Kerja, Rupiah, Dan Setia.

Beberapa hari lalu seseorang pernah mengatakan bahwa semua perusahaan membutuhkan loyalitas dari pekerjanya, dengan begitu perusahaan akan memberikan apresiasi lebih pada pekerja. Beliaupun menuturkan;

“Seseorang yang digaji 10 juta per bulan, belum tentu dia bisa loyal pada perusahaan”

Ahh.. iyaa benar memang. Tapi logikanya.. pekerja yang digaji 10 juta per bulan saja belum tentu loyal, bagaimana dengan pekerja yang hanya diupah 500 ribu per bulan?

Maka sebenarnya loyalitas itu tak dapat diukur dengan nilai mata uang.

Tujuan utama dari bekerja adalah mencari nafkah… mendapatkan upah. Sementara setia pada tempat kerja adalah topik lain yang akan lahir dengan sendirinya.

Karena itulah, indikator loyal dan setia merupakan sikap fundamental yang menghubungkan pekerja dengan tempat kerjanya. Hubungan itu akan sedikit goyah jika salah satu pihak berusaha merugikan pihak lain. Dan namanya juga bekerja, kerugian yang paling nyata tentu saja yang berbau material.

Maka dari itu.. sesungguhnya (mayoritas) tujuan utama dari bekerja adalah rupiah, barulah bisa menunjukkan sikap setia.

LKS Gila

Ada apa dengan dunia pendidikan di negeri ini?

gila

Gambar di atas berada pada salah satu buku LKS sekolah dasar yang diposting oleh seseorang di medsos. Apa iya ada paparan seperti itu di lembar kerja siswa sekolah dasar?

Mau jadi apa para ‘biji cabe’ itu jika contoh soal sudah mengangkat topik penghiatan & kisah cinta?! Kenapa tidak menjadikan kisah heroik pejuang kemerdekaan saja sebagai wacana di soal LKS? Mau mengangkaat penghiatan sebagai tema; saya kira banyak sekali “penghianat negara” di era kemerdekaan yang lebih layak dijadikan penggalan cerita.

Adek-adek… LKS nya dibuang saja yaaaa 😥

Belajar Senang

Menghadapi kelakuan bocah berseragam sekolah itu memang membutuhkan kesabaran yang sangat. Ada saja tingkah mereka yang terkadang tak terduga. Dan benar bahwa perkembangan manusia juga mengikuti perkembangan zaman. Tidak wajar jika menuntut mereka untuk berpola pikir dengan anak sekolah di era 90’ sementara mereka dilahirkan pada saat penjamuran teknologi melebihi jamur.

Benar memang bahwa alat komunikasi dalam bentuk apapun sudah sewajarnya dinonaktifkan saat pengajar berkicau di depan kelas, tetapi menyuruh anak-anak zaman sekarang untuk lepas dari gadget sepanjang waktu di kelas sama dengan mengunyah batu.. keras dan alot. Saya sendiri saja menyumpal telinga dengan earphone sepanjang menerima materi di era kuliah…secara sembunyi-sembunyi memang karena saya tahu tak ada dosen yang suka mahasiswanya menyalakan alat elektronik dalam bentuk apapun kala dia menjelaskan pelajaran di depan kelas… tapi setidaknya saya memahami materi yang dijelaskan. Jadi itulah prinsip saya sekarang ketika memberikan pengajaran… ‘Gadget Oke, Otak kece’. Saya tidak mengharamkan mereka ngegames di kelas, selama memahami materi yang saya berikan. Saya sama sekali tak mempermasalahkan di depan mereka ada laptop selama mereka bisa menangkap pelajaran saya di kelas itu. Mau putar musik sepanjang pelajaran pun saya persilahkan, asal semua tenang ketika saya mengoceh di depan. Tak ada pula larangan untuk berteriak-teriak di kelas, asal mereka senyap ketika saya memaparkan materi. Boleh makan dan minum di kelas, asal tidak membuang sampah di dalam kelas.

Lalu saya dibilang pengajar yang kurang disiplin? Ahh, kedisiplinan tidak sebatas duduk manis di kelas dengan meja yang hanya dipenuhi alat tulis. Lagipula mereka datang ke lembaga bimbingan belajar bukan untuk diajarkan tentang disiplin, melainkan penjelasan materi pelajaran yang di era ini merupakan barang langka di sekolah. Hal terpenting adalah siswa senang dan mau belajar!

Selain gadget, hal yang sedang trendi di kalangan anak-anak sekolah saat ini adalah selfie. Iya, bahkan ada beberapa siswa yang rajin sekali foto selfie lalu menjadikannya sebagai status update di BBB mereka. Di suatu kelas contohnya.. saat saya baru saja menutup pintu, seorang siswi mendatangi saya lalu mengajak saya berfoto selfie bersama..kemudian dia menjadikan foto kami sebagai status update BBM dan akun jejaring sosialnya dengan caption “Mau mulai les dengan Mbak Guru”. Hal tersebut juga dilakukan sebelum saya meninggalkan kelas. Foto selfie, lalu update status.

Mengajak foto selfie terang-terangan ini jauh lebih menyenangkan daripada tindakan siswa-siswa yang hobi mencuri-curi foto. Kan tidak enak ketika saya sedang berkonsentrasi menulis materi di depan kelas terpotong oleh panggilan siswa;

“Ibu… Ibu…”

Lalu ketika saya menoleh, blitz kamera menyambar-nyambar. Ya ampun adek…kan lebih enak minta foto daripada harus mencuri-curi begitu -_- Saya merasa seperti tersangka kasus korupsi yang disambar oleh kilat lensa para pemburu berita.

Sebagai pengajar, saya bukannya tak punya haters… Pasti adalah satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sosok yang tidak sepaham dengan pola pikir saya.. baik itu siswa maupun sesama pengajar atau siapapun di tempat saya bekerja saat ini. I don’t cares.. tapi saya geli pada salah satu hater yang berasal dari kalangan siswi. Dia terlihat begitu garang setelah teman lelakinya ‘sengaja’ mencuri pandang pada saya yang tengah berdiri di depan kelas untuk mendengarkan lagu yang diputar sebagai relaxasi selama 5 menit. Saya yang sadar akan pandangan tersebut balas memberikan pandangan dan seutas senyum simpul, yang kemudian dibalas senyum sumringah oleh siswa tersebut dan perempuan di sebelahnya memberikan kernyit dahi plus mulut manyun pada saya. Hahahahahaha…… Lucu sekali. Dikiranya saya sedang berusaha menarik minat pacar siswi yang cembetut itu. Dan setelahnya dia (si siswi) begitu kepo… menanyakan identitas saya pada operator CS dan beberapa pengajar. Yang kemudian, entah dia tahu dari siapa dan entah siapa yang membuat gosip, dia tahu saya sudah menikah -_- Ya sudahlah…

So far, so fun… Semoga saya tetap sabar dan tetap mau belajar.

Pindahkan Jam Tayang Maha……….

Hari ini salah satu materi belajar yang saya berikan pada adek les adalah menyebutkan struktur morfologi (bagian-bagian) bunga. Hanya bagian-bagian utama dan bagian dasarnya.

  • Mahkota bunga
  • Kelopak bunga
  • Tangkai bunga

Ketika penjelasan saya mengenai bagian-bagian tersebut selesai… adek les saya bertanya;

“Mbak, kalo mahkota manusia sama gak dengan mahkota bunga?”

Say menimpalinya;

“Manusia gak punya mahkota, dek. Apa coba fungsi mahkota untuk manusia? Kalo buat bunga kan ada”

Lalu adek les saya berkata lagi;

“Ada loh mbak manusia yang punya mahkota. Coba liat Mahabarata!”

AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG

Tolong… siapa saja… hentikan tayangan maha maha di televisi!! Pindahkan jam tayangnya!!! Tolong 😦

Sebuah Kompetisi

Salah satu efek dari implementasi kurikulum 2013 adalah semakin kompetitifnya subjek pendidikan.

Iya.. guru dituntut untuk lebih berkompetensi, yang secara tidak langsung juga harus berkompetisi dengan guru-guru lain dalam ujian kompetensi guru (UKG).

Murid? Saya pikir, sejak zaman dahulu memang ada kompetisi atara anak yang satu dengan yang lain. Banyak diantara mereka yang selalu ingin menduduki peringkat pertama di kelas. Setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Saya sendiri menjadi saksi hidup bagaimana ‘perang’ itu terjaddi.

Suatu hari adek les saya tidak mencatat soal pekerjaan rumah yang dituliskan guru di papan sekolahnya. Alasan adek les saya adalah dia tidak sempat mencatat karena soal dihapus ketika bel pulang dibunyikan. Hanya kurang 3 soal. Soalnya pun tidak berbentuk kalimat panjang. Sekedar angka, karena perintahnya hanya menggambar bentuk sudut.

Kebetulan saya memiliki mantan adek les yang sekelas dengan adek les saat ini. Saya mencoba menanyakan 3 soal sisa tersebut pada mantan adek les, tetapi jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan.

“Aku les mbak… pulangnya malem. Gak bisa ngasih tau. Salah sendiri gak nyatet di sekolah”

Sebuah jawaban yang menggambarkan persaingan antara siswa. Jadi, saya tidak berhasil menanyakan ketiga soal tersebut. Adek les saya sih tenang-tenang saja. Dia tidak panik, tidak juga ambil pusing dengan pekerjaan rumahnya yang kurang tiga soal. Mungkin itu pulalah yang membedakan kaum adam dengan lawan jenisnya, adek les saya ini laki-laki yang sama sekali belum punya beban dan pikiran. Kalau saja yang kurang 3 soal itu mantan adek les saya, mungkin dia akan merengek kebingungan dan tidak mau masuk sekolah esok harinya.

Namun saya masih tetap mencoba untuk menghubungi orang tua mantan adek les… Meminta tolong apakah bisa memotretkan soal pekerjaan rumah  milik anaknya. Hanya soalnya saja. Saya tak butuh diberi contekan jawaban. Lalu, jawaban yang saya dapatkan tetaplah penolakan.

“Anakku masih les, mbak. Pulangnya malem. Jadi aku gak janji”

Well… padahal saya dan si Mama mantan adek les cukup mengenal. Kami juga masih sering berkomunikasi. Tapi entah kenapa secara tiba-tiba permintaan tolong saya tidak dikabulkan. Padahal saya tidak meminta yang macam-macam. Hanya meminta untuk diberitahu soal pekerjaan rumah anaknya. Itulah bentuk kompetisi orang tua. Secara tidak langsung, Mama dari mantan adek les saya tidak ingin nilai anaknya di bawah adek les saya. Logikanya adalah jika adek les saya hanya mengerjakan 7 dari 10 soal, maka nilai maksimal yang didapat hanya 70… sementara anaknya yang mengerjakan semua soal berpeluang untuk mendapatkan nilai 100.

Yaaa..itu memang hanya pemikiran saya… tetapi jika memang tak ada unsur kompetitif, kenapa tidak mau memberi tahu 3 soal yang saya minta?

Ahh… memang sih.. salah satu interaksi yang terjadi pada setiap kehidupan adalah kompetisi.

Sebuah Diskusi Yang Tidak Pantas

Awal bulan ini saya mendengar begitu banyak keluhan dari orang-orang sekitar mengenai kurikulum pembelajaran 2013 atau kurikulum 2013. Mayoritas dari mereka yang mengeluh adalah orang tua (wali murid) dan para pengajar.

Kurikulum anyar tersebut dinilai merepotkan. Terlalu banyak memeras tenaga dan pikiran semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Guru harus lebih berkompeten dalam menerangkan materi-materi pembelajaran, murid dituntut untuk lebih kreatif, sementara orang tua harus lebih berperan aktif dalam kegitan belajar anaknya.

Ironisnya… ketika mayoritas para tenaga pendidik yang saya ketahui tengah berjuang memikirkan repotnya kurikulum anyar, secara tak sengaja saya mendapati gerombolan pengajar yang sibuk mendiskusikan  hal-hal yang sifatnya sangat non akademis.

Bolehlah membahas masalah rekreasi perpisahan untuk siswa kelas 6, tapi bukankah tahun ajaran baru dimulai 3 minggu? Reksreasi sekolah masih pertengahan tahun depan… masih sangat lama.. kenapa harus dibahas sekarang? Lalu kemudian mereka mengubah topik pembicaraan.. menjadikan ‘adegan kasur’ sebagai  bahan diskusi. Ohh… terserah mereka memang mau menceritakan hubungan dengan pasangan masing-masing, tetapi tak bisakah mendiskusikan hal-hal rahasia tersebut di tempat yang lebih tertutup?

Saat itu kami sedang di warung makan pinggir jalan. Banyak pembeli lain. Ada beberapa pembeli yang masih di bawah umur pula. Sangat tidak etis rasanya jika harus bertukar cerita mengenai hubungan suami istri di tempat tersebut.

Kenapa tidak mendiskusikan kurikulum yang katanya susah? 😐

Unexpectedly Questions

Suatu malam, adek les memberikan pertanyaan tak terduga….

  1. Malaikat kan bisa menghancurkan Bumi, kuat mana Malaikat sama Allah?
  2. Kalau Nabi lawan Malaikat siapa yang menang?
  3. Kalau Nabi sama Allah kuat mana?
  4. Setan, Jin, Iblis… lebih kuat mana?
  5. Terus kalau Allah lawan Iblis… kira-kira Iblis bisa menang apa gak?
  6. Dewa sama Allah kuat mana?

Begitulah…hampir 45 menit pertanyaan mengenai ‘siapa yang paling kuat’ diajukan adek les. Setelah memberikan jawaban dengan hati-hati dan (jujur saja) sedikit ketakutan dan terengah-engah dan berkeringat… saya pikir kami bisa melanjutkan sisa jam les dengan membahas materi pelajaran yang lain.. tapi kemudian adek les saya kembali memberondong kakak lesnya ini dengan pertanyaan yang tak kalah wau dari tema’siapa yang paling kuat’.

  1. Bumi ini yang nyiptain Allah kan mbak… terus siapa yang nyiptain Allah?
  2. Allah itu ada dimana?
  3. Allah itu kayak apa? Bentuknya seperti orang atau gimana?
  4. Allah kan yang paling kuat, berarti bisa menghidupkan orang yang sudah mati? (ketika pertanyaan ini diajukan, saya membatin.. seandainya memang bisa..lalu tersenyum simpul)
  5. Orang-orang mati yang di surga dan neraka, apa bisa lihat Allah?
  6. Caranya masuk ke Surga dan Neraka gimana?
  7. Naik apa kalo kita mau ke surga? Sama gak kendaraannya kalo kita mau ke neraka?
  8. Katanya Allah maha pemaaf, tapi kok ada orang mati yang disiksa di neraka?
  9. Tuhannya orang Kristen, Hindu, Budha, dan Katolik itu siapa yang nyiptain?

😐

Lelahnya… jadwal les malam itupun harus berlangsung satu jam lebih lama karena pertanyaan-pertanyaan ingin tahu si Adek les… Ya Allah… semoga saja jawaban yang saya berikan bisa sedikit menjinakkan pemikiran liar bocah 8 tahun itu…

Hebohnya Kurikulum 2013

Tiba-tiba saja dunia sekolah dasar di sekitar tempat tinggal dihebohkan dengan perubahan kurikulum. Saya hanya mendengar gerutuan wali murid mengenai kurikulum anyar tersebut melalui orang tua adek les. Masalah internet, raport online, hingga mata pelajaran tematik.

Hebohnya masya Allah…. dan sebagian besar dari orang tua murid yang heboh tersebut memusingkan masalah teknologi yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di semester ini. Lucu saja ketika harus mendengarkan ibu-ibu yang kebingungan dan mungkin setengah ketakutan saat mengatakan

“Internet iku opo… piye carane gawe” (Internet itu apa, gimana cara menggunakannya?)

Belum lagi mereka yang pusing dengan kurikulum 2013 yang mereka kenal sebagai kurikulum tematik. 😀

Ahh Ibu….

Internet itu tidak susah, kok… Hanya perlu dibiasakan saja. Tidak jauh beda dengan mengutakatik smartphone. BBM dan facebook-an saja lancar, masa iya hanya melihat nilai raport anak via internet gelagapan???

Dan tidak perlu juga memusingkan masalah kurikulum 2013. Sama saja. Mau kurikulum apapun semuanya sama-sama memberikan pengajaran bagi anak. Benar memang, orang tua harus lebih aktif di kurikulum baru ini… tapi kurikulum 2013 ini lebih ditekankan untuk mengup-grade kompetensi guru. Supaya para tenaga pendidik juga tidak ketinggalan zaman. Dunia sudah berkembang pesat…jika metode pengajaran di sekolah tidak dikembangkan juga; peserta didik di sekolah formal tidak akan belajar banyak. Kurikulum tematik tersebut juga diterapkan supaya anak tidak menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk selembar ijazah karena ‘rencana’ pembelajaran pada kurikulum 2013 tidak hanya mencakup IQ, tetapi juga EQ serta pengembangan bakat plus minat peserta didik.

Kalau benar-benar diterapkan… kurikulum 2013 ini oke kok…. 😀

Presiden Pilihan

Beberapa jam setelah KPU mengumumkan hasil Pemilu pada 9 Juli lalu, saya menggerakkan kaki ke dalam pasar yang letaknya tak jauh dari kosan. Sekedar menghilangkan penat setelah seharian berkutat dengan layar leptop.

Ketika saya berhenti di sebuah kios kelontong yang lumayan ramai, saya mendengar percakapan antara seorang pembeli dengan penjual.

Pembeli : “Untung presidene Jokowi”

Penjual : “Opo’o Mak?” (Kenapa Bu) 

Pembeli: “Jokowi iku gak koyok sing sijine. Jokowi lebih merakyat”

Penjual: “Sing sijine sopo, Mak?” (yang satunya siapa, Bu?)

Pembeli: “Emboh.. poko’e Jokowi menang. Jokowi merakyat”

Penjual: tersenyum

kemudian si pembeli berlalu, dan saya masih mendengar sayup-sayup pembeli mengatakan pada orang-orang yang ditemuinya bahwa capres pilihannya terpilih sebagai presiden Indonesia yang ketujuh.

Yaahh… mungkin seperti itulah gambaran rakyat (kecil) saat ini. Mereka seakan-akan dibutatulikan oleh slogan “Merakyat”.

Benar, rakyat kecil memang butuh sosok pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan mereka lebih dekat. Membutuhkan sosok yang mau blusukan ke pasar. Membutuhkan sosok yang mau kotor-kotoran di sawah.

Mereka tidak mengerti tentang inflasi. Mereka hanya tahu tentang korupsi dari televisi. Mana pula rakyat kecil tahu bahwa di tahun 2015 mendatang pasar bebas ASEAN benar benar diberlakukan??

Saya juga tidak tahu persepsi pembeli yang saya tuturkan di muka tentang “Merakyat”. Bahkan rasanya aneh ketika dia mengatakan tidak tahu siapa capres lain yang menjadi lawan politik capres pilihannya. Capres di Pemilu lalu hanya dua orang, sementara di pembeli hanya tahu salah satunya. Ketika memilih, apakah tidak sempat melihat wajah capres lain di surat suaranya?

Saya pun tak tahu mengapa si pembeli begitu girang dengan presidennya (presiden kami) yang baru itu. Mengapa dia heboh mengabarkan pada penduduk seisi pasar bahwa capres merakyatnya terpilih sebagai presiden RI. Entah apa yang mendasari alasan dia memilih.

Kalau saya ditanya bagaimana saya menjatuhkan pilihan… simple, saya lihat covernya.

Mau mengatakan “Dont judge a book from the cover” ?? Ahh…. saya manusia biasa yang tak bisa menelaah jalan pikiran orang, sehingga untuk menentukan pilihan haruslah lihat kemasan. Saya juga sama seperti si ibu pembeli tadi. Saya rakyat biasa. Saya tak tahu menahu dengan yang namanya inflasi. Saya tidak super dalam hal ketatanegaraan. Saya pun tak banyak mengerti dengan AFTA yang akan diberlakukan tahun depan. Karena itulah saya memilih dari bungkusnya.

Sama saja seperti membeli makanan di swalayan, tak mungkinlah saya memilih makanan yang kemasannya buruk. Bahkan beberapa produk dilabeli “Jangan diterima bila kemasan rusak”. Sama juga dengan kalian yang hendak membeli buah kiloan atau sayur di pasar, pastilah memilih buah dan sayur yang masih segar… mana ada yang mau membeli buah dengan kulit keriput dan sayuraan layu??? Atau saya yang suka membeli buku… saya tentu saja menolak apabila cover buku tidak dalam kondisi baik… ada lipatan dan lecek sana-sini di cover, cari stok yang covernya masih rapi.

Itu sih cara saya memilih. Iya, saya tahu bahwa memilih presiden itu bukan hanya tentang cover, keriput, busuk, atau buruk rupa. Tapi bukankah sosok yang mencalonkan diri sebagai presiden bukanlah sembarang orang. Semua capres yang sudah lulus seleksi KPU pastilah orang-orang hebat. Mereka pasti telah memiliki treck record sendiri-sendiri untuk negeri ini. Tak mungkinlah KPU memutuskan keduanya sebagai capres jika meraka tak punya kapasitas mumpuni. Karena sama-sama punya taji untuk membangun negeri maka begitulah cara saya menjatuhkan pilihan.

Masih menentang cara saya menjatuhkan pilihan?

Ini kan demokrasi, jadi suka suka saya mau memilih siapa dan atas dasar apa.

Tapi ya sudahlah…. toh sudah ada preien terpilih. Silihan rakyat yang katanya merakyat.

Selamat ya Pak Presiden terpilih… Semoga benar-benar bisa menjadi presiden yang diharapkan mereka yang memilih.

Happy Kartini Days 2013

Perempuan adalah sosok inferior, jauh sebelum masa abad pertengahan. Kemudian, seiring dengan tahapan evolusi sosial yang berkembang sangat pesat…perempuan tak lagi sekedar seseorang yang punya tugas sebagai pengurus rumah. Lalu kemudian perempuan menjadi sosok yang punya kekuatan. Punya kuasa. Perempuan bisa jadi CEO. Perempuan bisa jadi Presiden.

Bahkan saya pernah menuturkan bagaimana keluarga saya yang didominasi oleh kaum hawa dan mereka hebat dalam dunianya masing-masing. Iya…perempuan itu hebat. Perempuan adalah ciptaan Tuhan  yang paling luar biasa. Kartini, hingga Gerwani…Lalu Sri Mulyani & Megawatie. Banyak lagi perempuan-perempuan yang tak bisa dipandang remeh kontribusinya terhadap kemajuan suatu Bangsa.

Masih mau mengganggap perempuan itu tidak punya kemampuan?

Hei jangan salah…perempuan itu hebat!

Saat ini, jaman dimana gender sudah tak lagi dipermasalahkan, tetap saja belum sepenuhnya menjamin perlakuan terhormat yang bisa didapatkan oleh seorang perempuan. Masih banyak kasus pelecehan dan perlakuan tidak pantas yang didapatkan oleh kaum hawa dari lawan jenisnya.

Bagi saya, perempuan tidak lagi harus didefinisikan sebagai makhluk hidup yang memiliki vagina, mengalami menstruasi, dapat hamil, dan melahirkan! Definisi perempuan jauh lebih dari itu!

Berbanggalah kalian yang dilahirkan sebagai wanita.

Selamat Hari Kartini Wahai Perempuan Indonesia 🙂