Klik Kanan, Bukan Klik Sisi Kanan

 

Siapa yang bisa menampik bahwa saat ini zaman sudah sangat modern?! Apa-apa sudah serba teknologi canggih. Bahkan sepertinya komputer sudah sangat keinggalan zaman. Kenapa pula harus bawa-bawa PC sedangkan saat ini sudah ada tablet yang bisa dijejalkan ke dalam tas jinjing cewek yang ukurannya tak lebih dari 30 x 30 cm?!

Tapi dibalik hiruk pikuknya zaman modern ini, masih banyak kok manusia-manusia uzur yang hanya sekedar numpang eksisnya modernisasi. Selama ini saya hanya membicarakan bagaimana orang-orang yang datang ke warung internet menghabiskan waktunya untuk ngegames. Tanpa pernah berfikiran bahwa sebenarnya mereka hanya bisa ngegames. Hanya tinggal menekan tombol power untuk menyalakan PC lalu log in sebagai client yang kemudian bisa segera menikmati asiknya berseluncur di dunia maya. Tanpa harus repot-repot memikirkan IP address internet atau error lainnya. Dan hari ini saya menyaksikan sendiri bagaimana gugupnya mereka berhadapan dengan sebuah teknologi.

Tak perlu jauh-jauh atau berfikiran tentang pembuatan personal web atau output output teknologi lainnya. Cukup dengan sebuah ‘mouse’. Iya… benda kecil yang biasa di klak klik klak klik saat kita bermain-main dengan perangkat komputer. Benda yang biasanya berbentuk bulat telur pipih yang saat ini dilengkapi lampu kelap-kelip saat kita mulai menyalakan PC.

Bukankah mouse adalah perangkat kecil yang juga termasuk dalam bagian sebuah teknologi?! Idealnya, jika sudah bisa menyalakan PC dan bermain-main dengannya selama berhari-hari… istilah ‘klik kanan’ bukanlah kosakata asing yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa sansekerta!Namun pada kenyataannya, nyaris semua mahkluk yang bermain-main dengan PC untuk ngegames di warnet ini tak tahu apa artinya ‘klik kanan’.

Saat salah satu diantara mereka mengalami masalah dengan tampilan monitor PCnya, saya menyuruhnya untuk ‘klik kanan’. Dan yang dilakukannya adalah meletakkan kursor mouse pada sisi kanan layar monitor lalu menekan bagian kiri mouse yang dipegangnya. LUAR BIASA!!!! Dan aksi ini dilakukan oleh seorang pemuda yang sangat sering mengoperasikan PC!

Tapi kemudian saya menyadari bahwa mereka hanya sekedar mengetahui bagaimana caranya ngegame dan perkara-perkara seperti klik kanan kiri itu adalah asing bagi mereka karena mereka memang tak mendapatkan pendidikan formal mengenai hal tersebut. Tak ada pembelajaran dan tak mau belajar sendiri. Saya rasa itulah alasannya mengapa yang mereka ketahui hanyalah games games dan games.

Lalu, siapa yang salah? Pemerintah kah karena tak mau memberikan pendidikan yang layak mengenai teknologi kepada rakyatnya? Bukankah pemerintah sudah sangat baik dengan tidak membatasi akses perkembangan IPTEK bagi kemajuan bangsanya? Kenapa tidak belajar sendiri saja? Supaya tak ada lagi rooming antara ‘klik kanan’ dengan ‘mengklik sisi kanan’.

 

 

 

 

Advertisements

Games Itu Adalah Pekerjaan Mereka

Satu hal yang pernah saya tuliskan, betapa banyaknya para gamers paruh baya yang sering menghabiskan waktu di warnet ini. Mulai pagi hingga sore hari. Mulai siang hingga malam hari. Saat itu saya yang masih kaget hanya tahu bahwa mereka datang karena tak punya pekerjaan. Akhirnya melampiaskan diri ke warung internet untuk mencari-cari pekerjaan yang bisa mereka lakukan.

Ngegames via internet!

Atau lebih tepatnya main poker melalui salah satu situs jejaring sosial yang terkenal. Tak jarang mereka menghabiskan uang 20 ribu dalam sehari hanya untuk mengumpulkan koin-koin dollar dari dunia maya, atau mereka menyebutnya dengan chip. Saya tak tahu bagaimana cara bermainnya, yang pasti mereka berusaha untuk mengumpulkan chip sebanyak-banyaknya.

Rasanya keren ketika mendengar percakapan diantara mereka

A : “Chip mu piro, bro?”

B : “Aku mari kalah… wing 3 millyard. Saiki kari 300 juta”

A : “Waduh… aku yo mari rugi 20 juta e”

B : “Wes wes…nasib”

Sebagai manusia awam di dunia perpokeran, 3 millyar itu adalah sesuatu yang awesome. 3 Millyar!! Bagaimana jika chip itu benar-benar bisa dirupiahkan. Mungkin orang terkaya di dunia ini adalah para gamers tersebut. Pekerjaan hanya menghadap PC yang monitornya menampilkan beraneka ragam permainan. Tinggal meningkatkan keterampilan menggunakan mouse saja. Asal tepat ‘klik’ nya, jadilah jutawan dalam sehari!

Tapi masalahnya bisakah chip tersebut menjadi rupiah? Bahkan saya pernah mengutuk mereka yang punya anak istri tetapi menghabiskan waktu seharian untuk bermain-main di depan komputer. Para gamers yang memang kebanyakan laki-laki tersebut dengan santainya datang ke warnet sembari memainkan poker melalui akun jejaring sosialnya. Bahkan ada pula yang membawa anak istrinya. Sungguh membuat saya speechless.

Akhirnya saya mendapatkan jawaban. Mereka yang bermain-main seharian itu ternyata bekerja mencari nafkah. Kok bisa? Ternyata oh ternyata, chip yang terkumpul itu benar-benar bisa menjadi rupiah. TAPI…jangan terlalu berfikir bahwa 3 millyar akan berbentuk 3 millyar, sobat! Kata salah satu gamers yang saya tanya, dulu pertama kali ada permainan poker tersebut…harga chip bisa mencapai 50 ribu rupiah per 1 juta chip! Sekarang, 1 juta chip hanya dihargai 5 ribu. kalau beruntung masih ada yang mau membeli dengan harga 20 ribu rupiah per 1 juta chip.

Jadi, misalnya seseorang bermain dan mendapatkan chip sebesar 100 juta ia bisa mendapatkan Rp 500.000 jika semua chipnya laku dengan harga 5 ribu per chip. kalau memang belum rejeki, terkadang mereka hanya bisa mendapatkan 20 ribu sehari. Setelah dipotong biaya internet, rata-rata mereka mendapatkan penghasilan bersih sebesar 12 ribu rupiah sehari. Dan itu untuk meramaikan suasana dapur di tempat tinggal masing-masing.

Astaghfirullah… sebegitu susahkah bangsa ini sehingga poker dunia maya pun menjadi lapangan pekerjaan untuk sebagian orang?

Bisa dibayangkan… kalau misalnya tak ada yang mau membeli chip? Tak ada rupiah yang didapat… Bagaimana caranya menafkahi anak dan istri yang tengah menanti di rumah? Menyesal rasanya ketika saya berfikiran buruk bahwa gamers tersebut menelantarkan anak istrinya dengan bersenang-senang di warung internet. Justru warung internet menjadi ladang rupiah mereka. Saya yakin bahwa sebenarnya mereka ingin memiliki pekerjaan yang jauh lebih berpenghasilan untuk menghidupi keluarga. Tapi mungkin karena terbatasnya keahlian dan kesempatan, jadilah mereka memanfaatkan satu-satunya kesempatan yang tak menuntut banyak dari keahlian mereka.

Ironi lain dari sebuah negeri yang bergelimpangan sumber daya alam..

Saya pun semakin speechless terhadap keadaan bangsa ini….

Saat Partner Kerja Tak Mengerjakan Tugasnya

 

Setelah hampir dua bulan bermain-main di warung internet sebagai operator saya merasa bahwa partner saya ini termasuk mereka yang menyalahartikan kerjasama. Bagi saya, kerjasama merupakan simbiosis mutualisme dimana semua pihak yang terlibat di dalamnya mendapatkan keuntungan. Namun pada kenyataannya, partner saya itu lebih cenderung membuat saya merugi daripada untung.

Di warnet ini, kami juga menyediakan jasa pengetikan. Entah itu hanya berupa makalah, surat-surat pernyataan, atau bahkan skripsi (hanya PENGETIKAN, bukan PENGERJAAN SKRIPSI πŸ˜‰ ). Dan selama bekerjasama melakukan pengetikan inilah saya merasa dibully.

Misalnya kami menerima dua buah makalah untuk diketik dimana jumlah halamannya relatif sama. Tahu dong kalau 2 dibagi 2 = 1?! Jadi masing-masing kami harusnya bertanggung jawab atas satu makalah tersebut. Namun kenyatannya adalah 2 dibagi 2 itu bisa 1,75 : 0,25 atau 1,50 : 50. You see what I mean?

Jadi pekerjaan yang harusnya menjadi tugas partner saya itu kerapkali menjadi bonus kerja bagi saya. Saya yang memang sangat tidak suka menunda-nunda pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab saya tak akan pernah membiarkan pekerjaan tersebut kalah dari aktivitas bermain poker via FB!!! Karena itulah, Alhamdulillah, saya selalu bisa menyelesaikan apa yang menjadi pekerjaan saya dengan tepat waktu bahkan kadang-kadang saya masih menyisahkan sedikit waktu kerja yang bisa saya gunakan untuk melemaskan otot atau berselancar di dunia fana (red; internet). Saya tidak salah bukan?

Kebalikannya, partner saya menjadikan tugasnya sebagai jobside dari bermain FB! Hasilnya pekerjaan dia kerap kali tertunda penyelesaiannya. Lalu entah mengapa ketika tugasnya itu belum selesai dia selalu saja mengirimi saya pesan singkat di pagi hari yang isinya

Mei, ketikanku yang kemarin belum selesai. Kemarin itu lagi rame, jadi aku gak bisa nyelesaikan

Welldone! Akhirnya sayalah yang harus menuntaskan pekerjaannya. Kesal sih, tapi mau bagaimana lagi? Kalau orderan tidak selesai ketika si pemesan hendak mengambilnya dimana saat itu saya yang sedang bertugas di warnet? Saya yang diomelin customer bukan?

Sekali dua kali sih tak masalah, tapi nyaris ada pengetikan yang jumlah halamannya berlembar-lembar hal tersebut salalu terjadi. Akhirnya munculnya emosi kesal yang menumpuk pada saya. Ingin sekali membiarkan apa yang memang bukan tanggungjawab saya itu. Tapi apa daya, saya bukan orang yang suka melihat pekerjaan selesai setengah jalan.

Saat saya mencurahkan kekesalan ini pada salah satu teman, dia berkata

Ingat, Mei! Itu bukan tugas kelompok kuliah yang bisa bikin kamu gak dapet A. Kalau memang bukan tugasmu, gak usah dikerjakan!”

Tapi bukankah saya sudah mengatakan sebelumnya… kalau si pemesan datang mengambil orderannya saat saya yang menjaga warnet bagaimana? 😦

Lalu ada lagi yang lebih keren solusinya

“kamu log out aja, Mei!”

Bagus! Resign memang jalan tercepat supaya saya tak berhubungan lagi dengan orang yang tak disiplin dalam melakukan pekerjaannya. Tapi kalau saya resign, saya mau makan darimana? Bukankah saya telah bertekad bahwa seorang Sarjana tak boleh lagi meminta biaya hidup pada orang tua! Tak boleh lagi jadi parasit…kasian inang saya yang sudah mulai menua. Kalau sudah bisa membuat makanan sendiri, kenapa perlu inang? πŸ™‚ Lagipula pekerjaan ini bukan proyek jangka panjang saya sehingga ada saatnya saya akan mundur dari tempat ini (Insya Allah).

Solusinya bagaimana coba?

Tetap bekerja dengan riang. Itulah yang akhirnya saya lakukan. Sempat marah dan kesal, itu manusiawi. Namun setelahnya saya berusaha untuk bertahan dengan memikirkan bahwa jika saya bsia menyelesaikan tugas dengan baik maka sayalah yang akan mendapatkan manfaatnya. Seseorang akan selalu riang gembira ketika melakukan sesuatu yang hasilnya bermanfaat untuk diri sendiri, bukankah begitu sifat manusia? Jadi saya menganggap bahwa apa yang saya kerjakan adalah untuk saya bukan untuk partner saya!

Satu lagi, mengundurkan diri dari pekerjaan lantaran masalah kecil tersebut sama saja lari dari masalah. Pecundang! Saya kan pemilik scudetto, masa harus jadi pecundang gara-gara ketidakdisiplinan orang lain? πŸ˜‰

Haruskah mengadu pada atasan mengenai partner kerja yang agak henghong? Silahkan saja mengadu jika kalian memiliki kasus yang sama seperti saya. tetapi ingat, pengaduan harus disertai dengan bukti-bukti otentik. Selain itu, bulatkan niat bahwa pengaduan tersebut tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan partner tetapi sebagai bentuk teguran supaya kawan kerja kita bisa menjadi pekerja yang lebih baik di kemudian hari. Kalau niat mengadunya untuk mendongkel partner kerja, pasti ada dendam dan niatan untuk membalaskannya di kemudian hari. Jadinya kondisi lingkungan kerja semakin tidak nyaman. Intinya jangan ada dendam diantara kita.

Semoga saja kinerja partner saya bisa berubah. Dan saya bisa bertahan hingga mendapatkan panggilan kerja yang saya suka. Sampai saat itu tiba harus tetap semangat!!!! πŸ™‚

 

 

 

 

Tiba-Tiba Bad Mood

 

Tak tahu kenapa hari ini saya begitu enggan untuk menjaga si warung internet. Malas mungkin, tetapi lebih dekat dengan kurang mood lebih tepatnya. Atau apa lah istilahnya, yang jelas pagi ini sama sekali tak ada hasrat untuk ke warnet. Tapi apa mau dikata, saya toh tetap bersiap-siap dan melangkahkan kaki juga ke tempat rutinitas harian saya selama satu bulan terakhir.

Dan seperti biasa saya harus menunggu pak bos membukakan pintu gerbang warnet. Kadang-kadang 10 menit & kadang 15 menit. Tapi hari ini saya menunggu selama 30 menit! Ketika si papa bos membuka pintu gerbang, saya melihat seonggok motor terparkir manis di ujung tempat parkir. Motor tersebut milik anak pak bos yang kadang-kadang juga ikut menjaga warnet.

Pikiran saya adalah mungkin motornya sengaja di parkir di situ sedangkan pemiliknya pergi bersama teman-temannya. Namun setelah saya melihat pak bos menuju ruang belakang yang memang digunakan untuk sholat, tidur, dan aktivitas pribadi mereka…saya jadi tahu bahwa si anak ada di dalam warnet! Ya… Pemilik motor tersebut tengah asik terpejam di dalam warnet, sementara saya menunggu untuk dibukakan pintu gerbang. Menunggu selama 30 menit! 😦 Parahnya lagi area kerja saya macam Costa Concordia! karam! Kertas berserakan dimana-mana. Kaus kaki di atas meja. Putung rokok berceceran di lantai. Sepatu geletakan tak pada tempatnya…. uuuhhhhh…. membuat bad mood semakin parah!

Entah kenapa pula suasana hati yang kurang baik ini juga berdampak pada sepinya pengungjung. Biasanya 10 menit setelah saya selesai membenahi ruangan warnet yang ‘agak’ kocar-kacir, orang-orang sudah mulai berdatangan. Entah itu ngenet atau sekedar scan dokumen. Tapi sekarang…SEPI!

Dan mungkin juga lantaran terbawa suasana hati yang tak baik, salah satu PC operator mengalami gangguan. Tak bisa dioperasikan. Akibatnya tak bisa digunakan untuk ngeprint ataupun scan dokumen. Mungkin gara-gara PC error ini pula Tuhan tidak mengirimkan customer di hari ini.

Kalau tahu sepi begini…lebih baik tadi saya minta libur saja pada pak bos supaya bisa menemani teman saya yang hari ini melakukan sidang TA. HHhhhhh…… mungkin juga gara-gara merasa bersalah lantaran tak bisa mensuport teman saya dari dekatlah saya tak bersemangat untuk bekerja di hari ini…

Semoga saja kawan saya bisa menuntaskan sidang TA-nya dengan lancar…. Dan kalau sampai semangat ini belum hilang, semoga tak ada customer yang menampakkan ketololannya hari ini…

 

Tidak Untuk Lalaki

Salah satu orang yang saya kenal mengatakan

Mei, sekalian tuh jaga warnet sambil liat-liat cowok. Siapa tahu ada yang nyangkut

Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwwwkwkwk…..

Benar-benar pernyataan gila! Liat-liat cowok di warnet? Kurang kerjaan sekali! Memang banyak kaum adam yang mengunjungi warnet tempat saya internetan gratis dan sudah pasti saya melihat mereka untuk memastikan mereka termasuk DPO POLRI atau bukan. Tapi kalau masalah ‘nyangkut’, memangnya mereka layangan yang bisa nyangkut dimana saja?!Β 

Kalau boleh saya klasifikasikan, supaya si pembuat pernyataan tersebut tahu, lalaki yang mengunjungi warung internet ini adalah :

  1. Mereka yang berseragam putih-merah
  2. Bocah SMP yang masih labil yang hobinya teriak-teriak saat melihat sesuatu yang tabu
  3. Anak putih abu-abu yang bolos dari kelas fisika
  4. Suami-suami pengangguran yang doyan main poker via FB sementara istrinya berjualan nasi bungkus di depan rumah kontrakan mereka yang teramat mungil
  5. teman sepermainan adik saya… mahasiswa-mahasiswa yang suka mengumpulkan tugas kuliah mepet-mepet deadline
  6. Mereka yang sepantaran saya tetapi sibuk kesana kemari untuk menyebarkan lamaran pekerjaan

Demi apa saya harus nyantol pada mereka yang telah saya jabarkan di atas?

Tidak ada maksud untuk menghina dinakan mereka, tetapi niat saya berada di sebuah warung internet tidak untuk mencantolkan diri pada siapapun! Dan Tuhan pun menjawab niat saya tersebut. Kalau niat awal mau mencantolkan diri, Tuhan pasti tak akan mengirimkan laki-laki setinggi 100 meter dengan wajah kucel plus bau keringat ke tempat saya ini… Saya yakin itu!Β 

Saran saya, untuk siapapun….. warung internet bukan tempat yang tepat untuk kalian yang ingin mencari laki-laki atau perempuan untuk dijadikan pacar atau teman kencan, terutama pada rentang pukul 07.00 – 13.00 ! Percaya deh…mereka yang ke warung internet pada jam-jam segitu adalah individu yang sedang galau, tak punya pekerjaan, plus ingin malas-malasan di dalam dunia maya πŸ˜‰

Β 

The Most Populer Social Network

Fakta itu benar. Facebook adalah situs jejaring sosial paling polpuler di dunia. Bahkan mungkin merupakan situs yang paling banyak diakses. Mulai dari bocah SD hingga bocah berumur. Hampir semua orang yang datang ke warung internet, selalu mengetikkan ‘www.facebook.com’ di tab search-nya. Saya sendiri tidak tahu tujuan mereka membuka facebook, tetapi yang pasti tentu saja untuk memuaskan candu. Ingat bahwa FB itu lebih mencandui dibandingkan candu sendiri. Sekali kena, pasti mau lagi dan lagi. Entah hanya sekedar up date status atau berjualan atau melihat up date status teman-teman yang berada jauh di mata.

Bahkan ada seseorang yang terlihat begitu frustasi lantaran akun FB nya tak bisa dibuka. Dia bahkan rela berdiam diri di warnet selama berjam-jam dan memaksa operator (termasuk saya) untuk memperbaiki akun FBnya. Saat si operator bertanya mengenai problem akun FBnya yang tak bisa dibuka…jawabannya adalah dia lupa pasword! Hadeeehhh….. mana operator (saya) tahu pasword FB dia? benar-benar konyol! Saat operator menyarankan untuk mereset ulang paswordnya melalui akun email yang digunakan untuk membuat FB, jawabannya adalah “aku lali pasword emailku“. BUSET -_- mau gaya-gayaan main FB tapi pengetahuan mengenai dunia maya setengah-setengah… sudah berumur pula!!!

Kalo yang main anak-anak SD beda lagi. Mereka biasanya hanya melihat foto-foto teman sekelasnya, kemudian langsung mengklik menu games yang ada di laman FB. Jadi tetep, buka FB untuk ngegames.

Anak kuliahan gimana? Biasalah…saling perang komentar dengan teman-teman sebaya. Saling ngetag foto-foto narsis. Saling up date status galau. Dan kadang-kadang chating dengan seseorang yang entah berada dimana. yaaahhhh namanya juga sedang galau πŸ˜‰

Yang pasti, bagaimanapun cara mereka memperlakukan facebook…. situs jejaring sosial ini adalah yang terpopuler dibandingkan jejaring pertemanan lainnya….

Mutualisme Dengan Preman

Preman itu adanya dimana-mana. Dimana-mana ada preman. Dari sudut pandang orang awam, preman adalah sosok yang menakutkan plus tukang bikin onar. Preman kampus, preman jalanan, sampai preman kampus. Tak ada nilai plus untuk seorang preman.

Tapi jangan salah, untuk sebuah usaha warung internet preman juga sisi positif. Orang melihat sosok preman sebagai pengacau, tetapi pemilik usaha warung internet yang saya jaga menganggap preman sebagai satuan keamanan. Percaya deh, tak ada yang berani macam-macam terhadap sebuah warung internet jika pemiliknya memiliki hubungan ‘kekerabatan’ dengan preman.

Maksud saya bukan berteman baik atau menjadikan preman sebagai anggota keluarga, melainkan merangkul seseorang yang dianggap paling ditakuti oleh orang-orang di sekitar lingkungan tersebut untuk kemudian dimintai tolong sebagai penjaga keamanan. Saya pun meyakini bahwa meminta tolongnya tak secara langsung dengan memohon dan bersujud di hadapan si preman, tetapi dengan trik basa-basi πŸ˜‰

Mulai dari rokok gratis, kamar mandi gratis, hingga ngenet gratis selama berjam-jam!Lama-kelamaan si preman pasti sadar diri dan mengetahui tugas tak resminya sebagai penjaga keamanan.

Sepintas saya berfikiran, “Apa tidak rugi bagi pemilik warnet yang membiarkan seseorang menggunakan perangkat komputer untuk ngegame atau browsing selama berjam-jam tanpa membayar?“. Tetapi kemudin saya jadi tahu bahwa di dunia warung internet pun terjadi suatu simbiosis. Bahkan kadang-kadang ketika saya ingin ke kamar mandi sementara warnet sedang ramai, saya menitipkan bangku operator pada mas preman. Aman kok! Tak ada satupun barang yang raib πŸ˜‰

Namanya juga hidup, pasti ada hubungan antar makhluknya. Tinggal kita yang menentukan jenis simbiosisnya. Dan bagi manusia, pastilah tak mau dirugikan. Maunya yang untung-untung. Tapi bukankah tidak baik jika kita mendapatkan keuntungan sementara yang lain mendapatkan kerugian? Yang sama-sama menguntungkan saja, supaya bisa mejalani hari dengan tentram nan damai.

Pemilik warnet memberikan fasilitas ngenet gratis untuk preman dimana sebagai balasannya pemilik warnet mengharapkan keamanan di lingkungan usahanya. Mutualisme! Sama-sama untung πŸ™‚