Bagusnya ‘Diam’ Saat Hormon Tak Sepakat Dengan Otak

Susah memang jika harus berfikiran logis di saat keseimbangan hormonal sedang tidak stabil. Ada saja yang membuat kesal! Masalah sepele sebenarnya, tapi tetap saja membuat mangkel dan akhirnya muncullah pikiran-pikiran buruk beserta gerundelan yang sama buruknya.

Dan inilah yang sedang saya alami beberapa hari terakhir. Hormon sedang tidak seimbang!!

Sebentar ketawa, sebentar marah. Sebentar ceria, sebentar gundah gulana. Akhirnya….lelah!

Manusiawi memang…. tapi saya merasa beberapa hari terakhir yang berisikan ketidaknormalan hormon ini saya bisa jauh lebih ‘jinak’. Susah memang mengontrol diri saat fungsi otak dan hormon sedang tidak sinkron, tapi paling tidak saya sudah berusaha senormal mungkin untuk terlihat sedang tidak ‘sehat’ diantara lingkungan kantor yang selalu saja menimbulkan masalah sepele namun membuat kesal nan menjengkelkan.

Caranya adalah DIAM!!!!

Iya beneran! Diama saja. Diam di tempat yang tidak diisi oleh orang-orang yang berkaitan dengan rutinitas pekerjaan. Karena saya berbagi ruangan dengan rekan kerja, maka tempat diam saya adalah mushallah. Kalau tempat salat di kantor itu sedang digunakan ibadah, maka warung mie ayam sebelah kantor adalah tempat saya untuk diam guna mendamaikan fungsi kerja otak dan hormonal.

Setidaknya dengan ‘diam’ saya bisa kembali duduk manis di depan leptop kerja tanpa harus mengerutkan muka.

Ikan Tak Sama Dengan Lauk

Salah satu kesalahan beruntun yang sampai sekarang masih terjadi di kalangan masyarakat luas adalah mengatakan semua jenis lauk pauk adalah ikan.

Beneran deh…. dari beberapa daerah Jawa Timur, DIY, dan Jawa Tengah yang pernah saya singgahi, ibu-ibu yang jualan nasi di warung-warung selalu menanyakan “Pake ikan apa, mbk?”ย  Padahal di warung itu tidak menyediakan ikan apapun. Adanya hanya telur, ayam, mie, tahu, tempe, dan tumisan sayur. Karena sudah mengerti akan salah kaprah tersebut maka saya tahu bahwa maksudnya adalah lauk pauk.

Kasus ini tidak hanya saya temui di warung-warung pinggir jalan. Saya juga pernah mendapatkan pertanyaan “Pake ikan apa, mbk?” di salah satu restoran terkenal di Surabaya padahal menu utama di resto tersebut adalah ayam. Apakah ayam itu sejenis dengan ikan?? (buka buku taksonomi hewan!!!) ๐Ÿ˜‰

Mau menyalahkan susah karena yang namanya budaya pasti mengakar dengan akar yang sangat kuat.

Hanya sekedar mengingatkan saja, mulai sekarang kalau kita beli makan di tempat umum sebelum penjualnya bertanya “Pake ikan apa?” kita dahulu yang bilang “Pake lauk ayam ya, bu?!”. Pembiasaan diri yang baik dan selalu dibiasakan itu pasti akan menular pada orang-orang sekitar. Biarkan saja orang-orang zaman dahulu menganalogkan lauk pauk sebagai ikan, tapi buat kita yang tahu dan mungkin lebih berpendidikan… masa gak bisa bedain muka ikan yang monyong dengan muka telor dadar yang rata??? ๐Ÿ™‚ Supaya generasi penerus nanti tak lagi beranggapan semua lauk adalah ikan!

Ponakan saya saja bisa membedakan antara ikan dengan lauk..

Ceritanya saat itu saya sedang menyapu halaman dimana salah satu ponakan saya (Hafsha) ikut menemani tantenya. Kemudian tetangga sebelah rumah yang juga menyapu menyapa ponakan saya

Tetangga: “Acho… bubuk di rumah uti ya?”

Ponakan Saya: “Iya..sekolahku libur”

Tetangga: “Acho sudah makan?”

Ponakan Saya: “Sudah”

Tetangga: “Pake ikan apa, cho?? Kok Bu Cicik (panggilan tetangga saya) gak dikasih”

Ponakan Saya: “Gak makan pake ikan”

Tetangga: “Loh…makan nasi tok? Uti ndak masak??”

Ponakan Saya: “Pake telur dadar sama mie goreng. Tante yang masak”

tetangga saya: “Ya ampun…. kamu kok pinter sihhh!!! Buk Cicik goblok ya”, sembari tertawa sendiri setelah mendengar perkataan ponakan saya.

Saya hanya senyum-senyum mendengar jawaban lugas Hafsha… Ahhh…you’re really my niece, girl!! I proud of you ๐Ÿ™‚ (Pokoknya kalo pinter ponakan saya, kalo dongdong bukan!!! ๐Ÿ˜‰ ).

Jadi kawan,,,,, mulai sekarang… bedakan antara Ikan dengan Lauk pauk… Ok??!!!

Sedikit Mengobati Kangen Makanan di Kampung

Mencari-cari yang namanya rujak cingur di daerah Surabaya, khususnya Surabaya timur atau lebih tepatnya yang deket dengan area kampus saya, susah susah gampang. Banyak yang jual, tetapi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya…. rasanya kurang ok. Tidak pas. Tidak seperti rasa rujak cingur yang saya temukan di kampung halaman.

Tapi, dari semua kios rujak cingur yang dekat dengan kampus saya….. Saya bisa merekomendasikan satu… Warung rujak cingur yang ada di kawasan Mulyosari. Alamat lengkapnya sih saya tak tahu ( ๐Ÿ˜‰ ). Pokoknya daerah Mulyosari. Kalau dari arah Kenjeran, di kanan jalan… beberapa meter setelah belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Kalau dari arah ITS, kiri jalan sebelum belokan pertigaan ke arah Unair kampus C. Duuhhh… piye yo ngomongnya….. Pokoknya Mulyosari lah…

Rujak cingur di sana lumayan. Porsinya juga tidak tanggung-tanggung lohhh…. cukup banyak kata Puput dan sangat banyak kata saya ๐Ÿ™‚

Warungnya sih tidak sebesar resto-resto modern….. Hanya sebuah etalase kaca kecil tempat bahan rujaknya dan sebuah meja yang juga tidak besar sebagai tempat ulekan serta peralatan lainnya. Tempat makan di sanapun hanya cukup untuk lima orang seukuran tubuh saya dan itupun harus desek-desekan. Tapi… semua yang serba minimalis itu terbayar dari rasa rujaknya yang maksimalis.

Harganya?? 8 ribu rupiah untuk satu porsi. Standarlah untuk harga rujak cingur di kota sebesar ini. Bahkan menurut saya harganya terbilang murah karena sama dengan harga rujak cingur di kampung saya.

Sayangnya saya tak bisa mendokumentasikan si pemilik warung karena ia tak mau dipoto. Mau coba curi-curi motret, tapi gagal lantaran saya sibuk dengan urusan menikmati sepiring rujak. Setidaknya cukup untuk mengobati rasa kangen akan makanan kampung…..

Para Manusia Kampus yang Kerap Kali menjadi Partner Saya saat Makan Rujak Cingur