NII Bukan Islam & Indonesia

Pesan dari Bapak Saya:

“Awas lo, Nduk. Gak usah ikut-ikut organisasi gak jelas. Ndak usah gabung-gabung sama NII”

Hemmmm….. pesan tersebut sedikit mengancam memang. Tapi Insya Allah, saya tahu apa yang baik dan yang buruk.

Saya sama sekali tidak tahu motif  NII itu apa. Saya hanya bisa menebak dan berspekulasi saja. Tapi yang jelas NII dan organisasi-organisasi aneh lain yang mengatasnamakan kepercayaan saya, Islam, adalah kerjaan orang-orang yang tak punya kerjaan. Mau apa coba repot-repot mendirikan Negara Islam Indonesia? Kenapa tidak memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia saja? Apa mereka fikir membuat suatu Negara itu semudah membuat mie rebus?

Sangat tidak masuk akal. Katanya mau membentuk Negara Islam, tapi kenapa harus menggunakan cara yang tak dilegalkan oleh Islam. Benarkah mereka yang tergabung dalam NII adalah seorang muslim? Saya pikir, jika mereka benar-benar muslim mereka tidak akan melakukan perbuatan semacam menculik orang. Jika ingin mencari anggota, mengapa tak mencari secara baik-baik coba? Mengapa harus sembunyi-sembunyi jika perbuatan mereka itu tidak menyimpang?

Apa iya anggota-anggota NII hidup lebih layak dibandingkan WNI biasa? Tapi mengapa saya mendengar mereka kerap kali mencari dana dengan meminta sumbangan di pinggiran jalan? Dan motifnya selalu sumbangan Panti Asuhan atau Yayasan Anak Yatim. Benar-benar buruk!! Sudah menyalahi aturan negara, bohong pula!! Sama sekali tidak mencerminkan Islam. Dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Tidak pantas rasanya jika organisasi mereka dinamakan Negara Islam Indonesia.

Dan seandainya suatu saat NKRI berubah menjadi NII saya akan pindah kewarganegaraan!!!!!!

Advertisements

Apa Kabar Sinar Kudus

Sudah berapa lama saya tidak mendengar berita mengenai Kapal Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia…. Bagaimana kabarnya ya?? Apakah perompak-perompak Somalia sudah membebaskan WNI yang mereka tawan? Kabar terakhir yang saya dengar hanya kesepakatan mengenai uang tebusan yang mereka minta… Kalau tidak salah dengar sih sebesar 3 juta dollar. Wuuihhhh…duit semuakah itu??? Kalau saya tidak saya lagi hari ini adalah hari ke 46 Kapal Sinar Kudus dikuasai perompak Somalia.

Saya dengar pemerintah masih berupaya membebaskan 20 WNI yang ada di kapal sial tersebut. Saya sendiri juga tidak mengerti dengan pasti bagaimana negosiasi antara pemerintah dengan perompak Somalia. Tapi 46 hari rasanya begitu lama, terutama bagi tawanan. Makan dan minum seadanya. Fasilitas air bersih dibatasi pula. Masya Allah… Sayangnya berita ini tidak terlalu diekspos oleh media. Lagi-lagi kalah tenar oleh The Wedding Royal of  Britanian. Mungkin karena itulah tidak banyak yang mengetahui kondisi ter up date si Sinar Kudus.

Pemerintah harus segera mencapai kesepakatan yang dapat membebaskan 20 WNI tersebut. HARUS!! Selagi pemerintah berusaha, harapan untuk membebaskan WNI yang ditawan pasti ada.

TA Saya Keren, Tau’!!!!!

Masih tentang aktivitas mencuci botol kultur……

Mas-Mas Penjual Tahu Tek : “Mbak mbak….. mbayar mahal-mahal kok cuma buat kora-kora botol”

Pak Pentol: (gak ngomong apa-apa, tapi terus ngeliatin sambil geleng-geleng kepala. Dan saya dikasih bonus pentol sewaktu beli pentolnya)

Liza: “Hadehh….nasib-nasib… orang pinter kok nyuci-nyuci botol”

Adik Tingkat Saya: “Semua botol ini mbk Mei yang nyuci? Kok banyak banget mbk?”

Roby: “Kenapa gak minta praktikanmu aja yang nyuci, Mei?”

Dan entah berapa orang lagi yang saat itu sedang menyesalkan pekerjaan saya mencuci botol kultur. Saya juga tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka semua yang melihat saya duduk di hadapan botol-botol kotor. Ah, masa saya harus menjelaskan pada mereka semua bahwa apa yang saya lakukan ini bukan permainan. Bukan karena saya gak ada kerjaan, tapi bukan juga mencuci botol adalah pekerjaan saya.

Saya harus menegaskan bahwa apa yang saya lakukan ini (mencuci botol) adalah bagian dari Tugas Akhir saya.  Saya tekankan lagi, BAGIAN TA saya bukannya TA saya. Masa botol kultur kotor dibiarkan di lab? Bisa-bisa merusak kultur-kultur saya. Tugas Akhir saya ini keren tahu. Lebih dari sekedar mencuci botol. Saya sih bisa saja menyuruh orang untuk mencuci boto-botol kotor itu, tapi untuk itu saya harus keluar biaya lagi dan meskipun bayaran mencuci botol tak sampai ratusan ribu tetap saja biaya bukan? Daripada dibuat bayar orang yang nyuciin botol, lebih baik uangnya saya alokasikan untuk membeli bahan TA atau makan. Jadi, Mas Tahu Tek… saya bayar spp  tidak hanya untuk mencuci botol, tetapi mendapatkan hal lain yang tidak akan saya dapatkan seandainya saya jualan tahu tek seperti masnya ;). Saya juga tidak akan pernah menyuruh praktikan mata kuliah Kultur Jaringan untuk mencuci botol kultur TA saya. Saat menjadi praktikan, Saya pernah merasakan bagaimana melakukan sesuatu yang bukan kewajiban saya dan saya tidak mau praktikan saya merasakan hal itu (so sweat 😉 ). Saya yang memakai, maka saya yang harus membereskannya. Thats it!

Jika adik tingkat saya mengatakan jumlah botol yang saya cuci sangat banyak, saya mengatakan biasa saja. Jumlah botol yang saya cuci sekitar 150 botol beserta tutupnya. Menurut saya jumlah itu tidak banyak untuk ukuran botol kultur. Ditambah lagi, sewaktu kerja praktek (KP) saya sudah dilatih mencuci ratusan botol setiap hari. Jadi 150 bukan kuantitas yang wah untuk botol kultur. Tapi karena saya sadar bahwa semua yang ada di dunia ini relatif, saya hargai saja pendapat adik tingkat saya yang menganggap 150 itu buuuaannyyyaaaakkkk. Setidaknya dia bisa tahu bahwa menyelesaikan Tugas Akhir itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan suatu proses panjang..salah satunya adalah mencuci botol seperti yang saya lakukan.

Jadi, jangan pernah meremehkan Tugas Akhir saya karena apa yang saya lakukan ini adalah sesuatu yang  AMAZING!!! 🙂

Hanya Percaya Tuhan

Siapa yang patut dipercaya selain Tuhan?

Anginkah….. Mataharikah…Bulan…atau Bintang?

Angin terlalu tak berwujud… Tak ada yang bisa menerka bagaimana rupanya

Terkadang berhembus sejuk, terkadang menjadi suatu puting beliung

Terlalu menakutkan percaya pada Angin

Matahari terlalu terang, terik, dan menyengat

Panas untuk satu waktu, dan sangat panas di waktu yang lain

Sangat riskan percaya pada matahari yang saat ini tak pernah tentu kehadirannya

Bulanpun tak bisa dipercaya untuk sesuatu yang begitu penting

Bulan begitu bersinar saat berbentuk penuh

Namun,  hanya bisa menampung sedikit asa saat menjadi sabit

Tak ada alasan kuat untuk percaya pada Bulan

Bintang? Berkawan dengan bintang tak ubahnya berkawan dengan matahari

Meskipun tak menyengat, tapi terkadang menipu

Bahkan tak jelas bagaimana sifat Bintang sesungguhnya

Bisa lembut, bisa sadis, bisa juga sangat menyebalkan

Lalu, siapa yang bisa dipercaya selain Tuhan?

Bagaimana jika Tuhan sedang tak ingin diganggu…

Bisakah memanen tanpa sebuah keranjang?

Dimana hasil panen itu diletakkan?

Ah… mengapa hanya Tuhan yang bisa dipercaya….

By meirina Posted in Poetry

Terlambat Karena Tersesat

AAAAAAAAAAAAAA……. hari ini kesiangan lagi. Nyaris saja terlambat dari jadwal kunjungan lab ke kampus orang. Hadehhh…. masa harus ngaret. Untung saja saya hanya nyaris terlambat. Jadwal keberangkatan dari tempat saya adalah jam 9.00. Karena jarak antara kampus saya dan kampus orang itu lumayan jauh plus macetnya juga maka saya meminta pada teman-teman praktikan untuk berkumpul di jurusan sebelum jam 8 pagi dan kami berangkat pukul 8 tet!!!

Saya sudah siap sedia sejak pukul 07.30. Bersama salah satu teman seangkatan sekaligus praktikan saya, Bian, kami menunggu kedatangan teman-teman praktikan lainnya. Perlu dicatat bahwa peserta mata kuliah ini hanya 7 butir manusia, jadi saya pikir lebih mudah mengatur jadwal keberangkatannya.

Ternyata oh ternyata kami baru bisa berangkat pukul 08.30. Hemmmm….saya dan Bian menunggu selama satu jam… betul-betul Indonesia. Akhirnya berangkatlah kami semua dengan motor dan sopir masing-masing. Kemudian Bian mengatakan

“Mei, kita lewat kertajaya aja ya?”

Sopir saya itupun mengambil arah yang berbeda dari rombongan. Saya sih mikirnya Bian mau cari jalan yang lebih jarang kena macet, supaya bisa sampai tepat waktu. Karena itulah saya manut wae. Lurusssssssss…belok kiri….belok kanan….. Kiri lagi…terus lurusssssss…….belokk kanan….lurusssss…kanan….lurussss…kanann….lurusssss…..kiri….dan lurussss……. dan akhirnya saya menyadari satu hal… jalan ini rasanya aneh sekali. Saya memang bukan seseorang yang kerap kali mbolang naik motor, tapi saya selalu tahu  jalan dan tempat yang pernah saya datangi. Saya sudah sering mengunjungi kampus yang akan menjadi tujuan saya hari ini karena kampus itu adalah kampus adik saya dan saya jelas tahu bahwa saat ini saya tidak sedang menuju ke kampus adik saya. Kemudian saya bertanya iseng pada Bian:

“Bi, kita ini mau ke Lidah Wetan ya?”

Bian: “Iya lah, Mei. Memangnya mau kemana?”

Saya: “Bukannya FMIPA itu ada di daerah Ketintang?”

Bian: “APA???? Kok Kamu gak ngobrol dari tadi sih,Mei?”
Saya: “Aku pikir kamu tahu kalo kita mau ke Ketintang”

Bian: “Haduh….kita telat deh kayaknya! Berarti kita putar balik nih…. Jam berapa sekarang, Mei?”

Saya: “Ya udah ayo putar balik. Jam setengah 10….tapi kan kita gak niat telat jadi gak papalah…” (saya mencoba menenangkan diri, padahal sebenarnya deg-degkan plus migran yang tiba-tiba muncul 😦 ).

Saya dan Bianpun terlambat. Mungkin dosen di kampus tersebut membatin “Dasar Indonesia. Jam Karet!” :(. Ah, seandainya saya boleh melakukan pembelaan (dan harus boleh) maka saya akan mengatakan, “Saya tersesat, bukan terlambat” ;). Sisi baiknya adalah saya jadi tahu bagian lain dari kota ini. Dan untuk itu saya patut berterimakasih pada Bian.

No.1 Nicky , No.2 The Royal Wedding

Orang-orang di seluruh dunia sedang bergelut dengan euforia The Royal Wedding… mulai dari acara gosip tanah air sampai stasiun televisi berita dunia macam BBC pun menyiarkan prosesi pernikahan antara William dan Kate. Bahkan ada yang memberikan tayangan khusus untuk pernikahan pangeran Inggris tersebut…. Rasa-rasanya semua hanya untuk Willie dan Kate… sedangkan saya….. Selama dua hari disibukkan dengan mencuci botol selai berisi media kultur kontam… Puuiihhhh……

Pengennya juga nonton dari you tube seperti teman-teman lainnya, tapi apa daya botol kultur saya memanggil-manggil… Pengennya memberikan ucapan selamat pada pasangan kerajaan tersebut melalui video FB, tapi apa daya saya harus menomorsatukan Nicky dan Nico tersayang. Ah…maafkan saya pangeran Willie, Nicky saya adalah yang utama saat ini. Karena Nickylah yang mungkin saja membawa saya ke negerimu, Britania Raya (AMIN 🙂 ).

Sedikit iri sebenarnya pada teman-teman yang sedang mendiskusikan betapa anggunnya Princess Kate saat menaiki kereta kencana yang 30 tahun lalu dinaiki oleh Lady Diana, tapi sekali lagi saya harus menomorsatukan Nicky yang masih belia. Nicky yang masih perlu perhatian lebih daripada apapun, untuk saat ini. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa coba ikut meramaikan pernikahan keluarga kerajaan Inggris itu? Selain tidak tahu cerita lengkapnya, saya sama sekali tak rugi apa-apa bukan? Saya memang berniat (HARUS) menginjakkan kaki di Inggris, tapi bukankah saat ini saya masih berada di Indonesia? Kenapa tidak larut dalam rencana pernikahan putra Presiden negara saya saja? Bukankah dalam waktu dekat ini Pak BeYe akan melangsungkan pernikahan putra keduanya? Sebagai warga negara yang baik, ‘harusnya’ saya lebih menantikan pesta pernikahan Ibas-Aliya daripada William-Kate.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa coba saya memikirkan mereka semua? Baik Ibas-Aliya maupun Willian-Kate, tidak memiliki hubungan darah dengan saya. Jangankan hubungan darah, kenal saja tidak 😉

Ok lah… i just wanna say Congratulation, Willie-Kate!! God Bless You!  Wait me at ur Home, i’ll be there… Immediately!! AMIN 😉 “

P.S: Putra Kepala Negara manapun yang akan melangsungkan pernikahan, Saat ini seluruh jiwa raga saya hanya untuk Nicky

Hentikan Kerusuhan Di Laboratorium Saya

Lagi dan lagi. Mengapa kesabaran saya terus menerus diuji? Mengapa pula harus dengan subjek dan objek yang sama? Mungkin ini resiko menggunakan lab umum. Harus selalu waspada setiap saat. Hari ini saya menyadari satu hal bahwa berinteraksi dengan sesama tak cukup dengan saling percaya. Selama beberapa bulan ini saya percaya pada teman-teman sesama penghuni lab bahwa kami bisa bekerjasama dengan baik. Saya percaya mereka bisa menggunakan lab dengan baik. Saya percaya bahwa mereka bertanggung jawab atas apapun yang ada di laboratorium. Saya percaya mereka sehingga kami tidak perlu membuat suatu kesepakatan tertulis.

Tapi setelah kejadian hari ini, saya pikir saya harus membuat kesepakatan dengan mereka, teman-teman pengguna lab. Saya masih bisa mentolerir jika teman-teman tidak memporak porandakan lab dasar. Saya masih bisa memaafkan jika mereka tidak mematuhi peraturan ‘masuk lab harus pakai sandal lab”. Saya masih bisa bertahan saat mereka dan praktikan-praktikan mereka tak mau mengembalikan kursi lab ke tempat semula. Saya bisa memaafkan jika kekacauan itu terjadi di lab botani. Tapi jika kekacauan itu dilakukan di tempat saya berjuang menyelesaikan TA saya, saya tidak akan tinggal diam. Saya tak akan membuat hidup kalian tenang jika kerusuhan itu menyebabkan Nicky saya terkontaminasi. Cukup sudah kalian membuat saya mendapatkan beberapa terguran dari laboran-laboran. Teguran yang sepantasnya untuk kalian. I’m done.

Tolong saya, teman. Kita kan sudah sama-sama gede… kalian juga pasti tahu pentingnya lab untuk kita. Jadi gunakan lab sebaik-baiknya. Buat pengguna lab botani, kembalikan kursi ke tempat semula setelah kalian selesai menggunakannya. Gunakan sandal lab yang ada di rak sepatu. Jangan meninggalkan sampah apapun di lab. Gunakan alat-alat lab sesuai petunjuk, kalo kesulitan jangan ragu untuk bertanya pada siapapun yang lebih mengerti menggunkan alat tersebut. Setelah menggunakan alat, kembalikan alat ke tempat semula. Matikan lampu lab sesudah digunakan. Tutup jendela jika hendak meniggalkan lab. Simple, bukan? Untuk pengguna lab KulJar…. TOLONG…. jangan membuat rusuh lab. Jika tempat sampah penuh, segera buang keluar lab. Tutup lemari alat jika tidak digunakan. Jangan tinggalkan barang-barang tidak penting di lab. Cuci peralatan sampai bersih setelah kalian menggunakannya. Letakkan botol-botol kultur dengan rapi. Dan yang lebih penting, jangan lupa mematikan LAF yang sudah kalian gunakan. Tutup jirigen tempat aquades. Jangan meletakkan barang-barang aneh di atas meja. Lap-lap kotor dan bersih jangan diletakkan di satu tempat. Sapu lantai setiap hari, masa sih gak kuat menyapu ruangan yang seluas 3 x 3 m ?

Semua itu memang sederhana, tapi jika saya yang harus melakukannya seorang diri setiap saat… YO AKU EMMOH REK!!!!  😦 Ayoalah….. Saya tidak mau tahu siapa tersangka dan pelaku utama penyebab kerusushan di lab kita, saya hanya meminta kesadaran diri kalian masing-masing. Kalo merasa masih belum sadar…….. ikut rukiyah gih….. supaya setan-setan yang merasuki kalian bisa jauh-jauh dari lab. Sekali lagi, mohon kerjasamanya. Trims.

Perjanjian DenganNya

Tuhan, aku kembali menagih janji

Aku telah melaksanakan apa yang kujanjikan….

Mengapa aku tak melihat tanda-tanda kedatangan janjimu?

Apakah kau sengaja bersembunyi dariku?

Atau Kau lupa padaku karena janjiMu tak hanya padaku?

Atau janji itu hanya sekedar rentetan kata tak berarti……

Kata malaikatMU Kau tak akan pernah ingkar

MalaikatMu mengatakan Kau tak pernah lupa

MalaikatMu menyampaikan bahwa Kau selalu mengingatku

MalaikatMU berpesan supaya aku tetap setia padaMu

Dan aku percaya pada MalaikatMu itu

Aku memutuskan untuk menunggu kedatangan janjiMu yang itu….

Bahkan aku sekarang ingin membuat kesepakatan baru denganMu…

Yang ini sama dengan yang  itu, tapi kali ini untukku….

Bisakah kita berjanji kembali?

Setidaknya sebagai bonus untukku yang sabar akan JanjiMu sebelumnya….

Bisa Bukan?

Aku berjanji akan melakukan’nya’ jika Kau memberikan’nya’….

Jangan pernah mengrimkan malaikatMu untuk mengatakan bahwa dia hanya sekedar singgah dan akan hilang…

Aku mohon, jangan rusak harmoni ini

Tolong, izinkan aku menjadi manusia karena Kau mewujudkanku sebagai manusia….

Aku mohon Tuhan….

Sepakati permohonan perjanjianku ini….

Aku menunggu jawabanMu, Tuhan

By meirina Posted in Poetry

Bukan Sekedar ‘Bukan Niat Buruk’

Semua artikel dan tulisan yang berasal dari buku-buku dan literatur lain, khususnya yang bersifat religi, selalu mengatakan bahwa apapun yang dilakukan seorang suami pada istrinya pastilah ‘bukan niat buruk‘. Ya… saya setuju mengenai bukan niat buruk, tapi faktanya saya selalu melihat ‘bukan niat buruk’ itu BURUK.

Saya mengenal seorang keluarga dimana si suami memiliki ‘bukan niat buruk’ terhadap istrinya. Dan menurut saya ‘bukan niat buruk’ si suami terhadap istrinya itu sangat perlu direvisi.

Si suami tidak pernah mengijinkan istrinya beraktivitas di luar rumah. Setiap hari, si Istri hanya berada di dalam rumah. Aktivitasnya hanyalah mengasuh anak-anaknya yang masih balita. Tidak ada arisan dengan ibu-ibu tetangga. Tidak ada acara belanja ke pasar. Tidak ada acara jalan-jalan ke supermarket atau departemen store. Tidak ada acara mengantar jemput anak ke sekolah. Tidak ada acara main-main dengan komputer. Bahkan yang paling parah adalah tidak ada yang namanya ponsel atau HP.

Mengasuh anak dan tidak ikut-ikut arisan memang baik karena tidak ikut menambah dosa karena acara arisan selalu di isi oleh sesi gosip. Tidak belanja ke pasar juga Ok karena membuat si Istri tak perlu berdesak-desakan untuk menawar harga cabe atau menenteng  tas plastik berisi sayuran. Tidak ada acara belanja ke supermarket tanpa suami juga baik karena siapa tahu ada sesuatu yang tak inginkan menimpa si istri sewaktu di jalan. Tapi, tak bolehkah si istri melakukan hal tersebut seorang diri? Bagaimana jika si suami dipanggil oleh Sang Pencipta? apa si Istri harus meminta malaikat untuk mengirim suaminya ke dunia beberapa menit supaya bisa belanja ke pasar??

Tidak ada antar jemput anak ke sekolah… Ok, jika si anak diberi kendaraan dan sopir pribadi dan si anak sudah berusia 15 tahun. Si suami memang mengantar jemput anaknya yang masih duduk di bangku TK. Tapi ada waktu dimana ia lupa menjemput anaknya dan si istri tak bisa berbuat apa-apa karena tak punya ijin suami untuk menjemput anaknya. Bolehlah tak usah antar jemput jika jarak sekolah dan rumah hanya beberapa meter, masalahnya jarak rumah dan sekolah si anak adalah 10 Km. Apa iya si anak harus jalan kaki. Lagipula dia masih duduk di bangku TK!!!! Benar-benar keterlaluan!!! Dan saat si anak memiliki acara di sekolahnya, si ibu tak pernah sekalipun hadir. Acara agustusan, lomba-lomba, bahkan waktu penerimaan raporpun tidak ada partisipasi si ibu. Tak pernahkah si suami berfikir mengenai perasaan si anak? Pernahkah si suami berfikir bahwa putrinya pasti menginginkan kehadiran sang ibu di salah satu acara sekolahnya? Si anak memang selalu diam karena dia tidak (belum) bisa mengatakan apa yang diinginkannya. Tapi saya yakin bahwa dia ingin seperti kawan-kawan sekolahnya. Diantar jemput dan sesekali ditemani oleh ibu mereka saat sekolah. Si anak pasti ingin menunjukkan kemampuannya di sekolah pada si ibu. Dan saat mengikuti perhelatan sekolah seperti gerak jalan, si anak pasti menginginkan dilihat oleh ibunya. Atau saat acara tamasya sekolah, si anak pasti sangat senang jika ia pergi bersama ibunya. Tak pernahkah ada perasaan seperti itu pada diri si suami? tidakkah si suami menyadari bahwa hal ini pun sangat berpengaruh pada mental dan perkembangan anaknya? Si suami bukan orang bodoh, tapi mengapa ia begitu bodoh sampai tak memikirkan perasaan putri kecilnya ???!!!

Lalu tak ada komputer dan ponsel. Di rumah mereka ada sebuah komputer, tapi si suami secara tidak langsung tidak mengijinkan si istri menggunakannya. Mengapa secara tidak langsung? Karena si suami membuat User Account pada komputer tersebut dan tidak memberitahukan paswordnya pada si istri. Bagaimana si istri bisa menggunakan komputer tersebut coba? Saya sendiri tidak mengerti maksud si suami, tapi jelas sekali bahwa dia SINTING!!! Apa si suami mempunyai hubungan dengan mafia keji dan semua rencana kejahatannya disimpan dalam komputer itu? Apa si suami punya selingkuhan yang fotonya ada di komputer itu??? Apa si suami senang memiliki istri gaptek di massa teknologi seperti saat ini? Dan peraturan paling baru yang diumumkan si suami pada istrinya itu adalah dilarang memiliki ponsel sendiri!!! Alasannya?? Karena secara (tidak) sengaja saya mengajarkan menggunakan situs-situs jejaring sosial pada istrinya. Karena itulah si istri tak boleh punya HP sendiri. Lucu sekali!!! Memangnya kenapa jika si istri bermain-main dengan internet melalui HP? Jika si suami tidak mengijinkan istrinya bermain dengan situs jejaring sosial, bukankah bisa menegur istrinya saja. Toh istrinya termasuk istri yang patuh pada suami ( 😦 ). Dilarang menggunakan internet di saat segala sesuatu serba online sungguh suatu perintah kocak.

Tapi melarangnya memiliki HP rasanya sangat lebih tak masuk akal. Tukang becak saja punya HP untuk menghubungi keluarga atau koleganya, masak istri seorang pegawai negeri sipil tidak punya? Bagaimana jika keluarga si istri ingin menghubunginya? Apa harus melalui si suami setiap saat sementara si suami bekerja dari pagi sampai sore! Seandainya ada hal buruk yang menimpa si istri saat suaminya bekerja, bagaimana cara si istri menghubungi suami sintingnya itu?

Menurut saya sikap si suami terlalu konservatif! Dan saya sangat mengharapkan bahwa ia merevisinya…. Saya tidak mengatakan bahwa dia bukan suami yang bertanggung jawab, melainkan hanya kurang tepat bersikap terlalu kaku di zaman menanam pohon di dalam botol seperti TA saya (upppssss 😉 ). Saya tidak bisa dan tidak mau membayangkan bagaimana rasanya tak ada HP, tak ada internet, tak ada komputer, tak ada sosialisasi dengan sesama, dan seharian terkungkung di dalam rumah bersama lima orang anak plus dua pembantu yang tak bisa diajak diskusi mengenai perkembangan politik Libya. Sungguh…. sebagai seorang adik, saya bangga pada kesabaran dan kekuatan salah satu kakak saya (si istri) itu. Tapi sebagai perempuan, saya sangat geram dan muak atas sikap ‘bukan niat buruk’ kakak ipar saya (si suami) itu…

‘Bukan Niat Buruk’ Itu harusnya tidak sekedar niatan, but act!!  Karena saya percaya bahwa Action will delinate and define someone!!!

Untuk Sebuah Kekosongan

Pernahkah kalian merasa berjalan tak berpijak?

Hanya melangkahkan kaki dan mengikuti hembusan angin…

Bergerak dengan rute yang tak berkelok….

Bagaimana rasanya?

Adakah yang pernah dihianati oleh rasa?

Bukan karena tak bisa merasa, melainkan merasakan semua rasa

Dan rasanya benar-benar tak berasa…

Kosong dan melompong

Hanya diam dan diam….

Bukankah ayam termasuk kelompok Aves? Namun mengapa ayam tak bisa bernyanyi layaknya jalak bali?

Dan kucing Persiapun pasti iri karena tak sebesar Harimau Sumatra

Mengapa sedikit gerakan dikaitkan dengan suatu pemberontakan?

Apakah akhirnya Srigala menjadi ompong hanya karena tuntutan kodrat?

Lalu, apa yang bisa menjadikan semua bernyawa?

Ayam dan Kucing Persia bernyawa, tapi rasanya mereka tak tertawa

Bak wayang yang tak berdalang, tak ada kisah yang bisa didendangkan

Cerminpun tak menampakkan siluet yang nyata, yang ada hanya hembusan nafas dan detak jantung

Lebih menakutkan dari sebuah boneka

Tertekankah oleh suatu kewajiban? Atau ada asumsi untuk indikasi yang berpilin tak beraturan?

Dan terakhir hanya bisa berpasrah secara menyedihkan

Langkahpun terus berlanjut….. Menyusuri jalan setapak dan mengikuti arah yang dipaparkan

Hanya ada perintah dan kepatuhan…. dimana Telinga terbuka lebar dengan mulut tertutup rapat

Menyendiri dan sendiri…. hanya langkah yang tak banyak dipilih…

By meirina Posted in Poetry

Aku (Tak Seperti) Kartini

Mungkin aku tak seperti Kartini dengan idenya yang cemerlang

Tapi aku tetap punya misi yang bertujuan

Mungkin aku tak seperti Kartini yang berani berkata dalam aksi

Tapi paling tidak aku bisa beraksi dalam kata

Mungkin aku tak berkebaya layaknya Kartini

Tapi aku dibalut oleh rajutan benang selayak kebaya Kartini

Mungkin aku tak sepandai Kartini

Tapi aku tak bisa dibodohi

Mungkin aku tak bisa menjahit seperti Kartini

Tapi aku bisa menentukan kostum yang sesuai untuk hidupku

Mungkin aku tak bisa menjadi penyembuh luka seperti Kartini

Tapi setidaknya aku tidak membuat luka yang harus disembuhkan

Mungkin aku tak sekuat Kartini saat dia dijungkalkan

Tapi aku bisa kembali berdiri sendiri  setelah terjungkal

Aku dan Kartini tak ubahnya langit-langit rumah dan Langit-langit Tuhan

Dia terlihat hebat karena pada masanya dia sendiri

Kartini adalah Kartini… punya nyali dan sendiri

Karena itulah, menjangkau Kartini sama halnya hendak menuju Langit Tuhan

Aku tak terlihat hebat karena pada masaku aku tak sendiri

Banyak sekali kaum bernama perempuan yang sama denganku

Bahkan diantara kami, perempuan, dilingkupi sedikit sinar untuk menjadi lebih daripada yang lain

Karena aku tak terlihat hebat dan tak sendiri,

Sangat mudah untuk menuju ke arah kami… karena tinggi kami tak lebih dari langit-langit rumah

Mungkin aku tak bisa menjadi Kartini

Tapi setidaknya aku bisa menjadi diriku sendiri

Dan tidak menjadi sebuah boneka sudah cukup membuat Kartini tersenyum dari nirwana

By meirina Posted in Poetry