukakan bahwa candi adalah tempat pemujaan. Menurut Pak Solikhin, pengertian dari candi sendiri masih dalam tahap diskusi para ahli.

Sebuah candi dikatakan sebagai tempat pemakaman apabila di dalam candi terdapat patung Shiwa Mahaguru, sedangkan dikatakan sebagai tempat pemakaman jika di dalamnya terdapat patung ‘Lingga’ (lambang laki-laki) dan ‘Yoni’ (lambang perempuan). Candi Jawi sendiri sebenarnnya merupakan tempat peletakan abu raja Kertanegara, tetapi beberapa penduduk sekitar kerap kali menjadikan candi ini sebagai tempat pemujaan. Hal tersebut dapat diketahui dari bau dupa di dalam atau sekitar candi.

Inilah yang masih dipikirkan oleh Pak Solikhin….. Membuat masyarakat mengerti akan fungsi candi…. Supaya tak ada yang namanya salah kaprah!! Yahhhh… namanya juga budaya yang mengakar πŸ˜‰

Satu hal yang tak pernah luput dari sebuah candi adalah relief yang terukir di setiap badannya. Membaca relief selalu memutar. Jika memutar searah jarum jam maka cara membacanya dinamakan prasawiyah, sedangkan jika berlawanan dengan jarum jam disebut pradaksian. Kisah-kisah yang ditampilkan oleh relief setiap candi tidaklah sama, namun sebagian besar candi selalu menceritakan perjalanan rombongan raja ke suatu tempat yang pada akhirnya menjadi tempat berdirinya candi tersebut. Kisah itu pulalah yang menjadi relief di Candi Jawi.

Saya memang bukan maestro candi dan kedatangan saya ke candi Jawi pun bukan untuk riset penelitian, tetapi boleh bukan jika saya sedikit mengetahui salah satu peninggalan budaya sendiri?

Untuk masuk ke area candi ini kita tak perlu membayar mahal. Tiket masuknya adalah seikhlas kita! Kita ikhlas kasih 1000, tak masalah. Ikhlas memberi 1 milliar pun bukan perkara πŸ˜‰

Jika makan durian adalah jalan-jalan ringan, bolehlah saya katakan kunjungan saya kali ini adalah smart traveller πŸ˜‰

P.S: Terimakasih untuk Bapak Solkhin yang sudah berbagi cerita pada saya. Terimakasih juga atas tawarannya untuk bermain ke tempat bapak di gunung Arjuno….. Next time ya Pak… πŸ™‚

Advertisements

Refresh at Tretes

Weekend ini perasaan suntuk itu kembali datang… alasannya tetap… The one and only… it’s always about Final Project 😦

Dan meskipun dengan alasan berbeda, kesuntukan ini juga dirasakan oleh adik saya. Karena itulah, hari sabtu kemarin (7 Januari 2012) kami berkendara ke arah selatan kota Surabaya. tujuan utama adalah Malang. Niat awal kami adalah menyusul kakak saya beserta keluarga besarnya yang masih kecil-kecil ( πŸ˜‰ ) ke Malang karena saat itu mereka sedang menghabiskan waktu libur sekolah di Malang.

Namun, karena kabar yang kami terima hanyalah mereka berada di Malang maka niat itu berbelok menuju Tretes πŸ˜‰

Setidaknya mengingat akhir minggu lalu dimana saya, Intan, dan Bari menapaki Welirang (Saya tak akan menjelaskan hubungan Tretes dengan Welirang!! Yang belum tahu, tanya simbah google!! πŸ™‚ ).

Di Tretes ngapain dong??

Pertama… Beli Durian…

Inilah hal yang sebenarnya ingin saya lakukan minggu lalu sebelum bertolak ke Surabaya. Makan durian!!

Jauh-jauh ke Tretes hanya untuk durian?? Memang kenapa??? Gak boleh??

Selain suasananya yang jauh lebih menyenangkan daripada polusi Surabaya, harga duriannya pun jauhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh lebih bersahabat bagi kantung saya. Beli durian di hypermart atau Indomaret di Surabaya memang bisa, tetapi harganya gak banget!!!

Syaratnya adalah PINTER NAWAR!!! πŸ˜‰

Beneran dehhh… kalo kita kurang pandai bermain harga, habislah dompet kita. Bulan Desember sampai Februari adalah musim durian sehingga jumlahnya melimpah ruah yang menyebabkan harganya rendah. Satu buah durian gunung yang matang pohon bisa kita beli dengan harga 15 ribu rupiah per buah. Ukurannya memang tidak besar, tetapi cukup untuk disantap tiga orang.

Tapi ya itu tadi, harus pandai menawar πŸ˜‰ Saat saya menikmati si durian, datang segerombolan mas-mas pembeli yang menjadi contoh bahwa mereka bukan smart consument. Saya mendapatkan tiga buah durian berukuran (lumayan) gede dengan harga 50 ribu, sementara mereka hanya mendapatkan dua buah dengan ukuran yang jauh lebih kecil daripada durian saya!!! Duuhhh…. saat itu maunya menolong si masnya suaya mendapat harga murah, tapi itu kan bukan kapasitas saya… Bisa-bisa saya dihajar penjualnya πŸ˜‰

Di tretes sendiri, durian-durian yang berasal dari gunung Welirang-Arjuno itu dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Ada beberapa gubuk-gubuk durian yang bisa dijumpai di sepanjangΒ  jalan Tretes sehingga tak perlu khawatir tidak menemukan buah durian di Tretes πŸ˜‰

Ini baru jalan-jalan ringan… πŸ˜‰

Tumpukan Durian yang Menggiurkan πŸ˜‰